Rantai Takdir


Cerpen Panji Dewantara (Republika, 13 Maret 2016)

Rantai Takdir ilustrasi Rendra Purnama

Rantai Takdir ilustrasi Rendra Purnama

Dari balik jendela rumah ibumu yang tua, kau mendengar ayat yang dilantunkan oleh bocah-bocah yang berada di kampungmu. Surah yang menggetarkan itu digemakan oleh wajah-wajah baru yang tak kau kenal. Kau melihat mereka berdesak memenuhi surau, duduk bersila, bermuka cerah menopang lembaran suci pada kedua tangannya. Kegelapan malam perlahan datang, remang dalam artian yang sesungguhnya mulai menggerayangi tubuhmu, mendekap dan membisikan bahwa di tempat ini paras ayumu setara dengan liur anjing.

Mulutmu terkunci dan kau sandarkan tubuhmu pada dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Kau teringat dengan orang-orang yang yang menatapmu sengit saat kau memasuki kampung yang telah lama kau tinggalkan. Para tetangga masih jelas mengenalmu meski bentuk tubuhmu tidak seseksi dulu, perutmu buncit. Ada kehidupan di dalam kehidupan.

***

Saat ini, kau menganggap bahwa hidupmu hampir tamat. Untuk itu, kau pulang menemui ibumu dengan maksud memohon restu bila nanti jiwamu sekarat. Kau juga berniat menitipkan bayi mungilmu, sebab menurut perhitungan, anak hasil pelacuranmu lahir pada pertengahan tahun ini. Walau kehendak itu tak pernah kau lisankan, kau amat yakin, ibumu ahli menerjemahkan bahasa tubuhmu.

Dalam hati, kau rasakan pedih yang berkelindan, berundak-undak, sedang tubuhmu lunglai lemas. Tangismu tak terairmatakan. Namun, apa dayamu sebagai perempuan yang telah tercampakan, terhina oleh ketetapan yang kau sebabkan sendiri. Kau menghela-hela. Sadarlah kau atas hati dan akal yang tak kau cemerlangkan. Hidup di kota tanpa hasta yang bercahaya adalah penyerahan diri terhadap kenelangsaan. Kini, segumpal penyelasanmu tumbuh menjalar-jalar.

“Ibu…” desahmu.

Di atas tikar daun pandan kau berbaring. Ibu di sampingmu. Kau mendengar teratur irama napasnya. Mata sendunya memandang pelita yang bergelantungan di atap rumah, lampu minyak itu adalah peninggalan bapakmu. Kini, beliau sudah tak ada. Dulu, kau merasa enggan menemuinya untuk yang terakhir kali karena kau merasa teramat kesal padanya. Kau pergi meninggalkan bapak saat ia sedang naik darah lantaran kemauan kerasmu hijrah ke kota tak direstuinya bukan main. Tak lama setelah itu, bapakmu meninggal, sakit jantung yang menyerang sempurna mengangkat jiwanya kembali ke ketiadaan. Sedang, kau bergeming.

Dan, saat ini kau pulang, kau kembali.

Kau telah berhasil menemui ibumu lagi, tapi tidak bapakmu. Kau pulang ke sebuah rumah yang dulu sempat kau sebut sebagai kandang kambing. Kau tentu sangat mengingat umpatan itu bukan? Tak boleh ada orang yang menyalahkanmu. Mungkin, dulu kau memang sudah amat bosan hidup seatap dengan kambing-kambing bapak. Kau sudah terlalu jengah dengan tetesan air yang kerap membangunkan tidurmu saat hujan tengah malam. Ibu dan bapakmulah yang salah? Atau, Tuhankah yang salah? Atau, kau?

Benar memang, sejak kecil hidupmu telah dirundung kemelaratan. Tentu, kau masih ingat tentang ibu yang selalu membuat teh tanpa gula. Ibu bilang, itu adalah teh kesukaannya. Teh pahit adalah obat. Begitu ujarnya. Ah, pasti kau juga masih terngiang-ngiang saat bapak memberimu boneka yang diambilnya dari bantaran Sungai Way Sekampung. Bapak membungkus boneka itu dengan koran bekas, lalu menghadiahkannya padamu. Kau senang bukan buatan.

Tapi, hidup pun terus berjalan, hingga suatu ketika kau mulai pandai menuntut.
Kau amat pintar berkeluh kesah atas satu-satunya hal yang kau punyai, yakni ketidakpunyaan. Karena itulah, kau nekat pergi ke kota tanpa arah, kota yang dalam benakmu adalah tempat yang gilang gemilang, luas berperadaban, santun berpendidikan. Dan, bersumpahlah kau pada ibu bapakmu dalam surat yang kau tulis sebelum kepergianmu bahwa di kota kau akan bekerja apa saja. Kau akan berusaha sekerasnya, tak akan berhenti, tak akan pulang sebelum berhasil, meskipun langit runtuh.

Tapi, sumpah kini sekadar sumpah. Nyatanya, kau telah pulang.

“Sebentar lagi, Bu, sebentar lagi,” tiba-tiba kau mengerang dalam keadaan setengah lelap. Kau lelah, amat sangat lelah.

Ibu mengusap keningmu. Kau merasakan ada bulir bening yang jatuh, tapi itu bukan air hujan, melainkan air mata kepunyaan orang yang sedang kau sandari, ibumu.

“Apakah takdir itu ada, Bu?”

Hatimu sungguh ngilu, tapi lidahmu dengan lancar mengutarakan inti kegelisahan. Saat ini, kau merasa butuh dengan petuah ibu yang dulu tak pernah kau gugu. Kau tak peduli dengan ocehan cerewetnya lagi walau selelah apa pun keadaanmu, justru itulah hal yang sangat kau rindukan. Kau ingin kembali kemasa kanak-kanakmu. Kau berharap ada keajaiban yang tiba-tiba bisa memutar balik waktumu agar kau dapat kembali ke suatu masa saat rumahmu adalah rumah bagi kambing-kambing bapak. Saat belum terjadi perenggangan di bagian kehormatanmu.

***

“Anakku.” Ibu mulai bersuara, malam itu kau dan ibumu terjerembab dalam pembicaraan yang beraroma langit.

“Sejak kapan kau mulai memikirkan tentang takdir, Nak?” Ibu menghela napas. Kau masih dalam posisi yang sama, merebahkan kepala di pangkuannya, mendengar irama napas yang ringkih, serta tatapan mata tua yang menerawang jauh, sebuah pandangan yang menembus temaram sinar api dari lampu minyak yang terkibas-kibas oleh angin malam.

Hmmh…” kau menarik napas panjang, berkali-kali menghela, lalu mengelus perut buncitmu dan berbisik kepada si jabang bayi, “sebentar lagi anakku, sebentar lagi, cep cep cep.”

“Sejak aku mengandung bayi ini, Bu!” sontakmu. Kau masih mengelus perutmu.

Api dari lampu minyak hampir mati terkibas-kibas oleh angin, cuaca di luar tiba-tiba berubah dengan cepat, langit hitam seakan mengamuk menggelegar, petir bergemuruh, hujan deras turun menyerbu kampungmu, membasahi rumah reot milik ibumu yang malang.

“Aku takut, Bu…. Aku takut…” kau mendesis, sedikit merintih.

Sssstt, anakku,” ibu kembali bersuara setelah sejenak tercenung dengan jawabanmu. Lampu minyak yang digantung di atap hampir mati. Air dan angin mengibasnya tanpa ampun, cahaya api semakin kecil. Ruangan kian meredup. Tapi, kau dan ibumu terus melanjutkan obrolan tentang hal yang tak terlihat.

“Ibu mengerti benar perasaanmu, Nak. Dulu ibu berpikir bahwa takdir itu ada dan tidak bisa diotak-atik oleh manusia,” beliau berhenti sejenak, melingkarkan lengan dan ikut mengelus perutmu. Hujan di luar semakin menderas, suara ibu sudah tak jernih lagi. Kau harus memasang telingamu benar-benar.

“Takdir itu memang ada, anakku. Tapi, ibu sekarang yakin bahwa ada satu takdir yang seharusnya bisa kita cegah, dan ibu adalah saksinya.” Dadamu bergemuruh. Tetesan air hujan mulai menyambangi tikar tempatmu berbaring. Kau merasa risih, baju daster satu-satunya yang kau miliki terkena cipratan hujan. Kau duduk agak merenggang dari tubuh ibumu.

“Cegah? Apa maksudmu, Bu?” Kau masih belum mengerti.

“Seharusnya, Ibu dapat belajar banyak dari masa lalu, Nak. Masa lalu ibu dan bapakmu, masa lalu nenek dan kakekmu.” Bergetar suara ibu menjelaskan.

“Apa yang sebenarnya Ibu katakan?” Kau mulai gusar, ribuan tanya saling sambang di kepalamu. Dalam hati, kau menerka-nerka apa yang sebenarnya dulu menimpa ibumu.

“Ibu hanya mengatakan yang sebenarnya, kebenaran nyata yang Ibu terima, kepahitan yang pernah nenekmu timpa, dan rasa sakit yang kau rasakan sekarang.”

Kau masih saja tak mengerti, semakin gelisah. Lalu, ibu menjulurkan tangannya, membuka sedikit lengan baju dan menunjukan padamu beberapa bekas luka yang masih tergambar.

“Anakku, Ibu hanya ingin kau mencoba merasakan dengan hatimu. Apakah yang sebenarnya hatimu rasakan saat Ibu mengatakan bahwa takdir itu ada dan tak mampu diubah oleh manusia sama sekali?” Ibu menatapmu, “Tidakkah ada sesuatu hal yang kau rasakan mengganjal?”

Kau terdiam. Menelan ludah.

“Lihatlah, bekas luka ini, Nak.”

Pandanganmu sedikit buram, tapi bekas luka di tangan ibumu cukup jelas kau lihat.

“Rasakan dengan hatimu, anakku, rasakan. Karena hanya dengan hati kita dapat mengerti hal yang absurd sekali pun. Seabsurd karma bapakmu yang harus kau terima hari ini!”

Pandangan ibumu menerawang jauh, kepalanya mendongak ke atas, memelukmu erat-erat, membayangkan masa gadisnya saat berada di sebuah hutan sawit yang sepi, tangan ibumu diikat paksa oleh segerombolan bujang-bujang kota. Terdengar suara desah gadis polos yang kesakitan bukan main.

“Anakmu, Nak, calon cucuku nanti, senasib denganmu, ibu, dan nenekmu. Tercipta oleh birahi lelaki yang tak tahu budi pekerti!” (*)

 

 

Sukarame, Rabu 8 Maret 2016

Panji Dewantara, lahir di Gumukmas, 23 Maret 1994. Mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam di IAIN Raden Intan Lampung. Aktivis PMI sekaligus pegiat sastra di Komunitas Sastra kampusnya dan FLP Bandarlampung. Pernah juara dua di perlombaan karya tulis (cerpen) pada Semarak Milad IBROH Lampung Excellent 2015, beberapa cerpennya telah termuat di antologi cerpen dalam event menulis yang diselenggarakan beberapa penerbit.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: