Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 13 Maret 2016)

Cinta Berdarah di Balik Foto ilustrasi Pata Areadi
Cinta Berdarah di Balik Foto ilustrasi Pata Areadi

Pita merah dan matahari

Cinta berdarah sampai mati (Agam Wispi)

 

“MADE akan benar-benar aman jika mau jadi istri Bli.”

Ni Made Sari belum menjawab. Bibi yang memperkenalkannya kepada I Ketut Danu, seorang anggota polisi, memandang tajam kepada keponakannya. Ia bisa membaca keraguan dan kekhawatiran dari pancaran bola mata Ni Made Sari. Ketiganya membisu beberapa saat.

“Bli menyadari kalau Bli tidak ganteng. Bli seperti I Delem, Bagong, punakawan pendek-gemuk dengan mulut lebar. Tapi hati Bli seperti I Twalen, Semar. Lagi pula Bli kan angkatan, orang berpikir seribu kali kalau mau bikin perkara dengan Made.”

Ni Made Sari mesam-mesem, menahan tawa sambil menutup mulutnya. Bibinya menutup muka dengan selendang yang terjuntai dari bahunya. I Ketut Danu memandang kedua perempuan itu silih berganti, seperti menunggu bisul pecah.

Kunjungan I Ketut Danu yang ketiga ini belum mendatangkan hasil. Ia pamitan setelah menyampaikan tekadnya akan datang lagi minggu depan.

“Pikir dulu ya, Made. Jangan sampai nanti menyesal. Bli pulang dulu.”

I Ketut Danu tidak pulang langsung ke asramanya, tapi mampir sembahyang di pura dan mengucapkan sesangi. Kalau berhasil menyunting Ni Made Sari, ia akan maturan babi guling pada hari Odalan.

I Ketut Danu yang wajahnya bulat dan sinar matanya memancarkan keteduhan memang seperti danau. Sejuk, berbahasa lembut, dan sigap dalam tindak-tanduk. Ni Made Sari mempertimbangkan berbagai keuntungan jika diperistri oleh I Ketut Danu, terutama sekali akibat bujukan bibinya, hingga akhirnya mereka menjadi suami-istri. I Ketut Danu selalu membanggakan istrinya yang mungil dan cantik kepada koleganya sesama polisi. Juga kepada keluarganya di Bali.

Ni Made Sari yang penari sebenarnya masih punya keterkaitan darah dengan I Ketut Danu. Asal usul kawitannya sama, tapi mereka tidak pernah bertemu di Bali. Ni Made Sari diboyong bibinya ke Jakarta, dan I Ketut Danu masuk sekolah polisi di Megamendung. Saat orang di Jakarta pesta pora minum tuak, orang yang mabuk di Bali, kesurupan setan jagal, membantai ribuan orang tak bersalah—teman maupun sanaksaudara—di akhir tahun 1965, keselamatan Ni Made Sari terancam. Ia baru duduk di kelas satu SMA waktu itu. Ia dikenal sebagai penari yang sering diundang dalam merayakan berbagai acara, baik yang dibuat oleh partai merah maupun hitam. Juga menjadi kebanggaan banjar tempat tinggalnya. Ia pemenang lomba menari tingkat kabupaten maupun provinsi. Penari Oleg Tamulilingan yang gemulai dengan mata bulatnya berbinar nyeledet kiri-kanan dengan tajam sesuai tabuhan pengiringnya. Pukulan gupek I Putu Putra yang saling bersahutan menuntun gerak kaki dan tangan Ni Made Sari. Terkadang berputar-putar, melengkung, dan menggeliat seperti kumbang Tamulilingan. I Putu Putra dan Ni Made Sari sembunyi-sembunyi telah menjalin hubungan batin. Hanya keluarga I Putu Putra yang tahu jalinan cinta mereka.

Pada saat nyawa sebagian orang Bali semurah nyawa tikus comberan, boleh dibunuh oleh siapa saja, I Putu Putra dijemput di rumahnya oleh segerombolan orang tak dikenal. Sejak saat itu I Putu Putra tak pernah kembali. Ada orang melaporkan kepada tentara bahwa I Putu Putra adalah anggota IPPI. Oleh karena itu perlu diamankan.

Lebih dari tiga bulan Ni Made Sari menunda jawaban kepada I Ketut Danu. Diam-diam ia menghubungi keluarga I Putu Putra, menanyakan bagaimana nasib I Putu Putra. Semula keluarganya meragukan jika I Putu Putra sudah meninggal. Mereka mencari balian, meluasang I Putu Putra. Tiga balian yang dikenal sakti dan bertuah mengatakan, I Putu Putra mengabdi di sebuah pura nun jauh di sana. Tapi ia belum bisa masuk ke pura tersebut. Masih harus menunggu sampai rohnya disucikan. Maka, keluarganya segera menyelenggarakan pengabenan yang sangat sederhana. Walaupun demikian, Ni Made Sari masih minta tolong kepada keluarga I Putu Putra untuk menanyakan apakah ia direstui kalau menikah. Apakah I Putu Putra mengikhlaskan Ni Made Sari kawin dengan seorang polisi. Setelah mendapat jawaban bahwa ia direstui Ni Made Sari menangis semalam suntuk. Ia tidak percaya jawaban tersebut. Ia menduga itu jawaban dari keluarga I Putu Putra saja.

***

Sepasang suami-istri itu tampak bahagia. Selalu pergi berduaan, nempel seperti prangko di amplop surat cinta. Suatu ketika Ni Made Sari diminta menari di sebuah perayaan kepolisian, dan sejak itu ia kembali aktif sebagai penari. I Ketut Danu selalu mendampinginya. Mengantarkan sang penari yang sering ditanggap dengan vespa. Hujan dan angin bukan halangan bagi mereka, sebab honor menari bisa menutup kebutuhan rumah tangga dan biaya anak sekolah. Gaji seorang polisi kelas bawah tidaklah cukup.

Di sela kebahagiaan dan kebersamaan mereka, sesekali terjadi pertengkaran. I Ketut Danu pencemburu sehingga ia sering menasihati Ni Made Sari untuk berhenti menari. Usulan itu ditolak. Sebaliknya, setelah kembali ke dunia tari, jiwa Ni Made Sari terasa hidup kembali meskipun ia tidak berniat mencari sosok I Putu Putra di antara para penabuh gambelan. Tapi I Putu Putra hidup di setiap gerak tubuhnya yang dipandu denyar gambelan dan pukulan kendang. Ia sering menangis sesudah menari, menahan rindu. Kesalahpahaman bagai tusukan duri di telapak kaki.

Kalau sedang marah, I Ketut Danu sering emosional. Di bawah alam sadar ia sering mengumpat, “Apa yang kurang, Made? Ingat, ingat dong, nyawamu dalam incaran kelewang. Mesti sudah lari ke Jakarta, hanya Bli yang menyelamatkanmu. Mana ada orang mau kawin dengan pelarian?”

Ni Made Sari membawa tidur rasa kangen dalam sedu sedan yang ditahannya. Umpatan suaminya membangkitkan kesunyian yang mendalam.

Sesudah anak keduanya lahir, Ni Made Sari sering sakit-sakitan. Perutnya kembung keras. Matanya cekung dan kulitnya layu kehitaman. I Ketut Danu menuduh tetangganya iri kepada Ni Made Sari yang dengan penghasilannya sebagai penari, dapat memperbaiki kondisi rumah tangganya. Sudah bisa membeli televisi, motor, juga pakaian. I Ketut Danu menuduh tetangganya bisa ngeleak, lalu meracuni istrinya. Pada tetangganya itu I Ketut Danu juga sering marah-marah. Suatu malam ketika istrinya diserang rasa sakit di perut, ia mengendap-endap sambil menggenggam parang, mengintip tetangganya yang menurut daya khayalnya sedang mereh untuk menjadi monyet yang akan membunuh istrinya. Ternyata rumah tetangganya kosong karena mereka sedang pulang kampung.

Akhirnya Ni Made Sari menghembuskan napas terakhir. Jasadnya dikremasi di Marunda, dan abunya dihanyutkan di laut. Rasa sedih dan kesepian mencekam hidup I Ketut Danu. Ia telah kehilangan istri yang sangat dicintainya, dan harus mengasuh kedua anaknya. Berkat belas kasihan komandannya, ia berhasil mengajukan surat pindah ke Bali. Ketika sedang membereskan pakaian dan barang-barang Ni Made Sari, ia menemukan dompet perempuan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tapi ia memastikan itu milik istrinya karena ada foto Ni Made Sari yang dijahitkan di bagian dalam dompet itu. Ia mengambil silet dan perlahan dilepaskannya benang demi benang jahitan itu. Di belakang foto istrinya ternyata ditempel foto seorang lelaki remaja. I Ketut Danu penasaran dan memisahkan kedua foto itu dengan sangat hati-hati agar tidak sobek. Di belakang foto lelaki itu terbaca tulisan, Djoempa di Kahyangan. I Ketut Danu kenal benar itu tulisan tangan Ni Made Sari. (*)

 

 

CATATAN

Bli : Kakak laki-laki

Sesangi : Kaul

Odalan : Upacara di pura

Kawitan : Asal mula keluarga

Banjar : Desa adat

Nyeledet : Melirik

Gupek : Kendang, gendang

IPPI : Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia

Balian : Dukun, orang pintar

Meluasang : Mencari tahu keberadaan roh

Ngeleak : Mempraktikkan ilmu jadi-jadian

Mereh : Dalam proses berubah menjadi siluman

 

 

Putu Oka Sukanta, sastrawan berusia 77 tahun. Beberapa karyanya (puisi, cerpen, dan novel) sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis. Ia tinggal di Jakarta sebagai pegiat HAM dan praktisi akupunktur.

 

Advertisements