Cerpen Vika Wisnu (Jawa Pos, 06 Maret 2016)

Ada Yoko di Societeit Straat ilustrasi Bagus
Ada Yoko di Societeit Straat ilustrasi Bagus

MINGGU pagi dua hari lalu aku melihatnya di pertengahan Jalan Veteran. Dari arak lima puluh meteran dan terhalang kaca jendela taksi, aku dapat mengenalinya dengan baik, Yoko berjalan sangat pelahan, seperti mau berhenti tapi urung. Menoleh ke kiri dengan gerakan luar biasa lambat—seperti sengaja diperlambat, matanya terkunci pada sebuah bangunan megah dari sebuah zaman, gedung yang pernah tersohor dengan nama Societeit Concordia.

Selamat pagi, kataku—entah apakah ia bahkan menyadari kehadiranku. Suhu udara 25 derajat Celcius. Yoko tak membalas dengan membungkuk dalam-dalam, ia sudah lama bukan lagi orang Jepang. Punggungnya tetap tegak, ujung dagunya saja yang menyentak sekilas. Kedua tangannya tersembunyi di balik jaket corduroy tebal seakan-akan sedang berada di tengah dingin yang tak tertanggungkan.

“Saya harap Anda tidak mengira gedung itu adalah Indica Gallery,” kusebut nama tempat bersejarah dalam hidupnya, saksi pertemuan pertamanya dengan John di tahun 1966, basement sebuah toko buku di Mason’s Yard London yang disulap pemiliknya jadi galeri seni di mana Yoko memamerkan karya avant guard-nya yang segera menarik banyak perhatian: Unfinished Painting.

Minggu pagi delapan tahun lalu aku berpisah darinya di pertengahan musim panas yang nyelekit. Aku masih mengenalinya sebagai Julia meski cahaya matanya telah berbeda. Ia berkata dengan sangat lembut dan hati-hati, “Aku harus pergi.” Belum sempat ada perayaan second anniversary sejak kami memutuskan untuk tinggal bersama di apartemenku di Silicon Valley, sejak dia bulat tekad pindah dari rumah ibunya di sebuah distrik kecil di luar San Fransisco.

“Apa yang terjadi?” itu saja pertanyaan yang sanggup kupikirkan. Julia menggeleng, mengemasi barang-barangnya, meninggalkan aku, membawa Stephan yang baru saja mengawali masa toilet training dan sudah mulai bicara, setidaknya sudah cukup fasih memanggilku Daddy dan menyebut Julia Mommy. Kekasih lamanya, ayah biologis Stephan, menghubunginya lagi, menyesal telah membiarkannya dalam ketidakpastian, mengaku masih sangat mencintainya, lalu berjanji menikahinya dan mereka akan hidup bahagia sampai maut memisahkan.

Advertisements