Rindu Aisyah


Cerpen Griven H Putera (Republika, 28 Februari 2016)

Rindu Aisyah ilustrasi Rendra Purnama

Rindu Aisyah ilustrasi Rendra Purnama

Sudah tiga bulan ini, setiap hari ia jenguk makam anaknya. Kalau tak pagi, siang. Kalau tak siang, petang sepulang dari kantor.

Keluarga mertuanya amat keheranan melihat perubahan sikap Saleh tersebut. Karena, sejak meninggal tiga tahun lalu, akhir-akhir ini barulah Saleh menziarahi makam anaknya itu. Selama tiga tahun itu ia seolah-olah tak peduli pada anaknya tersebut. Ia biarkan semak tumbuh liar di atas pusara anak perempuannya yang meninggal dalam umur enam tahun itu. Kalau tak ada mertua lelakinya, mungkin pusara itu sudah menjadi semak belukar.

Begitu pula istrinya, sudah berkali- kali pula menyuruh Saleh menziarahi pusara anaknya itu. Tapi, pria yang bernama Muhammad Saleh tersebut tak memedulikannya. Ia seperti tak mau lagi melihat makam anaknya itu. Seolah-olah anaknya itu tak pernah ada dalam hidupnya. Setiap nama anaknya disebut istrinya, mertuanya, dan semua orang, Saleh akan pergi.

“Usah sebut lagi nama itu.” Matanya merah pada istrinya.

“Mengapa tak boleh disebut, Bang? Bukankah dia itu anak kita juga. Apa salah Aisyah pada Abang?”

“Aisyah salah?”

“Lalu?”

“Mulut kalian tak pantas menyebut nama itu.”

“Tak pantas?” Istrinya tak mengerti.

Saleh tersenyum sinis. Ia tinggalkan istrinya dalam ketidakmengertian. Kadang Saleh tak sedap hati juga setelah berkata demikian pada istrinya.

Begitulah, sudah tiga kali Idul Fitri ia tak pernah berziarah ke kuburan anaknya. Biasanya, setiap usai shalat Idul fitri, istrinya beserta karib kerabatnya berziarah ke pusara anaknya tersebut. Saleh pura-pura tak tahu saja. Saat itu ia pergi ke mana suka. Ia tak peduli apa kesan keluarga mertuanya padanya atas sikapnya itu.

“Bang, Bapak ingin membangun kuburan Aisyah,” kata istri Saleh suatu hari.

“Boleh, Bang?”

Saleh terkejut.

“Boleh, Bang?”

“Tidak.”

“Mengapa tak boleh, Bang?”

“Biar aku saja yang mengeramik kubur Aisyah itu.”

“Tapi kapan?”

“Ya terserah aku. Aisyah itu kan anakku. Akulah yang lebih berhak!” bentak Saleh.

“Kalau memang ada niat, eloklah diper cepat sebelum keluar peraturan pemerintah kota agar kuburan tak boleh dibangun.”

Saleh terdiam, kata-kata istrinya kali ini benar. Selain itu, lahan perkuburan semakin lama semakin sempit di kotanya.

***

Sebenarnya Saleh tak mau pergi ke kubur anaknya bukan karena benci, melainkan karena amat sayang pada anak sulungnya itu. Ia tak mau dirinya larut berkepanjangan dalam duka kalau melihat pusara itu. Dulu, beberapa hari sepulangnya Aisyah ke haribaan Ilahi, Saleh datang setiap pagi ke sana, tapi lama-kelamaan pengalamannya bersama Aisyah semasa hidup memenuhi pikiran dan hatinya seusai berziarah.

Setiap pulang dari pusara Aisyah, air matanya terus meleleh. Hatinya kian lama kian terasa hancur. Semua pengalamannya bersama Aisyah semasa hidup terbayang kembali. Misalnya, ia ingat ketika Aisyah dimarahi Marlin, adik bungsu istrinya, dan menuduh Aisyah mencuri uang dua ratus ribu dari dompetnya. Saleh marah besar pada adik iparnya itu, karena menurutnya, buat apa bagi Aisyah uang sebanyak itu?

Ia tanya Aisyah, anak sulungnya itu meng geleng sebagai tanda ia tak mengambilnya. Dan Saleh yakin anaknya tidak berbohong. Namun, karena tak ingin bermasalah besar dengan keluarga istrinya, Saleh membayar uang itu setelah meminjam dari temannya.

Kadang, setiap pulang dari pusara Aisyah, ia juga ingat ketika anak perempuannya yang comel, lucu lagi gendut dan imut itu memecahkan termos air di rumah mertuanya dan sang mertua perempuannya meminta Saleh menggantinya. Hati Saleh semakin perih. Nenek macam apa ibu istriku ini? Tanyanya dalam hati, marah, perih.

Saleh merasa seolah menumpang di rumah orang lain. Saleh ingin menyewa rumah, tapi istrinya tak mau. Istrinya bersedia kalau pindah ke rumah sendiri, tapi di mana dapat uang untuk membeli rumah dari gaji seorang pegawai kantor KUA di kampung? Berharap dari ceramah? Masyarakat kampung mana di negerinya ini yang memberi amplop pada ustaz?

Dan andaipun mereka memberi, Saleh tak bersedia menerimanya karena masyarakat di tempat ia bertugas juga hidup memprihatinkan. Dan gajinya sebagai pegawai rendahan cuma cukup buat membeli beras dan susu Aisyah dan adiknya. Sedangkan istrinya, walaupun bekerja, gajinya hanya untuknya sendiri. Istrinya tak mau mengumpulkan penghasilannya bersama. Kata istrinya, gaji perempuan hanya untuk perempuan, jadi tak ada kewajiban untuk dibagi. Harta suami harta istri, tapi harta istri tidak harta suami.

Semakin hari Saleh merasa kian terpojok dan kehidupannya semakin terasa sempit. Hampir setiap malam ia salat Tahajud, meluapkan keperihannya kepada Tuhan di tikar sembahyang. Tapi, doanya seperti masih digantung di langit.

Dalam hidup, Saleh memang kurang pandai berbasa-basi, termasuk kepada keluarga mertuanya. Ia hidup apa adanya. Kalau tak suka, pergi. Kalau lagi senang, ia berkumpul dengan orang-orang. Saleh juga tak pandai mencari kerja tambahan untuk menghasilkan uang lebih. Saleh merasa, karena hidup apa adanya dan tak pandai mencari uang itulah yang membuat keluarga mertuanya kurang peduli padanya. Dan, kedua anaknya, Aisyah dan Nizam, menjadi korban dari sikapnya itu.

Setelah sekian lama membujuk istrinya, barulah perempuan itu mau pindah rumah. Dan selama di rumah sewa tersebut, istrinya pula yang membuat ulah. Kalau sudah waktunya jam kerja, istrinya tak peduli lagi pada keadaan rumah, tak peduli pada anak-anak. Mau sakit, mau dititip pada tetangga, mau dibawa Saleh ke tempat kerja. Tak peduli. Dan pulang pun sesuka hatinya.

Memang awalnya ada orang yang mau mengasuh anaknya, tapi hanya betah selama tiga bulan, setelah itu pergi. Begitulah terus. Akibatnya, terpaksalah Saleh yang mengasuh anaknya. Bahkan, Saleh harus memasak dan mengurus kedua anaknya seorang diri. Terlintas juga di hatinya untuk menceraikan istrinya. Tapi, kalau nanti berpisah, bagaimana nasib Aisyah dan Nizam? Andai kata ia dipandang dayus, biarlah.

Seringkali Saleh tak masuk kantor. Akibatnya selalu digunjingkan sesama pegawai. Makan gaji buta, kata mereka. Tapi Saleh tak peduli itu, yang penting dua anaknya selamat. Kalau ia berdosa, biarlah katanya, Tuhan itu tidak buta. Pengadilan Tuhan bukan seperti pengadilan manusia. Tuhan itu Maha Adil. Selama ia mengasuh dua anaknya tersebut, ia sering memarahi mereka karena selalu berkelahi. Dan semakin hari kelakuan Aisyah kian membuat ia kesal dan marah. Ada saja ulahnya yang membuat adiknya menangis. Dan setelah Aisyah pergi, meninggal dunia, kesalahannya yang sering memarahi anaknya itu tertayang kembali. Seolah-olah kejadian itu baru kemarin petang terjadi. Setelah itu, secara diam-diam Saleh menangis dan tak mau lagi ke makam anaknya itu. Kadang-kadang sedih itu dinikmatinya. Berjam-jam ia menangis dan mengingat Aisyah. Ia biarkan kesedihan itu benar-benar sampai ke puncaknya.

Saleh ingin mundur dari pegawai negeri dan meninggalkan istri serta anak keduanya. Ia merasa gagal dalam hidup. Gagal menjadi ayah, gagal menjadi suami, gagal menjadi menantu, dan gagal dalam bermasyarakat. Namun, karena mempertimbangkan baik dan buruk berpisah, yang buruknya lebih banyak ketimbang baiknya, ia usahakan juga mempertahankan rumah tangganya, walaupun itu hanya bagai mengayuh biduk lapuk di tengah lautan dalam.

Ia tak mau anak keduanya, Nizam, menjadi korban. Anak yang mana yang tak akan menderita kalau kedua orang tuanya berpisah?

***

Demikianlah, sejak tiga tahun yang lalu, tiga bulan inilah, baru ia menjenguk makam anak sulungnya tersebut. Kebetulan ia sudah dipindahkan bekerja ke kota ini. Dan hebatnya, hampir setiap hari ia ke sana. Itu bermula setelah ia membangun kubur anaknya tersebut. Dan rupanya sudah tiga bulan itu ia terus bermimpi jumpa dengan anaknya tersebut. Selain berjumpa dengan anaknya dalam tidur, ia juga sering mimpi bertemu dengan ayah dan ibunya yang sudah lebih dahulu meninggal. Setelah bangun dari tidur, perasaan rindu Saleh pada Aisyah dan kedua orang tuanya semakin membuncah.

“Kata Bapak, Abang setiap Jumat ke tempat Aisyah sekarang. Apa benar, Bang?” tanya istri Saleh.

“Ya. Memangnya ada apa? Ada yang salah dari sikapku itu?”

“Tidak. Cuma heran saja.”

“Heran?” kata Saleh dengan mata menyipit. “Orang tak mau pergi salah, sering pergi pun salah. Ada apa dengan kalian ini?”

Kan cuma bertanya, Bang. Itu saja marah,” kata istri Saleh cemberut.

Saleh menggeleng.

“Bang. Beberapa malam ini aku sering bermimpi.”

“Bermimpi?” Saleh tatap istrinya lekat- lekat. “Mimpi apa?”

“Abang selalu pergi bersama Aisyah.”

“Alhamdulillah.”

Kok alhamdulillah, Bang?”

“Jadi, mau bilang apa lagi?”

“Malam tadi aku mimpi Abang pergi bersama Aisyah dan Abang pamit padaku.
Kata Abang, kalian akan…” Istri Saleh menunduk. Pelan-pelan air matanya mengambang.

“Akan apa?”

“Akan pergi jauh.” Suara istri Saleh seperti tercekat di kerongkongan.

“Hmm. Eloklah tu. Bukankah itu yang kalian tunggu selama ini?”

Istri Saleh berlari ke kamar. Ia tumpahkan air mata ke sarung bantal. Perempuan itu melolong.

Saleh terdiam melihat istrinya yang menangis. Melihat istrinya begitu, timbul juga iba hatinya. Ia susul perempuan itu ke kamar.

“Aku memang rindu sekali ingin bertemu Aisyah,” kata Saleh seolah-olah tidak mengerti perasaan istrinya saat itu.

Air mata istri Saleh mengalir semakin deras setelah mendengar kata-kata Saleh tersebut. Ia peluk suaminya itu erat-erat. Saleh tak bereaksi. Ia berdiri kaku bagai boneka panda Aisyah yang tersenyum di atas lemari kain di sudut kamar.

***

Pagi Jumat. Saleh kembali berada di makam Aisyah. Tapi, sekali ini tidak sendiri. Hampir seluruh kerabat istrinya serta tetangganya ada di situ. Istri Saleh terbujur pingsan di pangkuan ibunya, di samping mayat Saleh yang sebentar lagi akan ditanam di samping makam Aisyah. Konon, Subuh tadi Saleh tak bangun dari tempat tidurnya. Istrinya coba membangunkan, tapi lelaki itu tak bergerak. Meninggal. (*)

 

 

Pekanbaru, November 2014-2016

Griven H Putera sastrawan Riau.

 

One Response

  1. Mengharukan. Ini baru bagus. Dari pada cerpen2 yang melanglang buana tapi tak mendasar.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: