Cerpen Rahmy Madina (Suara Merdeka, 28 Februari 2016)

Nasi Bungkus Istimewa ilustrasi Putut Wahyu Widodo
Nasi Bungkus Istimewa ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Aku tak tahu penyebab pasti kenapa Kakek tak kembali ke rumah kami, sehingga Nenek selalu termangu menatap ombak bergulung-gulung yang seakan tak punya lelah. Aku kerap memperhatikan Nenek dari balik kaca jendela yang kupastikan tetap bersih, meski kami tinggal di pesisir.

Nenek moyangku orang pelaut. Begitulah lagu yang dulu sering kunyanyikan di TK. Dan, aku satu-satunya anak yang paling bangga karena punya ayah dan kakek pelaut. Mereka berlayar mencari ikan, pulang ke darat untuk menjual ikan tangkapan ke pasar. Semua ibu teman-temanku akan membeli.

Ya, dulu aku merasa begitu beruntung. Aku berlarian di bibir pantai seakan mengalahkan ombak. Berteriak lepas menyamai suara debur ombak menghantam karang. Menyatu dengan angin hanya dengan merentangkan tangan. Melompat-lompat sambil berburu kerang diiringi tawa Ibu, Ayah, Nenek, dan Kakek.

Aku merindukan saat-saat seperti itu. Rindu mendorong perahu ke laut dan melambaikan tangan sampai perahu mengecil mendekat ke cakrawala. Aku selalu ingin seperti Kakek dan Ayah. Menerjang ombak, berkawan burung camar. Tanpa nelayan seperti mereka, tak ada ikan segar di pasar.

Semua ceritaku tentang laut, ombak dan perahu, ombak dan burung camar, tawa ceria dan semangat yang tak tergantikan. Namun kini semua tinggal cerita. Tak ada lagi tawa di rumah kami. Tak ada keceriaan yang mengalun bersama nyanyian ombak. Semua tinggal cerita, tinggal kerinduan.

Sekarang aku memojok di sudut kamar, memperhatikan Nenek yang menatap ombak seakan esok gulungan itu terhenti. Merapal doa begitu panjang agar Kakek tahu ke mana harus pulang; ke rumah kami. Berharap doa itu menuntun dia kembali. Di sini ada seseorang yang merindukan dia melebihi apa pun.

Awalnya Kakek mengeluh sudah lelah harus terus menerjang badai. Lalu dia mogok berlayar. Sejak saat itu, Ayah melaut seorang diri. Setelah berhari-hari hanya termangu di rumah menyaksikan perahu terombang-ambing ombak, akhirnya Kakek memutuskan hengkang dari Garut, merantau ke kota.

“Agar kau tak perlu terus-menerus membolak-balik ikan di bawah terik matahari. Agar menu kita berubah menarik,” ujar Kakek menjelang berangkat. “Aku akan pulang sebulan lagi, memberi kabar.”

Nenekku wanita yang kuat. Jangankan menangis, mengeluh pun enggan. Tegar bukan main. Keputusan Kakek seakan perintah yang serta-merta dia turuti. Setiap hari Nenek membuat ikan asin dan menjualnya ke pasar. Ikan itu semula tangkapan Kakek yang khusus diasinkan. Kadang ibuku membantu mengangkat ikan kering dan menjual ke pasar. Menu makanan kami pun mengikuti apa yang ada; sayur kangkung dan ikan goreng. Terkadang sayur bening dan ikan asin. Tentu kami bosan. Namun itulah jalan satu-satunya bagi kami untuk bertahan.

Begitu genap sebulan Kakek pergi, sore hari Nenek mengenakan kebaya terbaik lengkap dengan selendang putih pemberian Kakek. Dia berdiri menanti di dekat perahu, memandang matahari yang tinggal separuh. Dia kembali masuk rumah begitu langit berubah gelap. Kami bertiga—aku, Ibu, dan Ayah—cemas menanti di meja makan.

“Suruh dia pulang, Mas. Ibumu sudah berjam-jam berdiri di sana. Aku khawatir.”

Ayahku memperhatikan wanita tua itu dari jauh dengan tatapan iba. “Mungkinkah bapakku kembali, Ning?”

“Kembali atau tidak, bawa ibumu pulang. Suruh masuk. Anginnya kencang,” ucap Ibu gusar.

“Jangan!” Ayah menatap kami bergantian. “Biarkan dia menanti sampai akhir batas penantian. Jangan buat dia makin kecewa.”

“Kau yakin ibumu punya batas?” Ibu makin panik, sedangkan aku yang tak tahu apa-apa diam menyimak.

Beberapa hari lagi aku masuk SMA. Aku rasa bukan hanya aku yang akan memulai kehidupan baru. Namun juga Nenek dan keluarga kami. Aku harus memulai dua kali.

“Ibuku bukan cakrawala, Ning,” gertak Ayah. Ada nada cemas yang kutangkap.

Tak lama setelah percakapan itu berakhir, Nenek membuka pintu dan masuk ke rumah. Tanpa menyapa kami, dia masuk ke kamar. Tanpa sepatah kata pun, dia tidur mengenakan jarit dan selendang yang dia kenakan untuk menunggu Kakek. Sejak saat itu Nenek hanya menyiapkan nasi empat piring.

***

“Aku tak bisa hidup begini terus, Mas! Mending aku ikut bapakmu ke Jakarta!”

Ayah mendelik menatap Ibu yang mengemasi barangnya ke dalam tas besar. “Ning! Jaga sikapmu! Kamu mau ke mana?”

Ibu balik melotot. “Aku kan sudah bilang, mau ke Jakarta! Kamu kira aku tak capek hidup begini terus? Setahun setelah bapakmu pergi, tak ada yang berubah! Ikan asin, air laut, perahu reyot, Ibu yang hampir-hampir tak pernah tersenyum lagi. Aku capai, Mas,” jawab Ibu, yang menitikkan air mata di ujung kalimat.

Aku sama kelu dengan Nenek. Kuhampiri kamarnya dan kupeluk dia erat. Begitu tangannya menyentuh lenganku, aku berbaring di pangkuannya, tanpa bicara.

“Kelewatan kamu, Ning!” Ayah geram. “Kamu tak kasihan pada Ibu. Dia sudah menderita, Ning. Jangan kau tambah lagi!”

“Ibu terus! Ibu terus! Di otakmu cuma ada Ibu. Padahal, aku juga butuh kebahagiaan, Mas! Aku butuh lebih dari yang kita miliki. Aku tak kuat! Pokoknya aku mau pergi!” ujar Ibu dengan nada meninggi. Dia tutup tas besar itu, lalu keluar kamar dengan langkah terseok. Sampai di depan kamar Nenek, Ibu berhenti. Mematung, menatap kami sambil menangis, lalu membuang muka dan melangkah keluar rumah. Dia menutup pintu dengan entakan keras.

“Ning! Tunggu, Ning!” Bapak mengejar. Entah bagaimana kelanjutannya, setelah terduduk di perahu sampai pagi menjelang, Ayah terhuyung masuk ke rumah. Aku dan Nenek terdiam.

Tersisa tiga piring di meja. Nenek mengurangi beras dan lauk yang dia masak.

“Aku mau menyusul Ning ke Jakarta, Bu,” ucap Ayah menggetarkan batin kami.

Nenek terenyak, menatap Bapak. Dia berhenti mengambil nasi sesaat, lalu kembali terduduk lemas di kursi. “Jangan pergi,” pintanya lirih.

“Setelah menemukan Ning, aku pulang. Izinkan aku pergi, Bu. Barang lima hari saja. Setelah itu aku pulang! Tolong, Bu, aku mencintai Ning.”

Nenek tak berkata apa-apa.

***

Dua tahun Ibu dan Ayah pergi, rumah terasa sepi. Setiap kali aku keluar kamar, hanya ada dua piring di meja makan. Ibu hanya mengirim surat satu kali, menceritakan keadaan di Jakarta lebih baik daripada di rumah kami. Dia menuliskan alamat yang bisa aku datangi jika ingin mengubah nasib.

Pagi itu Nenek memintaku duduk bersama dengan raut wajah berbeda. “Makanlah. Seadanya,” ujar dia sambil memaksakan seutas senyum yang membuatku mengangguk.

“Nek, aku lulus.”

Nenek menyambut ucapanku sambil tersenyum. “Iya, selamat ya. Maaf, Nenek tak bisa menyekolahkanmu lebih tinggi lagi.”

Aku tersenyum. “Aku dapat beasiswa, Nek.”

“Kau ambil?”

Aku menggeleng. “Belum. Aku masih mencari di sekitar Jawa Barat, biar bisa pulang.”

Senyum Nenek melebar. Dia mengambilkan aku nasi, sayur kangkung, dan ikan goring kecil. Sejak Kakek, Ibu, dan Ayah pergi, aku dan Nenek bekerja di pasar. Nenek tetap menjual ikan asin, aku membantu jadi kuli panggul. Nenek tak mengizinkan aku melaut.

“Nek,” panggilku lesu sebelum menyantap makan siangku. Nenek mendongak menatapku. “Besok aku ke Jakarta mencari Kakek, Ibu, atau Ayah. Aku masih menyimpan alamat Ibu.”

“Jangan.”

Permintaan sama yang dia ucapkan pula pada Ayah itu membakar hati nuraniku. “Aku akan kembali.”

“Sudah seberapa sering aku mendengar kalimat itu, Jar?”

“Fajar bukan Kakek, bukan Ibu, bukan Ayah. Fajar sayang Nenek. Satu hari saja, Nek, Fajar akan kembali.”

Nenek terdiam, seperti dua tahun lalu ketika Ayah minta izin pergi.

***

Jakarta benar-benar luar biasa. Orang hilir-mudik di mana-mana. Mobil mewah memenuhi jalanan. Lampu-lampu kota membelalakkan mata. Berbeda dari pantai dan laut kami yang mengeruh.

Berbekal sesobek kertas kecil, aku mencari alamat Ibu. Bertanya ke sana-kemari hingga sampailah di gang kecil remang-remang. Ragu sejenak, tetapi akhirnya aku masuk. Mencari sosok wanita yang aku rindukan.

“Fajar?”

Aku menoleh ke sumber suara. Seorang perempuan cantik berbedak tebal, wangi, dan bergincu merah dengan rok mini menatapku tak percaya.

“Kok kamu bisa sampai ke sini?”

Mata itu mata yang kukenal. “Ibu? Ngapain Ibu di tempat begini? Rok Ibu mini sekali?” ujarku tak percaya.

“Santi, ayo dong. Om sudah nggak sabar nih.”

Aku menatap lelaki yang tiba-tiba merangkul ibuku. Perempuan itu tak menolak, justru bergelayut manja. “Sebentar ya, Om. Om masuk dulu, nanti Santi susul,” jawab Ibu.

Lelaki itu menurut. Ibu kembali menatapku. Ada rona takut, bahagia, sekaligus cemas di balik tatapan itu. “Fajar, kamu pergi ke rumah di belakang tempat ini dulu. Tunggu Ibu. Nggak lama kok. Nanti Ibu susul.”

Aku terdiam, tak bisa menahan air mata. “Kalau ada tempat yang paling ingin kukunjungi dan Ibu ada di sana, bukan tempat ini, Bu!” ujarku sambil melenggang pergi, tak menghiraukan teriakan Ibu.

Robek hatiku melihat Ibu. Entah, apakah bisa kutemukan penawar rasa sakit yang dia torehkan.

Kereta sudah berangkat sepuluh menit lalu. Kereta lain berangkat besok pukul 21.00. Aku khawatir. Nenek pasti menungguku. Namun mau tak mau aku duduk gelisah, menunggu esok tiba. Uangku hanya tersisa untuk membeli tiket kereta api dan sebungkus nasi. Aku duduk termangu sambil merapal doa. Berharap doa itu bertemu doa nenekku. Dan, dia tahu aku akan pulang. Keesokan hari, begitu kereta datang, aku langsung naik. Tak sabar aku sampai ke rumah. Begitu sampai di Garut, aku membeli sebungkus nasi dengan uang tersisa, kubawa pulang dengan rasa rindu pada Nenek. Sampai di rumah, aku mendapati Nenek duduk seorang diri di meja makan. Ada sepiring nasi dan ikan asin sisa. Aku tersenyum sambil meletakkan nasi bungkus di atas meja. Sambil menangis, aku menatap Nenek dan berkata, “Aku pulang.”

Tanpa menjawab, Nenek sontak berdiri, lalu memelukku sambil menangis sesenggukan. Itulah kali pertama Nenek menangis. Bungkusan nasi yang kubawa pun menjadi bungkusan istimewa bagi kami. (*)

 

 

Patemon, 8 Februari 2016: 22.13

Rahmy Madina adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes).

 

Advertisements