Cerpen Des Alwi (Kompas, 28 Februari 2016)

Mardi ilustrasi Bambang Heras
Mardi ilustrasi Bambang Herras/Kompas

Malam semakin larut. Angin dingin yang mulai bertiup semakin menekan mataku. Tetesan air hujan dan guncangan gelombang tidak berhasil menahan kantuk yang sudah menderaku sejak tiga jam lalu. Mardi, kapten merangkap ABK, yang duduk di sudut buritan kapal kayu tua, ukuran 3 x 7 meter, tidak bergerak. Matanya terus menatap kapal bagan, menunggu jaringnya diangkat, tanda cumi sudah terkumpul dan siap untuk dijual. 

Namun tanda itu tidak muncul-muncul. Padahal ini kapal bagan ketiga yang sudah kami tunggu sejak meninggalkan PLTU Ancol tujuh jam lalu. Jika dalam sejam lagi tidak ada cumi, artinya trip mancing alu-alu dengan umpan cumi akan gagal. Istri dan anak-anakku yang selalu menggerutu kalau aku keluar memancing pasti akan meledek habis-habisan, memastikan memancing tidak hanya menghabiskan uang belanja bulanan kami yang memang tidak pernah tersisa, juga waktu.

“Yeaah papa boncoos lagi,” teriak mereka jika aku hanya membawa seperempat cool box ikan. “Aduuh, mau diapakan ikan sebanyak ini,” sambut istriku jika aku membawa satu cool box dan satu styrofoam ikan dalam jumlah besar dan ukuran monster.

“Cumi makin susah, ikan juga makin jarang,” terdengar Mardi menggerutu pelan membuyarkan lamunanku. Kapten sekaligus pemilik kapal kayu tua yang biasanya irit bicara, mengeluhkan buruknya kualitas air laut Teluk Jakarta penyebab berkurangnya ikan. Menurut dia, ikan seperti manusia memerlukan air bersih untuk bernapas dan berkembang biak. Air laut yang keruh kecoklatan sampai 2 km dari daratan membuat ikan sulit berkembang.

Dulu orang ramai-ramai membuat rumpon dari becak yang ditenggelamkan ke laut agar ikan bisa berkembang biak. “Sekarang jangankan rumpon, semua orang malah menjadikan laut tempat sampah seluruh Jakarta. Tidak ada lagi yang peduli dengan laut dan kehidupannya,” tandas Mardi.

“Kalau begini terus kita mungkin harus mancing di tengah, bahkan terpaksa harus ke Pabelokan. Dengan kapal kayu tua ini sangat sulit melawan gelombang. Sehari penuh baru bisa sampai ke Pabelokan,” tambahnya.

Advertisements