Hujan Gajah


Cerpen Dadang Ari Murtono (Koran Tempo, 27-28 Februari 2016)

Hujan Gajah ilustrasi Munzir Fadly

Hujan Gajah ilustrasi Munzir Fadly

PADA malam keempat puluh wafatnya Sakti, Jibi berjalan pulang dalam keadaan mabuk parah. Tiga kali ia terperosok ke dalam selokan, dan dua kali tersandung batu. Sampai di depan rumahnya, ia mendapati seekor gajah meringkuk di teras, tepat menghalangi pintu. Semabuk apa pun Jibi, ia terkejut juga. Dan begitu mengamati dengan seksama ukuran gajah itu, Jibi yakin bahwa yang teronggok di depannya hanyalah sebuah boneka gajah. Dan ketika apa yang dikiranya boneka itu bergerak-gerak, ia mengeluhkan efek arak yang terlalu keras. Jibi memanfaatkan sisa tenaganya untuk terus mengamati gajah itu. Dan sebelum memutuskan untuk membuka pintu, ia sudah jatuh dalam tidur.

Hujan datang pagi-pagi benar keesokan harinya. Tempias hujan membangunkannya dan hal pertama yang ditangkap matanya adalah seekor gajah kecil yang menatapnya. Jibi mengucek-ucek matanya. Dan sepuluh menit kemudian, ia menyadari bahwa yang berada di depannya adalah gajah hidup. Benar-benar hidup. Jibi tidak tahu banyak tentang gajah, dan ia benar-benar tidak menduga bahwa gajah bisa seukuran itu. Tingginya kurang dari setengah meter dan bola matanya berwarna hitam, persis seperti manik-manik.

“Kau lebih tampak seperti boneka gajah daripada gajah sungguhan,” katanya. “Dan kau benar-benar berbulu seperti boneka gajah.”

Gajah itu terus menatapnya.

“Kau benar-benar boneka gajah. Yah, kau boneka gajah yang hidup!”

Jibi merasa pernah melihat boneka gajah yang sama seperti gajah hidup di depannya. Bahkan, Jibi yakin beberapa kali mengelus boneka itu. Tapi di mana? Tiga puluh menit kemudian, Jibi berhasil menggali dari kotak ingatannya bahwa boneka itu berasal dari kamar Sakti. Dan ingatan tentang kamar Sakti membuatnya kembali jatuh dalam kesedihan. Jibi mengenal Sakti melalui sebuah grup BBM dan segera merasa dekat. Ia merasa telah mengenal Sakti sejak bertahun-tahun sebelumnya. Dan ketika beberapa waktu kemudian mereka memutuskan untuk kopi darat, Sakti bercerita bahwa dirinya juga merasa telah bertahun-tahun mengenal Sakti.

“Barangkali kita saling mengenal di kehidupan sebelumnya.”

“Barangkali kita sepasang kekasih di kehidupan itu.”

“Atau jangan-jangan, sepasang suami istri.”

“Apakah salah satu dari kita berjenis kelamin perempuan pada waktu itu?”

“Mungkin saja.”

“Mungkin aku yang perempuan.”

“Mungkin juga aku.”

Pertemuan pertama itu terjadi di sebuah kafe dan mereka menghabiskan lebih dari tiga jam mendiskusikan kehidupan mereka sebelum kehidupan yang sekarang. Lebih khusus lagi, mereka sibuk menerka siapa di antara mereka yang perempuan dan siapa yang laki-laki. Sesungguhnya, itu percakapan yang membosankan. Dan besar kemungkinan akan menjadi cerita yang monoton bila dituliskan dengan terperinci. Tapi mereka menikmatinya dan berjanji bertemu lagi keesokan harinya di tempat yang sama.

Pada pertemuan kedua yang berlangsung tak kurang dari lima jam itu, mereka menghabiskan empat botol bir dan membahas sesuatu yang tidak berbeda jauh dengan cara sama monoton dan membosankannya dengan pertemuan pertama mereka.

“Bisa jadi di kehidupan sebelum ini kita sama-sama berjenis kelamin laki-laki seperti saat ini.”

“Atau kita sama-sama berjenis kelamin perempuan.”

“Dan kita berteman akrab.”

“Atau kita tetap menjadi sepasang kekasih.”

Empat kalimat itulah yang mereka ulang-ulang, kadang-kadang dengan sedikit variasi, selama hampir lima jam. Dan mereka sangat menikmati percakapan itu, sehingga ketika mereka menyadari bahwa hari telah larut dan mereka mesti berpisah, mereka merasa waktu begitu cepat berlalu dan kesadaran itu membuat mereka berhasil menambah variasi lain dari kalimat yang sejak tadi mereka ulang-ulang, “Alangkah terkutuknya waktu yang berlalu terlalu cepat ini.”

Selama sebulan mereka menghabiskan rata-rata lima jam setiap harinya bertemu di kafe itu pada jam yang sama dan membicarakan sebuah topik yang mereka reka-reka dari kehidupan mereka sebelum kehidupan mereka yang sekarang. Setelah persoalan jenis kelamin, pada hari-hari selanjutnya, percakapan monoton dengan kalimat yang diulang-ulang itu mencakup makanan kesukaan, olahraga, hingga novel-novel favorit mereka. Setelah tiga puluh pertemuan, Sakti mengajukan tawaran yang sesungguhnya juga ingin diajukan Jibi. “Apakah kau ada waktu untuk berkunjung ke kamar kosku?”

“Aku rasa di kehidupan sebelumnya kita adalah satu orang.”

“Maksudmu?”

“Sebab aku merasa begitu mengenalmu dan kau juga begitu mengenalku. Dan apa yang kauucapkan barusan adalah apa yang juga hendak kuucapkan padamu.”

Mereka tertawa.

Dan itulah untuk pertama kalinya, Jibi mengelus boneka gajah di kamar Sakti, sekadar untuk mengatasi kegugupan yang tiba-tiba menyergap.

 

BEBERAPA hari setelahnya, grup BBM yang sama-sama mereka ikuti merencanakan sebuah aksi unjuk rasa untuk menuntut pemerintah agar melegalkan pernikahan sesama jenis. Sakti adalah aktivis yang memperjuangkan persamaan hak untuk setiap orang. Demonstrasi merupakan hal yang wajar baginya. Jibi sendiri, meskipun tertarik akan hal itu, nyaris tak memiliki waktu untuk bergabung dengan aksi demonstrasi karena kesibukannya bekerja. Tapi Jibi selalu mengikuti perkembangan isu-isu terkini melalui grup BBM atau diskusi-diskusi di internet. Memang aneh bila dua orang yang sama-sama tertarik dengan perjuangan persamaan hanya bisa menciptakan dialog yang monoton dan membosankan dalam setiap pertemuan mereka. Tapi begitulah kenyataannya.

Seperti biasanya, pada hari itu, Sakti turut turun ke jalan sementara Jibi menghabiskan waktunya dengan menggeluti pekerjaan di kantornya. Tapi Jibi masih sempat mengirim pesan kepada Sakti, “Hati-hati, tadi pagi aku menjatuhkan gelas waktu sarapan. Itu bukan pertanda baik.”

“Aku akan baik-baik saja,” jawab Sakti.

Aksi unjuk rasa kali itu berjalan jauh dari yang siapa pun duga. Mereka merencanakan bahwa aksi akan berlangsung empat jam, namun belum lagi setengah jam, sekelompok orang dengan jubah dan sorban dan pentungan memaksa mereka bubar. Beberapa polisi yang menjaga aksi itu terlalu sibuk dengan ponsel pintar mereka sehingga mereka tak sempat mencegah bentrok yang tak seimbang itu.

Sakti sampai di kamar kosnya setelah berjalan susah payah lantaran ulu hatinya membiru oleh sodokan pentungan salah satu orang bersorban yang menyerangnya sembari mengucapkan nama Tuhan. Ia segera tertidur sesampainya di kamar kosnya. Dan kenyataannya, Sakti tidak pernah bangun lagi dari tidurnya. Jibi berkali-kali mengirim pesan dan tak mendapat balasan dari Sakti. Dan itu membuatnya cemas. Segera setelah ia mendapat informasi tentang detil peristiwa unjuk rasa itu dari grup BBM, Jibi meluncur ke kamar kos Sakti. Jibi tidak pernah mau menceritakan sensasi apa yang ia rasakan sewaktu mendapati Sakti tertidur dengan begitu damai di kamar kosnya, dengan tubuh dingin dan nadi yang tak berdenyut. Yang kemudian kita tahu adalah polisi datang ke sana, mayat Sakti dibawa ke rumah sakit untuk keperluan otopsi, dan tim forensik menyatakan Sakti meninggal lantaran luka dalam di ulu hatinya.

Di dunia yang menuntut penjelasan rasional untuk segala hal, ternyata masih saja ada hal tidak masuk akal yang bisa terjadi. Dan inilah yang tidak diketahui Jibi. Dalam tidurnya, Sakti seperti bermimpi. Dalam mimpi itu, ia melihat tubuhnya terlentang dalam tidur yang begitu lelap. Ia merasa bisa menembus langit-langit kamar kosnya. Persis seperti yang pernah ia lihat dalam sebuah adegan sinetron kejar tayang. Dulu, ia beranggapan adegan itu adalah adegan paling konyol yang bisa diciptakan industri televisi, namun begitu menyadari bahwa apa yang terjadi dengannya sama persis dengan adegan tersebut, Sakti berpikir bahwa pencipta adegan itu adalah seorang wali, atau paling tidak, seorang suci.

Ia tidak ingin mati. Itulah saat ia melihat ponselnya bergetar. Ia tahu Jibi mencoba menghubunginya. Sakti mencoba meraih ponsel itu, namun tangannya seakan telah berubah menjadi cahaya dan setiap kali ia mencoba menyentuh benda itu, setiap itu pula tangannya menembusnya. Satu-satunya yang kemudian terbersit di otaknya adalah segera kembali ke tubuhnya yang tengah tertidur. Tepat pada saat itulah ia menyadari bahwa di samping tubuhnya, berdiri sesosok makhluk yang tidak jelas jenis kelaminnya, menghalanginya dengan kibasan tangan setiap kali ia mencoba masuk ke tubuhnya.

“Urusanmu dengan tubuh ini sudah selesai,” hardik makhluk itu.

“Tapi aku harus bertemu Jibi.”

“Temuilah, tapi tidak melalui tubuh ini.”

Sakti melihat boneka gajahnya di sudut kamar. Mata boneka itu hitam dan berkilau. Seperti memanggil-manggilnya. Sakti lalu melihat Jibi membuka pintu kamarnya dan jatuh dalam duka yang begitu mendalam, suatu pemandangan yang mengerikan bagi Sakti sehingga membuatnya bersumpah akan mati-matian melupakan adegan itu. Lalu polisi datang. Lalu tubuhnya dibawa pergi. Lalu Jibi keluar dengan menyeret kaki. Lalu ia mencoba masuk ke dalam boneka itu. Dan selama mencoba menyatu dengan boneka itulah, di tempat lain Jibi mulai tidak mampu bertahan dalam sadar dan mengalihkan kegemarannya dari minum bir menjadi minum arak yang kadar alkoholnya lebih dari lima puluh persen, sementara Sakti mengalami goncangan yang menyebabkan orientasinya akan waktu menjadi berantakan. Ia mengira semuanya berlangsung dalam hitungan menit. Tapi jelas-jelas ia salah.

Hujan turun bertambah deras. Jibi meraih gajah di depannya, memeluknya seperti ia memeluk boneka gajah di kamar Sakti. “Hujan gajah, hujan,” bisiknya sembari membuka pintu. Ia merasa begitu hangat dan damai. Sepuluh jam setelah itu, Jibi mengetahui dari tayangan televisi bahwa gajah adalah binatang yang memiliki daya ingat sangat baik. Ia tidak ingin berpisah dengan si gajah dan ia ingin minum bir. (*)

 

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: