Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 21 Februari 2016)

Kereta Pengantar Roh ilustrasi Rendra Purnama
Kereta Pengantar Roh ilustrasi Rendra Purnama

Kereta melaju di bawah hujan dengan menyeret gerbong-gerbong tua yang seolah padat berisi kesedihan. Lantang tubuh kereta menerjang rinai air yang tak pernah putus sejak berangkat dari stasiun kota. Suasana kelabu menyingkap langit. Kemuning padi tenggelam pada kelam; terabadikan pada gurat lanskap lukisan alam yang murung.
Mataku pun menangkap kilas-kilas bayang itu dengan pasrah: asing.

Bayangan hujan di luar kusen jendela hadir bagai sebuah layar televisi; menghidangkan begitu banyak kilas perjalanan yang muram. Dua biji mataku menangkap potongan-potongan film lama: wajah bulat dan tatapan beningmu; menyingkapku ke dalam nostalgia yang begitu purba. Aku seketika membayangkan senyummu yang merekah di waktu itu; di suatu perpisahan yang sebenarnya juga tak pernah kita harapkan.

Aku membuka sedikit jendela kereta. Terdengar derit dua bilah kaca yang beradu dalam gesekan lembut. Terasa nyinyir, menggores hati. Mendadak, terbersit keinginan merasakan tampias air hujan pada Februari. Dingin yang lembut. Rinai yang pelan-pelan mampu menciptakan sebuah kerinduan. Gigil hujan yang menyingkap, merontokkan ketenangan batinku. Satu per satu tampias hujan mampir di wajahku. Dan, memoriku terpelanting seperti ikan sungai yang terkail tak berdaya: mengelepar-gelepar di hadapanmu.

Sekali lagi, aku terbayang kau di sisiku; di dalam gerbong yang sama; membicarakan perpisahan. Dan, kereta melaju lebih cepat. Bagai kilat cahaya. Sedikit aku mengerling, memperhatikan keadan gerbong kereta akhir pekan yang lengang: sepasang kekasih yang bermesraaan di kursi 7A, kakek yang sibuk melamun, dan seorang bocah yang terlelap di dalam pelukan ibunya. Semua-sama. Seperti waktu kita berpisah: teratur dan rapi.
Diorama ini seakan sudah ditata untukku melakoni melankolia hari ini. Begitu juga dengan deretan persawahan di luar. Pun lanskap-lanskap gunung yang bisu; yang sedang bercakap dengan bahasanya sendiri.

Aku menyadarkan punggung pada kursi. Leher melengos dan bibirku mendesah. Kaki aku selonjorkan karena pegal. Tanganku refleks meraba sesuatu di sampingku. Hampa. Tanpa sadar aku membayangkan kau ada di sisiku. Juga, aku lekas mengartikan kekosongan tersebut adalah kau dan perpisahan itu:

“Kau masih ingat bagaimana Tuhan mempertemukan kita,” suaramu lembut pada detik-detik perpisahan.

“Tentu, Theresia,” aku memerhatikanmu. Matamu yang jernih itu menancap lesu ke luar kereta; ke arah sebongkah bola besar panas di ufuk barat. Senja datang.

“Tetapi, aku tidak suka dengan cara Tuhan memisahkan kita,” tambahmu lagi seraya mengawasiku; mengaitkan kelima jemarimu yang lentik dan halus. Tubuhmu yang hangat rebah di pundakku. Dan aku tahu: itu adalah pelukan terakhirmu bersamaku. “Mengapa kita bisa jatuh cinta di saat-saat genting seperti itu?”

Kau mencoba mengingat soal gerombolan mahasiswa bebal yang membela rakyat suatu daerah karena penggusuran; demonstrasi-demonstrasi heroik menolak pembanguan pabrik semen; propaganda-propaganda yang berbahaya; penculikan yang menimpa beberapa sahabat sehingga keamanan hidup mereka terancam. Pada waktu demikianlah, kita jatuh cinta. Waktu-waktu yang menggila.

Katamu lagi di tengah derak gerbong yang berisik. “Jadi bila kereta ini berhenti di stasiun kotaku nanti, kau dan aku tidak akan saling mencintai lagi?”

Aku hanya diam. Dan betapa bodoh diriku tak dapat mempertahankanmu.

“Jadi setelah kereta ini sampai di kotaku, kita berpisah?” Ulangmu lagi mencari kepastian. “Tidak adil.”

Kau tertunduk. Aku hanya bisa meraih tanganmu; mencoba menguatkan, walau sebenarnya aku sendiri jauh lebih hancur. Akan tetapi, aku mencoba untuk meyakinkanmu. Ungkapku kemudian: “Tidak ada pilihan lain bagi kita selain menerima. Aku tidak bisa memaksamu untuk memilihku. Bahkan untuk ikut denganku; meninggalkan keluargamu dalam keterancaman. Kau harus hidup normal seperti kebanyakan.”

Beberapa hari sebelum perpisahan terjadi, ayahmu memang datang khusus kepadaku. Pria itu mengatakan agar aku menjauhimu. Ibumu menderita melihatmu hidup melata sebagai seorang aktivis. Lagi, kau harus meninggalkanku karena keluarga besarmu tak menghendaki cinta yang terlalu banyak perbedaan. Tidak ada pilihan untukku. Perpisahan ini benar-benar harus terjadi demi kebaikan setiap orang; setelah kereta berhenti nanti.

Dan, bertahun-tahun setelah kejadian itu berlalu, aku masih mengingat setiap lembar potong perpisahan itu; lanskap murung di dalam derak kereta yang membawa kita pada keterasingan. Desir angin tiba-tiba berembus: kencang membilas kulitku. Gemuruh mesin kereta semakin lengking berderu, mengembalikan kesadaranku. Kereta ini masih melaju dalam kesedihan yang sama; menuju kotamu.

***

Kereta merapat pelan di Stasiun Tugu. Kakiku terhuyung-huyung turun dari tubuh kereta. Oleng. Aku mabuk oleh kesedihan. Dan bodohnya, aku kembali lagi ke kota ini. Mencari bongkahan-bongkahan kenangan yang hingga kini tak pernah aku temui kembali. Hanya ingatan-ingatan itu—yang terus menggema di dalam dadaku—menyeretku untuk terus kembali ke sini, serta makian kedua orang tuamu yang meruntuhkan semua harapan-harapan bersamamu.

Hujan di luar masih bertahan. Langit seolah ikut memanjatkan sebuah puisi sepi kepadaku; pada ziarah kenanganku. Aku berjalan di tengah hujan. Orang-orang memang tidak ada yang memperhatikan sosokku. Gerimis segar yang membasuh kulitku ini, sedikit mengurangi rasa suntuk. Kakiku pelan melangkah; melewati sebuah simpang jalan yang gaduh. Aku sampai di tempat favoritmu: Malioboro. Linglung—mual dengan rasa pilu—membungkuk aku berlalu.

Pun, ketika aku sampai pada sebuah monumen di tengah kota, pohon beringin tua masih terpacak di sana. Rerumputan tampak gemerlap disemai hujan. Ada sebuah bangku kecil bercat putih yang pernah kita duduki berdua. Kata-kata rayu mungkin masih menyelip di sela-selanya. Aku mendekat; meraba, dan seolah merasakan lembut jemarimu yang tertinggal. Ada juga aroma sampo, minyak wangi, dan keringatmu.

Terbetik kembali ingatan saat bersamamu:

“Kau ingin menikah pada hari apa?”

“Senin.”

“Mengapa Senin?”

“Karena aku ingin menujukkan kepada setiap orang; juga ayahmu, kalau pada hari itu aku bukan sebagai pengangguran. Bu kan sebagai penulis atau aktivis yang gemar menggerutu. Pada hari itu aku ingin terlihat sibuk menyuntingmu sebagai istri.”

Kau tersenyum. Bertanya lagi. “Berapa anak yang kau inginkan dariku?”

“Satu.”

“Mengapa satu?”

“Aku tidak mau repot. Aku hanya ingin satu anak perempuan sepertimu yang tak banyak menutut. Aku ingin menulis dan membaca dengan tenang.”

Semua kejadian itu terasa begitu segar. Dan, begitu pedih pula untuk diingat. Akan tetapi, lama juga aku duduk di bangku itu. Khusyuk aku menikmati kesedihan demi kesedihan yang hadir. Bahkan, sekali lagi aku merasa menjadi sebuah gerbong tua yang menyeret-nyeret ratusan kesedihanku sendiri; mengarak kepiluan yang terus aku rayakan seorang.

***

Setelah puas duduk-duduk di taman, sengaja aku melintasi kedai kopi di Jalan Prawirotaman. Kedai kopi itu ternyata masih ada. Sebuah warung yang selalu sunyi. Dua pelayan berwajah baik itu pun masih bekerja di sana. Untuk bagian ini aku tidak mencoba masuk. Rasanya hari ini aku sudah kenyang menelan segala kepahitan ketika mengingatmu. Aku pun akhirnya memilih untuk berdiri di seberang jalan, di depan kedai; di bawah guyuran gerimis yang semakin deras.

Sepasang mataku melompat ke arah meja nomor 17; tepat di bawah lampu neon yang keemasan. Dahulu, aku sering melihatmu duduk gelisah menungguku di sana; dengan lembar menu yang tak juga kau tulis apa. Dan, apakah kamu masih sering datang ke tempat ini sekadar untuk mengingatku atau menungguku? Entahlah…. sekilas, ketika aku termangu di seberang jalan, ada seorang wanita: cantik, berambut cepak, dengan gaun biru—yang aku kenal betul—turun tergesa dari taksi. Kau tertatih-tatih menghindari hujan.

Aku terperanjat. Apakah hari ini kau sengaja datang untuk mengingatku?
Apakah ada seorang lain yang berjanji bertemu dengamu di sini? Apakah…? Terlalu banyak pertanyaan. Hingga tiba-tiba, rasanya aku ingin mendekat. Namun, selangkah ketika aku menyeret kaki ke arahmu, sebuah mobil menerjang tubuhku: menabrakku. Tetapi, mobil itu melaju cepat tanpa melukaiku. Kendaraan itu melejit; menembus tubuhku yang kasat karena sudah lama mati saat kecelakaan kereta pada hari perpisahan itu. Ahh, aku ingat: Hanya kau dan beberapa penumpang yang selamat waktu itu. Tubuhku hancur bersama api yang membakar gerbong.

Di kedai itu, kau segera memesan dua capucino hangat. Ketika pelayan berwajah baik bertanya ramah kepadamu: “Untuk siapa?” kau menjawab: “Untuk kekasihku.”
Berjam-jam setelah memesan, kau hanya membiarkan minuman itu beku dirayu dingin. Seorang yang kau sebut sebagai kekasih itu tak juga datang. Akan tetapi melihat wajahmu yang gelisah itu mendadak mengingatkanku pada ekspresimu saat kau menungguku dahulu. (*)

 

 

Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Bukunya kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

 

Advertisements