Kamar 256


Cerpen Joss Wibisono (Koran Tempo, 20-21 Februari 2016)

Kamar 256 ilustrasi Munzir Fadly

Kamar 256 ilustrasi Munzir Fadly

CUACA Batavia tak ubahnya seperti suasana kalbuku. Kemarin seharian hujan lebat, hari ini panas, sangat panas; diriku serasa hidup dan berada dalam dunia air raksasa yang tak terlihat lagi batasnya. Apalah yang mesti kuperbuat? Kalau menoleh ke belakang, tampak seperti diriku hidup dalam air bersuhu 33 derajat yang tidak begitu menarik. Tetapi ini pilihanku sendiri, bukan? Betapa hidup di negeri tropis ini menyebabkan aku tak punya waktu lagi untuk berpikir tentang musik, tentang Johann Sebastian Bach, misalnya.

Kalaupun hari-hari ini aku tampil sebagai solo alto dalam Oratorium Natal ciptaan Bach, maka penampilanku terasa begitu hampa. Aku hanya mengikuti kehendak Paul Seelig, sang pemimpin yang mengaba tiga kali penampilan kami. Pementasan di Istana Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer yang baru saja usai merupakan yang terakhir kalinya, tapi bagiku yang paling tidak memuaskan. Aku sempat heran juga ketika Yang Mulia menjabat tanganku dan memuji penampilanku. Ketika kujawab tanke wol—terima kasih dalam bahasa Fries—mata orang paling berkuasa di Hindia ini berbinar-binar. Baru kali ini aku terlibat dalam pembicaraan basa-basi dengan seorang bangsawan Friesland di Belanda Utara.

Sejak tiba di Batavia tiga tahun silam—lebih dahulu beberapa bulan dari Gubernur Jenderal Tjarda—sudah berkali-kali mijnheer Seelig mengontrakku sebagai solis alto dalam pelbagai penampilan pimpinannya, bahkan ini sudah kali kedua aku tampil dalam Oratorium Natal di bawah abaannya. Aku tak pernah kesulitan memenuhi permintaan Seelig yang bagiku sebenarnya juga tidak terlalu berat. Tapi untuk kali ini jangan tanya soal penafsiranku! Jujur saja, tak ada ilham yang menuntunku untuk melahirkan sebuah prestasi seni gilang pada konser di akhir tahun ini. Aku hanya menyumbangkan suaraku, tanpa interpretasi dan tanpa penjiwaan.

“Mungkinkah suaramu lebih cocok untuk opera?” Ratri mencoba menjadi penyelamat, aku tahu ke mana arah pembicaraannya. “Bulan lalu sebagai Carmen kau benar-benar cemerlang. Sampai-sampai pelbagai koran bersepakat memujimu dalam resensi mereka.”

Ratri benar, dan seandainya saja dia tahu betapa sebenarnya dia berperan pada kehampaan yang kurasakan pada penampilanku sekarang. Bagaimana harus mengungkapkan ini padanya?

“Mungkin aku memang butuh waktu untuk beralih dari peran utama wanita binal dalam Carmen yang begitu profan keduniawian menuju karya rohani gerejani seperti Oratorium Natal ini,” begitu sedikit kubenarkan pendapatnya. Tapi bagaimana harus mengkaitkan Ratri pada penampilanku?

Sore itu kami berpisah setelah bersepakat untuk bertemu lagi dua pekan kemudian, sekembalinya dari Vorstenlanden, wilayah-wilayah yang diperintah oleh raja, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Seperti tahun lalu (dan pasti sebelumnya juga), ia merayakan tahun baru di tengah keluarganya. Aku tahu Ratri berangkat tidak dengan sepenuh hati, karena pasti desakan untuk berumah tangga akan kembali menimpanya. Desakan itu menderas begitu ia tamat Rechtshogeschool— Sekolah Tinggi Hukum—dan kini bekerja sebagai pengacara di salah satu advocatenkantoor yang terus menjamur di Batavia. Tapi pria inlander mana yang berani mempersunting seorang meester in de rechten seperti Ratri Moelatwangie?

Ratri pernah berujar teman-teman pria sesama lulusan RHS lebih memilih pasangan hidup putri-putri murni yang taat dan berbakti. Ketika kutanya apa artinya, dia cuma mencibir.

 

BEGITU memasuki bangsal makan yang besar itu, kutabur pandang ke segenap penjuru, tak ketinggalan ke arah plafon kayu ukir à la kraton Solo, kesukaanku. Kekhawatiranku segera terbukti, lagi-lagi kemegahan bangsal bermuatan ratusan orang ini tidak diimbangi oleh luapan pengunjung. Begitu keluar trem sudah kulihat mobil yang sedikit dan para pengemudi yang tidak meriung di salah satu sudut, kemudian teras depan juga begitu sepi. Kalau bulan lalu masih terdengar berisik, maka sekarang layak ditanya penyanyi dan combo pengiringnya menghibur siapa? Pria-pria dandy yang selalu duduk minum bir dingin di salah satu satu sudut bangsal juga tak tampak lagi. Selama dua minggu berturut-turut di awal 1939 ini Hôtel des Indes praktis sepi merana; padahal sampai November 1938, terutama pada Ahad siang seperti sekarang, pelanggan harus antre menunggu meja kosong. Kini pelayan mengatasi pelanggan dalam jumlah. Pasti ini karena pelbagai penangkapan yang ramai dalam pemberitaan koran sejak akhir tahun lalu.

Lieven belum datang. Pasti tak lama lagi, batinku. Pada kencan kami sebelumnya, Lievenlah yang terlebih dulu muncul. Di tahun baru ini kami sepakat untuk bertemu dua pekan sekali, lebih sering dari tahun lalu yang cuma sekali sebulan atau setiap kali Lieven pentas. Seorang pelayan bergegas menghampiriku; ia menyerahkan amplop kecil, sambil mempersilakanku memilih tempat duduk mana saja, karena pilihan memang tak terbatas. Kutunjuk kursi terdekat, dengan isyarat akan pindah kalau Lieven datang. Dia mengangguk dan menyuguhkan segelas air es, ternyata dia sudah hafal minuman pesananku begitu tiba.

Kukeluarkan secarik kertas dari amplop, di situ terbaca “Saya ke apotik dulu,” di bawahnya tertera Lieven Naaktgeboren, nama pengirim. Rupanya dia sudah menelepon hotel untuk memberi tahu keterlambatannya. Ke apotik? Ada apa? Betapa kesabaranku teruji, dua pekan berpisah dengannya, masih belum cukupkah? Seandainya saja hati ini berani bertegas kata padanya.

Untung penantianku tak perlu berlangsung lama. Belum lagi air es terteguk habis Lieven sudah muncul. Ia mengenakan Raglanblouse mode mutakhir Eropa yang terbuat dari sutra hijau, membawa tas kuning menyala, dan sepatu hak tinggi yang juga berwarna hijau mempercantik kerampingan kakinya. Wajahnya yang ceria penuh senyum, menandakan ia tak kurang apa pun, kesehatannya juga tampak prima.

“Ratri, mijn liefje,” ia bergegas memelukku dan mendaratkan ciuman lembut pada kedua pipiku. Sejenak ia mengerutkan dahi mendapati restoran kosong ini, tapi kami terlalu sibuk dengan rasa ingin tahu pada diri masing-masing.

“Bagaimana kabarmu? Kenapa harus ke apotik? Tidak apa-apa, kan? Apa rencana di tahun baru ini?” Kudengar diriku lebih dahulu memberondongkan rangkaian pertanyaan, sementara Lieven sibuk duduk dan mengatur kursinya. Kami memilih duduk di dekat jendela tapi juga persis di bawah kipas angin, maklum Lieven sering kepanasan akibat makanan pesanannya.

“Aku baik sekali, kemarin baru kembali dari Buitenzorg, seminggu di sana berlatih Azucena, salah satu tokoh dalam Il Trovatore. Minggu depan kita latihan lengkap dengan orchestra untuk pementasan akhir bulan. Ke apotik untuk cari krem yang menghambat sengatan matahari. Aku tetap bergulat dengan iklim tropis. Kau bagaimana? Rasanya tak ada masalah berarti, penampilanmu cukup segar?” Dia ganti bertanya, seolah-olah aku sudah paham penjelasannya yang begitu cepat. Ternyata Lieven dikontrak untuk tampil dalam opera ciptaan Verdi yang akan segera pentas di Schouwburg Batavia.

“Pengamatan jitu,” jawabku, “Dan memang orang tuaku sudah bosan mendesak-desakku menikah. Sekarang terserah aku saja. Rupanya mereka sadar juga bahwa pria inlanders tidak terlalu suka perempuan terdidik.”

Lieven mengelus dada dan tampak lega, tapi pelayan restoran memutus pembicaraan, bertanya pesanan kami, “Seperti biasa atau lihat menu dulu?”

“Saya seperti biasa rijsttafel,” katanya sambil menyerahkan kupon makanan Indonesia yang dihidangkan dengan cara Belanda ini.

“Oh, sekarang kupon ini berlaku untuk dua orang mejuffrouw,” kata pelayan dengan nada suara penuh kesabaran. “Bisa dilihat sendiri suasana sekarang sepi, karena itu kami mencoba menarik pelanggan dengan reklame dan korting seperti ini.”

Aku terserang kikuk, karena ini berarti aku harus ikut makan rijsttafel. Menurut lidahku hidangan terlezat Hôtel des Indes adalah masakan Prancis entrecôte yaitu sekerat daging sapi ukuran sedang yang dimasak mentega serta dihidangkan bersama saus jamur dan lada hitam. Sorot mata Lieven memancarkan harapan supaya aku ikut pesan rijsttafel, maklum ia tahu itu bukan kesukaanku. Kali ini, demi Lieven, aku tak keberatan walaupun bukannya tanpa syarat.

“Boleh aku minta nasi putih dingin, sambal yang pedas, dan sebagai hidangan penutup pisang goreng tanpa bumbu kacang?” Si pelayan yang berpakaian serba putih mengangguk. “Tentu saja nona, itu memang cara… orang Indonesia,” dia seperti hamper mengucapkan kata inlanders, tapi urung karena melihat aku mengenakan kain dan kebaya. Dugaannya benar, aku ingin menikmati rijsttafel seasli mungkin, sesuai dengan kebiasaan kalangan bumiputra, kalanganku sendiri.

Dank je wel liefje,” Lieven berterima kasih lalu tertawa. Walau tak fasih bahasa Melajoe, ia bisa menduga syarat-syarat yang kukemukakan itu. Ia masih ingat benar kencan pertama kami di sini, lebih dari setahun silam. Waktu itu memang langsung kupilih entrecôte, karena dalam perkara makanan aku ogah berkompromi. Dari kecil aku sudah dididik secara Eropa juga dalam bahasa Belanda; tapi soal makanan, begitu kutegaskan padanya, tak sudi diriku berperilaku seperti orang Eropa.

“Waktu itu kau langsung pesan entrecôte, aku ingat itu. Tapi aku lupa lagi, kenapa ya? Bukankah rijsttafel ini makanan lokal?” Mendadak Lieven tampak serius.

“Memang ini makanan Indonesia, lieverd, tapi bukan seperti ini kami menyantapnya. Makanan bumiputra kebanyakan satu lauk saja, seperti nasi gudeg, nasi soto atau nasi pecel. Memang ada nasi campur, tapi itu tidak lebih dari tiga macam lauk,” jawabku.

“Sepi benar hari ini,” Lieven akhirnya menyinggung soal sedikitnya tamu sambil memandang sekeliling ketika pelayan meninggalkan kami. “Apa benar karena rangkaian penangkapan yang disebut zedenschandaal? Skandal susila itu? Aku dengar salah satunya tertangkap di hotel ini?” Suaranya melirih, nyaris tak tertangkap telingaku. Semula aku hanya berniat mengangguk, tapi debat yang terlontar di kantor layak kuteruskan pada Lieven.

“Pertanyaannya adalah kenapa baru sekarang pasal 292 wetboek van strafrecht—kitab undang-undang hukum pidana—diterapkan? Padahal pasal ini sudah ada sejak 1918. Itu yang banyak dipertanyakan teman-teman sekantor,” aku ingin memancing reaksi Lieven.

“Negara Hindia Belanda ingin tampil tegas supaya bangkit dari malaise sepanjang dekade 1930-an ini, bagaimana?” Lieven selalu datang dengan pendapat mandiri, walau dia kulit putih yang diuntungkan oleh kolonialisme. Tak pernah kupergoki dia hanya mengulang pendapat umum, seperti halnya harian Java Bode yang, dalam mewartakan skandal susila, selalu menulis tentang maatschappelijk gevaar—bahaya bagi masyarakat—dan sejenisnya. Tetap kuingin mendebatnya, bukankah sistem ini tetap tegak walau digoncang krisis ekonomi hampir 10 tahun?

Kulihat Paul Seelig, pengaba Orkes Simfoni Batavia, masuk didampingi perempuan kulit putih bukan istrinya. Mereka mendekat melihat lambaian tangan Lieven. “Selamat sore Lieven Naaktgeboren, izinkan aku memperkenalkan Miss Eva Gauthier,” kata mijnheer

Seelig dalam bahasa Inggris mengenai perempuan yang datang bersamanya. Kami berjabatan tangan, dan Lieven memperkenalkanku sebagai introducee, pendampingnya. Dari caranya memandangku, Paul Seelig sepertinya lebih bertanya-tanya mengapa Lieven berkencan dengan seorang perempuan bumiputra, dan bukan kenapa solis altonya ini tidak didampingi seorang pria. Lieven memperoleh ciuman pada tangannya, ciri khas Paul Seelig yang selalu terpana pada pesona perempuan rupawan. Menurutnya Eva Gauthier adalah soprano liris asal Kanada yang akan mengadakan perlawatan konser keliling Hindia. Seelig akan mendampinginya sebagai pianis pengiring, begitu pementasan Il Trovatore berakhir.

“Oh ya, ada satu hal penting yang harus saya katakana mejuffrouw Naaktgeboren,” mijnheer Seelig tampak serius. “Saya harap mejuffrouw bersedia menjadi solo alto pada pementasan Matthäus Passion Maret mendatang, menjelang Paskah. Sampai sekarang kontrak belum ditandatangani.” Lieven menarik raut sedikit murung, tapi tak mau mencemarkan suasana, “Het komt goed, maakt u zich geen zorgen.” Seelig tak perlu khawatir, kata Lieven, nanti pasti beres. Ini berarti kepastian: sesudah opera Verdi, pekerjaan lain sudah menantinya.

Mereka berdua seperti terdesak untuk segera mencari tempat duduk sendiri melihat iring-iringan pelayan datang membawa pesanan kami. Kulihat Lieven menarik wajah riang: iring-iringan dalam jumlah begitu besar. “Seperti ini tak ada di Eropa,” bisiknya. Menurutnya pada kunjungan terdahulu jumlah pelayan tak sebanyak sekarang. “Maklum tamu jauh lebih sedikit ketimbang pelayan,” kataku.

Barisan pelayan itu terdiri dari dua kelompok; yang pertama membawa pesanan Lieven, yang kedua menyuguhkan pesananku. Tiap-tiap kelompok terdiri dari 12 orang, selang-seling pria wanita. Pria mengangkat baki perunggu pada tangan kanan, wanita baki perak pada tangan kiri. Tidak semua membawa makanan, bagian depan membawa piring, sendok, garpu, pisau serta gelas. Tentu saja piring dan peralatan makan lain di atur secara Eropa; dua tumpuk piring, cekung di atas piring datar. Kemudian dua sendok, satu garpu dan satu pisau. Tak kuduga mereka tahu Lieven kidal, maka sendok untuknya ditaruh pada sisi kiri. Ini masih dilengkapi dengan tempat cuci tangan serta serbet.

Seperti kupesan, aku memperoleh nasi dingin; sementara Lieven nasi panas berkepul-kepul. Kemudian pelbagai daging, seperti semur, rendang dan sate kambing, tak ketinggalan ayam opor dan ayam panggang. Setelah itu pelbagai sayur, ada sayur lodeh, urap-urap maupun cah taoge campur ikan asin. Lalu krupuk, serundeng dan acar. Sebagai lauk terakhir, pelayan masih meletakkan telur ceplok di atas tumpukan makanan kami. Sebelum mempersilakan kami makan, seorang pelayan bertanya minuman apa yang kami kehendaki. Lieven memilih bir dan aku witbier alias bir putih yang tidak terlalu pahit, keduanya tanpa es tapi dingin.

Kami melahap rijsttafel dan diam tatkala sibuk mengunyah, tapi kadang-kadang kurasakan sorot mata Lieven mencuri pandang, ketika aku sibuk mengunyah atau mengatur makanan dengan sendok dan garpu.

“Kenapa tak kau gunakan pisau?” tanyanya begitu ingin tahu. Pada saat itu kakinya yang sudah tak bersepatu lagi menyentuh kakiku, mengelus-elusnya. Aku sempat tergoda untuk bertanya apakah dia ingin membeo para pelayan yang, walau sudah berseragam mentereng, ternyata tetap tidak beralas kaki.

“Pisau hanya untuk makanan Eropa,” jawabku. Dan kami tergelak, tapi suara kami hilang tertelan combo yang terdengar semakin keras. Beberapa orang turun melantai, termasuk mijnheer Seelig yang terlihat makin akrab dengan Miss Gauthier. Di luar dugaanku, Lieven mengelus punggung tanganku, dia mengajak berdansa, ketika combo memainkan musik tenang. Kusambut ajakannya dan kami adalah satu-satunya pasangan dansa sejenis sore itu. Lieven terlihat kaget dan senang, maklum selama ini selalu kutolak ajakan tampil intim di tempat umum. Tapi, ah, sepi pengunjung telah mengusir malu yang selama ini membelenggu. Apalagi sore sudah berlalu, malam telah luruh meliputi Batavia.

 

PAGI yang berisik, begitu Ratri Moelatwangie membatin. Ia terbangun dalam pelukan Lieven Naaktgeboren yang masih terlelap. Berisik di luar bukan karena panggilan berdoa yang dilontarkan oleh rumah ibadah tertentu atau sirene brandweer yang di pagi buta ini sudah harus memecah kesunyian sepanjang Molenvliet-West. Di sepanjang Molenvliet-Oost juga tak meluncur satu ambulans pun.

Suara berisik itu datang dari lorong kamar, semula hanya langkah serombongan orang. Salah satunya bertanya di mana kamar nomor 256, dan tidak terdengar jelas suara yang menjawabnya, dan segera pula terdengar langkah bersama melewati kamar Ratri dan Lieven yang berjarak beberapa pintu lagi. Kemudian pintu diketok cukup keras. Pada saat itu Lieven terbangun dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Ratri hanya bisa mengangkat bahu, tapi ia berdiri, mengenakan kimono dan menuju pintu kamar, mencari tahu apa yang tengah terjadi. Ketika kembali terdengar ketukan pintu, Lieven pun bangun, disambarnya kimono serta bergegas ke pintu masuk.

Mijnheer Van Ginkel, ini polisi, kami minta pintu segera dibuka,” ketokan itu makin keras dan disertai seruan yang lebih keras lagi.

Mijn God, de Resident van Batavia!” Lieven terbelalak memandang Ratri, menurutnya polisi menyebut nama residen Batavia. “Bulan lalu kujabat tangannya sesudah konser di Istana.” Sebagai pejabat tertinggi ibu kota, Henri Fievez de Malines van Ginkel memang selalu hadir di mana-mana, termasuk acara resmi kenegaraan di Istana.

“Pasti ini zedenschandaal,” Ratri begitu yakin terhadap peristiwa yang kini terjadi di hadapan mereka.

Lieven mengusulkan untuk membuka pintu dan Ratri segera melakukannya. Begitu pintu terbuka—seperti beberapa pintu lain di lorong itu—mereka lihat Resident Van Ginkel dalam pakaian acak-acakan sedang melangkah didampingi beberapa orang polisi, tangannya terborgol. Polisi lain masih mendampingi seorang pria muda bumiputra yang berjalan di belakang toewan Resident. Rupanya si pemuda yang tidak diborgol ini sekamar dengan orang nomor satu Batavia. Salah seorang polisi mengangguk sambil mengucapkan selamat pagi kepada Lieven dan Ratri. Dalam sekejap iring-iringan berlalu.

Lieven dan Ratri masih ternganga ketika mereka kembali masuk kamar. Di balik pintu mereka berpelukan.

 

 

(tangan terkepal untuk Hartoyo)

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: