Kabut Tak Pernah Berdusta


Cerpen Irwan Kelana (Republika, 14 Februari 2016)

Kabut Tak Pernah Berdusta ilustrasi Daan Yahya

Kabut Tak Pernah Berdusta ilustrasi Daan Yahya

29 Februari! Makin mendekati tanggal tersebut, Sabila Granada makin gelisah. Inilah kedelapan kalinya ia menjumpai tanggal kabisat tersebut. Dengan kata lain, usianya kini 32 tahun! Usia yang sudah lebih dari matang untuk menikah. Bahkan, sudah sangat terlambat untuk menikah bagi seorang wanita.

Teman-temannya saat SMA, teman kuliah, maupun rekan kerja yang seumur dengannya, semuanya sudah menikah dan punya anak. Hanya Sabila yang hingga saat ini masih sendiri.

Kalau saja tragedi kecelakaan pesawat itu tidak terjadi, saat ini ia pun sudah menjadi seorang istri dan ibu. Mungkin, dengan satu atau dua orang anak yang lucu-lucu.

Ia selalu teringat saat itu. Rabu, ia bersama keluarganya dan keluarga besar calon mertuanya menjemput Fadlan ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Fadlan yang merupakan kakak kelasnya waktu di STEI SEBI Depok, Jawa Barat, baru saja menyelesaikan S-2 Ekonomi Syariah di Pakistan. Mereka akan menikah pada Jumat. Tempat acara di rumah orang tua Sabila di Depok.

Namun, pesawat yang ditumpangi Fadlan tak pernah mendarat di Soekarno- Hatta. Pesawat itu mengalami kecelakaan dan tercebur ke laut. Butuh waktu berhari- hari hingga akhirnya jasad Fadlan ditemukan. Jasadnya bisa diidentifikasi karena di dompetnya ada foto Sabila dengan tulisan di belakangnya: Bidadari Surgaku.

Kehilangan calon suami di saat pernikahan tinggal dua hari lagi, undangan sudah disebar, gaun pengantin sudah dipesan, kue-kue sudah dipersiapkan, dan bayangan ijab kabul yang indah, sungguh berat bagi Sabila.

Selama tiga tahun lamanya ia menutup hati terhadap lelaki. Padahal, banyak sekali lelaki yang ingin mempersuntingnya. Dari rekan kuliah, teman sekantor, kliennya di perusahaan tempatnya bekerja, bahkan atasannya, duda beranak dua. Tak seorang pun mampu membukakan kembali hatinya yang terkunci rapat.

***

Hingga suatu hari, setahun berikutnya, ia bertemu dengan Fajri, seorang pemuda berusia 24 tahun yang selalu ceria. Ia mengaku karyawan sebuah perusahaan logistik yang berkantor di gedung yang sama.

Padahal, ia sebenarnya anak pemilik perusahaan itu. Mereka sering bertemu di mushala saat shalat Zhuhur dan Ashar berjamaah. Keduanya juga rajin mendengarkan kultum Zhuhur.

Sejak awal bertemu, Fajri menyatakan tertarik kepada Sabila dan ingin memperistrinya. Bahkan, walaupun Sabila mengatakan bahwa usianya terpaut empat tahun darinya, Fajri tidak peduli.

Tidak mudah bagi Sabila menerima Fajri. Fajri harus berjuang selama enam bulan untuk meyakinkan Sabila. Begitu Sabila menyatakan bersedia menjadi istrinya, Fajri tak sabar membawa Sabila untuk bertemu orang tuanya.

Sore itu, sepulang kerja kantor, Fajri mengajak Sabila ke rumah orang tuanya di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Begitu memasuki halaman rumah mewah tersebut, firasat Sabila mengatakan, ia tidak akan diterima oleh keluarga orang kaya tersebut.

Benar saja. Saat Fajri memperkenalkan Sabila kepada mamanya, pertanyaan pertama wanita itu adalah, “Berapa tahun usiamu?”

Manakala mendengar jawaban Sabila, ia langsung berteriak kepada anak satu- satunya itu, “Apa kamu tidak bisa mencari wanita yang lebih muda darimu? Paling tidak, seumur denganmu. Apa kata orang kalau mama punya menantu usianya empat tahun lebih tua dari kamu? Nanti dikira anak mama tidak laku!”

Sabila langsung meninggalkan rumah itu dan menyetop taksi. Tak dihiraukannya Fajri yang berseru memanggil namanya sambil mengejarnya. Sepanjang perjalanan, ia tak berhenti menangis. Hal itu membuat sopir taksi khawatir.

“Maaf, Mbak. Mbak tidak apa-apa? Apa perlu saya belikan obat atau saya antar ke dokter?”

Sabila menggeleng lemah. Air matanya masih berderai. “Tidak usah, Pak. Langsung ke rumah saja,” sahutnya lemah. Sejak itu, Sabila kembali menutup hatinya untuk laki-laki.

***

Tiga tahun berlalu, hingga akhirnya ia kembali dipertemukan dengan salah seorang imam sebuah masjid Agung di Jakarta. Suatu malam, seusai iktikaf akbar malam 27 Ramadhan, ia diajak teman kuliahnya yang juga pengurus masjid agung tersebut untuk menikmati makan sahur di ruang pengurus.

“Malam ini, imam qiyamullail Syekh Muhammad dari Madinah. Makanya, pengurus masjid menyiapkan makanan khas Arab, nasi kebuli dan nasi mandi yang dipesan dari Restoran Abu Nawas. Kamu pasti suka. Ayo ikut aku,” tuturnya.

Masjid agung tersebut mempunyai enam imam rawatib yang dibagi menjadi tiga pasang. Tiap pasang bertugas selama dua hari, lalu libur sehari, kemudian bertugas lagi, begitu seterusnya.

Pada iktikaf akbar itu, semua imam hadir. Semua sudah menikah, kecuali Iqbal. Melihat Sabila, teman-teman Iqbal pun sambil bercanda berupaya menjodohkannya dengan Sabila.

Iqbal serius. Dia berusaha meyakinkan Sabila bahwa ingin menikahi wanita tersebut, walaupun usia Sabila lebih tua darinya.

“Cita-citaku sederhana, tapi agung. Aku ingin punya anak hafizh Alquran dan menjadi imam Masjid al-Haram, Makkah. Kalau anak kita jadi imam masjid itu, tentu ayah dan ibunya bisa kapan saja datang ke Makkah untuk berhaji atau berumrah. Alangkahnya bahagianya hatiku kalau engkau mau bersamaku mewujudkan cita- cita tersebut.”

Betapa ingin Sabila bersama-sama Iqbal mewujudkan cita-cita indah itu. Ia selalu bercita-cita akan mendidik anak-anaknya agar menjadi pencinta dan penghafal Alquran dan ahli sedekah. Tapi, apakah hal itu mungkin? Mungkinkah semuanya berakhir indah?

***

Sepekan menjelang hari ulang tahunnya, Sabila sengaja mengambil cuti. Pagi itu, ia naik sepeda motor dari Depok menuju Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Di daerah puncak itulah, di kaki Gunung Gede, keluarga Pak De Dadang tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Pak De Dadang seorang petani, sedangkan Bu De Tuti guru SD.

Jarak Depok-Cipanas sekitar 90 km. Cukup jauh untuk seorang wanita. Tapi, Sabila sudah berniat menempuh perjalanan itu dengan sepeda motor, sebab ia ingin menikmati kesendiriannya.

Ia mampir di Bogor untuk membeli oleh-oleh roti unyil merek Venus untuk keluarga Pak De Dadang. Kemudian, melanjutkan perjalanan. Memasuki Gadog-Ciawi, udara sejuk kawasan Puncak sudah mulai terasa. Makin ke atas, makin dingin. Beberapa kali, ia mengusap wajahnya yang terasa dingin meski sebagian tertutup masker.

Ketika kendaraan yang ditumpanginya melewati Taman Safari Indonesia, Cisarua, ia segera menjumpai pemandangan sangat indah. Sepanjang mata memandang di kiri kanan jalan, yang tampak adalah hamparan kebun teh menghijau. Tampak para wanita asyik memetik pucuk daun teh.

Tak lama kemudian, ia tiba di Masjid At-Ta’awun. Ia shalat Dhuha empat rakaat. Menikmati sekuteng hangat, baru kemudian melanjutkan perjalanan. Tiba di Pacet, Cipanas, kira-kira enam kilometer dari Desa Ciputri, Sabila kembali berhenti. Kali ini, ia menikmati satai maranggi dan uli bakar.

Tiap kali kunjungan ke Cianjur bersama keluarganya, Sabila tak pernah melewatkan satai maranggi dan uli bakar yang terkenal tersebut. Kabarnya, setiap hari tukang satai maranggi itu mampu menjual sekitar 3.000 tusuk.

Ia tiba di rumah Pak De Dadang pukul 11 menjelang siang. Pak De Dadang masih berada di sawah, sedangkan Bu De Tuti belum balik dari sekolah. Tak sabar, Sabila langsung menyusul ke sawah.

“Assalamualaikum, Wak,” ujarnya.

Pak De Dadang yang tengah menyiangi rumput di sela tanaman wortel terkejut campur senang.

“Walaikumsalam. Sabila? Sama siapa?”

Sabila mencium tangan Pak De Dadang.

“Sendiri, Wak. Saya cuti. Mau menginap di Sarongge. Boleh kan?”

“Wah, Wak senang banget kalau Sabila mau menginap di sini. Mau sepekan atau sebulan juga boleh.”

“Sepekan aja, Wak. Saya mau ikut Wak ke sawah tiap hari.”

“Boleh. Tapi, nanti kulit kamu jadi hitam kebakar matahari.”

“Ah, nggak apa-apa, Wak. Yang penting sehat.”

Di Sarongge, hari terasa berjalan lambat. Pukul sembilan, matahari baru keluar. Sebelum pukul dua siang, matahari sudah menghilang.

Pagi-pagi, Sabila menikmati sarapan teh manis dan rengginang. Ada juga ragining (semacam rengginang yang terbuat dari beras) dan opak singkong yang di sana lebih dikenal dengan sebutan enye.

Seusai sarapan dan shalat Dhuha, Sabila pergi ke sawah untuk membantu Pak De Dadang yang bertani wortel, labu siam, kubis, caisim, dan bawang daun. Bertani membuatnya sejenak bisa melupakan duka hatinya.

***

Ahad pagi sekitar pukul 10.00 WIB, Sabila menyusuri kebun teh Gambung Sarongge. Tak henti-hentinya ia mengagumi kebun teh yang hijau itu, diselingi dengan pohon lamtorogung di kiri kanan dan tengah pembatas petakan kebun.

Kabut tebal turun menutupi pemandangan Gunung Gede di belakangnya. Ia terkejut saat mendengar suara seseorang memanggilnya.

“Sabila! Sabila!”

“Iqbal?!” Sabila berbicara dengan dirinya sendiri.

“Sabila!” Kali ini, wajah Iqbal terlihat beberapa meter dari tempat Sabila berdiri.

Dari mana dia tahu saya ada di sini? Ia tidak memberitahukan siapa pun ke mana ia cuti. Hanya Ustazah Maemunah, tempatnya belajar banyak tentang Islam, ia memberitahukan ke mana ia cuti.

Iqbal tidak sendirian. Di belakangya ada sepasang lelaki-perempuan yang berusaha menyejajari Iqbal.

Dengan napas tersengal-sengal, Iqbal akhirnya tiba di hadapan Sabila.

“Assalamualaikum, Sabila.”

“Wa ‘alaikumsalam.”

“Sabila, kenalkan ini kedua orang tuaku.”

“Assalamualaikum, Bu, Pak.” Sabila mencium tangan kedua orang tua Iqbal.

“Iqbal, kok kamu tahu saya ada di sini? Dan apa tujuan kamu ke sini?” tanya Sabila hati-hati.

“Ustazah Maemunah guru mengaji ibu, Nak,” Mutia, ibunya Iqbal, menyela. “Dari beliaulah Ibu tahu bahwa kamu adalah seorang Muslimah yang salehah. Dan bahwa kamu cuti ke Cianjur.”

“Maafkan aku, Sabila. Aku datang untuk kembali meminta kesediaanmu menemaniku mewujudkan cita-citaku mempunyai anak-anak penghafal Alquran dan imam Masjid al-Haram. Kamu mau kan?”

Sabila terdiam.

Mutia memegang bahu gadis itu.

“Apakah Iqbal pernah menyakit hatimu, Nak?”

Sabila mengeleng.

“Apakah Iqbal pernah berbuat kurang ajar padamu?”

Lagi-lagi, Sabila menggeleng.

“Iqbal sangat sopan dan selalu menjaga akhlaknya terhadap perempuan, Bu.”

“Atau, apakah anak Ibu kurang ganteng untuk jadi suamimu?”

Tiba-tiba, Sabila menghambur ke dalam pelukan Mutia. Ia menangis sesenggukan.

Mutia membelai kepala gadis itu.

Setelah beberapa waktu, barulah Sabila bisa berkata terbata-bata. “Saya trauma, Bu. Saya … saya takut ditolak dan dihina lagi. Beberapa tahun lalu, ada pemuda seperti Iqbal yang menyatakan ingin menyunting saya. Namun, setelah tahu usia saya lebih tua dari anaknya, ibunya langsung menolak dan menghina saya dengan kata-kata kasar.

Mutia mengangkat wajah gadis itu menyapu air matanya dengan selembar tisu.

“Nak, tentu saja ibu tersebut menolak kamu. Sebab kamu memang bukan diciptakan untuk anaknya. Allah sudah menyiapkan kamu untuk jadi istri Iqbal dan jadi menantu ibu.”

Air mata Sabila kembali menitik.

“Bu … apakah Ibu mau punya menantu seperti saya? Ibu tidak malu kepada tetangga dan kerabat? Usia saya empat tahun lebih tua dari Iqbal,” suara Sabila bergetar.

Mutia tersenyum. “Pertanyaannya di balik. Maukah Sabila jadi menantu Ibu?”

Air mata Sabila kembali menderai. Ia tak kuasa menjawab. Lagi-lagi, ia menjatuhkan wajahnya di dada perempuan yang berhati pengasih itu.

Ayah Iqbal, Fakhruddin, yang sedari tadi menyaksikan pemandangan itu tersenyum.

“Sabila.”

Sabila bangkit dari pelukan Mutia.

“Ya, Bapak.”

“Tahukah kamu, usia ibunya Iqbal lima tahun di atas Bapak? Tapi, Bapak malah sering lupa tuh. Rasanya, Bapak dan ibunya Iqbal seumur, bahkan lebih tua Bapak. Muda-tua perempuan itu bukan hanya ditentukan usia biologisnya. Justru keikhlasan, ketulusan, syukur, dan senyum, semua itu yang membuat perempuan jadi awet muda.”

“Bapak pertama kali bertemu ibunya Iqbal waktu kelas satu MTs. Ibunya Iqbal kelas tiga MA atau kelas XII. Kami sama-sama di pesantren. Sejak itu, Bapak jatuh cinta kepadanya.”

“Kami terpisah beberapa tahun lamanya. Ibu kuliah di UIN Malang. Bapaknya Iqbal menjadi penulis novel Islami yang top. Suatu hari, ada acara bedah buku di UIN Malang. Ibu jadi moderatornya. Kami pun kembali bertemu,” tutur Mutia.

“Hingga beberapa tahun kemudian, setelah melalui suka duka dan alur yang panjang, kami pun menikah,” Fakhruddin menimpali.

“Subhanallah. Luar biasa kisah cinta Ibu dan Bapak,” ujar Sabila.

“Sabila. Kau lihat kabut itu?” tanya Fakhruddin.

Sabila mengangguk.

“Cobaan dalam hidup itu bagaikan kabut. Bukankah kita sering merindukannya? Bapak, setiap kali pergi ke Puncak, selalu berharap kabut turun dan Bapak bisa menikmatinya. Kabut memang menghalangi pandangan kita, namun memberikan keindahan rasa yang luar biasa. Dan, setelah kabut pergi, langit kembali biru, kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Kabut tak pernah berdusta, percayalah.”

Tanpa sadar, Sabila kembali mengangguk.

***

“Nak, kamu cuti sampai kapan?” tanya Mutia.

“Hari ini terakhir, Bu. Besok saya masuk kerja lagi.”

“Kalau begitu, kamu pulang bareng Ibu ya.”

“Tapi, saya bawa motor, Bu.”

“Motor kamu biar Iqbal saja yang bawa pulang,” kata Mutia seraya melirik Iqbal.

Mendengar itu, Iqbal pura-pura kesal. “Ibu …!” ujarnya merajuk.

“Ibu nggak rela Sabila pulang sendirian ke Depok naik motor. Kalau ada apa-apa dengan calon menantu Ibu yang secantik dan sesalehah ini, Ibu akan menyesal seumur hidup.”

Untuk pertama kalinya, Sabila tersenyum. Mata indahnya melirik Iqbal yang juga tersenyum. Spontan, ia memalingkan wajah. Namun, pipinya telanjur merona merah.

Mutia dan Fakhruddin yang menyaksikan pemandangan itu turut tersenyum.

“Ayo, Nak. Kita turun. Temui pakdemu. Sekaligus kami mau meminta izin membawamu pulang untuk mengatur waktu lamaran dengan orang tuamu.”

Betapa penuh hati Sabila. Spontan, ia mencium tangan Mutia. “Terima kasih, Bu.”

Ia juga mencium tangan Fakhruddin. “Terima kasih, Pak.”

Perlahan, mereka menyusuri kebun teh itu menuju pintu gerbang. Angin berkesiuran lembut membelai tubuh dan terasa meresap hingga ke dalam hati.

Sabila menoleh ke belakang. Kabut sudah pergi, berganti pemandangan Gunung Gede yang hijau kebiruan bagaikan hamparan permadani. Benar kata ayahnya Iqbal, kabut tak pernah berdusta. (*)

 

 

Puncak, 2015-2016

Irwan Kelana menulis cerita pendek dan novel sejak duduk di bangku SMA. Telah menerbitkan lebih 20 buku fiksi dan nonfiksi. Saat ini, bekerja sebagai wartawan harian Republika.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: