Perempuan Leter


Cerpen Zainul Muttaqin (Suara Merdeka, 07 Februari 2016)

 

Perempuan Leter ilustrasi Hery Purnomo

Perempuan Leter ilustrasi Hery Purnomo

Sadiman masih merasakan kantuk bergantung pada sepasang matanya. Semalaman dikerubungi nyamuk-nyamuk hutan yang menggerayangi tubuhnya. Ia menyerapahi Sarkab yang semalam mendadak minta ijin pulang lantaran istrinya mau melahirkan. Dengan wajah masam Sadiman mengangguk. Pagi terasa lembab saat lelaki usia kepala dua itu menarik kain sarungnya, melindungi tubuh ringkihnya dari serangan dingin.

Sesaat kemudian, ia beranjak dari atas pos jaga. Akan tetapi tubuhnya berdiri gemetar di depan pos ronda itu. Matanya terbelalak sembari menelan ludah berkali-kali. Paha Asna mendebarkan jantungnya yang ketika itu juga terasa akan lepas dari tangkainya. Janda itu baru lewat di depan matanya. Angin bergoyang di ujung daun. Sadiman mengangkat kakinya sembari mengatur napas. Asna sudah hilang ditelan ujung jalan.

Pesona Asna menguar seantero kampung. Ia menjadi perempuan leter setelah ditinggal mati suaminya. Air matanya mengucur selama tujuh hari tujuh malam. Jazad Sarkab, suaminya tidak diketahui berada dimana saat para tetangga menggelar tahlil di rumah berupa gubuk yang ditinggali Asna itu. Salah seorang nelayan bersaksi kepada Asna, menceritakan apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Angin beringas melayang di atas laut. Perahu Sarkab dibanting hingga ke hulu. Lelaki dekil itu lenyap ditelan pusara laut.

Lesung pipit Asna digenangi air mata. Para pelayat datang menghibur. Ia belum punya anak sejak menikah dengan Sarkab selama kurang dua puluh satu tahun. Empat puluh hari kematian berlalu, Asna berubah mendadak. Tidak nampak garis-garis kesedihan, apalagi sekadar mengingat kematian sang suami yang tragis. Ia mulai memakai baju-baju seksi; rok di atas lutut, dan baju terbuka di belahan dada.

Asna kini dikenal sebagai perempuan leter. Kerap mengedipkan kedua matanya saban ada lelaki yang memerhatikan lekukan tubuhnya. Kepada para lelaki ia sering mengatakan, “aku memang janda, tapi soal rasa masih perawan.” Tubuhnya memang terlihat sintal walau usia di ambang senja. Ia menampakkan gelagat erotis; Mengguncang-guncang buah dadanya. Pinggulnya digeser ke kanan ke kiri.

Hal inilah yang membuat perempuan-perempuan di kampung ini menyulut amarah. Asna dituding biang keladi dibalik mengendurnya gairah suami mereka saat di ranjang. Pertengkaran Sadiman pun dengan istrinya berasal dari mulut lelaki hitam legam itu ketika menyebut nama Asna dalam mimpinya. Istrinya mendengar sendiri dan melihat Sadiman menggelinjang di sisinya. Pikiran istri Sadiman pun dipaksa menebak apa yang dimimpikan suaminya. Perempuan gempal itu berkesimpulan; Sadiman menindih tubuh Asna.

Istrinya menatap raut muka Sadiman. Lelaki itu menguap di pagi yang basah. Simar, istri Sadiman meletakkan secangkir kopi di atas meja. Terdengar kasar begitu cangkir itu menindih taplak meja. Sadiman tergagap, dan langsung melihat wajah istrinya yang keruh. Ingin sekali Simar menanyakan mimpi apa semalam sampai membuat Sadiman bergeliat erotis. Tapi Sadiman keburu lebih dulu bertanya.

“Kenapa wajahmu keruh?” Simar tak menanggapi pertanyaan suaminya. Ia melangkah keluar. Meninggalkan suaminya dan membiarkan lelaki yang tubuhnya tinggal tulang belulang itu dengan pertanyaannya sendiri.

“Sayang!” meski ini kali pertama Simar mendengar suaminya memanggil sayang. Tak serta merta membuat Simar menghentikan langkahnya. Hatinya teramat jengkel dengan peristiwa semalam. Ia bergegas ke dapur. Terdengar suara tangis tersendat-sendat sampai ke gendang telinga Sadiman. Lelaki itu langsung bangkit, menyusul istrinya ke dapur. Simar sedang mengiris-iris bawang bagai mengiris hatinya sendiri.

“Ada apa Simar? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Apa salahku?” Sadiman tidak mengerti dengan sikap istrinya pagi ini. Karena siapa yang tahu bagaimana seseorang bermimpi atau mengingau. Namun bagi Simar, tentulah mimpi suaminya didasarkan pada apa yang terjadi di dunia nyata. Apa yang terjadi dalam mimpi pasti bermuasal dari apa yang dilihat dan dirasakannya sebelum seseorang itu terlelap. Air mata Simar jatuh ke dalam cobek. Ia tidak menoleh pada suaminya. Tangannya bergerak kasar mengulek sambal.

“Kau jatuh hati sama Asna, janda menor itu!” Simar membalikkan tubuhnya. Menatap garis-garis keterkejutan melingkar di wajah Sadiman. Lelaki itu berusaha tersenyum. Simar tahu suaminya sedang berusaha menyingkirkan prasangka yang dituduhkan padanya. Lalu, Sadiman malah tertawa terbahak-bahak sampai badannya berguncang-guncang. Aroma bawang diterbangkan angin, menelusup ke lubang hidung. Merasa diacuhkan, Asna memalingkan wajah dari tatapan suaminya.

“Simar sayangku. Bagaimana mungkin kau menuduhku seperti itu? Dan lagi, apa mungkin aku jatuh hati sama seorang janda. Kau segalanya bagiku Simar.” Tubuh Simar yang semula membelakangi suaminya seketika berbalik secepat angin. Ia melotot protes. Sadiman mengernyitkan dahinya. Ia sama sekali belum tahu apa yang ada di dasar hati istrinya.

“Jelaskan dengan sejelas-jelasnya padaku soal mimpimu semalam. Kau memimpikan Asna bukan! Kau bermimpi bersetubuh dengan janda tengik itu! Sadiman baru kali ini mendengar suara tinggi dari istrinya. Lutut lelaki itu bergeletar. Simar sudah bisa menandai sesuatu yang ganjil dari mulut Sadiman yang tercekat setelah ditanya soal Asna. Sadiman mencari-cari jawaban yang pas. Ia sendiri baru sadar, ternyata Asna memang menggerayang ke dalam mimpinya semalam.

Tak ingin membuat istrinya semakin meradang, Sadiman tak akan menceritakan semua yang dialami dalam mimpinya, terlebih kerlingan mata Asna di pos ronda kemarin pagi.

“Kenapa kau jadi cemburu hanya karena mimpi. Mimpi itu bunga tidur,” kata-kata Sadiman diacuhkan. Simar tahu kalau ada sesuatu yang disembunykan suaminya. Hidup serumah selama puluhan tahun membuat Simar hapal betul kondisi suaminya jika sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Simar melengos kecut. Terlalu jengkel pada suaminya, ia jadi tak bergairah untuk memasak. Kompor dimatikan. Sadiman mengikuti langkah istrinya ke dalam kamar.

“Baik! Kalau kamu memang tak mau jujur!” Simar sudah merasa lelah memburu kejujuran dari suaminya. Ia duduk di atas ranjang. Mata lamurnya sembab. Khawatir istrinya semakin marah dan tak memercayainya lagi, Sadiman berterus terang pada istrinya. Dikatakannyalah perjumpaan tak terduga dengan Asna di pos ronda di pagi yang dingin waktu itu.

Hening. Simar menghentikan aliran air mataya. Membiarkan tangan suaminya mengusap kepalanya. Simar membuang napas meski rasa kesalnya masih berdiam di dasar hatinya. Pada kondisi semacan ini ia tidak mudah melempar jauh-jauh kecemburuannya. Sadiman menyadari kecemburuan Simar menandakan rasa cinta yang tak pernah terkikis walau waktu menggerus usia mereka berpuluh tahun.

***

Sadiman terpaksa berjaga sendirian di pos ronda Tang-Batang. Sarkab ijin lagi untuk kesekian kalinya. Katanya, ia tak bisa meninggalkan istrinya sendiri lantaran baru melahirkan. Jam sepuluh malam. Ia merogoh sakunya mencari sebatang rokok tersisa. Angin memutar-mutar asap rokok yang disemburkan Sadiman dari mulutnya. Tak ada Sarkab membuatnya merasa lebih mudah mengantuk. Ia pun menyandarkan tubuhnya ke tiang-tiang pos ronda melepas penat yang menggantung di kedua pundaknya.

Gerimis tipis turun dari langit. Sadiman melihat Asna berjalan ke arahnya. Ia langsung meloncat dari pos ronda yang setinggi lutut orang dewasa. Kemudian ia berdiri seperti menyambut kedatangan janda leter itu. Matanya menyala menyisir sisi-sisi pos jaganya karena cemas tertangkap basah istrinya. Tidak perlu basa-basi bagi Sadiman untuk menyilakan Asna duduk di dekatnya. Cuaca sangat dingin. Sadiman mengambil kesempatan agar lebih nempel dengan janda berkulit mulus itu. Asna tersenyum saat tangan mereka saling genggam untuk mengusir hawa dingin.

Menjelang adzan subuh Simar sudah berdiri di ambang pintu. Sadiman terpaku di hadapan istrinya. Lelaki yang kulitnya hitam legam itu baru pulang dari pos jaga desa. Ia teramat lelah sekaligus merasa ada yang salah dalam dirinya melihat Simar memandanginya bengis. Angin berhenti di ujung daun di samping rumah.

“Kau benar-benar tega! Tak punya perasaan. Asna benar-benar membuatmu lupa daratan!” kata Simar. Kemudian ia berjalan ke halaman. Keresak sandalnya begitu kasar didengar Sadiman.

“Kau mau kemana?” Simar tak menoleh ketika suaminya melontarkan pertanyaan itu. Namun sebelum perempuan yang rambutnya nyaris ditumbuhi uban itu menghilang di ujung jalan, ia menjawab pertanyaan Sadiman dengan berteriak lantang, “Ke rumah Asna!” Sadiman terkesiap dan tergagap mendengar istrinya menyebut nama Asna. Ia jadi berpikir bahwa kejadian semalam diketahui Simar atau ada orang yang menyampaikan peristiwa di pos ronda itu.

Setelah sampai di rumah Asna. Hujan jatuh berdebam-dema disusul suara petir saling bersahutan. Simar menggedor-gedor pintu. Gelap menyungkup langit. Asna membuka pintu setelah beberapa menit Simar berdiri gemetar di depan pintu. Simar menolak disuruh masuk dan langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Asna tertawa mengejek mendengar cerita yang lebih mirip ancaman pada dirinya.

“Pantas suamimu tak betah di rumah! Penampilanmu yang kampungan mana bisa membuat suamimu bergairah!” kata Asna dan langsung menutup pintu tanpa melihat reaksi Simar setelahnya. Sementara Simar melihat sekujur tubuhnya yang dibalut daster kusam, kumal dan agak berbau. Mendengar perkataan Asna, hari itu juga Simar berencana meniru penampilan Asna. Tapi dia membatalkannya setelah tiba di rumah karena jika Sadiman benar-benar mencintainya, lelaki yang sudah hampir dua puluh lima tahun bersamanya itu tak akan melihat gaya berpakaiannya. (*)

 

 

Pulau Garam, Januari 2016

—Zainul Muttaqin lahir di Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen dan puisinya tersiar di sejumlah media nasional dan lokal. Ia termasuk salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (2013), Perempuan dan Bunga-bunga (2014).

 

One Response

  1. bingung dengan nama sarkab, karena ada dua orang sarkab, suami asna yang meninggal, dan teman ronda sadiman yang istrinya mau melahirkan. atau penulis salah menuliskan nama? over all, bagus cerpen nya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: