Cerpen Rafael Yanuar (Kompas, 07 Februari 2016)

Arwah Kunang-kunang ilustrasi Kadek Eko
Arwah Kunang-kunang ilustrasi Kadek Eko

Tak banyak berubah, rupanya. Papan-papan kayu dipenuhi buku bekas, juga aroma kertas tua yang menguar di sepanjang jalur pustaka. Semuanya, masih sama seperti lima belas tahun silam.

Dekat pintu masuk, aku melihat perempuan muda berambut panjang, sedang menopang dagu sambil sesekali membuka majalah yang dipenuhi resep-resep makanan. Ia teman kecilku. Ingin aku bertukar kabar, bersama melamunkan hari-hari yang berlalu semenjak kepergian itu. Namun, sepertinya ia sudah lupa padaku.

Aku melihat-lihat rak novel dan membolak-balik halaman hanya untuk mencari coretan yang ditinggalkan pemilik lamanya. Kadang aku menemukan secarik puisi yang dituliskan di sampul belakang, bagi nama-nama yang hangat. Kadang kesan dan catatan untuk dikenangkan di kemudian hari, juga kata-kata yang digarisbawahi. Aku menemukan tulisan lamaku di salah satu buku. Aku terkejut bukan karena terharu, tapi karena tak ingat pernah menulisnya, apalagi memilikinya.

Tak ada yang lebih mendamaikan dari cuaca petang yang hening dan suara kipas angin listrik yang berputar di atas kepalaku.Aku pun melangkah, perlahan menilik barisan punggung buku lalu mengambil satu yang paling menarik. Perempuan itu tersenyum dan menyebutkan harga saat aku tiba di kasir. Masih saja berharap, menemukan tanda ia masih ingat padaku. Tapi nihil. Setelah menyerahkan kantung berisi novel, ia tak berkata apapun lagi, selain terima kasih.

Tapi aku tak langsung pulang, melainkan duduk di halte depan toko di samping ibu-ibu yang mengayun bayi mungil dalam buai peluknya sementara tangannya yang lain membuka-buka lembaran majalah. Sambil menikmati suara lonceng kecil yang bergemirincing ditiup musim penghujan, aku menyandarkan tubuh dan mulai membaca.

Ketika jiwaku larut dalam buai cerita, aku menemukan selembar kertas dengan namaku di dalamnya. Hanya sebaris pesan sederhana, namun cukup membuat dadaku melambung. Kau berutang banyak kisah padaku—begitulah tertulis dengan huruf-huruf yang lembut. Aku pun mengintip ke dalam dan tertawa saat menemukan seorang perempuan sedang menyembunyikan wajahnya di balik buku yang ia pegang.

Manis sekali.

Ketika termangu di depan toko, sembari menanti langit berganti gaun—dari terusan berwarna merah tua, menjadi hitam yang lembut, seperti sebuah pepatah tua yang disembunyikan ingatan, hujan turun tanpa pertanda. Hening. Aku mendengar suara gemerincing pada pintu, yang layu ditidurkan buaian angin. Aku sudah tak memperhatikan lagi buku di tanganku, dan memilih bergeming seperti sebuah batu yang dicintai burung dan serangga—juga udang yang gemar bersembunyi. Sedari dulu aku suka menunggu. Bagiku, menunggu adalah caraku merayakan waktu luang yang tiba-tiba ada, yang bisa aku nikmati tanpa rasa bersalah. Aku suka menciptakan penantianku sendiri dan mengisinya dengan lamunan-lamunan.

Dulu, setiap musim beranjak dan rintik embun mulai berguguran dari ranting-ranting cuaca, kunang-kunang selalu bermunculan di desa ini—“Menyambut kepulangan hujan”, begitulah aku melukiskannya pada salah satu puisiku. Aku selalu percaya, kunang-kunang bukanlah penjelmaan dari kuku orang mati seperti yang diceritakan turun temurun, tetapi mata yang berduka. Berkerumun di padang bambu, sebuah tempat yang senantiasa belia dalam ingatanku, cahayanya menciptakan garis tipis yang menyerupai air mata.

Dalam pelukan masa kecilku, bila kunang-kunang bermunculan aku sering menemukan seorang gadis kecil dengan gaun seputih gading berdiri di belakang bulir-bulir bambu. Matanya lebih mendung dari hujan, dan lebih kelabu dari kesunyian, tetapi empunya ketenangan sedalam sungai. Ia hanya muncul bila kunang-kunang bermekaran di sekitarnya, dan lenyap saat cahaya menjauhinya. Aku tak tahu siapa dia. Tetapi, dialah cinta pertamaku. Aku menemukannya selalu ketika rembulan berhasil menembus kabut-kabut awan. Sebaliknya, ia tak pernah terlihat ketika langit sedang terbuka.

Saat aku menceritakannya pada teman-temanku, mereka mengaku tak melihatnya. Bahkan saat ia berdiri di hadapan kami, malu-malu mengintip dengan tangan berpegang erat pada bambu. Aku selalu berharap kunang-kunang mau bertahan lebih lama di dekatnya—agar ia tak cepat menghilang. Namun, selalu saja ia lenyap sebelum aku puas ‘menjumpai’ dia. Teman-temanku bilang aku hanya pandai mengarang cerita atau menciptakan teman khayalan. Dan kini, setelah banyak tahun berjalan, aku mulai mempercayai apa yang mereka katakan dan menganggap gadis itu cuma muslihat ingatan, seperti pula banyak hal lainnya yang perlahan-lahan aku lupakan. Tapi aku juga mengingat ada satu orang yang mempercayaiku. Ia menjuluki gadis itu Arwah Kunang-kunang. Aku suka kata arwah. Aku tidak percaya hantu, tapi aku meyakini arwah. Ia berbeda dengan makhluk gaib lainnya. Aku membayangkan arwah-arwah itu sebagai jiwa yang kesepian. Wujud dari kenangan. Kelak aku mati, aku ingin menjadi arwah sepanjang sisa keabadian, mungkin di dada perempuan yang sabar atau di akar tetumbuhan—yang menjaga pohon tetap hangat meskipun cabang-cabangnya didera dingin dan terik.

Padang bambu itu masih ada di hadapanku sekarang. Begitu pun toko buku yang semenjak bermula ingatan selalu berdiri di sisi lainnya. Malam baru saja menjelang dan hujan masih berkelebat sepanjang mata memandang. Tapi ke manapun mataku mengembara, aku tak lagi menemukan kunang-kunang, hanya lampu kota yang memudar menjadi siluet karena terhalau kabut malam. Aku pun tak terlalu berharap. Sudah berapa tahun kira-kira, semenjak terakhir aku menemuinya—Arwah Kunang-kunang itu? Aku menera-nera dalam hati, namun tak menemukan angka. Aku tak sadar sudah dua jam duduk di sini, punggungku jadi terasa ngilu. Rasanya sudah silam sekali aku tak menikmati hujan dengan demikian sabar.

Tempat ini, yang sedari tadi menemaniku, dulunya ialah halte, tetapi bila sudah pukul 18.00, kau tak kan menemukan kendaraan apapun yang lewat, apalagi bus. Sejak dulu aku selalu senang berada di sini. Bila teman-teman mencariku, mereka pasti menemukanku di sini, dan biasanya berhasil, meskipun seringkali aku lebih suka sendirian.

Mataku masih terpaku pada barisan bambu di seberang jalan—mencari-cari di antara kegelapan. Tanpa diduga, sebuah suara membuyarkan lamunanku. “Merindunya?” katanya. Tahu-tahu gadis di toko buku sudah berdiri di belakangku.

“Peri? Apa kabar?” Aku gugup. Tentu saja. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir aku menyapanya. Ia mengenakan kemeja putih dan rok hitam, busana yang sangat bersahaja. Namun begitu pantas dikenakan olehnya. Rambut panjangnya—yang berwarna coklat tua, diikat dengan model ekor kuda. Di mataku, ia tak ubahnya gadis remaja yang ranum dan manis meskipun usianya sudah 25.

Ia tersenyum, memamerkan deretan giginya. Aku berusaha tak memandangnya terlalu lama, menahan getaran rindu yang sedari tadi mengusik kalbu.

“Boleh duduk di sini?” tanyanya, memecah keheningan.

Aku merasa bodoh dan langsung mengiyakan.

“Kau tinggal di mana sekarang?” itu suaraku. Meskipun seharusnya, dialah yang menanyakannya, sebab akulah yang lama meninggalkannya.

“Di toko buku,” katanya, sambil melirik ke belakang halte. ”Sedang sepi. Hujan.”

Aku menunduk, tak tahu harus mengatakan apa. Tetapi menyenangkan juga, ketika menyadari masih ada sesuatu yang tak berubah dari kepulangan ini. Setelah bertahun-tahun, ia tetap tinggal di sini, tak pernah di tempat lain. Dulu, selain dia, juga ada neneknya yang mengelola toko buku ini sejak ia masih muda. Sementara orangtuanya telah pergi menduluinya—ibunya meninggal saat melahirkannya, sedangkan ayahnya entah di mana rimbanya. Tempat itu menyediakan berbagai macam buku, baik bekas maupun baru—biasanya disumbangkan dari penduduk desa yang hendak berpindah ke kota, seperti keluargaku. Kondisinya lebih sering sepi daripada ramai. Tapi, selang beberapa hari, biasanya ada pembeli yang datang jauh-jauh untuk menebus buku-buku langka.

“Nenek sudah meninggal lima tahun lalu,” katanya tiba-tiba, seperti bisa membaca pikiranku.

“Maaf,” aku sungguh berduka mendengarnya, membayangkan hari-hari sebatang kara yang ia lalui selama ini. Peri hanya mengibaskan tangan di depan hidungnya, lalu tersenyum, “Tak apa,”—meskipun sekilas aku melihat matanya berkaca-kaca. Neneknya juga dekat denganku. Ia perempuan tua yang bijaksana, setiap tutur katanya mengandung petuah. Mungkin karena sepanjang hidupnya ia bersahabat dengan buku-buku.

“Kau tahu, aku masih menyimpan buku-buku yang kauserahkan saat kau kecil—sehari sebelum kau pergi. Ketika sepi, aku memajangnya di rak yang mudah terlihat, meskipun aku juga berharap tak ada yang menyadarinya, apalagi tertarik membelinya,” katamu. “Bertahun-tahun aku menatapnya, bertahun-tahun juga aku mengingatmu.”

Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu tanggapanku, Peri masuk ke toko, meninggalkan bunyi kemerincing yang jernih. Kemudian senyap. Hanya tersisa suara hujan yang semakin deras, juga kabut yang tak jua pupus—mengaburkan pandangan. Seolah-olah di luar sana tak ada apapun selain hujan, yang mengalir dari hulu lembah menuju muara yang tak kukenal namanya. Bila dipikirkan lagi, sejak dulu Peri selalu sendirian, bahkan ketika kami duduk di bangku sekolah dasar. Saat kami kecil, teman-teman memandang ganjil anak-anak yang tak memiliki orang tua. Hal itu diperparah ketika ayahnya menghilang justru saat ia sangat membutuhkannya. Tetapi senyumnya selalu mengembang setiap ada yang menyapanya. Saat pertama mengenalnya, aku tak mengetahui latar belakang keluarganya, sebab aku hanyalah murid pindahan yang kesepian. Tetapi, apapun kondisinya aku benar-benar tak peduli dan tetap ingin berteman dengannya. Mungkin aku satu-satunya sahabatnya kala itu.

Beberapa menit kemudian, Peri datang lagi, membawa semangkuk sup dan teh hangat. “Piknik!” ia tertawa, lalu duduk di sampingku, memberiku mangkuk yang masih mengepul. “Kau tetap saja pemalu, seperti dulu. Sebaliknya, aku jadi merasa santai, bila bersamamu,” katanya.

“Aku akan tinggal di sini,” aku membuka mulut, nyaris berbisik sebenarnya. “Kau sudah bersuami?” Tolol. Tolol. Aku ingin menarik kembali ucapanku itu, tapi telanjur. Peri menatapku bingung. Ia taruh kembali cangkir tehnya di samping tempat duduknya, lalu menutup mulutnya dengan tangan. Dan aku pun mendengar suara yang selama ini kurindukan. Tawanya. Satu menit ia terbahak-bahak. Aku bergeming dengan muka datar sedatar-datarnya. “Kau mau melamarku?” tanyanya sambil mengusap matanya yang berair. “Arwah Kunang-kunang, bagaimana?”

Aku jadi ikut tertawa. “Sungguh? Di antara semua perempuan yang ada di muka bumi ini, kau malah cemburu padanya?”

“Makan dulu,” katanya.

Aku mengambil semangkuk sup yang ia sediakan. Rasanya enak sekali, khas makanan pedesaan yang segar dan hangat. Aku menyantapnya sampai habis. “Ini makanan terenak yang pernah kumakan,” aku berkata jujur. “Kau yang memasaknya?”

Ia menatapku dan mengacungkan jempol, mulutnya masih dipenuhi wortel dan kentang. “Akhirnya tertelan,” katanya. “Aku suka memasak, nenek yang mengajariku. Kemampuanku lumayan, lho,” lanjutnya. Aku sama sekali tak meragukan kata-katanya. Hujan ini tak kunjung reda, tapi aku tak peduli.

“Kunang-kunang!” ia tiba-tiba menepuk pundakku, “Di belakang bambu!” Aku langsung menyipitkan mata, mencari arah yang ia tunjuk. Benar, ada lusinan kunang-kunang di seberang kami, banyak sekali. Lebih banyak dari ingatanku, meskipun terhalau lebatnya hujan. Aku tersengat perasaan rindu yang hangat, juga kedamaian, ketika melihat seorang gadis kecil berdiri di antara cahaya, bersembunyi di belakang sebatang bambu. Tersenyum. (*)

 

 

RAFAEL YANUAR

Lahir pada tanggal 13 Januari di Purwokerto. Ia bermukin di Cirebon bersama istri dan putranya—Noviyanti Souw dan Steven Nathaniel. Buku pertamanya Serenada Penidur Hujan, diedarkan secara mandiri melalui penerbit indie. Ia dapat ditemui di ranah cecirit (Twitter) @opiloph dan blog rafaelyanuar.blogspot.com Keahlian terbesarnya, selain bernafas, adalah mencintai istrinya.

 

Advertisements