Perihal Sial Seminggu


Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 06-07 Februari 2016)

Perihal Sial Sehari ilustrasi Munzir Fadly.jpg

Perihal Sial Seminggu ilustrasi Munzir Fadly

Ahad

Pagi, setelah membeli Koran (yang kabarnya memajang puisiku) aku mendatangi kafe kecil langgananku. Kafe itu masih sepi sebab aku datang terlalu pagi. Aku tak tahu persis jam berapa waktu itu. Sebelum aku membuka koran, seorang perempuan tiba-tiba duduk di sebelahku. Bajunya ketat, roknya pendek. Rambutnya hitam dan panjang. Poninya rapi. Ia tersenyum dan giginya tampak bersih. Bekas cacar di sudut kanan bibirnya membuat ia makin manis saja. Ia mendekatkan duduknya ke dudukku.

“Mas penyair, ya?”

Karena gugup, aku menjawab dengan anggukan.

“Bacain dong puisi untukku,” pintanya sembari menempelkan sedikit pahanya ke pahaku.

“Tentu,” jawabku pendek, seperti irama nafasku yang juga jadi pendek-pendek.

Aku membuka-buka koran itu. Tapi puisiku tak ada.

Astaga, ternyata aku salah ambil koran. Di tanganku, terpegang koran kuning yang khusus meliput hantu-hantu dan berita kriminal.

“Ayo Mas, bacain.”

Kubanting koran itu di meja lalu pergi sebelum pramusaji menghidangkan kopi.

Sepeninggalku, sayup-sayup terdengar perempuan itu menyebut namaku. Mendengar namaku disebut, aku langsung nguping di dekat pintu. Perempuan itu bilang, ia menyukai puisiku yang berjudul “Dodot Mencuri Ginjal Sang Pacar”.

Tapi si pramusaji rupanya mendekat dan mengatakan pada perempuan itu kalau yang ia baca bukan puisi. Itu berita perihal lelaki semprul yang membunuh dan mengambil ginjal kekasihnya di sebuah hotel murah untuk dijual di pasar gelap.

 

Senin

Aku menyeberang sebuah jalan yang sepi. Aneh, kenapa di pagi begini, di jam menjelang kerja ini, jalanan yang biasanya macet menjadi sepi. Kupacu langkah, membelok ke sebatang gang menuju stasiun yang juga sepi.

Apa ini hari libur?

Tidak. Seingatku, tak ada tanggal libur di bulan ini.

Karena stasiun sepi, aku berbelok ke pinggiran sebuah pasar, di mana aku biasanya menyantap rawon. Di pinggiran pasar yang biasanya ramai orang-orang sarapan itu juga sepi. Rombong rawon juga tak ada. Seorang lelaki tua yang entah dari mana datang, kemudian menghampiriku.

“Maaf, kenapa sampean di sini?”

“Maaf, apa urusan sampean?”

“Sampean masih waras kan?”

“Sampean yang gendeng. Saban pagi saya sarapan di sini.”

Lelaki kurus itu kemudian menjotos kepalaku. Setelah dijotos lelaki itu, anehnya sekonyong-konyong kulihat di sekelilingku abu hitam berterbangan. Pasar seperti habis terbakar. Ke mana mata memandang yang tampak hanya hitam. Segalanya tampak gosong. Asap tebal menggumpal di luas langit.

Lelaki ceking yang menjotos kepalaku itu pun pergi.

Buru-buru aku menyusul lelaki itu.

“Pak Tua, Pak Tua….”

Lelaki itu terus berjalan dan tak menggubrisku. Aku terus menyusul langkahnya.

“Pak Tua, berhenti!”

Lelaki itu makin menjauh.

Tatkala ia tak tersusul langkahku, segerombolan orang hitam, begitu hitam, seperti gerombolan hantu yang terbuat dari arang, tiba-tiba muncul dan mengepungku. Tanpa babibu mereka lalu mengeroyokku. Mereka menuduh akulah yang membakar pasar itu.

Sebelum aku sempat membela diri, ribuan bogem dan tendangan mendarat di sekujur tubuhku. Ketika sebuah tinju menggasak mataku, langit yang hitam itu seperti runtuh dan menimpa wajahku.

 

Selasa

Aku terbaring di rumah sakit.

Kabarnya, polisi telah membekuk pembakar pasar yang asli.

Kuucap alhamdulillah, kendati kurasakan tulang dan dagingku seperti terpisah. Satu selang infuse tertancap di tanganku. Lidahku terasa pahit. Tampaknya, ketika aku pingsan, seorang perawat telah menyelundupkan obat ngawur ke mulutku. Aku yakin, para perawat dan dokter rumah sakit ini adalah orang-orang curang. Lihat, mereka bahkan memasang kain hitam ke tubuhku dan bukannya kain putih, sebagaimana lazimnya seragam orang sakit.

Dua lelaki berpakaian serba putih kemudian memasuki kamarku. Mereka memeriksa ini-itu, termasuk selang infus yang menancap di tanganku, kemudian tersenyum. Karena senyumnya tampak halus, aku curiga mereka adalah malaikat yang diutus untuk mencabut nyawaku.

“Apa sampean malaikat?” tanyaku.

Dua lelaki serba putih itu saling berpandangan. Satu dari mereka kemudian menyentuh kepalaku dan satunya mendekatkan mulutnya ke kuping yang lain dan membisikkan sesuatu.

“Apa sampean malaikat pencabut nyawa?”

Satu dari lelaki yang berpakaian serba putih itu pun berkata, “Siapkan ambulans….”

 

Rabu

Aku jongkok di WC untuk melepas hajat. Dari luar terdengar pintu digedor-gedor dan ditendang. Rupanya para kutu kupret itu telah bangun. Semalam, satu dari kutu kupret itu kutendang burungnya, sebab ia rupanya dengan sengaja ingin mempermainkan burungku.

Gusti, kenapa dua malaikat sudi bersekongkol dengan para pegawai rumah sakit yang curang itu. Dan kini mereka menjebloskan aku ke gedung terkutuk ini.

Terdengar pintu digedor lagi. Kali ini lebih kasar hingga membuat berakku sulit keluar. Kesal dengan perilaku mereka, kulempar gayung ke arah pintu.

Astaga, kenapa gayung itu bisa menerobos pintu dan nyelonong sedemikian jauh?

Aku baru sadar, rupanya mereka telah menjebol pintu WC. Mereka menggotong pintu WC itu sambil bersorak beriringan, seperti karnaval. Mereka lalu menaikkan seorang lelaki kurus kerempeng ke atas daun pintu itu dan menggotongnya, serupa seorang raja di atas tandu.

Mereka berbaris kemudian berjalan beriringan sambil mengepalkan tangan dan berteriak serempak: “Hidup raja junjunganku! Hidup raja junjunganku!”

Takut dituduh subversif, tanpa cebok, aku pun buru-buru menyusul mereka seraya turut mengepalkan tangan dan berteriak: “Hidup raja junjunganku!”

 

Kamis

Kami berada di sebuah kebun semangka. Tanaman itu merambat dengan sulur-sulur subur dan buah besar-besar. Kadang terbayang semangka-semangka itu seperti kepala korban pembantaian. Tapi, siapa kiranya yang kurang kerjaan, membantai orang kemudian kepalanya dicat hijau bergaris-garis lucu begitu: Puji Tuhan yang tak pernah mengilhami para algojo pembantaian berbuat demikian.

Matahari tepat di atas kepala kami.

Panas matahari membuat semangka itu tampak menggiurkan, sebab kami sangat haus dan lelah. Si raja junjungan kami, walau tadi ditandu dengan jebolan pintu WC itu, tentunya haus dan lelah juga. Beruntung nasib baik membimbing arak-arakan kami ke kebun semangka ini.

Kami pun mulai mengganyang semangka-semangka yang bergelundungan di kebun itu. Anehnya, haus kami rasanya kian kuat saja. Ketika semangka-semangka di kebun itu habis, haus kami terasa makin menyayat. Beberapa dari kami bahkan mulai nekad memakan kulit semangka, namun itu pun tak berfaedah.

Syukurlah satu dari rombongan kami mendapat ide cemerlang. Dengan sebongkah batu, ia mengepruk kepala teman yang berada di dekatnya dan memakan isi kepala itu mentah-mentah seraya berkata, “Ohoooi, sungguh manis rasanya, sungguh manis rasanya….”

Kami pun berburu batu di kebun itu, berebut batu paling besar dan beradu cepat mengepruk kepala teman terdekat.

 

Jumat

Terdengar sirine mobil.

Aku bersembunyi dalam goa.

Teman-temanku, para kutu kupret itu, entah di mana. Mungkin temanku hanya tersisa beberapa gelintir saja. Dan, seperti aku, mungkin mereka juga bersembunyi, terserang mual dan muntah setelah makan isi kepala mentah-mentah.

Terdengar sirine lagi. Mungkin itu ambulans utusan gedung terkutuk itu. Gemuruh mobil menderu lalu menjauh dari guaku.

Seekor laba-laba jatuh di atas kepalaku. Aku berkata, “Oh, andai saja ia membuat rumah di mulut gua itu, tentu malaikat dan para perawat yang berkomplot itu tak akan bisa menemukan aku. Apalagi petugas semprul yang menggenjot ambulans seenak dengkulnya itu.…”

 

Sabtu

Aku lapar, maka aku meninggalkan guaku.

Tak ada suara sirine.

Tak ada malaikat.

Tak ada perawat.

Dokter yang suka seenak perutnya menyuntikkan bius ke lenganku juga tak ada.

Aku lapar, tapi aku masih takut.

Aku pun berlari sekenanya dan menabrak singa yang tengah membuka mulutnya.

Alhamdulillah, ternyata itu hanya patung singa. Di sebelah patung singa itu berdiri patung gajah, rusa, tiga kera dan dua jarapah.

Tahulah aku bahwa goa yang kumasuki kemarin sebenarnya bukan gua betulan, tetapi sarang beruang di kebun binatang.

Di tembok kebun binatang itu tampak tergambar burung, beruang, rubah, macan dan onta sedang rukun dan bermain bersama. Di tembok sebelahnya, tergambar pula putri duyung sedang berkhotbah kepada ikan-ikan warni-warna.

Seekor kera betina tiba-tiba meloncat dan memelukku. Kera itu lalu mengosok-gosokan teteknya ke pahaku. Aku memberontak sekuat tenaga, melepas pelukannya, tapi tanganku ternyata kalah kebat dengan tangan kera itu.

Seorang petugas kebun binatang buru-buru menangkapku. Ia memaki-maki sambil tunjuk-menunjuk mukaku. Karena makian itu, dalam sekejab, para pengunjung kebun binatang pun berdatangan dan bersorak girang melihat aku digelandang bersama si kera betina.

Sore hari, di kantor polisi, ketika aku diinterogasi, kudengar berita dari TV kantor polisi itu: “Seorang pemuda sinting telah berusaha memperkosa seekor kera….”

Astaga!

 

 

Surabaya, 2016

A. Muttaqin tinggal di Surabaya. Buku puisinya, antara lain, Tetralogi Kerucut (2014).

2 Responses

  1. Sinting

    Like

  2. Entah sudah berapa kali aku baca cerpen ini, selalu di blog ini. Mungkin besok aku akan membacanya lagi. Entah apa yang menarik dari cerpen A. Muttaqin ini. Entah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: