Archive for February, 2016

Sublimasi
February 28, 2016


Cerpen Gracia Asriningsih (Media Indonesia, 28 Februari 2016)

Sublimasi ilustrasi Pata Areadi

Sublimasi ilustrasi Pata Areadi

LAKI-LAKI itu berdiri di sudut Place de Vosges, di depan rumah Victor Hugo—penyair legenda Prancis dan penentang hukuman mati—yang tinggal di situ tahun 1832 sampai 1848. Aku berjalan setengah berlari karena aku tak ingin ia terlalu lama menungguku. Aku pun tidak bisa menyampaikan kabar jika aku terlambat. Aku mungkin terlambat karena kakiku telah membawaku ke arah sungai Seine, dan bukan kepadanya. Aku tidak tahu kenapa aku ingin menemuinya. Mungkin karena ia sepertiku, suka menulis, membaca, dan berjalan. Ia bersandar ke dinding, tapi aku merasa ia menatapku. Angin dingin bertiup ketika ia seakan berbisik mengajakku duduk di bangku taman berwarna hijau. (more…)

Advertisements

Nasi Bungkus Istimewa
February 28, 2016


Cerpen Rahmy Madina (Suara Merdeka, 28 Februari 2016)

Nasi Bungkus Istimewa ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Nasi Bungkus Istimewa ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Aku tak tahu penyebab pasti kenapa Kakek tak kembali ke rumah kami, sehingga Nenek selalu termangu menatap ombak bergulung-gulung yang seakan tak punya lelah. Aku kerap memperhatikan Nenek dari balik kaca jendela yang kupastikan tetap bersih, meski kami tinggal di pesisir.

Nenek moyangku orang pelaut. Begitulah lagu yang dulu sering kunyanyikan di TK. Dan, aku satu-satunya anak yang paling bangga karena punya ayah dan kakek pelaut. Mereka berlayar mencari ikan, pulang ke darat untuk menjual ikan tangkapan ke pasar. Semua ibu teman-temanku akan membeli. (more…)

Sweter
February 28, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 28 Februari 2016)

Sweter ilustrasi Bagus

Sweter ilustrasi Bagus

AKU tahu siapa yang meletakkan stoples itu di atas bufet kayu tepat di sisi foto keluarga —foto kita; aku, kau, dan papamu yang tentu saja mengenakan sweter terbaiknya. Waktu itu kau ingin memerangkap serangga. Kau tak pernah mendapatkan serangga jenis mana pun, sebab binatang itu lebih banyak hinggap di dinding luarnya saja atau sebagian terbentur tak sengaja lalu buru-buru terbang lagi. Namun, tak disangka, suatu hari ternyata stoples itu berhasil memerangkap waktu dan setelah itu waktu seolah berhenti di sini dan aku banyak berada di masa lalu. Kalau saja kau melihatnya sekarang, kalau saja kau di sini, kau mungkin akan terpana dan berteriak sekencang-kencangnya sampai suaramu menembus atap rumah cokelat tua kita. (more…)

Rindu Aisyah
February 28, 2016


Cerpen Griven H Putera (Republika, 28 Februari 2016)

Rindu Aisyah ilustrasi Rendra Purnama

Rindu Aisyah ilustrasi Rendra Purnama

Sudah tiga bulan ini, setiap hari ia jenguk makam anaknya. Kalau tak pagi, siang. Kalau tak siang, petang sepulang dari kantor.

Keluarga mertuanya amat keheranan melihat perubahan sikap Saleh tersebut. Karena, sejak meninggal tiga tahun lalu, akhir-akhir ini barulah Saleh menziarahi makam anaknya itu. Selama tiga tahun itu ia seolah-olah tak peduli pada anaknya tersebut. Ia biarkan semak tumbuh liar di atas pusara anak perempuannya yang meninggal dalam umur enam tahun itu. Kalau tak ada mertua lelakinya, mungkin pusara itu sudah menjadi semak belukar. (more…)

Mardi
February 28, 2016


Cerpen Des Alwi (Kompas, 28 Februari 2016)

Mardi ilustrasi Bambang Heras

Mardi ilustrasi Bambang Heras

Malam semakin larut. Angin dingin yang mulai bertiup semakin menekan mataku. Tetesan air hujan dan guncangan gelombang tidak berhasil menahan kantuk yang sudah menderaku sejak tiga jam lalu. Mardi, kapten merangkap ABK, yang duduk di sudut buritan kapal kayu tua, ukuran 3 x 7 meter, tidak bergerak. Matanya terus menatap kapal bagan, menunggu jaringnya diangkat, tanda cumi sudah terkumpul dan siap untuk dijual.  (more…)

Hujan Gajah
February 27, 2016


Cerpen Dadang Ari Murtono (Koran Tempo, 27-28 Februari 2016)

Hujan Gajah ilustrasi Munzir Fadly

Hujan Gajah ilustrasi Munzir Fadly

PADA malam keempat puluh wafatnya Sakti, Jibi berjalan pulang dalam keadaan mabuk parah. Tiga kali ia terperosok ke dalam selokan, dan dua kali tersandung batu. Sampai di depan rumahnya, ia mendapati seekor gajah meringkuk di teras, tepat menghalangi pintu. Semabuk apa pun Jibi, ia terkejut juga. Dan begitu mengamati dengan seksama ukuran gajah itu, Jibi yakin bahwa yang teronggok di depannya hanyalah sebuah boneka gajah. Dan ketika apa yang dikiranya boneka itu bergerak-gerak, ia mengeluhkan efek arak yang terlalu keras. Jibi memanfaatkan sisa tenaganya untuk terus mengamati gajah itu. Dan sebelum memutuskan untuk membuka pintu, ia sudah jatuh dalam tidur. (more…)