Archive for January, 2016

Suman
January 24, 2016


Cerpen Umar Affiq (Suara Merdeka, 24 Januari 2016)

Suman ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Suman ilustrasi Putut Wahyu Widodo

“Suman.” Aku baca tulisan itu dalam hati. Tulisan pada kayu jati yang sebagian terpendam dalam gunduk tanah di depanku. Tak sekali pun aku sangka, barangkali pemilik nama itu juga, bahwa semua yang ia ceritakan padaku tempo hari lebih segera dari yang tak pernah kami duga. (more…)

Perempuan Penambal Kesepian
January 24, 2016


Cerpen Indra Tranggono (Jawa Pos, 24 Januari 2016)

Perempuan Penambal Kesepian ilustrasi Bagus

Perempuan Penambal Kesepian ilustrasi Bagus

JIKA dirimu mengalami kesepian tingkat sedang atau bahkan parah, datanglah pada perempuan itu. Dia bisa membaca pikiran, perasaan dan jiwamu melalui aura yang terpancar dari tubuhmu. Aura yang penuh lubang atau gerowong menunjukkan pikiran dan perasaan yang kacau karena didera kecemasan dan kegelisahan. Di situlah monster kesepian bertahta, kata dia. (more…)

Filosofi Rumah
January 24, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 24 Januari 2016)

Filosofi Rumah ilustrasi Rendra Purnama

Filosofi Rumah ilustrasi Rendra Purnama

Waktu cepat tergelincir ketika ia mulai merancang sebuah rumah yang kelak akan ditinggalinya bersama sang istri. Sebuah tempat yang dapat membuatnya memiliki alasan untuk pulang; tinggal di dalam dan menghabiskan masa tua hingga malaikat maut mengetuk pintu rumah; menjemput pada batas waktu yang telah ditentukan. Maka, sebelum semua itu terjadi, ia tidak ingin serampangan merancang sebuah rumah. Karena, selain nyaman untuk ditinggali, rumah baginya juga harus mampu menyimpan seluruh harap sepanjang hidup. (more…)

Wayang Potehi: Cinta yang Pupus
January 24, 2016


Cerpen Han Gagas (Kompas, 24 Januari 2016)

Wayang Potehi Cinta yang Pupus ilustrasi Hartono

Wayang Potehi Cinta yang Pupus ilustrasi Hartono

Ketika dalang memasukkan tangannya ke dalam kantong dan mulai menggerakkan boneka wayang, gembreng dan tambur dipukul diiringi gesekan rebab yang melengking menyayat telinga, saat itu mataku menangkap wajahmu di antara jejalan penonton.

Jantungku berdegup kencang. Wajahmu berkilau dalam siluet cahaya oranye lampu panggung. Kecantikanmu yang memancar bagai berlian menghisapku begitu dalam. Rambutmu masih seperti dulu tergerai indah di bahu. Aku tak dapat melepaskan pandanganku darimu. (more…)

Saya yang Membakar Kota M Sekali Lagi
January 23, 2016


Cerpen M. Aan Mansyur (Koran Tempo, 23-24 Januari 2016)

Saya yang Membakar Kota M Sekali Lagi ilustrasi Munzir Fadly

Saya yang Membakar Kota M Sekali Lagi ilustrasi Munzir Fadly

SAYA membakar Kota M meskipun para penduduknya yang tersisa sudah bersusah payah membangunnya kembali. Tiga tahun silam kota ini tidak lebih dari tumpukan abu karena ulah sekelompok anak muda dungu dan berapi-api.

Saya tidak melakukannya sendiri. Saya percaya tidak ada satu pun pekerjaan di dunia ini mampu diselesaikan hanya dengan dua tangan dan satu kepala, apalagi perkara besar seperti membakar kota. Dengan uang yang saya kumpulkan kurang-lebih dua tahun bekerja sebagai penyedia waktu di Perpustakaan Terakhir, saya membayar dua puluh satu pemuda yang tidak tahu dan tidak mau tahu untuk apa mereka hidup. Menemukan pengangguran putus harapan seperti mereka sama mudahnya dengan melontarkan umpatan tidak bertanggung jawab terhadap kebodohan orang lain. (more…)

Ibu bagi Rara
January 17, 2016


Cerpen Kurnia Effendi (Media Indonesia, 17 Januari 2016)

Ibu bagi Rara ilustrasi Pata Areadi

Ibu bagi Rara ilustrasi Pata Areadi

RARA tahu, ia tak punya ibu sejak usianya seminggu. Mengapa Gaharu berulang kali menanyakan perihal orangtuanya? Bedebah itu terlalu usil mengungkit riwayatnya sebelum cinta saling mengikat. Bukankah jawaban-jawaban itu tak akan mengubah keadaan dirinya? Rara yang piatu tak pernah menyusu pada siapa pun. Namun demikian, perasaan-perasaan sebagai anak terkasih atau gadis penanggung sedih, berawal dari rahasia itu. (more…)