Cerpen Aribowo (Jawa Pos, 31 Januari 2016)

Upacara ilustrasi Bagus
Upacara ilustrasi Bagus

Sudah satu jam lamanya laki-laki gendut tua itu gelisah. Bangun dari ranjang, minum air kuning dalam botol, kemudian kencing, dan akhirnya rebah kembali. Dalam cahaya kamar remang-remang dia nembang mocopat: Ilir ilir tandure wis sumilir, tak ijo royoroyo tak sengguh penganten anyar… Lirih suaranya. Serak suaranya. Dibarengi desah napas tua terengah-engah. Sementara itu cahaya bulan lamat-lamat berwarna biru, berwarna biru tipis, tergores di atas kaca jendela kamar hotel.

Tiba-tiba kamar hotel laki-laki gendut tua itu dibel orang. Mata laki-laki tersebut ditempelkan ke lubang kancing kaca pintu kamar hotel, “Kaukah…?” sapa laki-laki itu dengan suara lirih, nyaris berbisik.

“Ya, Tuan. Saya..,” sahut pengebel pintu kamar hotel dengan pelan pula. “Saya bawa yang Tuan inginkan,” imbuh pengebel pintu itu.

Laki-laki gendut tua membuka sedikit lebar daun pintu lalu dengan cermat dia perhatikan seorang perempuan yang berdiri di samping seorang laki-laki berambut separo pirang. Sesaat kemudian laki-laki gendut tua itu mengangguk. Dengan cepat laki-laki berambut separo pirang mendorong perempuan di sampingnya ke dalam kamar sambil membisikkan sesuatu ke telinga laki-laki gendut tua. Laki-laki gendut tua menganggukkan kepala sambil menepuk dua kali bahu laki-laki berambut separo pirang. Dengan cepat laki-laki gendut tua memasukkan segebok uang ke saku celana laki-laki berambut separo pirang. Setelah pintu ditutup rapat laki-laki berambut separo pirang berlalu dari kamar sambil bernyanyi.

Di dalam kamar, digenangi cahaya remang. Perempuan itu dibimbing pelan ke sofa oleh laki-laki gendut tua. Laki-laki gendut tua bertanya pelan ke dekat telinga perempuan itu. “Ida, Tuan…,” sahut perempuan itu lirih.

“Terlalu tua itu…,” bisik laki-laki gendut tua sambil mencium leher Ida.

“Lalu apa?”

“Mas…’’

Tiba-tiba napas Ida tersedak. “Tolong air…,” suara Ida mengiba. Laki-laki gendut tua segera memberi segelas air buat Ida. Setelah minum Ida menatap tajam laki-laki gendut tua. “Saat itu semua masih muda. Belum apa-apa. Hanya sepotong cinta,” tegas laki-laki gendut tua. Ida tertunduk. Lalu dia habiskan air segelas di tangannya. Laki-laki gendut tua juga minum air dalam botol berwarna kuning. Berkali-kali air itu ditenggaknya. Setelah itu dia buru-buru kencing di toilet. Kencang kencingnya.

Laki-laki gendut tua mendekati wajah Ida. Dari keremangan cahaya kamar laki-laki gendut tua menangkap kilatan cahaya mata Ida rada cemas. Lalu pipinya bergetar. Kedua matanya ditutup rapat.

Dengan kalem dan halus diusap-usap kelopak mata Ida dengan bibir tebal laki-laki gendut tua. Pelan-pelan usapannya. Usapan berputar balik dan akhirnya bibir laki-laki gendut tua digesekkan ke pipi kiri Ida. “Jangan takut cantik. Aku tidak minta lebih…”

“Aku tidak mengerti apa ini?”

“Seperti upacara…”

Ida terkesiap. Dadanya bergetar.

“Aku tidak ngerti, Mas. Sudahlah mainkan aku seperti biasanya.”

“Jadi si Didik tadi tidak cerita?”

“Sedikit cerita. Tapi aku tak paham juga.”

“Bangsat dia!” Laki-laki gendut tua melepaskan pelukannya. Dia mengambil tas dan kemudian mengeluarkan sepotong baju putih dril tua, celana hitam blacu lusuh, dasi kupu-kupu tua, sepasang selop cokelat butut, dan sepucuk pistol. Barang-barang itu dijejer pelan-pelan di atas meja, seperti barang dagangan. Laki-laki gendut tua segera bercerita panjang lebar tentang barang-barang itu. Pelan suaranya, serak suaranya, bergetar nadanya, dan berwibawa wajahnya.

Laki-laki gendut tua melepas baju dan celananya sambil mulutnya menembang: Ilir ilir ilir ilir… tandure wis sumilir, tak ijo royoroyo tak sengguh kemanten anyar… Dengan pelan baju dril putih dan celana blacu hitam dipakainya. Kemudian dia kenakan dasi kupu-kupu sedikit mencong. Mulutnya tetap menembang. Bergetar suaranya. Serak suaranya. Tapi kali ini terasa agak pilu.

Dia merogoh saku celananya. Dia keluarkan sebutir selongsong pelor, sebuah cincin monel, dan sebuah Alquran kecil yang sudah lusuh.“Ini mas kawinku dulu…,” kata laki-laki gendut tua. Ida melirik sebentar. Segera dikeluarkan permen karet dari dompet kecilnya, dikulum cepat-cepat. Ida ingat bapaknya. Bapaknya yang sudah tua, gendut, dan suka mendekte. Wajah bapaknya muncul tiba-tiba. Bergoyang-goyang. Bergoyang-goyang… Lalu muncul bayangan sepotong rotan, sapu lidi, dan kemudian menelan wajah Ida.

“Aku ingin kau bantu aku kembali ke masa 1948,” kata laki-laki gendut tua lirih. Pelan suaranya, serak suaranya, bergetar nadanya, dan berwibawa wajahnya.

“Apa aku bisa, Mas?”

“Kau dibayar untuk upacara itu…’’

Ida terkesiap kembali. Dua kali dia terkesiap. Tiba-tiba wajah bapaknya muncul kembali, bergoyang-goyang. Tiba-tiba wajah-wajah tua lainnya bergentayangan di depan wajah Ida: kakek, nenek, paman, bude, kepala sekolah, sepotong rotan, sapu lidi, dan… upacara perkawinan.

Ida terkesiap kembali bayangan bapak, kakek, nenek, dan upacara… Ida tiba-tiba bangun dan segera lari ke toilet. Dia kencing, terus kencing, terus kencing lagi. Lalu dia menangis pelan. Dia menangis sesunggukan. Setelah selesai Ida kembali ke kasur. Ida menunduk.

Laki-laki gendut tua segera memakai selop cokelat butut dan kemudian mengelilingi meja. Dia melirik ke jendela, bulan miring ke kiri. Pelan-pelan laki-laki gendut tua menyelipkan pistol di sabuk celananya.

Ida melemparkan tubuhnya di atas kasur. Dia kubur kepalanya dengan bantal. Dia benamkan kepalanya, dia bekap wajahnya dengan bantal, dan dia tutup rapat-rapat matanya dari cahaya lampu kamar. Tapi dia tidak menangis, tidak mau menangis seperti di toilet tadi.

“Kenakan jarik itu di pinggangmu…,’’ ujar laki-laki gendut tua tepat di telinga kiri Ida. Ida bangun pelan-pelan. Dia menatap tajam kain batik yang tergeletak di atas meja, dalam cahaya remang-remang. Tiba-tiba dia ingat saat-saat menjelang perkawinannya. Juga dalam cahaya remang-remang.

Ida dibimbing laki-laki gendut tua ke meja. Kemudian dilingkarkan jarik itu ke pinggangnya dengan pelan, sambil di kidungkan bait-bait tembang dolanan. Pelan suaranya, serak suaranya, tapi bergetar: Ilir ilir, ilir ilir, tandure wis sumilir, tak ijo royo-royo tak sengguh keanten anyar

Tiba-tiba Ida ingat pada sesuatu, pada bau tanah kampung, tanah desa, bau suara anak-anak di tegalan ibunya. Lalu suara neneknya yang serak setiap pagi tatkala membimbing Ida pergi ke sekolah. Suara nenek, suara tembang dolanan, suara mimpi tentang bulan-bulan, tentang bukit-bukit, tentang sungai-sungai, dan tentang mantenan anak-anak. Lalu muncul wajah bapaknya bergoyang-goyang, bergoyang-goyang diikuti sepotong rotan dan sapu lidi.

Merah wajah Ida. Dia bangkit dari kasur. Dia ambil bir di kulkas. Dia tenggak dengan tergesa-gesa. Airnya segera berhamburan ke tubuhnya. Dia comot air mineral. Segera ditumpahkan ke mulutnya: berhamburan airnya. Dia ambil lagi bir, dia minum lagi, muncrat-muncrat airnya.

Laki-laki gendut tua segera merangkul Ida. Kuat rangkulannya. Ida menangis terguguk-guguk di dada laki-laki gendut tua. Kedua tangan laki-laki gendut tua membekap kuat badan Ida. Mulut laki-laki gendut tua pelan-pelan ditempelkan ke telinga kiri Ida. Dia bisikkan suara-suara.

Ida merasa suara laki-laki gendut tua seperti suara serak mantan suaminya di malam pengantin. Laki-laki bawaan bapaknya. Laki-laki yang dipaksakan bapaknya dalam hidupnya. Laki-laki asing dari awal sampai akhir. Laki-laki yang selalu membisiki telinganya di malam hari, akan tetapi meninggalkan luka di hatinya di setiap pagi. Lalu muncul suara sepotong rotan dan sapu lidi menghantam punggungnya di malam pengantin itu. Dan akhirnya wajah bapaknya…

“Bapak…,” desis suara Ida mengiba. Dalam dekapan dada laki-laki gendut tua Ida menangis terguguk-guguk.

“Sebentar Ida. Setelah itu kamu bisa pergi…, pinta laki-laki gendut tua

“Bukan itu, Mas…”

“Apa, Sayang…”

“Aku tidak suka upacara perkawinan…,” suara Ida merendah.

“Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro. Dodotiro… dodotiro… kumitir bedhahing pinggir, dondomono jlumatono kanggo seba mengko sore…” Laki-laki gendut tua menembang lirih, nyaris berbisik, sambil mendekap kepala Ida. Ida melihat beberapa tetes air matanya tumpah di jarik yang dia kenakan. Tetesan air mata itu terasa sakit seperti sakitnya tetesan darahnya di malam pengantin dulu. Lalu muncul bayang-bayang bapaknya, bayang-bayang rotan, sapu lidi, dan mantan suaminya yang asing.

“Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane, yo surako… surak hore…” Laki-laki gendut menembang lagi. Dia nembang dari refrein kembali ke refrein. Suaranya semakin lama semakin pelan, nyaris berbisik, dan bergetar. Suaranya diputar-putarkan di sekitar leher dan telinga Ida.

“Nembanglah, Sayang…”

“Aku tidak bisa nembang, Mas…”

“Waktu itu ada tembang Sayang, meski terbata-bata.”

“Waktu itu ada suara rotan Mas, menyayat-nyayat, bukan tembang.”

“Waktu itu darurat, perang, ketakutan, tapi kami di ruang gedek itu merajut cinta. Istri, ibu, dan mertua perempuanku menangis. Tapi kami bahagia.

“Waktu itu aku menangis terguguk-guguk di kamar, sementara laki-laki itu menikahi aku dengan wajah asing.”

“Waktu itu seolah dunia kembali ke permulaan. Hanya Adam dan Hawa. Hanya ada suara tembang, lirih suara tembangnya selirih suara tangis istriku ketika darahnya menetes di sprei…”

“Waktu itu aku merasa aku diperkosa. Darahku muncrat, Mas…”

“Tapi kau sekarang menjadi upacaraku,” bisik laki-laki gendut tua.

Ida diam. Masih dalam dekapan laki-laki gendut tua.

Laki-laki gendut tua menarik pelan-pelan tubuh Ida ke dekat jendela, sambil mulutnya tetap menembang.

“Istriku memang terbata-bata dalam menembang, tapi suara itu… suara langit, suara bulan, dan suara angin-angin lirih,” kata laki-laki gendut tua. Ida tetap diam. Dia hanya mendekap dada yang bergetar itu.

“Dia waktu itu pengantin putih, seperti burung dara kasmaran. Dia bagai setetes embun yang membasahi mulut yang kering karena mesiu. Saat itu memang hanya mesiu, hanya pistol, perang, gerilya, dan pembunuhan. Dialah bendera putih perdamaianku saat itu. Dialah pelabuhanku…”

Ida merasakan bajunya mulai dilepas oleh laki-laki gendut tua. Pelan dan penuh emosi laki-laki gendut tua melepas baju Ida.

“Nembanglah, Sayang…”

Ida mendongak.

Leher Ida segera dikulum laki-laki gendut tua.

“Tirukan tembangku, Sayang.

“Tidak bisa, Mas…”

“Menarilah, berputarlah, menarilah…”

Ida mulai menari pelan. Lambat gerakannya. Sementara itu laki-laki gendut tua menembang dari refrein kembali ke refrein.

“Berputarlah, Sayang…Pelan, bisa.”

Ida menari sambil berputar-putar, masih pelan gerakannya. Sementara itu laki-laki gendut tua terus menembang. Dia mendekati leher Ida dan pelan-pelan dia lepas jarik Ida.

“Sebentar lagi kita akan kembali ke masa itu…”

Ida mulai menangis lagi, serak suaranya, pelan suaranya.

“Bantulah aku kembali ke masa itu….”

Ida terus menangis, sambil menari. Ida berputar-putar seperti orang mabuk. Masih mendengar suara tembang serak, berulang-ulang, dan penuh emosi.

“Dia pertiwiku yang sesungguhnya di tengah pertiwi negaraku. Tapi bulan memang tetap itu juga.”

Ida masih menangis, gloyoran tariannya. Seperti orang mabuk.

“Nembanglah, Sayang, menarilah…”

Tubuh Ida gloyoran dan kemudian jatuh. Laki-laki gendut tua segera membangkitkan tubuh Ida. Ida didekap. Tubuhnya ditari-tarikan. Tubuh Ida mulai lemas. Laki-laki gendut tua tetap membisiki telinga Ida, membisiki tembang, tentang tarian, tentang bulan-bulan. Tiba-tiba Ida merasa ada rotan yang mencabik-cabik. Ada sapu lidi yang memukul-mukul tubuhnya. Ada orang asing merobek tubuhnya. Ada wajah bapaknya, ada mulut dan mata bapaknya yang melotot.. Lalu suara kasar bapaknya muncrat-muncrat. Lalu tangan besar bapaknya. Lalu tiba-tiba Ida merasa dadanya dihantam oleh tangan besar itu. Ida terjatuh.

Laki-laki gendut tua mengangkat lagi tubuh Ida. Jatuh lagi. Diangkat lagi dan ditari-tarikan lagi. Ida menangis, terguguk-guguk tangisannya. Laki-laki gendut tua membelai punggungnya. Ida jatuh. Diangkat lagi. Ditari-tarikan lagi. Ida tetap menangis terguguk-guguk. Ida jatuh lagi. Diangkat kembali tubuhnya. Lalu ditari-tarikan. Tapi, tiba-tiba Ida melepaskan dekapan laki-laki gendut tua. Setengah melompat dia meraih pistol di pinggang laki-laki gendut tua.

Terdengar suara letusan keras dari dalam kamar hotel.

DOR !

Bulan tetap bulan itu juga. Menggores kaca jendela hotel: ada darah dalam cahaya bulan biru. ***

 

 

 

Advertisements