Cerpen Kurnia JR (Kompas, 31 Januari 2016)

Berteman Angin di Ladang Kentang ilustrasi Maharani Mancanagara
Berteman Angin di Ladang Kentang ilustrasi Maharani Mancanagara

Kulihat malam pada hamparan ladang kentang Dataran Tinggi dan kudapati wajah sendiri yang sunyi, mengejar jawaban atas satu hal yang tak kunjung datang. Apakah yang patut kuberikan untuk mengisi waktumu? Sepotong kisah?

Ini cerita penangkal dingin malam yang mengekang tulang-belulang pada ujung kemarau Dataran Tinggi. Harus kuperjelas aku tidak menyimpan dendam apa pun di dalam kisah yang hendak kututurkan ini. Aku hanya minta pengertianmu untuk sepenuhnya percaya pada apa yang kuungkapkan. Seluruhnya. Jika engkau skeptis atau hanya setengah percaya, berhentilah membaca.

Kau tahu—setidaknya, mungkin engkau pernah baca beritanya di koran, atau kau tonton di televisi—aku pernah membunuh seorang pengemis, atau lebih tepatnya, seseorang yang kusangka sebagai pengemis. Dan untuk itu aku harus mendekam dalam penjara bertahun-tahun dan belajar banyak tentang kebusukan yang bersarang di dalam jiwaku.

Kau tahu aku pernah tak percaya pada segala hal yang kubaca dalam Kitab Suci. Dua hal berkaitan satu sama lain: pembunuhan dan ketidakpercayaan kepada Firman Suci. Yang satu datang bersama yang lain.

Mula-mula aku memberontak terhadap vonis dan kekangan penjara. Betapapun, aku tak pernah dengan sengaja menghabisi hidup seseorang walau dalam kenyataan dua tanganku berlumuran darahnya. Lambat-laun hatiku melunak, atau melemah, melayani kemurkaan yang muncul dari sebab-akibat. Aku lebih banyak duduk menatap cahaya langit pada saat terbit matahari di jendela kecil berjeruji. Tiap subuh kubaca garis takdirku di langit ungu yang membiru pelan-pelan. Kubaca segala kelemahan dan juga kekosonganku. Kudapati pengertian bahwa tidak selalu aku bisa atau boleh memberontak, sekalipun aku tak rela menerima sesuatu. Baiklah, kuputuskan pada akhirnya, aku terima ini, Tuhan.

Tuhan pun mulai hadir setiap pagi dan petang, mengingatkan aku pada halaman-halaman kitab suci yang rajin kubaca berulang-ulang pada masa kecil. Betapapun, sulit bagi diriku untuk membangkitkan rasa percaya kepada isinya, seperti sudah kukatakan kepada kamu. Sekalipun Tuhan sendiri mungkin yang berkata di situ. Mungkin engkau ingin mencerca aku… silakan. Aku mungkin pantas dicaci, namun aku menyatakan sejujurnya, sungguh aku sudah pasrah terhadap apa pun yang akan dijatuhkan Tuhan atas diriku. Mungkin Dia hendak menyatakan bahwa aku telah menjadi Si Terkutuk yang bakal menghuni neraka jahanam.

Kudengar angin datang. Senja mulai kelam. Sementara lonceng penjara berbunyi rutin. Lalu datang subuh itu. Inilah saatnya akan kututurkan peristiwa itu, pembunuhan yang akhirnya menjebloskan aku ke bui laknat.

Pengemis itu datang seperti pesakitan yang menyibak kabut pagi. Ketika itu aku sedang menyabit rumput dekat pagar belakang rumah. Matanya merah. Wajahnya meringis. Dari kerongkongannya keluar suara seperti ternak disembelih. Ia hendak mengadukan sesuatu, mengeluhkan sesuatu, tetapi aku tak menangkap apa maksudnya. Aku hanya berpikir dia berpura-pura saja untuk mengorek iba dari hati sanubariku. Aku merasa amat marah saat itu karena merasa sedang dipermainkan.

“Kamu mau apa?” aku menyergah dengan tak sabar. Sungguh, aku heran, sepagi itu sudah datang pengemis yang memainkan mimik muka yang menjengkelkan.

Ia tak menyahut, cuma mengerang-erang seakan-akan mengalami kesulitan mengucapkan kata-kata, yang hanya menambah kejengkelanku. “Ah, pura-pura bisu.”

Dia beringsut mendekat tanpa kusadari. Detik itu aku menyesal membiarkan pintu pagar terbuka sehingga dia leluasa masuk begitu saja. Dalam sekejap mata, sekonyong-konyong ia membungkuk dalam gerakan seperti hendak merebut sabit dari tanganku. Aku kaget setengah mati dan dengan gerak refleks mengayunkan sabit itu ke lehernya.

Kurang dari sedetik, aku sudah menyaksikan tubuh itu terkapar berlumuran darah dengan leher nyaris putus, menggelepar seperti hewan disembelih, dengan suara nan mengerikan keluar dari tenggorokan yang basah kuyup oleh cairan kental merah kehitam-hitaman dan cerah menyala sekaligus. Sinar matahari pagi terpantul aneh dari kubangan merah yang terbentuk cepat di rerumputan.

Aku terpana dengan sabit yang terasa sangat berat di tangan. Bilah landepnya meneteskan darah terus-menerus. Sekejap kurasakan matahari tiba-tiba sudah di atas kepala meneriaki aku dengan teriknya atau dengan murkanya. Lalu kusaksikan diriku digelandang banyak orang. Polisi berupaya keras menyelamatkan aku dari amukan buas massa yang marah.

Aku tak ingat persis detik demi detiknya. Tahu-tahu, aku sudah melongo di dalam sel penjara. Mungkin sebaiknya begitu. Aku akan lebih tersiksa jika drama berjalan lamban. Selekasnya aku menjalani proses pertanggungjawaban mungkin lebih baik. Satu-satunya yang ingin kualami adalah kepalaku hancur dan menjadi jasad renik yang diorak angin musim kemarau atau dilumat lumpur musim hujan. Aku tak kuasa menyanggah tuntutan dengan kilah bahwa aku membela diri.

Aku tak menghitung hari-hari yang berlalu. Yang sempat memukul jiwaku adalah cerita anak sang korban. Di layar TV anak itu, duduk di sisi ibunya yang rapuh dan bungkuk, menuturkan kepada wartawan bahwa ayahnya memang bisu dan pada pagi yang nahas itu sedang berkeliling mencari pertolongan demi anak terkecil yang demam tinggi. Ia juga menegaskan bahwa ayahnya bukan pengemis, hanya bekerja serabutan. Apa saja bisa dia kerjakan sehari-harinya demi keluarganya.

Bagai film yang diputar dalam gerak lambat, aku mengingat-ingat kembali gerakan orang bisu itu dengan penafsiran baru. Ya, matanya memang tak memancarkan niat membunuh saat tangannya seperti terayun ke arah sabit di tanganku. Bahkan gerak tangan itu lemah!

Mungkin ia ingin menyabitkan rumput untuk aku. Suaraku bersipongang di dalam kepala. Aku terkejut sendiri mendengar gemanya di rongga tengkorak. Seperti tertimpa langit runtuh, aku ditimbun penyesalan yang luar biasa dan kehilangan harapan hidup. Aku yang pernah bercita-cita menjadi juru bimbing umat kala remaja dan akrab dengan kitab suci, kini mendapati diri sebagai manusia laknat yang sangat keji, yang bahkan tidak pernah terbayangkan sekilas pun. Siapa yang menjerumuskan aku? Diriku sendiri? Setan Si Laknat? Atau Tuhan Yang Mahakuasa? Oh. Terkutuk aku jika mendakwa Tuhan atas dosaku! Tetapi!

Andaikan si bisu tak pernah datang menemui aku. Andaikan pagi itu aku tak di rumah dan kalaupun di rumah tak menyabit rumput di halaman. Andaikan kesalahpahaman tak terjadi. Andaikan orang itu atau aku tak pernah ada. Andaikan….

Kenapa orang bisu itu datang pada saat aku memegang sabit? Mengapa ajalnya diserahkan ke bilah tajam di tanganku? Seharusnyakah aku yang menjadi penyebab kematiannya? Menjadi pembunuhnya? Siapa pula yang dalam hidupnya pernah berangan-angan atau bercita-cita jadi pembunuh? Seketika aku telah menjadi pendosa yang dihujat semua orang.

Sel penjara terasa lebih gelap menyesakkan daripada sebelumnya. Sejak itu matahari tak lagi mampu menembus celah-celah jeruji jendela. Tembok penjara menjadi lebih tebal daripada sebelumnya. Aku terbanting-banting ombak samudra di batinku yang tak ramah. Demikianlah masa tahanan panjang kujalani. Hatiku mengeras lebih dari batu.

Tahun-tahun akhirnya berlalu dan aku bebas. Aku bebas setelah aku nyaris lupa dunia bebas itu seperti apa dan bagaimana mengisi kebebasan itu. Aku telah kehilangan banyak hal: rasa nyaman dan tenteram yang enak, pekerjaan, lingkungan yang ramah, dan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah terpikirkan dalam benakmu.

Pagi datang membawa hawa dingin yang sangat kuat. Dataran Tinggi ini membentang sunyi. Kabut masih menyelimuti ladang kentang yang menutupi bukit dan lembah. Aku merapatkan jaket lusuh ke tubuh. Sebentar lagi matahari menghadiahi bumi dengan sinar yang cemerlang. Angin nyaris membekukan wajah dan mengusap-usap rambut, namun hatiku tak terpengaruh.

Secara perlahan aku mulai berpikir lagi tentang rasa terluka. Kini aku dapat memahami satu hal: rasa pedih hanya dapat kuredakan dengan menghalau segenap penyesalan tentang masa lalu dan apa pun yang telah terjadi dan membekas sebagai sekadar kenangan. (*)

 

 

Kurnia JR, kelahiran Tangerang, Banten, telah memublikasikan buku-buku Kereta Berangkat Senja; Inspirasi? Nonsens! Novel-novel Iwan Simatupang; Puisi untuk Reformasi: Grafiti di Tembok Istana; novel sejarah suatu etnis di Indonesia dengan nama samaran, serta cerpen, sketsa, dan esai di sejumlah antologi.

 

Advertisements