Sekantong Wajah


Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 17 Januari 2016)

Sekantong Wajah ilustrasi Farid

Sekantong Wajah ilustrasi Farid

Ada lima wajah terbungkus plastik di atas meja. Semuanya berbeda. Baru. Wajah-wajah itu terlihat rupawan; menguarakan karisma dan kesantunan seorang alim ulama yang sering Tarno tonton di televisi. Sekilas juga mirip seorang kiai terkenal yang menjadi panutan setiap orang. Tarno mengamati wajah-wajah di dalam plastik; melihat kelima wajah yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Ia harus lekas memilih satu dari kelima wajah untuk mengganti wajah lamanya saat ini; menanggalkan dirinya yang lama, menjadi sosok yang baru.

Menelisik satu per satu wajah-wajah itu, membuat Tarno bingung. Rasanya ia malas mencopot wajah lamanya yang telah digunakan selama dua hari terakhir. Akan tetapi, dua jam lalu istri datang dari swalayan di kota, syahdan membelikan sebungkus wajah untuknya. Istrinya dengan rewel memaksanya agar lekas mengganti wajah lamanya yang sudah tidak up to date. Ketinggalan zaman. Tidak menarik untuk dilihat. Tak mampu menarik simpati masyarakat untuk mendukungnya menjadi seorang dewan rakyat di kota.

“Lekas ganti wajahmu itu, Sayang,” kata istrinya memaksa. “Sekarang masyarakat lebih simpatik pada wajah sederhana dan kalem. Seperti para ustad atau pendakwah agama. Masyarakat lebih mudah tertarik pada unsur-unsur berbau sipiritual. Makanya, aku membelikan wajah paling baru di Swalayan yang mirip seorang kiai.”

Tarno mengamati dirinya di cermin. Kini terpampang seorang borjuis yang tampan; dengan rambut kelimis dan mata sipit. Sedikit mirip dengan wajah artis korea yang sedang digandrungi masyarakat. Dengan wajah ini, kemarin ia mencoba menjual janji dan harapan partai kepada masyarakat. Tetapi tidak berhasil. Tim suksesku kurang update tren masyarakat. Budaya Korea memudar hari ini. Masyarakat lebih suka segala sesuatu berbau sederhana dan kalem.

Akhirnya, hari pertama kampanye hasilnya kurang berhasil. Karena tidak puas, maka istrinya menuntut agar lekas mengganti wajah yang kini sedang Tarno pakai. Harusnya Tarno berterimaksih dengan istri yang baik hati. Betapa wanita itu peduli padanya. Dengan karirnya. Tanpa istrinya, ia tidak akan berhasil seperti saat ini. Akan tetapi, mungkin wanita itu juga takut. Mengingat banyak sekali modal yang sudah dikeluarkan untuk membiayayai kampanye tersebut.

“Loh, kenapa wajah itu belum dipakai juga!” Istrinya mendengus seraya menempelkan wajah barunya. “Hari ini kita akan bertemua seorang menteri dalam negeri yang akan membantu kampanye politik kita. Kau harus terlihat enak dipandang. Kalem. Segar. Lekas dipakai wajah itu. Aku sudah membeli lima. Kamu bisa memilihnya salah satu!”

Tarno kurang menyimak ucapan yang menyebul dari bibir istrinya. Pria itu malah mengamati sesuatu yang lain. Ada yang berbeda pada sosok istrinya ketika mengganti wajah. Mungkin, memang setiap kali mengangganti wajah, kehidupan baru akan terbentuk. Dan masa lalu—baik atau buruk—raib begitu saja tanpa meninggalkan bekas. Begitu pula yang terjadi dengan istrinya. Tarno sudah lupa wajah asli wanita itu. Juga sudah lupa ia kenangan-kenangan yang ia lewati bersama wanita itu semasa bujang. Semuanya telah hilang setiap kali berganti wajah. Bahkan, ia curiga: Barangkali dahulu ia menikah dengan seorang wanita bukan dengan wajah aslinya.

Napasnya berat berdesir. Tarno merasa lelah. Ada sesuatu yang membebani dirinya ketika sepasang matanya melompat ke atas cermin. Tiba-tiba, terbetik pertanyaan di dalam dadanya: Seperti apa wajah asliku? Tarno tidak ingat pasti wajah aslinya. Sudah puluhan kali ia mengganti wajah. Semuanya berbeda. Pada foto-foto keluarga di ruang tengah pun, ia selalu menemukan sosok-sosok berbeda yang sedang tersenyum dalam konfigurasi kebersamaan keluarga. Ia tidak yakin orang-orang di dalam foto itu adalah dirinya, serta anggota keluarga. Tarno benar-benar merasa asing dengan segala yang didapati.

“Duh, masih belum kamu pakai juga, sayang,” Istrinya kembali menyebul. Wanita itu sudah selesai menganti wajahnya. Ia menjadi wanita cantik dengan kulit kuning langsat; khas wanita Jawa. Senyumnya kalem dan menenangkan. “Hanya memilih wajah saja kamu tidak bisa!”

Kelu bibir Tarno. Hilang seleranya menanggapi istrinya yang menjadi cerewet. Padahal—kalau ia tidak salah ingat—dahulu istrinya tidak cerewet seperti sekarang. Istrinya adalah wanita penyabar: tenang. Apakah karena berganti wajah, maka sifatnya juga ikut berubah? Apakah wajah-wajah itu ikut merobak hidup seorang juga? Tarno semakin tidak tertarik. Bahkan ia takut: setelah berganti wajah sifatnya juga akan bernganti lagi.

“Kamu pakai yang ini saja, sayang!” Tukas istrinya tersenyum. “Wajah ini mirip seorang kiai di sebuah televisi yang pernah aku lihat. Tidak terkenal memang. Akan tetapi rautnya sederhana, kalem, dan bijaksana pasti membuat orang tertarik. Cepat gunakan, sayang.”

Tangan istrinya cepat meletakan wajah pilihannya di dekat Tarno. Kemudian pergi. Tarno meraih wajah itu; mematutnya beberapa jenak. Dan, ia masih malas menanggalkan wajah lamanya.

***

Pergantian wajah ini tidak seperti biasanya. Ada benturan dalam diri Tarno ketika ingin mencopot wajah lamanya. Sebuah keasingan. Tarno merasa kehilangan keintiman pada dirinya sendiri. Dan sudah lama berlangung, hingga ia lupa seperti apa wujud aslinya. Hanya pada ijazah atau foto ketika memancing bersama ayahnya dahulu; yang masih menjelaskan ia pernah menjadi manusia yang utuh; yang memiliki hak atas dirinya sendiri. Akan tetapi, semua itu sudah menjadi masa lampu yang pudar. Kini ia bagai tersesat menjadi sosok lain; yang terus mencoba mengenali diri sendiri, tapi tak pernah tuntas.

Wajah-wajah yang telah ia gunakan sepanjang belasan tahun telah menjauhkan bentuk aslinya sendiri. Ia bagai melompat dari satu keterasingan, ke keterasingan lain di dalam biografi-biografi hidup baru; di balik wajah-wajah itu. Semuanya hilang ketika mengelupas wajah lamanya. Ia lahir menjadi sosok baru dengan sebuah usaha merakit puing-puing indentitas diri yang baru juga. Tarno seakan terjebak pada simpang yang asing. Bahkan untuk menyatakan dirinya sendiri sebagai manusia yang utuh: begitu sulit.

Hari ini, ia sekali lagi dihadapkan pada perubahan yang lain. Pria itu merasa tidak siap untuk menanggalkan dirinya yang lama; walau hanya dua hari lalu. Memang, ini bukan pergantian wajah pertamanya. Sejak menjadi seorang pegawai bank, seorang kontraktor pembanguan, dan hingga kini menjabat pengusaha sukses di kota; sudah ratusan kali wajah baru ia gunakan. Awal mulanya semua terasa menyenangkan. Akan tetapi beberapa tahun terakhir ia bosan. Pun, ia mulai rindu wujud aslinya. Dan karena istrinya menuntut sebagai wakil rakyat, maka ia terpaksa menanggalkan banyak sekali wajah yang berbeda selama sisa hidup.

“Orang benar-benar akan menjadi sukses, apabila ia sudah menjadi pejabat,” kata istrinya meyakinkan. “Kamu harus menjadi dewan rakyat agar setiap orang menyeganimu. Perusahaanmu pun akan menjadi jauh lebih berhasil karena sokongan dari negara.”

Tarno masih tidak habis piker dengan semua keanehan yang terjadi di dalam dirinya. Semuanya sudah berubah. Bahkan sikapnya. Dan ia memang tidak sendirian mengalami degradasi sikap itu. Banyak masyarakat umum di kota yang sudah menggunakan wajah-wajah yang dijual bebas di swalayan. Wajah-wajah itu diecer seperti pakaian bekas yang siapa guna. Terkadang, ia juga sempat mendapati berita kalau jumlah pesanan wajah kini semakin meloncak. Stok wajah di toko-toko kurang mencukupi. Karena setiap orang ingin menjadi sosok yang baru; tampil berbeda dengan menghilangkan masa lalu yang kelam. Dengan mengganti wajah semua hal itu terhapus.

Begitulah. Mungkin kini tidak ada yang benar-benar murni dan tulus di kota. Semuanya sudah tersaput kepalsuan. Demikian pula dengan dirinya. Tarno sudah lama hidup dalam satu kepalsuan dan, beralih ke kepalsuan lainya. Bedanya, ia menjadi seorang penipu yang berhasil memainkan peran; menjadi seorang tukang kibul yang profesional di tengah masyarakat dengan wajah-wajah baru.

Istrinya kembali masuk ruangan. Wanita itu tercengan melihat Tarno hanya termenung di depan cermin. “Duh, belum kamu pakai juga! Kalau kamu tidak suka model wajah-wajah itu, tadi tim sukses partai membawakan stok wajah baru. Semuanya import. Kamu pakai ini saja!”

Wanita itu menyerahkan sekotak wajah baru di atas meja. Wajah-wajah di dalam kardus itu terlihat mengkilat dan bersih. Tarno termangun. Ia tidak habis pikir dengan perangai istrinya. Baru satu jam lalu ia menawarkan wajah, kini istrinya sudah menawarkan wajah-wajah baru yang lain. Tarno kebingungan.

“Kenapa kamu hanya diam saja, sayang?” Tegur istrinya. “Cepat pilih. Wajah-wajah itu memiliki kualitas bagus. Pasti kita akan menang dalam pemilihan umum. Mayarakat kini tidak saja membutuhkan figur yang sederhana, kalem, dan bijaksana. Akan tetapi, masyarakat juga membutuhkan sosok serupa malaikat. Moralis. Dan wajah-wajah ini terlihat demikian. Kamu harus memakainya. Waktu kita sebenatar lagi sebelum kamu melakuan pidato yang ditayangan di televisi!”

Wanita itu kembali meninggalkannya; asik dengan kesibuknya sendiri mematut-mamtut wajah barunya di depan cermin.

***

Puluhan wajah itu Tarno jajarkan di depan meja rias. Ia bingung memilih wajah yang mana untuk dikenakan. Semuanya tampak bijaksana dan kalem. Mirip wajah-wajah malaikat.

“Kamu sudah siap, sayang!” Pekik istrinya. “Kami semua sudah menunggumu!”

Tarno tak membalas. Lekat ia memperhatikan wajah-wajah itu.

“Sayang, kamu sudah selesai!”

Tarno masih linglung. Mendadak puluhan wajah itu berbicara.

“Cepat kenakan! Cepat copot wajah lamamu!”

Wajah-wajah itu ribut ingin dipilih.

Kepala Tarno menjadi pening mendapati keributan. Maka, ia tanggalkan semua wajah-wajah. Ia buang sekardus wajah baru, syahdan keluar hingga terdengar teriakan nyaring ketakutan: “Hantu!!!” (92)

 

 

Risda Nur Widia, mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara sayambera menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013) dan Nomintaro Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud (2015). Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015).

 

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: