Elegi Tanah Melayu


Cerpen Sopianto (Kompas, 17 Januari 2016)

Elegi Tanah Melayu ilustrasi AA Gede Agung Jaya Wikrama

Elegi Tanah Melayu ilustrasi AA Gede Agung Jaya Wikrama

De Hoop, pemuda jangkung blasteran Melayu-Nederland itu, berdiri penuh di pokok pohon meranti setengah abad yang tumbang digerus cako, alat berat pengeruk tanah. Hikayat tumbangnya pohon-pohon raksasa di desa kami sudah bukan berita besar yang bisa menggemparkan kantor Dewan Pejuang Rakyat.

Saat daging kayu seukuran dua kali pelukan orang dewasa itu mendentum seolah kiamat datang lebih awal, rumah-rumah panggong kami berjingkrak sebentar. Kasus seperti ini sudah biasa terjadi, sama halnya pejuang rakyat yang kelelahan memikirkan kemaslahatan umat sehingga tertidur di majelis sidang. Dalam pada itu, tak perlu pulalah merepotkan orang-orang berseragam karena mereka pun tak suka pula direpotkan untuk datang ke kampung pedalaman kami mengingat harga BBM yang terus naik.

Kao dengarlah suara itu, Boi!” suruhnya kepadaku. Alat artikulasinya bergetar ganjil. Dia mengucapkannya dengan logat Melayu beraksen Belanda selegit keju, aneh di telingaku. Aku tidak mendengar apa pun, selain siulan genit burung ketilang merayu betinanya di ranting seruk. Saat didekati, si betina menjerit manja seolah tersedak jambu mawar.

Suare yang mane?” De Hoop terlalu sibuk untuk mengumpan balik pertanyaanku. Matanya terpejam. Telapak tangannya dilengkungkan di telinganya.

Dugaku, sangat tidak logis bagi mahasiswa pascasarjana dari negara yang amat mengedepankan logika—yang terang-terangan telah sukses membuat babak belur negeri ini tiga abad lebih—datang jauh-jauh ke pedalaman kampung udik kami hanya untuk mendengarkan rayuan gombal seekor ketilang yang bahkan kami pun tidak pernah memberikan apresiasi adil untuk ocehan burung itu. Lebih-lebih riset antropologinya tidak ada sangkut paut dengan penelitian bahasa hewan. Aku khawatir, peranakan Daendels dan bujang Sijok itu terganggu sarafnya akibat racun mariyuana. Sulit kukatakan, air menetes dari pelupuknya.

Waarom huil je toch?” kataku dalam bahasa yang lebih ganjil, liar, dan jelas-jelas mengkhianati lidahku. Pertanyaan itu kunukil dari dialog dalam novel Kembang Jepun yang diambil dari judul lagu lawas. “Kenapa kamu menangis?” Begitu kira-kira artinya. Sejoli ketilang berceracau mendesah. Dua makhluk itu terang-terangan beradu cinta di atas sana, tanpa peduli sedikit pun.

Sejak kecil, kami-kami ini, Urang Darat—sebutan untuk penduduk Belitong pedalaman—sudah diajarkan bagaimana mengenal alam, mengelolanya secara bijak. Kapan harus berburu pelandok, mengetahui tabiat lebah madu, meneliti hubungan antara musim hujan, buah bakung, dan memulut burung punai dengan getah karet, tetapi tak pernah kami diajarkan menangis hanya untuk sepasang ketilang yang sedang berasyik masyuk. Hal yang sedemikian itu jauh dari tabiat lelaki Melayu. Dalam pada itu aku heran dengan sikap melankolis De Hoop. Apakah peradaban modern bisa membuat seseorang menjadi demikian sensitif?

“Kucium bau tulip sejak dalam ketuban. Telah kudengar gemeretak kelompen, menyicip keju, desau kincir angin,” jeda “tapi suara ini…,” jeda lagi, “baru pertama kali.”

“Tanah ini merintih…,” suaranya lindap diimpit perih. Aku menatapnya lekat-lekat. Dia balas memandangiku dalam-dalam. Pada matanya kutemukan lelaki dari kaumku berpuluh tahun lampau.

***

Dulu dulu sekali, ibu nenekku memiliki saudara laki-laki bernama Sarip. Menurut cerita ibu—yang beliau dengar dari nenek yang didapat dari pengakuan buyut—penampakan Sarip lebih tinggi dari lelaki Melayu kebanyakan, tegap lagi gagah. Pada usia 21 tahun dia didapuk menjadi prajurit Marechausessee, pasukan istimewa bentukan Belanda yang terdiri atas pribumi untuk menghadapi perang Aceh. Di akhir perang yang sangat mengkhianati naluri kemanusiaannya, di tahun 1910, Sarip pulang kampung dan ditugaskan menjadi penjaga mercusuar di Pulau Lengkuas.

Suatu ketika, dari ketinggian menara yang dibangun tahun 1882 itu dilihatnya seperahu mendekat. Rupa-rupanya rombongan keluarga Government Hindia Belanda dari Tanjongpandan yang hendak bertamasya. Tidak salah alamat karena Pulau Lengkuas telah masyhur eloknya. Batu-batu granit sebesar truk berhamburan seolah ditabur sekenanya dari langit, pasir putih menghampar, dan keindahan terumbu karang nan rupawan. Tapi, yang lebih indah dari sekalian itu bahwasanya dalam rombongan keluarga pejabat yang berlibur adalah seorang juffrouw, nonik Belanda. Annelis namanya. Kecantikan Pulau Lengkuas seolah hilang gravitasinya, diisap tandas sang juffrouw. Sejak kedipan pertama Sarip telah tertawan hatinya.

Apabila cinta ada di hati yang satu pasti juga cinta itu ada di hati yang lain. Demikian sepenggal syair Jalaluddin Rumi. Sarip tidak berdiri sebelah kaki. Dia jatuh hati dan Annelis juga tergila-gila kepadanya. Di luar akal memang. Tapi, hasrat tidak memandang pribumi ataupun kompeni. Hingga di suatu senja, saat angin selatan suka bertiup, saat seluit mega separuh ditelan laut, di atas menara Sarip berikrar cinta tiada gentar.

Setahu Annelis, rakyat pribumi selalu tertunduk-tunduk di haribaan kompeni. Tata krama yang “diajarkan” penjajah selama tiga abad lebih. Namun, dengan gaya mantan prajurit maresose, hati Annelis justru tunduk dan terjajah oleh Sarip. Ia terempas takluk. Tak pernah sebelumnya ia mendengar pernyataan gagah berani dari seorang pribumi. Dan selanjutnya yang biasa terjadi terjadilah—aksi dua hati yang saling bereaksi.

Dan sebagaimana dimafhum tentang hikayat cinta yang tidak mendapat restu, kenyataan tidak adil pun diterima Sarip. Anak pribumi selalu dianggap tidak sederajat. Seminggu setelah perpisahan yang dipaksa-paksakan antara Sarip dan Annelis yang telah menyemaikan bakal janin, digoda nestapa dan dihasut durjana, Sarip menjatuhkan diri dari puncak menara. Hingga kemudian, baru kuketahui mengapa ada makam di bawah mercusuar itu.

***

Beratus-ratus tahun kompeni menjajah bumi pertiwi. Di pulau kecil Belitong, penjajah dari negeri yang tanahnya ditumbuhi bunga tulip namun hati orang-orangnya seperti bunga bangkai itu menjarah kekayaan bumi kami: timahnya dikuras, bijih besinya dirampok, kaolinnya dikeruk, pasir kuarsanya digerus. Panen raya kekayaan alam pulau kami diangkut ke negeri-negeri nan jauh tanpa secuil pun kami mencercap manisnya. Eksploitasi tambang besar-besaran di zaman penjajahan, ditambah era PN Timah, dilanjutkan rezim tambang konvensional oleh putra daerah sendiri, menjadikan tanah leluhur kami penyakitan. Penyakit kronis, stadium 4 barangkali.

Statistik penambangan timah di Belitong kian hari makin mengkhawatirkan. Kalau diumpamakan seloyang kue hok lo pan, seperempat wilayahnya adalah zona tambang. Jika diintip lewat jendela pesawat terbang, penampakan muka bumi di bawah tak ubahnya bidadari buruk rupa yang sedang terluka pula. Wajahnya dipenuhi kulong, lubang-lubang raksasa bekas galian. Kulong itu sendiri serupa lubang bisul yang menganga, mengeluarkan air coklat keruh kehitam-hitaman, menghancurkan segala ekosistem airnya—bahkan buaya pun seperti enggan berenang di sana. Dan lubang itu tak bisa diobati seperti halnya bisul.

“Tanah ini merintih. Jeritnya adalah elegi,” ujar De Hoop. Dia menunjuk ke suatu arah yang membuat mataku tertuju pada lubang galian yang ditinggalkan. Petambangnya diusir De Hoop dengan mengangkat parang dua hari yang lalu.

Kakekku dulu pernah mengatakan, kebijaksanaan tertinggi orang Melayu pedalaman ditandai ketika mereka bisa berkomunikasi dengan alam. Entah mengapa, diam-diam aku menaruh malu pada diriku, bahwa aku, lelaki yang dalam tubuhku jelas-jelas mengalir darah Melayu, bisa demikian lalai terhadap kondisi tanah kelahirannya. Aku teringat perdebatanku dengan De Hoop dua hari lewat setelah dia berkelahi dengan petambang timah.

“Kalau dibiarkan, bisa-bisa pulau ini tenggelam,” katanya waktu itu.

Mendengar itu, film Water World yang pernah kulihat di tivi seolah nyata. Kusaksikan generasi Belitong beratus tahun yang bakal datang hidup terapung di permukaan air. Urang Darat di kemudian hari tidak lagi memiliki daratan untuk berpijak. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada seseorang yang tidak memiliki tanah kelahiran. Tempat mengenang masa kanak-kanak, tujuan kembali dari perantauan. Dan yang lebih mengenaskan, jenazah mereka yang meninggal tidak dikuburkan, tetapi ditenggelamkan.

“Mau bagaimana?! Dari menambanglah dapur mereka mengepul. Lagi pula mereka legal. Ada surat resmi, tanda tangan orang dinas pula,” bantahku. Sebenarnya aku juga agak muskil dengan praktik kongkalikong petambang untuk mendapat cap stempel dan tanda tangan “orang penting”. Tapi, aku selalu berbaik sangka.

“Aku yakin petambang-petambang itu akan kembali bersama aparat.”

“Sudahlah. Jangan cari pasal dengan para petambang. Bisa celaka kau nanti.”

“Apa yang akan kau perbuat untuk tanah ulayatmu?” hasut De Hoop.

Lelaki jangkung itu mengarahkanku di persimpangan. Mustahil bagi De Hoop membelokkanku di dua arah pada saat yang bersamaan. Dan lebih sulit lagi baginya untuk berbelok sendiri ke kantor pejuang rakyat nan agung itu lalu mengiba kepada mereka untuk mampir ke kampung pedalaman kami, apalagi harus meminta tolong menyelesaikan perkara ini. Kami pun tahu diri kalau mereka tengah sibuk oleh perkara yang lebih penting, yaitu kemaslahatan umat.

Dalam hati aku menghibur diri telah berusaha sungguh-sungguh dan bahwa pihak berwenang juga pening memikirkan ulah petambang—yang belakangan ini tambah banyak jumlahnya karena tidak memiliki pilihan selain menambang—hanya saja mereka pening karena telanjur menerima amplop. Dan haraplah maklum jika masalah amplop dan dapur mengepul tadi memang selalu memusingkan.

Verdome kumpeni!” umpat De Hoop. Dia menatapku sinis. Pada mata yang berkilat-kilat itu kutemukan lelaki dari kaumku berpuluh tahun lampau. Tatapan itu seakan mempertanyakan seragam dinas berwarna coklat dengan tiga balok emas di bahu yang sedang kupakai.

Dengar jerit tanah ulayatmu. Kalau dia punya mulut, dicaci-cacinya kau. Tapi itu elegi, hanya elegi. Dan aku tahu siapa yang akan dimakinya. (*)

 

 

SOPIANTO, Lahir di Tanjung Pandan, Belitung. Lulusan STKIP PGRI, Bangkalan, Madura, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis Cerpen Remaja. Sedang merampungkan rancangan novel Four Jebbing. Sebagian dimuat di blog http://fourcebbing.blogspot.com/ Menerbitkan kumpulan cerpen Seribu Bunga via nulisbuku.com

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: