Cerpen A Hil (Suara Merdeka, 10 Januari 2016)

Edelweis Merbabu yang Merindu ilustrasi Hery Purnomo
Edelweis Merbabu yang Merindu ilustrasi Hery Purnomo

“Cinta itu berasal dari Yang Maha Cahaya, diciptakan dari cahaya, ditulis dengan tinta cahaya, ke permukaan kertas cahaya, dan berbahasa cahaya” [1]

PROLOG

Halimun memeluk Merbabu. Embun meranum membasahi daun-daun, menyerupai bulir-bulir keringat di tubuh dua insan yang lekas bercinta. Burung-burung berkicau, terkadang berbisik, terkadang menggumam, bersahutan merangkai musik bernada harmoni alam, sejiwa dengan gairah desah napas perawan dan perjaka yang saling mencinta. Pagi masih buta, matahari belum pula menampakkan binarnya. Angin semilir memanjakan muda-mudi yang terbungkus selimut tebal, mereka mendengkur di dalam tenda-tenda.

Waktu itu bulan April, dimana bunga Edelweis sedang bermekaran. Dini pagi engkau terbangun dan menggisik-gisik mata dengan punggung tanganmu, rambutmu yang diikat menyerupai ekor kuda—tergerai bergelombang di punggungmu.

Kau singkap tirai tenda itu, tenda yang menyerupai punggung kura-kura raksasa itu. Kau edarkan pandangan, dalam remang—tampaklah olehmu hamparan sabana, yang bila siang terlihat seperti permadani hijau gemilau, engkau tersenyum dan gurat lengkung pasang bibirmu, indahnya menyetarai dua baris puisi romantis yang ditulis penyair kenamaan negeri ini, WS Rendra.

Engkau pancangkan tatapan ke antara puncak Merbabu dan Merapi, di sana tampak sunrise perlahan mengembang, gemilau warnanya menjingga berbauran dengan merah marun, warna kesukaanmu itu, mewakili ruah cinta dalam hati engkau, seindah puisi yang engkau perdengarkan pada malam itu, puisi yang dikarang sekaligus dilantunkan dia—lelaki itu.

***

Setelah perjalanan—dari jalur, Boyolali. Sampailah rombongan kami ke Pos Batu Tulis. Hari telah senja, suasana gunung amat terasa, dingin dan berkabut hingga jarak pandang kami memendek.

Tampak dua Srikandi rombongan kami, Lina si rambut ekor kuda dan Rara si hitam manis, bola matanya melelah namun binarnya tetap memancarkan semangat tak terpadankan, berapi-api, meluap seperti puncak Merapi.

“Lin, Ra, apa kalian lelah?” tanya Idham yang memang petualang gunung, memang dia yang paling berpengalaman di antara kami—aku, Rara dan Lina.

“Nggak, kita masih kuat kok!” jawab Rara dan Lina serentak sambil mengekarkan tubuh masing-masing dan tinju mereka dikepalkan sekuat-kuatnya menyerupai gaya binaragawan ternama, Aderay—atau menirukan gaya Agnes Mo yang kerap memamerkan otot-otot lengannya kala konser. Sebenarnya aku ingin tertawa, gaya dua Srikandi itu sungguh tak lazim, bukannya menyerupai gaya binaragawan atau Agnes Mo, melainkan menyerupai orangutan yang ngebeten kebelet buang air besar. Belum sempat ketawaku meledak Idham melirikku.

“Hil, lo lelah nggak? Ditanya begitu aku celingukan, sambil mengatur napas supaya tak nampak ngos-ngosan—tuk menutupi bengekku yang sebenarnya telah kambuh semenjak awal berjalan, dalam pendakian.

“Jangan ragukan kekuatan fisik gua, Dham!” Jawabku berlagak tegar dan kuat, namun Idham dapat membaca wajahku, kendati aku sok tegar dan kuat, namun wajahku kentara linglung dan lelah, mirip kera yang putus asa sebab tak berhasil-hasil memanjat pohon pisang yang sedang masak sisir-sisir buahnya.

***

Tenda pun kami dirikan di padang sabana itu, yakni sebuah hamparan sabana yang maha luasnya, yang memungkinkan kami para pendaki melihat kecerahan eligi pagi, yang muncul di antara puncak Merbabu dan Merapi.

Merbabu yang memiliki puncak, Puncak Syarif, dan Puncak Kenteng Songo, puncak yang menawarkan ketenangan dan ketentraman jiwa pada siapa saja, orang mana saja, tak pandang bulu—terlepas dari segala bentuk status kelas sosial, pangkat, dan asal keturunan. Begitu pula dengan puncak Merapi, sebuah puncak penuh gejolak, berapi dan panas, sebuah puncak teraktif di Tanah Airku. Merapi menawarkan semangat dan peringatan, memberi pengajaran pada jiwa—dimana alam dan manusia, sesungguhnya dapat bersahabat.

Aku dan Idham nantinya tidur setenda. Lina dan Rara nantinya tidur setenda, sebab kata nenek; laki-laki dan perempuan tidak boleh tidur setenda. Entah?

Setelah kami menaruh tas carier kami di dalam tenda masing-masing, kami beranjak, menikmati suasana alam, dinginnya cuaca pegunungan.

Lina dan Idham semakin dekat, Idham yang mahir bertulis puisi, kerap berkirim puisi pada Lina. Barangkali aku mendamba, atau tepatnya sedikit iri kenapa diriku tak pandai menulis puisi seperti Idham, ah, aku yang hanya penikmat kopi hitam pekat dan perokok berat, nggak usah neko-neko kepingin jadi sastrawan atau penyair segala mancam. Cukuplah kebab aroma kopi dan asap rokok menjadi temanku dalam berimajinasi, sebagaimana para sastrawan yang berimajinasi dengan kata-kata yang dirangkainya menjadi bait puisi, lirik lagu, atau rangkaian paragraf dalam prosa romantis.Aku tersenyum sambil ngopi dan merokok ditemani Rara yang sebenarnya manis bila kupandang.

Kebetulan bulan sedang hamil tua, sebab bercinta dengan bintang-gemintang, dan pada puncaknya bulan itu melahirkan seorang anak jelita bernama “purnama”. Di antara kerlap-kerlip lampu-lampu tenda yang menempel di permukaan sabana. Tampak tangan serta mulut Idham berekspresi amat romantisnya—melantunkan puisi yang diciptakannya sendiri, di hadapan Lina perempuan yang dicintainya.

Dalam samar kudengar, begitu indahnya puisi itu, dan tiba-tiba aku merasa melebur ke dalam diri Idham, aku menghela napas, kutengok kiri dan kananku—aku masih sendiri, sepi dan tereliminasi, tandus dan kering-kerontang, sekering-kerontangnya puncak Merapi yang sejenak lagi meledak, erupsi. Rara menghampiriku menawari secangkir kopi, namun aku tak lagi bersemangat tuk menyeruputnya.

***

Saat subuh menjelang, kami melakukan summit attact tuk menyaksikan sunrise, aku, Idham, dan dua Srikandi, berdiri penuh minat menyaksikan indahnya matahari terbit yang menuerupai bola emas itu, muncul di antara puncak Merbabu dan Merapi, ah, alangkah kasihannya, muda-mudi yang terlanjur terlelap dimanjakan dingin berbalut selimut, mereka tak dapat menyaksikan indahnya sunrise.

Menjelang siang, angin perlahan semilir, meriapkan bunga Edelweis yang mahkotanya dihinggapi aneka kumbang. Bunga Edelweis yang begitu putih, bunga yang berkuncup pada bulan April, sebab bulan itu bulan yang lembab dan romantis. Bunga Edelweis bunga yang bermahkota pada bulan Agustus, sebab bulan itu, bulan pancaroba, bulan yang penuh nuansa tak menentu, namun bunga Edelweis memberi kepastian.

“Lin, maukah kamu kupetikkan setangkai bunga Edelweis?” tawar Idham.

Lina tak menjawab, ia hanya mengangguk dan tersipu.

Idham, menghampiri sebuah pohon Edelweis setinggi satu meter, baru saja tangan Idham hendak meraih kuntum Edelweis namun urung, membuat heran Lina.

“Kenapa urung?” tanya Lina.

“Lin, bunga Edelweis orang bilang sebagai bunga keabadian, sebab bunga ini tak mudah layu kendati telah terpetik dari pohonnya.”

“Bukankah itu malah bagus, penanda cinta kita akan abadi, seperti Edelweis yang tak kenal layu kendati telah dipetik?”

“Bukan, bukan itu Lin. Memang benar, bunga Edelweis tak mudah layu kendati telah dipetik—karenanya ia dijuluki bunga keabadian. Namun, tahukah engkau, bila sekuntum bunga Edelweis gugur ke tanah, maka Edelweis yang gugur itu akan tumbuh menjadi sepohon Edelweis baru, namun jika Edelweis ini kupetik, tak akan melahirkan bunga Edelweis yang baru, dan itu artinya kita membunuh perekembangbiakan bunga yang indah ini. Memang terkadang cinta manusia egois, atas nama cinta mereka rela mengorbankan yang lain—demi sebuah ego, cinta buta, hingga menggelapkan nurani.”

Edelweis pun tak jadi dipetik, tanpa sepengetahuan Lina dan Idham Edelweis itu tersenyum, kemudian layu, dan gugur terkapar ke atas ruah sabana.

***

“Lin, bangun Lin,” kata nenek sambil mengguncang-guncang tubuh cucunya.

“Di manakah aku?”

“Kamu di kamarmu.”

“Bukannya aku lagi di Merbabu?”

“Bukan sayangku. Kamu di dalam kamarmu,” kata nenek sambil meraih tubuh cucunya yang amat disayanginya, mereka saling peluk dan menangis.

EPILOG

Hapuslah air mata yang menggenangi hatimu. Ingatlah pada bunga Edelweis, yakni kuntum yang tumbuh menjadi semai ketika ia gugur. Aku. Tokoh rekaan dalam kisah ini. Namun, sejatinya akulah yang nyata. Tulus rinduku menggumam; terangi cintamu dengan cahaya nurani, sebab cinta tanpa nurani akan berubah menjadi perbudakan, perbudakan yang menyesakkan. Dan aku. Mincintaimu. Jauh. Di dalam lubuk nurani ini, mendalam tak terperikan. (*)

 

Catatan kaki:

[1] Gibran

 

Yogyakarta, 17 Desember 2015

A Hil lahir di Lebak Banten, 5 Januari 1986. Alumni FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), sekarang sedang menempuh studi Pasca Sarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Jurusan Ketahanan Nasional.

Advertisements