Cerpen Fanny J Poyk (Kompas, 10 Januari 2016)

Belis Si Mas Kawin ilustrasi Geugeut Pangestu Sukandawinata
Belis Si Mas Kawin ilustrasi Geugeut Pangestu Sukandawinata/Kompas

Ketika ayah meminta Ben untuk melamarku, lelaki asal Baa, Pulau Rote, itu termangu. Wajah tampannya yang terlihat sangat maskulin itu tiba-tiba berubah menjadi begitu menyedihkan. Ayahku cemas jika terjadi apa-apa denganku. Kami sudah lima tahun pacaran, ia tidak mau di tahun berikutnya Ben tak lagi memunculkan batang hidungnya ke rumah.

“Sudah terlalu lama,” kata ayah. “Apa saja yang kalian lakukan selama lima tahun itu? Sudah berapa ratus kali kalian bertukar air liur dengan berciuman? Apakah ada yang lebih dari itu? Ingat Nak, kau ini perempuan, jangan sampai kau teralienasi dari tubuhmu, tercerabut dari kerangka kewanitaanmu. Jika kau telah menyerahkan harga dirimu, maka kau akan terasing dari tubuhmu, kau hanya dianggapnya sebagai komoditi saja, komoditi untuk menyalurkan libido seksnya. Maka cepat kau panggil dia ke rumah, ayah ingin dia segera melamarmu, kalian sudah sama-sama dewasa, sudah sarjana dan sudah punya pekerjaan yang bagus jadi PNS, mau apa lagi?”

Ben kuberitahu tentang itu, tentang panggilan ayahku. Ia termenung. Di halaman rumahnya yang tidak terlalu luas, beberapa pohon lontar bergoyang perlahan. Seorang Babtua (lelaki paruh baya) yang merupakan sepupu ayahnya sedang menyadap nira, air dari buah lontar yang akan dijadikan gula lepeng, semacam gula merah yang gurih berbentuk bulat. Nira juga bisa dijadikan tuak dan sofi (minuman beralkohol) bagi para lelaki Kupang dan Pulau Rote khususnya. Mata Ben terlihat kosong.

“Kenapa Ben? Kau takut bertemu ayahku?” tanyaku sambil memegang pergelangan tangannya.

Ben tak berkata sepatah kata pun. Hingga aku kembali ke rumah, ia belum memberikan pernyataan apakah mau menemui ayahku atau tidak.

Apa yang dipikirkan Ben tentu saja aku tak tahu. Lelaki Rote bernama lengkap Benyamin Manu yang berasal suku Ti, salah satu suku yang ada di pulau paling selatan Indonesia ini, masih ada pertalian darah denganku. Nenekku dari pihak ayah juga bermarga Manu dari suku Ti, sedang ibuku dari suku Bilba atau tepatnya Rote Bilba. Menurut cerita ayah, ibuku masih berdarah biru, turunan raja-raja Bilba, sedang ayahku keturunan dari patih-patih yang menjadi tenaga administrasi di masa kerajaan dahulu. Pantas, dari cerita ayah pula, kakekku selalu memperoleh pekerjaan sebagai klerek di masa penjajahan Belanda. “Kau tahu, karena kau masih berdarah biru, maka calon suamimu harus paham akan hal itu,” kata ayah selalu.

“Paham, maksudnya?” aku menatap mata ayahku.

“Kau bukan perempuan sembarangan. Perempuan Rote keturunan raja-raja Bilba jika menikah sang suami harus memberikan belis yang bernilai tinggi pula. Kau bukan gadis dari kasta rendahan,” katanya.

Ah, kini aku mengerti. Belis. Ya belis. Mas kawin atau mahar yang menjadi syarat lamaran nanti, itulah yang akan dibicarakan ayahku pada Ben. Pantas saja pria Rote itu wajahnya tampak murung. Meski zaman sudah modern, di mana era informasi teknologi merasuk dengan cepat ke otak para generasi muda dan dunia maya menjadi alat komunikasi canggih yang super cepat, belis tak lekang oleh segala gempita teknologi yang merajai dunia itu. Sedihnya jika pemaksaan berdasarkan dalih belis untuk memuluskan sebuah lembaga perkawinan terjadi, itulah yang berbahaya. Aku dan Ben tampaknya mulai mengarah ke sana. Ayah memanggil pemuda Rote asal kampung Baa itu, bukan hanya pembicaraan yang berputar lima tahun panjangnya hubungan kami, bukan. Kurasa lebih dari itu. Ayahku yang masih konvensional dengan adat-istiadat kampungnya, pasti telah merancang skenario yang jitu yang berkaitan dengan belis.

Memikirkan itu aku termangu. Aku tidak menyalahkan budaya belis yang berlaku di sukuku, namun jika dikaitkan dengan situasi masa kini, apakah itu masih relevan? Dari kisah yang kudengar melalui famili-familiku, tak sedikit dari mereka yang memberontak dengan memilih kawin lari, nikah di catatan sipil (tidak di gereja), atau… hamil duluan sebelum menikah agar memperoleh persetujuan dari pihak perempuan. Jika benar, betapa belis telah menjadi semacam ‘batu sandungan’ yang memberatkan kedua belah pihak dan para pencari cinta yang sedang kasmaran.

“Sebenarnya budaya belis itu bagus,” kata pamanku, Om Eben, sepupu ayah yang bertugas di kantor pencatatan sipil. “Itu menandakan bagaimana tingginya harkat dan martabat seorang perempuan Rote. Kau tahu, di zaman raja-raja Ndana dulu, zaman sebelum Belanda dan Jepang menjajah negara kita, para lelaki kepulauan Ndana termasuk Rote, sebelum menikah selain harus memberikan mamar (tanah perkebunan), habas (kalung emas), dan puluhan ekor kerbau, setelah menikah lelaki itu juga harus tinggal melayani keluarga sang perempuan selama berbulan-bulan sementara istrinya dibawa ke rumahnya. Setelah kesepakatan ‘itu selesai, ia baru boleh kembali ke rumahnya untuk berkumpul dengan istrinya. Selama menikah itu pula si lelaki harus memperhatikan keluarga istrinya, apakah mereka cukup makan dan lain sebagainya. Tanggung jawab itu berat dan itu harus dijalaninya karena ia telah mengambil anak perempuan itu untuk menjadi istrinya,” paparnya. “Sekarang zaman sudah berubah, kadang belis tidak lagi menjadi persyaratan, yang penting cinta, kawin sudah.” Tambah Om Eben.

Ben masih membisu tatkala kuulangi sekali lagi kalau ayah ingin bertemu dengannya. “Hei, ada apa denganmu? Apa yang kau cemaskan?” tanyaku.

Akhirnya seperti yang sudah kuduga. Ben berkata dengan sangat perlahan, “Aku tak punya apa-apa yang akan kuberikan padamu Jublina, aku tak punya belis, aku hanya punya cinta yang tak bisa kulukiskan seberapa besarnya. Aku tidak bisa berbasa-basi. Lima tahun kebersamaan sudah kita jalani, kau tahu dalam lima tahun itu seperti apa diriku. Jika ayahmu meminta seperti apa yang dia inginkan, aku menyerah…,” katanya putus asa.

Oh Tuhan, kataku dalam hati. Bukan, ya bukan aku takut Ben tak jadi menikahiku. Tapi kesedihan yang terpancar dari wajahnya sungguh membuat aku tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mataku. Ya, aku tahu Ben tidak punya apa-apa, ia hanya memiliki tanah seluas tiga ratus meter yang ditempati oleh ayah, ibu, dan dua adiknya. Beberapa baris pohon lontar yang tumbuh di halaman rumahnya telah menjadi harta turun-temurun yang membuat ayahnya bangga. Kemudian, jika ia melamarku dan ayah serta para orang-orang tua dari keluargaku meminta belis yang diajukan melalui tawar-menawar yang dipoles dengan pantun berbalasan dalam bahasa daerahku, apa yang harus dilakukan orangtua Ben? Terlebih lagi bila orangtua dan saudara-saudara ayahnya kalah dalam berdiplomasi dengan ayahku yang memang sudah dari ‘sono’-nya pandai bercakap-cakap.

“Kita kawin lari saja!” usulku.

“Apa?” Ben terkejut. “Kau mau kita dikutuk keluarga?” katanya dengan suara meninggi.

“Lalu solusi apa yang ada padamu?”

“Nanti kupikirkan. Memang baiknya aku harus menghadap ayahmu,” katanya kemudian.

Ayahku menerima Ben dengan senyum misterius. Debur ombak Pantai Nembrala yang lamat-lamat terdengar membuat suasana kian keruh dan penuh tanda-tanya. Ben menunggu apa yang akan diucapkan ayah dan ayah menanti apa jawaban yang akan dikeluarkan pemuda lulusan Universitas Nusa Cendana jurusan ekonomi Kupang yang sudah diterima sebagai PNS di Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Rote Ndao itu. Sebenarnya, jika tak ada belis, gajiku yang juga PNS di Dinas Pariwisata di pulauku ini bila digabung dengan penghasilan Ben, aku rasa cukup untuk kebutuhan kami berdua. Mungkin saja kami bisa menabung jika punya anak kelak, untuk biaya pendidikan mereka.

“Sudah lima tahun kalian pacaran, itu sudah terlalu lama. Usia putriku semakin menua, masa produktif dia untuk melahirkan anak semakin menyusut. Aku minta tahun ini juga kau melamar putriku. Kalian harus menikah, tak baik pacaran berlama-lama.” Kata ayah.

“Tapi Pak, bagaimana dengan proses lamarannya? Saya….”

“Proses lamaran apa? Kan seperti yang terjadi di adat kita toh, ayah dan ibumu datang ke sini melamar anakku. Lalu ada pantun untuk menyepakati proses berlangsungnya pernikahan nanti. Berapa mahar atau belis yang harus kau berikan, itu tergantung dari pantun tawar-menawar yang diucapkan oleh saudara-saudaraku. Yah, kita tidak main mutlak-mutlakkanlah, ada pertimbangan khusus yang berkaitan dengan belis yang akan kau serahkan nanti. Sudahlah, tak usah dipikirkan terlalu berat, kau kabarkan berita baik ini pada orangtuamu. Yang penting kalian harus segera menikah!” ultimatum ayah.

Ben keluar dari rumahku dengan langkah seperti tentara yang kalah perang. Aku menunggunya di luar, beberapa daun lontar berkelepak tertiup angin. Malam mulai menyatu dengan deburan ombak Pantai Nembrala, pantai telah sepi, para turis yang merupakan peselancar dari Darwin, Australia, telah membawa papan-papan seluncur mereka ke cottage milik Om Pandie yang terletak di ujung timur pantai, lampu-lampu listrik berwarna kekuningan yang didesain dengan gaya etnik Rote terlihat kerlap-kerlip.

“Apakah ayah menyinggung soal belis?” tanyaku.

“Ya.”

“Lalu?”

Ben mengedikkan bahunya. “Minggu depan aku harus menghadirkan ayah dan ibuku di rumahmu. Kami akan berhadapan dengan dua pamanmu dan juga ayah serta ibumu. Jika kita kalah mengungkapkan argumen, maka aku harus menjadi pelayan keluargamu seumur hidupku.”

“Apa? Benarkah itu?”

“Kau tak mau menjadi perawan tua bukan? Jika kemungkinan terburuk terjadi, misalnya aku tak dapat menyerahkam dua hektar mamar, satu set habas dari emas murni, dan lima puluh ekor kerbau untuk keluargamu nanti sebagai mas kawinnya, apa yang akan kau lakukan?”

“Kan sudah kau bilang aku tidak mau menjadi perawan tua, sudah juga kukatakan aku cinta kau, dan telah juga kuucapkan kita kawin lari saja. Kau sendiri yang masih cemas dengan ajakanku,” kataku.

“Oke baiklah, tunggu minggu depan, seandainya memang situasi demikian dan belis yang diajukan ayahmu mencekik lehermu, terpaksa kita kawin lari. Kita tinggalkan semua yang kita miliki, termasuk desersi dari pekerjaan kita sebagai Pegawai Negeri Sipil. Kita terbang ke tempat yang sulit untuk ditemui keluargamu, kau siap?”

Aku menganggukkan kepala.

***

Budaya dan adat-istiadat yang memang seharusnya dipertahankan itu, di satu sisi ternyata memberatkan si pelaku cinta yang sudah seharusnya menikah. Usia sudah mendekati ambang batas untuk menjalin apa yang disebut rumah tangga, ditinjau dari segi fisik, masing-masing pihak sudah siap untuk mengarunginya, untuk urusan rasa dan cinta satu sama lain apalagi, cinta kami berdua tak diragukan lagi. Lima tahun menjaga cinta itu agar tetap lestari, bukan pekerjaan mudah.

Lalu ketika berita itu datang tanpa diminta, Ben dan aku memandang Pantai Nembrala dengan diam. Hanya deburnya yang terdengar datang susul-menyusul. Di sepanjang pantai, pohon kelapa berpadu dengan pohon lontar, seolah menjadi saksi bisu tatkala Ben berkata, “Dari hasil tawar-menawar melalui bahasa pantun yang gemulai, keluargaku hanya mengajukan dana dua puluh juta saja untuk pernikahan kita. Itu pun tanpa mamar, tanpa habas, tanpa lima puluh ekor kerbau. Yang sanggup diberikan keluargaku hanya dua puluh juta itu saja ditambah tari-tarian dan puluhan tenun ikat buatan ibuku. Selebihnya, aku hanya bisa memberikanmu cinta, Jublinaku sayang.”

“Dan ayahku, apa responsnya?”

“Dia setuju. Daripada anak perempuanku jadi perawan tua, katanya, he-he….”

“Ah kau bisa saja….” (*)

 

Fanny Jonathans Poyk, Lahir di Bima (Sumbawa), sudah menulis sejak tahun 1980-an di berbagai majalah dan surat kabar. Fanny juga menulis sejumlah novel dan buku motivasi.

 

Advertisements