Jangan Bangunkan Bidadari di Malam Hari


Cerpen Marselli Sumarno (Kompas, 3 Januari 2016)

Jangan Bangunkan Bidadari di Malam Hari ilustrasi Ridi Winarno

Jangan Bangunkan Bidadari di Malam Hari ilustrasi Ridi Winarno

LELAKI yang berani pulang ke kampung halaman adalah lelaki sejati. Entah dari mana peribahasa ini aku dapatkan, namun tampaknya cocok untuk diterapkan kepada Jati yang akan pulang kampung ke Salatiga untuk menjenguk ibunya yang sakit, sekalian membawa pesan yang dititipkan ketiga temannya sejak di bangku SMU: mengapa Rina mau dipersunting oleh Wagiono, guru Bahasa Indonesia mereka? Wagiono yang mendapat panggilan manis, yaitu Pak Gion, memang beruntung, namun apa lucunya Rina mau dinikahi Pak Gion? Demikian suara teman-teman Jati yang penasaran. (Tentang tiga sahabat Jati ini akan kuceritakan kemudian).

Pak Gion orangnya sederhana, ke mana-mana lebih suka bersepeda. Baju favoritnya putih yang biasanya dipadukan dengan celana-celana warna gelap sehingga penampilannya mirip Joko Widodo, kepala negara kita yang kurus itu. Tutur katanya halus dan keahliannya, tentu saja ialah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun pelajaran bahasa Indonesia terasa membosankan bagi kawan-kawan Jati sekelas. Berulang kali Pak Gion menyitir ucapan penyair kondang Sapardi Djoko Damono bahwa “sebermula adalah kata”; atau ujaran penyair kondang Rendra yang mengatakan “pada mulanya adalah sabda”. Anehnya, kalimat-kalimat elok itu kurang mempan untuk membujuk anak didik Pak Gion yang kesemuanya telah memiliki telepon genggam agar mencintai bahasa Indonesia. Singkat cerita, mereka lebih suka berbahasa Indonesia dengan gaya mereka sendiri.

Pak Gion tak kurang akal. Dengan kepandaiannya mendongeng, ia bersusah payah mencari materi agar pelajaran yang diampunya itu menarik. Semisal ia pernah memulai pelajaran dengan mengutip larik-larik awal puisi Chairil Anwar yang berjudul “Doa”: Tuhanku, dalam termangu, Aku masih menyebut namaMu…. Demikian Pak Gion mengucapkannya dengan penuh takzim sambil setengah memejamkan mata. Ia lalu membuka matanya dan menjelajah ke wajah para muridnya.

“Mengapa bisa orang yang termangu masih ingat tentang Tuhan?” Pak Gion bertanya dan seisi kelas menjadi riuh rendah dengan berbagai jawaban.

“Orang mabuk kali itu, Pak!”

“Justru karena sesudah mabuk, ia sadar…!”

“Saya kalau berdoa malah butuh suasana, yaitu…, seperti termangu-mangu di pinggir jurang.”

“Ha-ha-ha, asal jangan kau lantas mau bunuh diri lompat ke jurang.”

Jawaban terus bermunculan dan paling akhir Rina berujar lirih, “Katanya, Tuhan akan berdiam di hati yang tenang.”

Pak Gion tersenyum dan membenarkan semua jawaban. Ia membahasnya satu per satu jawaban, terjadilah percakapan yang hidup di kelas. Tak lupa Pak Gion mengucapkan baris-baris penutup puisi “Doa”: Tuhanku, di pintu-Mu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling….

Dan bel berbunyi, tanda berakhirnya pelajaran. Murid-murid pun bergegas keluar tanpa berpaling lagi kepada guru mereka, kecuali Jati yang masih membenahi tasnya. Ia menjadi satu-satunya saksi hidup yang mendengar pujian Pak Gion atas jawaban Rina. Jati muda bergerak meninggalkan kelas, samar-samar percakapan Pak Gion dan Rina masih berlangsung. Ooh, Pak Gion sedang melepaskan panah-panah asmaranya.

Di mananakah Jati sekarang berada? Dia sedang duduk minum dan menyantap penganan di kantin yang sudah sepi, bahkan bersiap untuk tutup karena sekolah juga sudah bubar. Urusan menengok ibunya yang sakit telah beres, namun ternyata Pak Gion sudah dua tahun tidak mengajar lagi di SMU ini karena kontraknya sebagai guru honorer telah habis.

Menurut penuturan rekan guru yang dijumpai Jati, Pak Gion lebih memilih jadi penyuluh pertanian dan bersama keluarganya tinggal di pinggiran kota. Setelah mendengar penjelasan yang cukup, Jati menyempatkan diri mampir ke kantin dan terkenang kepada ketiga sahabatnya yang pasti sudah menunggu-nunggu kabar tentang hubungan Rina dengan Pak Gion.

Persahabatan Jati dengan ketiga sahabatnya terus berlanjut setelah mereka lulus SMU, menempuh pendidikan tinggi di tempat yang berbeda-beda, dan reuni kembali sesudah sama-sama bekerja serta hidup berkeluarga di Jakarta. Farhan yang di matanya “semua hal bisa mendatangkan uang” kesampaian bekerja di kantor bank; Adit yang pandai berdebat menjadi pengacara perusahaan; Yoga yang semula ingin jadi pembalap motor menjadi tenang sebagai pemilik bengkel mobil yang ramai dengan pelanggan karena bengkelnya dilengkapi dengan sebuah kafe yang nyaman.

Oh, bagaimana dengan Jati sendiri? Dia cukup senang dengan jabatan editor bahasa sebuah penerbitan buku pelajaran anak-anak sekolah. Pendeknya, mereka cukup bahagia dengan hidup mereka, tetapi kecuali Jati, mereka terkadang masih penasaran kenapa Rina mau dinikahi oleh Pak Gion? Rasa penasaran itu biasanya muncul di saat mereka kumpul bersama di setiap Sabtu sore di kolam renang.

Dengan mobil carteran yang ditumpanginya, Jati tak sulit menemukan tempat tinggal pasangan Pak Gion-Rina yang menetap di pinggiran kota, menghadap ke hamparan sawah. Rumah mereka terbilang kecil dan sederhana, namun sejuk dengan banyaknya pepohonan. Salah satunya pohon nangka yang tengah berbuah, menyebarkan aroma wangi dari buah yang telah siap dipetik.

Jati sempat dibuat tertegun melihat kehidupan Pak Gion dan Rina sekarang. Rupanya Rina mengelola sanggar baca di bagian teras samping rumah. Kesibukan lain, membuat penganan rebusan untuk dijual dengan dititipkan di warung sekolah di desa mereka. Sementara Pak Gion, yang tak kunjung diangkat jadi guru tetap, memilih jadi penyuluh pertanian meski dengan honor kecil. Yang hebat, Pak Gion memiliki sawah mini, kira-kira berukuran 3 x 8 meter persegi, yang amat subur ditanami padi, dilengkapi sebuah dangau di salah satu sudutnya.

Di dangau itulah Pak Gion sedang memberikan penyuluhan kepada sejumlah petani mengenai padi yang ditanam dengan pupuk organik alias pupuk kandang bercampur humus tanaman. Sementara Jati dijamu Rina di teras rumah yang dijadikan sanggar baca anak-anak desa. “Di sini ramainya kalau sore, setelah anak-anak pulang sekolah sampai menjelang maghrib,” ujar Rina. “Dicicipi kacang rebusnya. Ini makanan yang bikin awet muda, tak perlu digoreng dengan minyak yang mahal…,” lanjut Rina dengan senyum lebar, memancarkan wajah yang tampak awet muda di mata Jati.

Jati pun ikut tersenyum dan mulai mencicipi kacang tanah rebus itu. “Lain waktu, saya kirimi buku-buku bacaan anak-anak terbitan kantor saya, atau buku-buku lain yang saya dapatkan.”

“Sungguh berbahagia saya mendengarnya,” kata Rina.

Jati pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara lebih jauh dengan Rina, sebagaimana titipan pesan kawan-kawan di Jakarta, tentang kebahagiaan hidup Rina. (Mengenai jawaban-jawaban Rina tentang kebahagiaan hidupnya akan kuceritakan belakangan). Satu per satu anak-anak desa muncul untuk menyimak buku-buku dongeng yang tersedia di sanggar baca. Para petani tampak berpamitan kepada Pak Gion. Jati berdiri dan menghampiri Pak Gion yang masih di dangau, sementara Rina pelan-pelan beralih menemani anak-anak asuhnya tersebut.

“Tak ada kehidupan yang tanpa dongeng-dongeng ya…,” kata Pak Gion setelah ia memeluk Jati dan mengetahui pekerjaan Jati. Mereka tertawa bersama dan duduk berhadapan di dangau beralaskan tikar pandan. Wajah Pak Gion juga tampak awet muda, pastilah karena makanan rebusan umbi-umbian yang selalu disediakan oleh Rina. Ia terlihat rileks dengan baju batik dan kain sarung yang dikenakannya. “Jadi ada gunanya kan dulu belajar bahasa Indonesia?”

Jati merenung sejenak. “Berbahasa itu seperti mengenakan pakaian ya, jika diperlukan dipakailah bahasa resmi, jika sedang santai ya… pakai bahasa sehari-hari.”

“Bagus, bagus,” ucap Pak Gion sambil mengusap kain sarungnya, dan tanpa ditanya ia menjelaskan bahwa ia tidak menyesal berhenti mengajar Bahasa Indonesia. Alasannya, sudah ada guru-guru pengganti yang tidak seperti dirinya, sudah punya sertifikat mengajar. Yang membahagiakan dirinya, Rina merasa terpanggil menjadi guru bahasa walau tanpa bayaran dari anak-anak desa. Secara khusus Pak Gion menyatakan kebanggaannya pada pilihan kerja Jati di kantor penerbitan buku. “Kata orang bijak, jika seseorang berbahasa, ia menjelaskan apa-apa yang tersembunyi, dan mungkin menyembunyikan apa-apa yang seharuskan dikatakan. Menarik kan?”

Jati manggut-manggut. “Kalau alasan Pak Gion menjadi penyuluh pertanian?”

“Pertanyaan yang sangat bagus, Mas Jati,” jawab Pak Gion. Lalu meluncurlah cerita panjang-lebar dari Pak Gion mengenai pertanian. Ia sungguh prihatin tentang pembangunan di pedesaan yang belum menyejahterakan para petani sehingga orang-orang muda tak bergairah menjadi petani. Ia mencontohkan, begitu banyak sawah yang dijual oleh para pemiliknya dan segera beralih fungsi menjadi perumahan, perkantoran, restoran-restoran, bengkel-bengkel, dan lain-lain. “Ketahanan pangan yang mestinya berpusat di desa-desa telah payah nggih,” ujar Pak Gion lirih. “Akibatnya, negara kita masih harus mengimpor beras.”

“Sawah kecil milik bapak ini berfungsi sebagai apa?” tanya Jati.

Wajah Pak Gion yang sempat meredup tiba-tiba cerah kembali. Menurutnya, sawah kecil ini jadi sarana untuk penyuluhan bagi para petani. Ia mengajarkan kepada mereka agar tidak bernafsu bisa memanen padi setahun tiga atau empat kali, tentunya dengan siraman pupuk kimia, namun cukup setahun dua kali panen dan beras yang ditanak merupakan nasi yang lezat, pulen, dan syukur ditanam dengan pupuk organik sehingga laku diekspor.

Lebih lanjut, Pak Gion menjelaskan, nenek moyang kita tidak menanam padi secara serentak, dengan maksud bisa saling tolong-menolong dalam menggarap sawah orang lain dan memutus mata rantai hama wereng. Nenek moyang juga sangat menghormati Dewi Sri atau dewi padi atau dewi kesuburan, yang diwujudkan dalam berbagai sedekah bumi.

Jika padi telah berisi atau bunting, sesajinya berupa rujak buah yang diberi pemanis gula jawa. Semacam hidangan penyegar buat wanita hamil yang sedang ngidam. Semut-semut akan berdatangan dan itu mengusir berbagai hama. “Dewi atau bidadari Sri ini tampil di berbagai tempat dengan sebutan berlainan, dan Mas Jati pasti sudah pernah dengar,” kata Pak Gion.

Pembicaraan terhenti sejenak ketika Rina muncul untuk menyuguhkan sepiring singkong rebus. “Bagaimanapun, kita jangan hanya makan nasi, masih banyak hasil bumi lain yang mengenyangkan perut dan bikin badan sehat, seperti singkong rebus ini. Lagi pula, jangan menanak nasi di malam hari, karena itu berarti akan membangunkan bidadari Sri yang juga menjaga lumbung padi.” Pak Gion terkekeh atas omongannya sendiri. Rina berlalu sambil tersenyum. Jati ikut tersenyum dan mengikuti Pak Gion menyantap singkong rebus yang ternyata sungguh nikmat….

Hari berangsur sore, anak-anak desa itu berpamitan pulang kepada Rina. Jati segera ingat bahwa ia juga masih harus berkemas karena besok pagi-pagi akan kembali ke Jakarta. Ia lalu berpamitan, tak lupa berterima kasih atas segala ketulusan yang telah diberikan oleh Rina dan Pak Gion. Rina pun menitipkan sebungkus kacang tanah untuk oleh-oleh kawan-kawan di Jakarta, sedangkan Pak Gion menitipkan salam buat semuanya.

Di malam hari sewaktu tengah mengemasi barang-barang di rumah ibunya, Jati sempat tercenung. Titipan kacang tanah dan salam itu mudah disampaikan kepada teman-teman, tetapi cerita macam apa yang akan ia sampaikan kepada mereka? Tentang pasangan Rina-Pak Gion itu mudah dijelaskan, pikirnya. Intinya, Rina merasa sangat dikasihi oleh Pak Gion. Apa saja yang dilakukan Pak Gion, seperti kata Rina, telah membahagiakan Rina. Cerita itu bisa ditutup dengan pertanyaan kepada teman-temannya: “Coba, apakah kita selalu berbuat untuk mengasihi pasangan kita masing-masing?”

Namun Jati masih ingat betul dongeng Pak Gion soal bidadari itu. Yang sungguh menarik, Pak Gion berpesan jangan menanak nasi di malam hari, sebab hal itu akan membangunkan bidadari yang menjaga tempat beras di rumah kita masing-masing. Bagaimana menjelaskan dongeng itu kepada teman-teman yang rata-rata perutnya sudah mulai buncit?

Jati tergoda ingin mengatakan, sebaiknya kalau di malam hari bidadari itu dielus-elus saja. Tetapi kalimat yang ia ingin ucapkan di Jakarta nanti kira-kira adalah: “Supaya kita tidak terlalu makan kenyang di malam hari. Berhenti makan berat setelah maghrib. Coba, perut kalian rata-rata sudah seperti wanita hamil 3 bulan, bahkan sudah ada yang seperti hamil 6 bulan.”

Ia membayangkan teman-temannya akan terhibur dengan dongeng tentang sang bidadari. Tinggallah Jati tersenyum-senyum geli sendirian sambil terus mengemasi barang-barangnya. (*)

 

 

One Response

  1. cerpen ny agak kurang bagus
    isi n judul engga nyambung..cuma bag akhir agak nyambung ama judul
    meski bgtu,konsep bidadari yg ternyata dewi sri itu bagusss

    tapiii eniwei..sy suka ada cerpen baru diuplott…karna sy tiap hari psti buka blog ini..minim melahap satu cerpen :p

    *penikmat cerpen yg ga bs nulis..itulah sy 🙂

    thx u for updating this blog

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: