Doa Pulitan


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 27 Desember 2015)

Doa Pulitan ilustrasi Daan Yahya

Doa Pulitan ilustrasi Daan Yahya

ADA labirin di kepala Pulitan. Labirin rumit yang menjadikan Pulitan tersesat dalam pikirannya sendiri. Hingga membuat orang terseok-seok mengikuti alur berpikirnya. Saban mencoba mencerna kejanggalan sikap dan ucapan Pulitan yang seruncing taring, berbisa seperti kecubung, justru kita akan terjerembap di kedalaman sesat atau terbentur tembok buntu. Banyak tetangga tak menyukai dan mengucilkannya. Bahkan istri-istrinya—Pulitan tiga kali menikah tiga kali berpisah—selalu punya alasan untuk minta talak.

Kini Pulitan menikmati hari-hari penuh duri sepi, bersama belasan ekor kucing kampung yang dipungut dari pinggir selokan dan dirawat ala kadarnya di halaman rumah. Mungkin hanya kucing-kucing itu yang mampu memahaminya dan tidak banyak menuntut kepada Pulitan.

Pulitan seperti kebanyakan kami, memilih Islam di kolom agama. Tapi sepertinya Pulitan hanya akan mengingat bahwa dia beragama Islam hanya saat diundang hajatan atau selawatan dengan sebungkus berkat nasi sebagai hadiah pulang. Mengapa demikian? Karena tak sekalipun kami saksikan Pulitan menjalankan sembahyang sebagaimana kami berjamaah di masjid. Bahkan Pulitan menghardik siapa saja kalau merasa terganggu suara-suara dari masjid. Pun sejak mula Ramadhan, Pulitan melancarkan gugatan agar suara tadarus tidak diperkeras speaker.

Saat langgar tengah mengadakan khataman untuk merayakan malam 21-an Ramadhan, Pulitan tergopoh-gopoh dengan napas terburu mendatangi langgar yang sesak jamaah.

“Bisa diam, tidak?!” Pulitan menggendong kucing warna cokelat yang meringkuk di dadanya. Begitu damai di tengah pekikan si tuan. Tak seperti Pulitan yang mudah naik pitam. “Aku ingin ketenangan. Suara kalian mengganggu!”

Tidak ada yang menyahut. Semua berusaha mengabaikan keanehan Pulitan. Hanya mata jujur anak-anak menyelidik tubuh kurus Pulitan. Dalam hati orang, ingin sekali Kiai Salimun turun tangan menghentikan Pulitan.

“Diam!” kaki Pulitan menendang sebuah sandal, seketika mengenai bedug dan mengagetkan orang. Anak-anak langsung mencari punggung orang tua. Bersembunyi. Ketakutan terhadap sikap Pulitan yang serupa polah orang gila.

“Kalau kalian tidak bisa diam. Kubakar masjid ini!” mulut Pulitan seruncing gigi taring. Kucing di dadanya meloncat dan berlindung di balik kaki Pulitan. Suara bak lebah mulai menyuarakan kalau Pulitan mulai gila. Tapi tidak ada yang berani bersuara sendiri, masih menunggu kebajikan Kiai Salimun.

Beberapa lelaki mendekati Pulitan. Mereka berusaha mengajak Pulitan menjauhi langgar agar lebih tenang. Akan terasa aneh bila Ramadhan justru memicu keributan. Terlebih memasuki malam-malam seribu bulan, terlalu naif bila berdebat kusir dan menguras pahala. Mereka terus berusaha tidak mengurangi keintiman jamaah di malam lailatul qadar.

Senyap menyergap langgar. Kiai Salimun menghentikan bacaan. Lalu terdengar dehaman agak keras.

“Istirahatku buyar gara-gara volume speaker yang memekakkan. Apa Tuhan mahatuli hingga suara kalian perlu dilantangkan begitu?” Pulitan terus menggugat.

“Ada apa Pulitan?” Kiai Salimun mendekatinya.

“Aku ingin suara speaker itu dipelankan, Kiai. Jelas-jelas menggangguku,” mungkin karena segan, suara Pulitan kini pelan penuh takzim.

Kiai Salimun memberi kode agar sementara acara selikuran dilakukan tanpa speaker. Sekalipun tanpa speaker, malaikat akan tetap turun dan mencatat semua peribadatan meski dilakukan secara individu dan diam-diam. Kiai Salimun meraih segelas air mineral dan menyerahkan kepada Pulitan.

“Mari kuantar pulang,” Kiai Salimun menarik lengan Pulitan. Lalu mereka berjalan beriringan tanpa terdengar lagi suara bentakan Pulitan. Seekor kucing mengekor hingga memasuki pekarangan Pulitan. Kiai Salimun tampak serius bercakap-cakap.

Semua hanya menduga-duga apa yang Kiai Salimun sampaikan kepada Pulitan. Mungkin Kiai Salimun melancarkan nasihat bergaya ceramah bijak. Atau mungkin mencoba mengekor bagaimana Pulitan berpikir hingga justru marah-marah saat ada gema tilawah di malam-malam Ramadhan. Tapi semua orang yakin, Kiai Salimun tak bakal mampu menebak sisi labirin mana Pulitan bersembunyi dengan aneka dalihnya. Hingga Kiai Salimun hanya berdecap kehe anan mengapa pikiran Pulitan susah sekali dipegang.

Hanya lengkung senyum yang tercetak di kulit pipi Kiai Salimun bila ditanya perihal apa nasihat untuk Pulitan. Mumpung malam lailatul qadar, malam saat doa-doa mudah diijabah, kita doakan saja agar Pulitan lekas merobohkan dinding labirinnya dan bertaubat. Demikian kata Kiai Salimun dan kami amini saja.

Suara Pulitan mulai tidak selantang sebelumnya. Meskipun demikian, volume speaker langgar selalu disetel pelan. Jaga-jaga kalau Pulitan mulai tersesat di labirin kepalanya, jawab banyak orang.

***

Petang itu Pulitan tampak bercengkerama di teras. Belasan kucing merubung. Sesekali tangannya melempar makanan kucing, serta-merta kaki-kaki kecil mereka berlarian menerabas perdu kenikir berebut makanan. Pulitan tertawa menyeringai puas.

“Pulitan gila!” teriak anak-anak yang beriringan menuju langgar.

“Hanya orang gila yang melarang berdoa di langgar,” tambah yang lain.

“Betul. Ibuku minta menjauh dari Pulitan.”

Gerombolan anak-anak itu tunggang langgang saat Pulitan beranjak dari duduk mendekati mereka. Kucing-kucing seolah mengikuti niatan si tuan, berlarian mengejar anak-anak. Pulitan menyeringai puas melihat anak-anak ketakutan dikejar meong kucing.

Sedangkan mata orang-orang dewasa yang kebetulan menyaksikan, langsung menghindar saat Pulitan menoleh. Berlagak tak melihat. Dalam hati diam-diam mereka mendoakan, semoga di hari-hari terbaik ini, Pulitan bisa berubah.

Tapi malamnya, seolah mukjizat dihentakkan di kepala Pulitan.

Mungkin karena doa bercampur kejengkelan banyak orang, atau nasihat Kiai Salimun, atau juga Pulitan terciprat cahaya lailatul qadar, hingga tanpa kami duga Pulitan mendatangi langgar. Mata banyak orang melancarkan keheranan sambil harap-harap cemas bila Pulitan justru hendak mengacaukan sembahyang. Kiai Salimun justru menyambut dan menarik Salimun ke shaf pertama tepat di belakang mihrab imam.

“Pulitan sudah taubat.”

“Bakal damai sembahyang kita kalau Pulitan tidak lagi gendeng.”

“Hidayah memang hak prerogatif Allah, buktinya seorang Pulitan sekarang mendatangi langgar dan masuk shaf sembahyang.”

Suara decak kagum bercampur lantunan syukur terus mengalun, membersamai keheranan yang terus saling timpa. Pulitan seperti sosok yang kemarin dicaci sekarang begitu dipuji.

Sepanjang shalat, Pulitan tampak begitu tenang. Sangat berbeda dari biasanya. Benar-benar Pulitan dengan isi kepala tak mudah tertebak. Gerakan jamaah bersama, namun kecuali Kiai Salimun dan Pulitan semua bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan Pulitan.

Usai shalat, beberapa orang menyalami dan lainnya merubung menanyai Pulitan.

“Begini dong, kan enak dilihat.”

Pulitan membalas dengan senyum datar dan masam.

“Kenapa mendadak alim?”

“Semoga hidayah sampai di dadamu di Ramadhan ini, Pulitan!” imbuh lainnya.

“Kata Kiai Salimun doa usai sembahyang jamaah dikabulkan, bukan?” Pulitan membuka percakapan. Semua mengangguk. “Aku ingin memanjatkan doa dan minta gegas dikabulkan sama Tuhan.” Mata Pulitan mengilat, terlihat rembah-rembah kaca.

“Tuhan maha pengampun, Pulitan. Doamu pasti terkabul. Taubatmu akan dikabulkan, Pulitan.”

Pulitan terkesiap. “Bukan! Aku tidak sedang berdoa minta ampun.”

“Lantas?”

“Aku berdoa untuk kucingku. Tadi sore, kucingku saat mengejar anak-anak tidak pulang. Dua ekor menghilang. Bukankah Tuhan maha mengabulkan? Aku ingin kucingku bisa cepat kutemukan.”

Tak diiyakan, malah ditanggapi dengan membekap mulut menahan ringkik tawa. Termasuk bahu Kiai Salimun berguncang menahan godaan untuk terbahak-bahak. Benar-benar tak ada yang bisa memastikan di kapling mana Pulitan sekarang tersesat di labirinnya.(*)

 

 

TEGUH AFFANDI, lahir di Blora 26 Juli 1990. Cerpennya dimuat di Media Indonesia, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Republika, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jabar, Riau Pos, Padang Ekspres, Minggu pagi, Merapi, Radar Surabaya, Femina, Sekar, NooR, Ummi, Paras, Nova, Cempaka, dll. Baru-baru ini memperoleh penghargaan PPSDMS Award 2014 kategori Pena Emas, Juara 1 sayembara cerpen Femina 2014, dan Juara 3 Green Pen Award Perhutani 2015.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: