Cerpen Ida Fitri (Republika, 20 Desember 2015)

White House ilustrasi Rendra Purnama
White House ilustrasi Rendra Purnama

Berjalan mengelilingi taman sangat menyenangkan. Rerimbun dahan mahoni yang sudah berusia puluhan tahun, merpati putih yang sedang bercengkerama di sangkar-sangkar yang sengaja dibuat untuk memperindah taman. Ditambah bunga berkuncup merah yang menyembul di pinggir jalan taman, berbingkai pohon- pohon besar. Dan, diiringi suara musik dari pemusik jalanan yang duduk secara bekelompok.

Tapi, tidak bagi Ngadimin, ia sedang berjalan di taman itu, tapi bukan berjalan-jalan seperti kebanyakan pengunjung lain. Dua bakul tahu gejrot yang dikaitkan dengan sebuah kayu penyangga berada di bahunya. Jalannya tidak secepat hari biasa. Bahkan, terlihat sedikit kepayahan. Lelaki Jawa itu sudah bertahun-tahun mengadu nasibnya di ibu kota. Ibu kota yang begitu menggoda dengan segala keindahannya.

“Pak Nga! Pak Nga!” Ngadimin mendengar seseorang memanggilnya di antara kelompok pemusik jalanan. Pak Nga, begitulah pengunjung tetap Taman Suropati memanggilnya. Ia menyeret bakul tahunya menuju kelompok tersebut.

“Eh, Le Sam. Tahu gejrot, Le?” Ngadimin menawarkan dagangannya.

“Iya, Pak. Satu porsi. Belum makan nih.”

“Aku juga satu porsi, Pak Nga,” pinta Belly, pemuda Palembang yang menjadi gitaris di grupnya sambil melangkah ke dekat Pak Nga. “Pak Nga, apa itu di atas pundakmu?”

Ngadimin meletakkan kedua bakulnya di dekat musisi jalanan tersebut, “Maksudmu, Le?”

“Iya, Pak. Benda besar apa di atas pundakmu itu?” Sam ikut bangun dan berdiri di samping temannya.

“Ah, tidak ada apa-apa, Le. Kalian bergadang semalaman lagi, ya?”

Spontan Belly mengucek-ngucek matanya. Itu merupakan pembenaran terhadap ucapan Ngadimin. Setelah menyiapkan masing-masing satu porsi tahu gejrot kepada kedua musisi jalanan yang sering mangkal di Taman Suropati itu, Ngadimin kembali berkeliling.

“Pak Nga!” panggil Ella yang sudah berada di depan Ngadimin.

Ia tidak tahu kapan makhluk imut nan jago menggesekkan biola itu berada di dekatnya.

“Iya, Nduk. Mau pesan tahu?”

“Ngg…. Aku masih kenyang kok, Pak. Hanya ….” Remaja SMA itu menatap Ngadimin tak berkedip, “Pak Nga mau ke Amerika?”

Dasar ABG, pikir Ngadimin. Yang ada di otak cah ayu itu hanya seputar jalan-jalan dan bersenang-senang saja, “Lah pertanyaanmu aneh banget, Nduk?”

“Kupikir Pak Nga mau ke Amerika.”

“Mana ada duit untuk ke sana, Nduk.”

“Mana tahu dapat sponsor dari kementerian atau dari mana kek.”

Ngadimin tersenyum simpul menatap ABG yang dikenalnya setahun terakhir itu.
Bocah perempuan penuh semangat yang belum mengecam pahit getir hidup, “Mengapa kamu bilang begitu, Nduk? Mengapa tukang tahu gejrot harus ke Amerika?”

“Itu! Pak Nga memangkul gedung bercat putih di pundakmu, bukannya White House, ya?”

Ngadimin pernah menamatkan SMP di kampung dan terkadang menonton televisi kalau ada kesempatan. Bangunan yang disebut White House adalah istana kepresidenan Amerika. Dari sebuah ruang oval yang berada di gedung itulah, presiden Amerika mengatur negara adidaya tersebut. Bahkan, memerintahkan jet-jet tempur untuk menyerang negara yang tidak sepaham dengan mereka. Ah, jangan-jangan dolar naik juga bersumber dari sebuah perintah dari dalam ruang itu.

Ah! Mengapa Ngadimin jadi berpikir seperti pengamat ekonomi yang sedang berdiskusi di sebuah televisi swasta. Tahu apa Ngadimin tentang ekonomi, kecuali kata tersebut kerap mencekik lehernya sambil mengejek, “kelas bawah! Kelas bawah!” di telinganya. Sekolahnya dulu adalah sebuah SMP miskin di Gunung Kidul, memang berada di bawah pohon mahoni besar. Mungkin itu yang membuat kutukan kelas bawah melekat pada dirinya hingga kini.

Berbicara Gunung Kidul tak lepas dari suara ombak yang mengempas pantai dan tanah-tanah perbukitan yang gersang. Hal itu juga yang memaksa Ngadimin datang ke ibu kota. Ibu kota dengan segala kemewahannya, sayangnya itu bukan untuk lelaki seperti Ngadimin. Beruntung ia sanggup menyewa rumah satu kamar untuk keluarganya.

Walaupun jauh dari kata layak itu. Paling tidak istri dan anaknya punya tempat berteduh. Terkadang ia kasian juga melihat Bayu anaknya harus mengantre di WC umum yang dipakai bersama warga lainnya. Mengingat Bayu, panah kesedihan menancap dalam di hatinya.

“Pak Nga kok melamun? teguran Ella mengejutkan Ngadimin.

Nggak ah, maklum orang tua.”

“Ya sudah, aku tinggal dulu, ya. Teman-teman sudah menungguku.” Ella beranjak sambil menenteng biola kesayangannya. Keceriaan terlihat jelas di paras anak SMA itu. Apa bocah itu bolos sekolah lagi?

Nggak sekolah, Nduk?” teriak Ngadimin pada remaja itu.

“Ini hari Ahad, Pak!” jawab Ella tanpa berhenti berlari.

***

Hmm, bangunan putih …. Sam dan Belli juga menyebutkan sebuah bangunan di atas pundaknya tadi. Ella malah menyimpulkan itu istana kepresidenan Amerika. Apa yang sebenarnya bertengger di atas pundaknya? Apa dia terkena guna-guna. Hingga jin besar bertengger di sana? Ah, ini zamannya internet, ponsel, dan kartu kredit. Tentu, jin semakin terpinggirkan. Tidak mungkin juga ada yang mengguna-guna seorang tukang tahu gejrot. Tak ada masalah yang bisa didatangkan oleh seorang tukang tahu.

“Bang Umar!” panggil Ngadimin pada tukang kopi keliling yang beroperasi di taman itu juga. Lelaki Sumatra itu menghentikan sepedanya.

“Mau kopi, Pak Nga?”

“Bolehlah satu.” Tak tahu mengapa Ngadimin ingin beristirahat sejenak. Ia meletakkan dagangannya dan duduk berselonjor di trotoar. Setelah menyiapkan segelas kopi, Umar ikut duduk di samping Ngadimin.

Ngadimin menyeruput kopinya. Kemudian lidahnya seperti terbakar, “Panas!” ujarnya.

Ngapain pun kau minum panas-panas?!” tanya umar tak mengerti atas kelakuan temannya.

“Kamu gak melihat sesuatu yang aneh di pundakku?” Ngadimin lebih heran pada sikap penjual kopi yang biasa saja.

“Oh, bangunan putih yang kau panggul itu?” nada suara Umar terkesan biasa saja.

“Kamu tidak terkejut?”

“Mengapa harus terkejut? Semua orang pasti juga sedang memanggul sesuatu. Coba perhatikan baik-baik lelaki yang sedang menelepon itu.” Telunjuk Umar mengarah pada lelaki muda perlente yang sedang sibuk dengan telepon genggamnya, “Perhatikan baik-baik, apa yang sedang dipanggulnya?”

“Hmmm…. Sebuah tas dengan label harga yang mencengangkan. Memang ada tas yang semahal itu? Setara dengan harga satu unit rumah susun.”

Umar malah menaikkan bahunya mengisyaratkan itu bukan urusannya. “Nah, sekarang lihatlah pundakku! Tatap lekat-lekat.”

Ngadimin melihat sebuah oplet bertengger di bahu pria penjual kopi itu. Pria Sumatera memang terkenal pandai meracik kopi. Hanya, mengapa kali ini memanggul oplet. Kopi dan minibus tentu tidak ada hubungannya.

“Ayahku menjual oplet untuk mengirimku kuliah di Jakarta dulu. Selesai kuliah aku hanya menjadi seorang penjual kopi di Suropati. Aku malu untuk pulang kampung.” Lelaki itu menunduk semakin dalam.

Ngadimin manggut-manggut tanda mengerti. Tentu, temannya itu merasa bersalah karena tak mampu mengembalikan apa yang sudah dikorbankan orang tuanya. Tapi, apa makna bangunan putih di atas pundak Ngadimin? “Bangunan seperti apa yang kamu lihat di pundakku?”

“Sebuah gedung bertingkat dua, cukup besar. Lengkap dengan jendela dan semuanya bewarna putih. Tunggu! Bahkan, aku melihat sebuah kolam di depan bangunan itu.”

Benda apa itu? Ngadimin tak merasa punya sejarah dengan bangunan putih berjendela yang memiliki kolam di depannya.

“Aku tinggal berjualan dulu, ya?” Umar pamit seraya menenteng sepedanya. Meninggalkan Ngadimin yang masih melamun di trotoar.

***

“Pak Ne! Pak Ne!” Lagi suara seorang perempuan memutuskan lamunan Ngadimin. Ia begitu familiar dengan suara tersebut. Perlahan ia menoleh, benar saja itu istrinya datang dan masih menggunakan daster. Kecemasan membias jelas di paras wanita ayu tersebut. Umur mereka terpaut jauh, orang tua istrinya adalah Pak De jauhnya. Jadilah mereka dijodohkan. Istrinya adalah tipikal wanita Jawa, menurut dan tidak banyak menuntut. Ngadimin sangat beruntung memperoleh istri seperti itu.

“Iya, Bu Ne. Ada apa kamu sampai kemari.”

“Pak Ne ….” Bulir air mata terlihat dari sudut mata perempuan tersebut, “Bayu, Pak Ne.”

“Bu Ne tenang dulu, ya?” Ngadimin memegang bahu istrinya, “Ada apa dengan Bayu?”

Perempuan itu menarik napas dalam-dalam kemudian berujar, “Bayu pingsan di sekolah. Sekarang dibawa ke rumah sakit oleh gurunya.”

***

“Anak Bapak menderita usus buntu kronis, harus segera dioperasi. Kami tunggu Bapak membereskan administrasinya. Biar anak Bapak bisa segera kami tangani.”

“Tidak bisakan anak saya segera dioperasi? Sementara, saya mencari biayanya dulu?”

“Maaf, Pak. Tidak bisa, ini sudah menjadi prosedural rumah sakit,” ucapan petugas rumah sakit tadi tergiang terus di telinga Ngadimin. Ia melirik jendela-jendela putih yang dilaluinya. Di luar terlihat sebuah kolam yang memancarkan air mancur tanpa henti. Mungkin inilah bangunan yang dipanggulnya seharian tadi. Dan, bangunan putih ini tiba-tiba semakin menekannya untuk masuk ke dalam tanah saja. (*)

 

 

Lahir di Bireuen, 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

 

Advertisements