Archive for November, 2015

Menghitung Riba
November 29, 2015


Cerpen Achmad Munif (Republika, 29 November 2015)

Menghitung Riba ilustrasi Rendra Purnama

Menghitung Riba ilustrasi Rendra Purnama

SORE yang cerah Wan Komar duduk santai di kursi goyang di beranda rumah. Ia pandangi lalu lintas yang cukup ramai. Sesekali Wan Komar tersenyum. Benak Wan Komar sedang menghitung-hitung uang yang sebentar lagi masuk ke koceknya. Paling sedikit ada lima orang yang sore itu akan datang membayar utang, dengan total setoran mereka sebesar Rp 20 juta. (more…)

Konservatif
November 22, 2015


Cerpen Fernanda Rochman Ardhana (Republika, 22 November 2015)

Konservatif ilustrasi Rendra Purnama

Konservatif ilustrasi Rendra Purnama

Sastro bukannya tak pernah tahu akan tabiat ibunya. Ya, ibunya berasal dari pelosok daerah yang masih memegang teguh adat istiadat serta kepercayaan leluhur mereka. Hal itu tentu sangat tertanam dalam diri ibunya. Kala kecil, ia pun sering diceritakan oleh ibunya tentang mitos-mitos yang dianut leluhurnya itu. (more…)

Dari Balik Jendela
November 15, 2015


Cerpen Ahmad Sastra (Republika, 15 November 2015)

Dari Balik Jendela ilustrasi Rendra Purnama

Dari Balik Jendela ilustrasi Rendra Purnama

Hari-hari terus berlalu, melewati setiap peristiwa dan asa. Senja terus berganti meski tak selalu memberi arti bagi hati yang sudah mati. Mentari pagi terus berulang, menyapa jiwa-jiwa hamba nan tenang. Tak terasa, Pak Mahmud sudah sepekan menghuni rumah pengobatan sederhana milik Abah Sudarma. Rumah bilik yang jauh dari perkampungan penduduk. Memasuki pintu gerbang yang penuh pepohonan, udara segar langsung menyambutnya. Apalagi, jika malam tiba, dengan penerangan sederhana, bilik Abah Sudarma tampak bersahaja, namun sepi. Hanya sesekali nyanyian jangkrik memecah sunyi dan rintihan sakit para pasien menyentuh hati. (more…)

Setangkai Tulip Putih
November 8, 2015


Cerpen Susana Nisa (Republika, 08 November 2015)

Setangkai Tulip Putih ilustrasi Rendra Purnama

Setangkai Tulip Putih ilustrasi Rendra Purnama

Cinta yang agung adalah ketika kita masih setia menunggunya dengan menitikkan airmata meski kita sadar bahwa dia takkan pernah kembali untuk selamanya.

Setiap senja aku selalu melihatnya duduk di sana dengan baju yang sama dan setangkai bunga tulip putih di tangannya. Perempuan itu selalu memandang jauh ke tengah laut lepas, seolah menanti seseorang yang tak jua kunjung tiba. (more…)

Pezikir Jembatan
November 1, 2015


Cerpen Ken Hanggara (Republika, 01 November 2015)

Pezikir Jembatan ilustrasi Rendra Purnama

Pezikir Jembatan ilustrasi Rendra Purnama

Duduk di jembatan penyeberangan, kakek itu bersikap bagai pertapa; tak bergeser, tak bicara, tenang, terpejam, dan terus berzikir. Kemeja dan sarung lusuhnya, yang berlubang di banyak bagian, mengingatkanku pada almarhum bapak di kampung. Dulu bapak sering bersila seperti itu, duduk tenang, tak bicara, mata terus terpejam, dan bibir tak henti zikir. Bedanya, almarhum bapak tidak melakukan di jembatan penyeberangan, jadi tontonan orang, apalagi dengan sebuah mangkuk seng yang terus gemerincing di depan kaki. (more…)