Kupinang Kau di Daker Makkah


Cerpen Irwan Kelana (Republika, 25 Oktober 2015)

Kupinang Kau di Daker Makkah ilustrasi Rendra Purnama

Kupinang Kau di Daker Makkah ilustrasi Rendra Purnama

Tiga hari lagi aku dan para wartawan petugas Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Makkah pulang ke Tanah Air. Aku makin gelisah. Resah meninggalkan Tanah Suci Makkah, setelah hampir dua bulan aku bersama 29 wartawan lain dari berbagai media massa bertugas di Tanah Suci sebagai peliput haji.

Resah karena aku harus berpisah dengan seorang yang aku cintai, meskipun ia kini pun sudah tak ada lagi di dunia ini. Ya, di bumi Makkah inilah jasad calon istriku, Kuntum Khaira Ummatin, dikuburkan. Ia merupakan satu dari 11 orang jamaah Indonesia yang menjadi korban ambruknya crane di Masjid al-Haram pada Jumat petang (11/9). Ibu dan ayahnya juga menjadi korban bencana yang memilukan itu. Secara keseluruhan, tragedi itu menyebabkan 107 jamaah haji dari berbagai negara wafat dan 238 luka-luka.

Seharusnya, seusai prosesi ibadah haji, yakni wukuf di Padang Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina, pada 9 hingga 13 Dzulhijah 1436, aku dan Kuntum akan menikah di depan Ka’bah. Itu merupakan mimpi Kuntum, ia ingin menikah di depan Ka’bah, dan ia ingin maharnya adalah surah Yaasin.

Allah memberikan jalan kepada kami untuk mewujudkan mimpi tersebut. Kuntum, mahasiswa penerima beasiswa tahfizh Alquran di STEI SEBI yang baru saja lulus sebagai sarjana ekonomi syariah, berhasil menjadi juara pertama Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ).

Lomba menghafal Alquran itu diadakan oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Kedubes Saudi di Indonesia. Hadiahnya adalah undangan berhaji dari Kerajaan Arab Saudi. Karena ingin menikah di Ka’bah—dan karenanya harus ada walinya—Kerajaan Saudi memberikan bonus berupa undangan berhaji kepada ibu dan ayah Kuntum.

Adapun aku, alhamdulillah, aku terpilih menjadi satu dari 30 wartawan Indonesia yang menjadi petugas MCH tahun ini di bawah koordinasi Kementerian Agama. Pernikahan suci dengan gadis yang salehah dan anggun itu sudah di depan mata.

Aku pun berusaha menghafal surah Yaasiin. Alhamdulillah, dalam waktu tiga bulan aku hafal surah Yaasiin dan Juz 30. Namun, manusia punya rencana, Allah pun punya rencana, dan Allahlah sebaik-baik pembuat rencana *). Musibah ambruknya crane memupus mimpi dan anganku untuk membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah bersama Kuntum.

Kepergian Kuntum tidak hanya menyisakan duka bagiku, tapi juga meninggalkan amanat yang terasa amat memberatkanku.

***

Musim haji tahun ini banyak musibah. Belum reda kesedihan karena musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram, terjadi musibah kedua. Yakni, tragedi Mina, 24 September 2015, pukul 07.30 waktu Arab Saudi (WAS) atau 11.30 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Paman dan bibi Palmyra diduga termasuk korban tragedi Mina. Namun, keduanya tidak langsung ditemukan. Sudah lebih 10 hari informasi mengenai paman dan bibinya, yang merupakan ustaz dan ustazah di Kalimantan Selatan, nihil.

Setiap hari, kami dari MCH memantau perkembangan informasi jenazah korban Mina dari Muasim (tempat pemulasaraan jenazah). Secara khusus, aku dan Palmyra mencari informasi mengenai paman dan bibinya.

Tentu saja kami berharap bahwa keduanya masih hidup. Namun, kalaupun sudah wafat, Palmyra mengatakan dirinya ikhlas. “Yang penting saya bisa mendapatkan kepastian. Apakah keduanya memang menjadi korban Mina atau hilang atau faktor lain. Kalau beliau sudah jelas keberadaannya, baru puas hati saya, Mas,” kata Palmyra.

Palmyra sudah hampir putus asa. Namun, pada hari ke-14, akhirnya didapat kejelasan bahwa paman dan bibinya memang benar menjadi korban tragedi Mina.

Palmyra awalnya kelihatan gembira, namun tak lama kemudian ia sesenggukan.

“Paman dan bibi sangat sayang kepada saya. Mereka sudah saya anggap orang tua saya sendiri,” katanya.

“Palmyra, aku ikut berduka cita. Semoga Allah menerima paman dan bibimu sebagai syahid dan syahidah yang diganjar surga,” bisikku lembut.

“Terima kasih, Mas Fadil,” sahutnya lirih.

Ia mengusap air matanya dengan kerudung putihnya. Matanya tampak sembap.

“Paman besar jasanya kepada keluarga kami. Bahkan, paman yang memberi nama Palmyra kepada orang tua saya ketika saya dilahirkan. Katanya Palmyra itu kota tua yang indah di Suriah. Sebagai seorang yang menuntut ilmu di Universitas Damaskus, Suriah, ia ingin mengabadikan nama Palmyra pada diri keponakannya.”

***

Kantor Haji atau Kantor Daker Makkah terletak di dekat terowongan King Fahd, sekitar lima kilometer dari Masjid al-Haram. Kantor itu berupa bangunan empat lantai. Lantai satu untuk kantor Daker, lantai dua terdiri dari kamar tidur pejabat. Lantai tiga dan empat untuk MCH. Puncak bangunan digunakan untuk tempat menjemur pakaian dan makan. Kami sering duduk-duduk di puncak pada sore hari sambil memandangi bukit di seberang sana.

Pukul 16.30, Kadaker Makkah memanggil aku ke puncak bangunan. Aku terkejut, ternyata di sana sudah ada Palmyra.

“Ada apa, Pak?” tanyaku.

“Saya ada amanat dari Pak Menteri yang harus saya sampaikan kepada Mas Fadil dan Palmyra,” kata Kadaker.

Kulihat Palmyra mengangguk. Aku menunggu.

“Mas Fadil, boleh saya mengatakan sesuatu?” ujar Kadaker Makkah.

“Ya, Pak.”

“Saya yakin, sakitnya Mas Fadil bukan karena faktor cuaca atau yang lain. Tapi, karena suatu hal.”

“Maksud Bapak?”

Dua hari jelang kepulanganku ke Tanah Air, aku diserang demam. Dokter Daker Makkah sudah memberiku obat sejak kemarin. Namun, panas badanku tidak juga turun. Teman-teman menunjukkan kekhawatiran. Apalagi, besok kami dijadwalkan pulang, tak terkecuali Palmyra.

“Saya dan Pak Menteri Agama di sana, ruang IGD RS Al Noor, Makkah, menjelang Kuntum meninggal. Saya mendengar permintaan terakhir Kuntum kepada Mas Fadil.”

Aku menghela napas panjang.

“Itulah yang selalu jadi pikiran saya, Pak. Apalagi menjelang pulang ke Tanah Air,” sahutku.

“Waktu itu Kuntum minta saya agar mencari penggantinya sebelum saya balik ke Indonesia. Tapi, rasanya tidak adil. Baru ditinggal wafat beberapa hari oleh calon istri, saya mencari penggantinya. Saya merasa zalim kepada Kuntum,” ujarku.

“Tapi, itu adalah permintaan almarhumah. Dan itu bukanlah kezaliman. Justru Mas Fadil zalim kalau membiarkan dirimu larut dalam duka karena ditinggal wafat Kuntum sehingga hidupmu jadi tidak berarti. Kuntum pasti tidak mau hal tersebut terjadi padamu.”

“Tapi, saya merasa menjadi seorang lelaki yang tidak setia, Pak.”

“Lelaki yang tidak setia adalah lelaki yang lari dari cinta pasangannya yang masih hinggap padanya. Sedangkan, Kuntum sudah wafat dan justru dia yang meminta agar kamu mencari penggantinya sebelum pulang ke Tanah Air.”

“Tetap saja, saya merasa diri saya tidak setia, Pak.”

“Mas Fadil mugkin pernah membaca kisah para sahabat Rasulullah SAW. Mereka sangat takut meninggal dunia dalam keadaan membujang. Ibnu Mas’ud, misalnya, mengatakan, ‘Seandainya tinggal 10 hari saja dari usiaku, niscaya aku tetap ingin menikah agar aku tak menghadap Allah dalam keadaan membujang.”

“Atau, pernahkah Mas Fadil membaca kisah tentang sahabat Mu’adz bin Jabal. Suatu hari dua istrinya meninggal dunia akibat menjalarnya wabah penyakit pes. Mu’adz pun mulai terjangkiti wabah tersebut. Dalam harap-harap cemas akan ridha dan kasih sayang Allah, sahabat agung yang menyandang gelar pemimpin para ulama ini berkata, ‘Nikahkanlah aku. Aku khawatir akan meninggal dunia dan menghadap Allah dalam keadaan tidak memiliki istri (melajang)’.” **)

***

Kembali aku menghela napas panjang.

“Sekarang begini saja, lebih tinggi ilmu beliau-beliau itu atau ilmu kita? Lebih saleh mereka atau kita? Kita ini tidak ada apa-apanya. Bahkan, tidak ada seujung kuku dibanding mereka. Dan mereka sangat khawatir melajang.”

Sore makin beranjak tua. Sebentar lagi senja tiba menjemput matahari yang kina renta.

“Mas Fadil dan Palmyra. Saya punya satu pertanyaan.”

Aku dan Palmyra berpandangan.

“Kalian kan sudah dua bulan bertugas bersama di Daker Makkah ini. Mungkin sedikit banyak kalian sudah saling mengenal. Apalagi, saya perhatikan Mas Fadil dan Palmyra ini petugas MCH yang paling aktif dan rajin mengejar dan menulis berita. Kecuali selama sepekan setelah Kuntum meninggal, sempat Mas Fadil drop kerjanya.

Aku masih diam menunggu. Kulihat Palmyra menunduk.

“Pertanyaan saya adalah tidak adakah pendar-pendar rasa cinta di hati Mas Fadil kepada Palmyra dan begitu pula sebaliknya, Palmyra kepada Mas Fadil?”

Aku melirik Palmyra. Gadis berusia 27 tahun. Wartawan termuda yang jadi petugas MCH. Namun, berita-berita yang ditulisnya paling banyak di antara semua.

Baru kusadari sekarang, betapa gadis ini memiliki bulu mata yang begitu lentik. Matanya begitu jernih sehingga tampak jelas bola matanya yang hitam legam. Kerudung putih membuat wajahnya tampak bercahaya.

Lama kami terdiam, akhirnya Kadaker Makkah berkata, “Palmyra, saya menyaksikan, saat menjelang kematiannya, Kuntum menggenggam tangan Palmyra kuat-kuat. Seakan-akan dia memberikan pesan kepada Palmyra agar mau menggantikan Kuntum untuk Mas Fadil.””

“Tapi, saya terlalu jauh dibandingkan dengan Kuntum, Pak. Dia sangat cantik, salehah, cerdas, dan hafizah 30 juz,” ujarnya perlahan.

“Ah, Palmyra. Kamu terlalu merendah. Soal kecantikan fisik itu relatif. Tapi, soal hafalan, kamu juga hafal 20 juz. Dan sebagai orang pesantren, kamu pun jago bahasa Arab. Saya tahu karena kan saya ikut menyeleksi para wartawan calon petugas MCH.”

“Sekarang tergantung Mas Fadil,” kata Kadaker Makkah.

Aku menatap Palmyra. Ia menunduk.

Akhirnya aku berkata, “Palmyra. Kamu tahu siapa saya. Kamu pun tahu kisah cintaku. Sekarang, di Daker Makkah ini, saya ingin sampaikan satu pertanyaan:
bersediakah kamu menjadi ibu bagi anak-anakku, anak- anak kita?”

Palmyra tidak langsung menjawab. Namun, tak lama kemudian dia mengangguk. Saat ia mendongakkan wajahnya, kulihat butiran bening menghiasi pipinya yang putih.

“Alhamdulillah,” kata Kadaker Makkah.

Ia memencet telepon genggamnya, kemudian berkata, “Assalamualaikum, Pak Menteri. Tugas sudah saya tunaikan.”

Ia kemudian memberikan HP tersebut kepadaku, “Mas Fadil, Mbak Palmyra. Selamat ya. Sampai di Tanah Air, secepatnya menikah. Insya Allah saya siap jadi saksi,”
kata Menag.

***

Pukul 17.00 pesawat Garuda yang kutumpangi lepas landas dari Bandara King Abdulaziz Jeddah menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Aku menengok ke luar jendela. Cuaca cerah. Beberapa gerombol awan putih menghiasi langit biru.

Setelah 60 hari bertugas sebagai petugas Media Center Haji di Tanah Suci, akhirnya hari ini aku akan kembali ke Tanah Air.

Di Tanah Suci ini, tepatnya Kota Makkah, bersemayam jasad calon istriku: Kuntum Khaira Ummatin. Dia seorang wanita yang cantik dalam arti sesungguhnya. Cantik lahir batin, dunia akhirat.

Namun, Allah SWT sangat sayang kepadanya. Ia memanggil Kuntum kembali ke haribaan-Nya.

Allah kirim gantinya. Seorang perempuan salehah yang juga hafiz Alquran.

Aku menoleh ke samping kiri. Rupanya Palmyra sedang memandangiku.

Ia tersipu. Senyumnya manis sekali. Gamis putih dan jilbab putihnya makin menguatkan kecantikan dan bening wajahnya.

“Palmyra, pernahkah engkau bermimpi punya suami seorang wartawan?” tanyaku.

Ia menggeleng.

Enggak. Tapi, saya punya mimpi memiliki seorang suami yang hafal Alquran 30 juz, minimal Juz 30.”

“Ha ha ha.” Aku tergelak.

Palmyra hanya tersenyum menggemaskan. (*)

 

 

Jakarta-Makkah, 2015.

 

*) QS Ali Imran: 154

**) dikutip dari buku Berani Mencintai Bernyali Menikahi karya Jauhar al-Zanki.

 

Irwan Kelana adalah cerpenis, novelis, dan wartawan. Sudah menulis dan menerbitkan lebih 20 buku fiksi dan nonfiksi. Saat ini bekerja di harian Republika.

 

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: