Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 11 Oktober 2015)

Pohon Langit ilustrasi Rendra Purnama
Pohon Langit ilustrasi Rendra Purnama

Sudah puluhan hari kabut menutup desa kecil itu. Asap tebal itu berasal dari sisa pembakaran pohon-pohon—yang dibabat secara liar—selama berbulan-bulan. Petak-petak hutan menjadi gundul. Kehidupan benar-benar bagai mimpi buruk mengerikan yang menampilkan wajah bopeng penuh luka di setiap sisi: tanah gersang, kekeringan, dan kurangnya sumber pangan. Penyakit berbiak dengan subur di antara penduduk. Kematian bisa setiap saat datang menjemput: mengetuk pintu lantas merenggut nyawa pemilik rumah tanpa permisi.

Kesedihan tidak lagi dimaknai sebagai sesuatu yang khusus. Karena, setelah kabut tebal membekap desa, kemuraman adalah hal lumrah. Beberapa hari lalu misalnya, tujuh orang penduduk desa mati mengenaskan. Masing-masing dada mereka bengkak: lebam dengan rona membiru. Mereka terserang radang paru-paru yang parah karena udara bersih yang minim. Juga tak tertinggal beberapa bocah malang dengan bola mata memerah karena infeksi terkena asap. Lambat laun gairah hidup penduduk menyusut. Mereka seolah hanya menunggu sang nasib mengakhiri kesialan atau melenggang mulus saat sang petaka menyeret ke dasar liang lahat yang dingin.

Penduduk memang telah berpangku tangan atas musibah ini. Mereka seolah menutup kuping dan mulut. Mereka sadar, semua kekacauan ini berawal dari kebiasaan yang acap membabat alam dengan brutal: hingga merusak iklam dan cuaca. Musibah diawali dari musim kemarau panjang, kekeringan, dan disusul kebakaran hutan. Dan kini hanya penyesalan semata yang diemban atas dosa-dosa dan kelaliman dari perbuatan. Pun sering mendengung di hati mereka: Hanya keajaiban yang dapat menyudahi pegebruk dahsyat ini.
Alam mengutuk, menjejalkan kenyataan sebagai realitas paling absurd yang harus mereka hadapi.

Beberapa hari lalu asap kelabu kembali merenggut korban. Seorang pria tua tak dikenal datang kepayahan. Wajahnya yang asing membuat penduduk tak hirau. Pun ketika tubuh rentanya ambruk: menggelepar selama beberapa hari di tepi jalan hingga tiada seorang yang mau yang mungurusnya. Sosok asing itu dibiarkan membusuk bersama pakaian yang lusuh, celana koyak, dan sepasang sandalnya yang telah buruk rupa.

Akan tetapi, sosok itu seperti diberi keajaiban oleh Tuhan. Ia bangkit kembali dari kematiannya. Bahkan, pria tua yang semula hanya dianggap sebagai musafir tersesat berhasil merebut perhatian warga dengan selorohnya yang tak masuk akal:

“Aku mendapat perintah untuk menanam pohon ini?” Katanya nyaring. “Pohon ini adalah pemberian Tuhan untuk kita. Siapa yang bersedia menjaganya?”

Pria tua itu dengan keranjingan berteriak-teriak kepada masyarakat desa. Ia mengaku bertemu sebuah cahaya putih menyilaukan ketika pingsan. Sosok cahaya yang ditemui pria tua itu juga memberikan sebuah tunas pohon kecil yang nyaris layu. Namun, karena penduduk desa telah kehilangan harap, akhirnya mereka hanya membiarkan begitu saja kata-kata pria tua tersebut. Bahkan, di benak penduduk: Semua hal itu sudah tidak ada gunanya. Suara sengau itu mengabur diterpa kabut dan terik cahaya mentari. Penduduk desa hanya memandang selintas, lantas berpaling meninggalkan.

“Pohon ini adalah Pohon Langit,” lanjut pria tua lagi tak jengah menyakinkan. “Pohon yang akan memberikan harapan baru untuk hidup kita kelak.”

Warga desa benar-benar tidak lagi mempunyai angan untuk bangkit. Kemuraman semata yang tampil di benak masyarakat: yang sudah tidak dapat lagi tertolong selain Tuhan turun langsung menyelamatkan. Warga membiarkan begitu saja pria tua itu berteriak- teriak di bawah terik matahari.

***

Karena tidak ada yang membantunya, akhirnya pria tua itu menanam dan merawat seorang diri pohon yang didapatkannya dari mimpi. Bagai seorang ayah, pria tua itu mengasuh tunas pohon yang semakin hari terus layu tersebut. Begitu tekun hingga melupakan diri. Penuh kasih sayang pula. Tidak segan ia mengorbankan tubuhnya untuk menghalangi tunas pohon dari cercah panas dan dingin cuaca yang tak mau berkompromi. Berbulan-bulan ia menjaga pohon di tanah lapang-gersang tersebut.

Ketulusan hati pria tua menjaga tunas pohon mendapatkan tanggapan lain dari warga. Bukannya mendapat dukungan, penduduk desa malah menggunjingnya: mengganggapnya sebagai pria bodoh. Karena memang tiada lagi yang bisa diharapkan dari desa tesebut. Tanah tiada subur. Sungai kering. Udara kotor. Warga pernah mencoba menyelamatkan desa dengan segala hal. Namun, semuanya gagal.

“Pria dan pohon itu tidak akan bertahan lama,” kata seorang penduduk bertubuh kurus. “Pasti akan layu dan mati bersama harapannya.”

Dan sekali lagi, keajaiban seperti dilimpahkan kepada pria tua dan pohon itu. Hal yang mustahil terjadi. Pohon yang dahulu layu kembali subur. Bahkan, terus tumbuh di atas tanah rekah kering desa dan semakin kokoh batang-batangnya menyeruak. Pun tidak ada enam bulan berlalu pohon itu tumbuh rindang menjadi penyejuk desa. Terlihat ganjil memang sebatang pohon itu di tengah desa yang gersang. Namun, berkat pohon itu, asap pekat mulai mengurang. Dahan dan daun pohon itu bagai menyerap asap beracun.

“Dari mana kau dapat pohon ini?” Tanya seorang penduduk suatu ketika karena penasaran. “Kenapa pohon itu dapat tumbuh di tempat yang tandus?”

“Sudah aku katakan: Pohon ini berbeda. Pohon ini langsung diberikan oleh Tuhan,”
kata pria tua itu singkat.

“Kau berbohong!” Orang itu marah tidak percaya.

Namun, sekali lagi di luar batas nalar warga: pohon itu seperti memiliki caranya untuk terus hidup. Pohon itu memiliki takdir yang tidak dapat ditebak penduduk. Pohon itu tumbuh semakin tinggi dan kokoh. Penduduk pun tambah terheran-heran. Bahkan, karena keasriannya, hewan-hewan yang dahulu menghilang kini muncul bermain di sana: di sekitar pohon yang mulai ditumbuhi bunga-bunga dengan warna indah. Desa bagai terlahir kembali.

***

Sudah beberapa bulan berlalu ketika keajaiban demi keajaiban terjadi pada pohon itu. Namun, warga masih menganggap kalau semua keajabain itu kebetulan. Sebuah fatamorgana kemalangan. Semuanya pasti akan kembali musnah: lebur bersama keputusasaan yang telah melekat di hati warga. Warga kini percaya: Tuhan telah meninggalkan mereka. Tetapi, pria itu tiada jemu meyakinkan: harapan masih ada. Dan Tuhan selalu bersama orang-orang malang.

“Tanamlah biji pohon ini di rumahmu,” Pria tua membujuk seorang warga yang ditemuinya di jalan untuk menanam biji pohon tersebut.

“Kau tidak perlu menyiramnya dengan air. Cukup merawatnya dengan kasih serta cinta yang tulus.”

“Maksudmu?” Warga itu—bernama Tarno—mengernyit.

“Kau hanya cukup menyayanginya. Tidak usah menyiramnya. Biji ini akan tumbuh dengan sendirinya.”

“Tapi, bukankah setiap tanaman membutuhkan air agar dapat terus hidup?”

“Pohon ini berbeda. Pohon ini berasal dari langit.”

“Langit?”

“Betul! Sebuah tempat yang dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang,” pria itu tua menengadah, pandangnya melesat lurus entah ke mana. “Di sana setiap yang hidup tidak akan pernah merasa lapar karena kasih dan cinta telah mengenyangkannya.”

Akhirnya Tarno membawanya pulang, syahdan menanamnya di halaman rumah.
Setiap pagi dan sore Tarno merawat pohon, menyiramnya dengan kasih serta cinta. Tanpa segayung air seperti yang dikatakan pria itu. Dan benar! Biji pohon itu tumbuh. Tarno tercengang ketika tunas muda pohon tersebut semakin besar setiap harinya. Pohon itu pun tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya. Kini di kampung telah tumbuh dua pohon. Asap semakin menipis dihisap pohon-pohon tersebut.

Tarno kembali mendatangi pria tua tersebut. “Biji yang kau berikan kepadaku dahulu sudah tumbuh.”

“Syukurlah! Kalau telah berbuah ambillah bijinya dan berikan kepada setiap penduduk desa,” katanya tersenyum. “Jangan lupa sayangilah pohon itu seperti kalian menyanyangi diri kalian sendiri.”

Seperti yang pria tua itu tuturkan, Tarno mulai memberikan setiap rumah satu biji pohon untuk ditanam. Berduyun-duyun warga menanamnya, menyiraminya dengan cinta dan kasih sayang. Mereka menyayangi pohon itu seperti menyayangi diri sendiri. Setiap hari-setiap waktu, pohon-pohon terus tumbuh dan membawa harapan. Asap menghilang. Desa menjadi sejuk. Dan kehidupan kembali normal.

***

Kini warga percaya: keajaiban selalu ada bagi yang meyakininya. Berbondong- bondong warga mendatangi pria tua itu. Mereka bermaksud mengucapkan terima kasih serta permohonan maaf. Tetapi, pria tua itu menghilang. Di bawah pohon itu hanya ada sesosok rangka dengan pakaian yang sering digunakan pria tua itu.

“Ke mana pria itu pergi?” Warga panik.

“Siapa sosok itu sebenarnya?” Mendadak warga ingat kalau sosok itu pernah mati: lantas hidup lagi. Apakah kini ia kembali mati? Hati warga terus bertanya-tanya tentang sosok itu. Juga warga dihantui rasa bersalah karena telah membunuh harapan:
yang sebenarnya tak pernah mati karena Tuhan selalu bersama seorang yang tertimpa petaka. (*)

 

 

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Buku Kumpulan Cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

 

Advertisements