Cerpen Intan Savitri (Republika, 04 Oktober 2015)

Dosa Berbau ilustrasi Rendra Purnama.jpeg
Dosa Berbau ilustrasi Rendra Purnama

Aziz berlari terengah-engah, jika saja jantung bisa berbunyi dengan keras dan didengar orang lain, mungkin orang-orang akan menutup telinganya, saking keras suaranya. Keringat berleleran di seluruh wajah dan sekujur tubuhnya. Ia mengendap di balik tumpukan rongsokan mobil bekas, kepalanya celingukan, matanya liar melihat ke sana- kemari. Aziz ingin melipat tubuhnya sekecil mungkin, kalau mungkin menghilang. Jika suara napas terdengar, Aziz bahkan ingin napasnya tidak terdengar, mungkin berhenti saja.

“Mana? Mana dia? Maling Sialan!” Laki- laki itu mengayun-ayunkan kayu sepanjang satu meter sebesar lengan orang dewasa. Wajahnya merah padam, matanya nyalang.

“Tadi dia lewat sini sepertinya, Bang!” Laki-laki bertubuh ceking menimpali.

“Iya, tapi mana?” Laki-laki berkayu panjang, suaranya terdengar gusar.

“Cepat juga larinya tadi ya, tahu-tahu hilang. Tempat pembuangan rongsokan ini luas banget, apa ya kita harus membolak-balik semua barang-barang ini?” seorang laki-laki lain menimpali. Aziz mengenal suara itu. Itu Rompal. Ia mengenal laki-laki bernama Rompal itu seperti ia mengenal dirinya sendiri.

“Jadi, bagaimana? Ini sudah kejadian ketiga! Masa kita mau membiarkannya lolos?” laki-laki berkayu panjang, mengetuk-ngetukkan kayunya ke sekitarnya, sesekali menghantam kaleng rombeng. Jantung Aziz berdetak makin keras. Membayangkan kalau kayu itu dihantamkan berkali-kali ke kepalanya.

“Ya terserah Abang saja, Abang kan pemimpin kami,” suara Rompal lagi. Aziz menelan ludah. Sialan Rompal! Kenapa dia tidak membantu mengalihkan perhatian laki-laki pemegang kayu itu. Bukankah dia pernah berutang budi padaku, pada saat dia nyaris mati di keroyok penduduk desa? Dia yang melerai agar penduduk desa menghakiminya.
Sekarang mana balas budinya? Jantung Aziz makin cepat berdegup.

“Eh, Bang,” suara Rompal lagi.

“Ada apa?” bentak laki-laki pemegang kayu. Matanya yang merah melotot menatap Rompal.

“Hmmh.. sepertinya saya melihat ada yang lari di ujung sana, Bang,” katanya lirih, alisnya berkerut, menunjukkan ia berpikir keras. Lehernya dijulur-julur ke ujung gang sempit yang hampir tertutup barang-barang rongsokan yang menggunung.

Jantung Aziz berdegup lagi. Kali ini karena ingin mencium Rompal untuk berterima kasih. Tapi, tunggu! Apa laki-laki pemegang kayu itu akan percaya?

“Yakin? Ada yang keluar dari tempat ini?” Laki-laki berkayu itu menoleh ke laki-laki yang lain yang berkeliaran di sekelilingnya.

“Jalan di depan itu satu-satunya jalan keluar dari tempat ini sih, Bang!” kata laki-laki bertubuh ceking. Aziz menajamkan telinganya, tidak ia tidak mengenal suara itu. Mudah- mudahan laki-laki yang membawa kayu itu cukup bodoh untuk mengerti bahwa jawaban laki-laki bertubuh ceking itu tidak menjawab pertanyaannya.

“Hmmmh…” Laki-laki pemegang kayu itu menengok ke sana-kemari sekali lagi. Seakan menakar berapa banyak rongsokan yang harus dibongkar untuk mencari Aziz.

“Ya sudah, ayo kita kejar lagi!” Laki-laki itu serentak melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu keluar dari tempat rongsokan. Rombongan di belakangnya mengikuti, Rompal berada paling dekat dengan si laki-laki pembawa kayu. Tetapi, kemudian ia seperti menunduk memperbaiki sepatunya. Cukup lama untuk membuatnya tertinggal di belakang.

***

Lu gila!” sergah Rompal. Ketika itu ia berhasil menyelinap dari rombongan pengejar Aziz sudah jauh di depan. Rompal menyambangi Aziz di rumahnya.

“Iya memang, kalau tidak gila ya, gue tidak mengerjakan pekerjaan ini.”

“Seharusnya lu berhitung, di sini dia jawaranya!” sentak Rompal.

“Ah, sudahlah! Yang penting elu dah impas sama gue, terima kasih!” tepis Aziz sambil menepuk bahu Rompal. Laki-laki dengan codet di pipinya itu mendengus. Ia dan Aziz satu kampung. Sama-sama berusaha untuk bertahan hidup di Jakarta yang kejam ini. Rompal tahu, Jakarta hanya mengizinkan mereka yang cukup gila untuk melibas orang lain, yang bisa bertahan hidup. Paling tidak itu yang ia tahu.

“Hei, mau ke mana lu?” tanya Rompal, ketika Aziz bangkit dari tempat duduknya dan mengenakan sarung dan peci.

“Kemana?” tanyanya sekali lagi.

Aziz mendongakkan dagunya, ke arah kiri rumah petaknya.

“Masjid?” tanya Rompal, matanya terbelalak. Aziz nyengir saja.

***

Aziz mendengarkan dengan terkantuk-kantuk kajian habis Subuh di masjid sebelah kiri rumahnya. Walaupun pekerjaannya mengambil barang milik orang lain, kalau shalat lima waktu Aziz tidak pernah tidak mengerjakannya. Kalau ia sedang mencuri di tempat yang jauh dari rumahnya pun, setiap kali ada masjid dia selalu singgah. Ah, pekerjaan ini kan cuma sementara, kalau nanti tabunganku sudah cukup, aku mau beli gerobak bakso, jadi pedagang bakso saja. Lha sekarang belum cukup uangnya. Bahkan, kadang kurang karena harus mengirim anak-istrinya kebutuhan sehari-hari di kampung.

“Jadi, Tuhan itu Mahaadil. Semua ditunda nanti dan tidak dikasih sekarang.” Samar-sama ia mendengar tausiyah pagi.

Aziz merem melek.

“Coba kalau apa-apa yang tidak berkenan bagi Tuhan itu dikasih tahu sekarang, dosa dibuat berbau misalnya. Gimana coba, kira-kira, Bapak-Bapak?”

Aziz melek.

Dosa berbau? Matanya kedap-kedip, menatap ustaz muda di mimbar masjid. Wajahnya bersih, tidak ada janggut yang biasanya dipelihara oleh para ustaz. Mungkin memang tidak bisa tumbuh.

Apa katanya tadi? Dosa berbau? Ah, ada-ada saja ustaz di depan itu. Tanpa ia sadari, ia mengendus-endus, menghirup-hirup sendiri udara di sekitarnya. Seperti memastikan. Karena kurang pasti, ia menoleh ke kanan sambil menaikkan sedikit lengannya, lalu menghirup. Demikian juga lengan sebelah kiri, lalu menghirup. Aziz menghela napas lega.

Tidak berbau. Begitu katanya dalam hati. Aziz tersenyum, puas.

***

“Cariiiii!!! Sampai ketemuu! Maling kurang ajaar!” Ada belasan orang dengan mengacung-acungkan senjata tajam, berlarian menuju masjid.

Aziz, yang sedari tadi mengendap-endap di sekitar masjid, segera mengambil air wudhu. Ia berusaha meredakan napasnya yang hampir putus. Ia gagal mengambil barang apa pun. Sial! Tapi, tetap saja ia dikejar-kejar. Sialan, sial!

Selesai berwudhu Aziz berdoa dan shalat sunah tahiyatul masjid.

Orang-orang berangasan itu sudah berada di sekitar masjid. Mereka celingak-celinguk. Aziz masih shalat. Ia berusaha khusyuk.

Ia mendengar seseorang masuk dan shalat tahiyatul masjid di sebelahnya. Ia mengenal wangi parfum itu. Wangi parfum ustaz muda itu.

Ketika sang ustaz selesai memberi salam mengakhiri shalat penghormatan pada masjid itu, salah satu dari para pengejar Aziz masuk dan memberi salam pada ustaz. Ia berbisik-bisik sambil matanya sesekali melirik Aziz yang masih menundukkan kepala sambil menghitung buku-buku jarinya. Aziz menghitung zikir.

“Bapak-Bapak, ini sudah masuk waktu Subuh. Silakan ambil air wudhu dan shalat Subuh, yang sedang berzikir di sudut itu namanya Pak Aziz. Beliau jamaah saya. Nanti saya perkenalkan kalau beliau sudah selesai berzikir. Lebih baik Bapak-Bapak shalat dulu.”

Seperti kerbau dicucuk hidungnya, rombongan pengejar Aziz itu menuju tempat wudhu, lalu shalat tahiyatul masjid.

Azan berkumandang. Iqamah dilantunkan.

Shalat Subuh berjamaah dimulai. Setelah shalat Subuh berjamaah, Aziz beringsut pergi meninggalkan masjid. Sementara, para pengejarnya masih berkumpul di sekitar sang ustaz.

Ketika ia keluar dari pintu masjid, matanya nanar menangkap sebuah sandal yang kelihatan bermerek dan mahal. Aziz menelan ludah. Ia jadi teringat, ia dari dulu pingin sekali sandal bagus seperti itu. Pasti nyaman dipakai dan pantas untuk pergi ke masjid. Ia tidak pernah bisa memiliki sandal seperti itu. Sandal siapa ya?

“Ini sandal orang-orang yang mengejar itu, pasti!” Aziz menggumam memastikan.
Maka, dengan cepat ia mencangking sandal itu, membuang sandal jepit bututnya, lalu bergegas pergi.

***

Angin berkesut perlahan. Aziz yang telah beberapa meter meninggalkan masjid mencium bau aneh. Sangat tajam dan berbau. Apa ini?

Mata Aziz melirik ke kanan ke kiri, ia menatap bayang-bayang pohon pisang di sekitarnya karena tertimpa lampu listrik jalanan. Bau apa ini? Ia bertanya sekali lagi.

Aziz serentak mengangkat lengan kanannya, hidungnya mengernyit. Perutnya tiba-tiba bergolak karena mual, bau. Sayup-sayup ia mendengar suara dari arah masjid.

“Sudah. Bapak-Bapak pulang saja. Saya menjamin Bapak Aziz yang tadi Bapak tanyakan adalah orang baik. Buktinya ia selalu shalat Subuh di masjid ini,” suara Ustaz itu lantang.

Aziz merasa bau menyengat itu menekap hidungnya. Bau. Bau menguar di mana-mana. (*)

 

 

Essence Park, 23 Agustus 2015

S Intan Savitri, Pengarang, pegiat FLP. Tinggal di Bekasi. Sudah menerbitkan puluhan buku.

 

Advertisements