Archive for October, 2015

Kupinang Kau di Daker Makkah
October 25, 2015


Cerpen Irwan Kelana (Republika, 25 Oktober 2015)

Kupinang Kau di Daker Makkah ilustrasi Rendra Purnama

Kupinang Kau di Daker Makkah ilustrasi Rendra Purnama

Tiga hari lagi aku dan para wartawan petugas Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Makkah pulang ke Tanah Air. Aku makin gelisah. Resah meninggalkan Tanah Suci Makkah, setelah hampir dua bulan aku bersama 29 wartawan lain dari berbagai media massa bertugas di Tanah Suci sebagai peliput haji.

Resah karena aku harus berpisah dengan seorang yang aku cintai, meskipun ia kini pun sudah tak ada lagi di dunia ini. Ya, di bumi Makkah inilah jasad calon istriku, Kuntum Khaira Ummatin, dikuburkan. Ia merupakan satu dari 11 orang jamaah Indonesia yang menjadi korban ambruknya crane di Masjid al-Haram pada Jumat petang (11/9). Ibu dan ayahnya juga menjadi korban bencana yang memilukan itu. Secara keseluruhan, tragedi itu menyebabkan 107 jamaah haji dari berbagai negara wafat dan 238 luka-luka. (more…)

Polar Bear
October 18, 2015


Cerpen Ahmad Ijazi H (Republika, 18 Oktober 2015)

 

Polar Bear ilustrasi Da-an Yahya

Polar Bear ilustrasi Da-an Yahya

Jika kulempar sebuah pertanyaan padamu: Tokyo dan Edo? Adakah benang merahnya? Tokyo adalah ibu kota Nippon, Jepang. Sementara Edo, itu namaku—Edo Suherman, seorang mahasiswa bahasa dan sastra Jepang di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia.

“Edo dan Tokyo itu sebenarnya sama. Dulunya, Tokyo itu adalah desa perikanan kecil yang diberi nama Edo. Dan menurutku, kau beruntung sekali memiliki nama itu.
Bersyukurlah!” kata Profesor Tokugawa saat pertama kali kami dipertemukan oleh Aizawa, wanita blasteran Indonesia-Jepang yang bekerja di Kedutaan Indonesia di Tokyo. (more…)

Pohon Langit
October 11, 2015


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 11 Oktober 2015)

Pohon Langit ilustrasi Rendra Purnama

Pohon Langit ilustrasi Rendra Purnama

Sudah puluhan hari kabut menutup desa kecil itu. Asap tebal itu berasal dari sisa pembakaran pohon-pohon—yang dibabat secara liar—selama berbulan-bulan. Petak-petak hutan menjadi gundul. Kehidupan benar-benar bagai mimpi buruk mengerikan yang menampilkan wajah bopeng penuh luka di setiap sisi: tanah gersang, kekeringan, dan kurangnya sumber pangan. Penyakit berbiak dengan subur di antara penduduk. Kematian bisa setiap saat datang menjemput: mengetuk pintu lantas merenggut nyawa pemilik rumah tanpa permisi. (more…)

Dosa Berbau
October 4, 2015


Cerpen Intan Savitri (Republika, 04 Oktober 2015)

Dosa Berbau ilustrasi Rendra Purnama.jpeg

Dosa Berbau ilustrasi Rendra Purnama

Aziz berlari terengah-engah, jika saja jantung bisa berbunyi dengan keras dan didengar orang lain, mungkin orang-orang akan menutup telinganya, saking keras suaranya. Keringat berleleran di seluruh wajah dan sekujur tubuhnya. Ia mengendap di balik tumpukan rongsokan mobil bekas, kepalanya celingukan, matanya liar melihat ke sana- kemari. Aziz ingin melipat tubuhnya sekecil mungkin, kalau mungkin menghilang. Jika suara napas terdengar, Aziz bahkan ingin napasnya tidak terdengar, mungkin berhenti saja. (more…)