Boneka Tak Berlengan di Srebrenica


Cerpen Ida Fitri (Republika, 27 September 2015)

Boneka Tak Berlengan di Srebrenica ilustrasi Rendra Purnama

Boneka Tak Berlengan di Srebrenica ilustrasi Rendra Purnama

Kamu hanya harus berlari, Mejra. Jangan pernah melihat ke belakang. Teruslah berlari! Bumi mengeluarkan cairan merah. Suara teriakan ketakutan, jerit kesakitan dan letusan peluru menjadi satu. Mejra tidak tahu lagi di mana kakinya berpijak. Yang diingatnya, kemarin malam, Tata membawa pulang boneka berambut pirang dan pintar mengedipkan mata.

***

“Kamu suka, Sayang?”

“Aku sangat suka,” jawab Mejra manja, “Terima kasih, Tata.” Gadis berumur enam tahun itu memeluk kaki Tata, lelaki yang memiliki warna rambut persis seperti rambut Mejra. Tangan yang satunya memeluk boneka barunya. Tata mengangkat dan memeluk putri kecilnya. Majka tersenyum di belakang mereka.

“Selamat ulang tahun, Sayang,” ujar Tata seraya mengecup kening putri kecilnya itu.

Mejra malah memoyongkan mulutnya.

“Mengapa?”

“Aku harus menunggu sampai malam hari untuk hadiahku. Padahal, hari ini 12 Juli, Tata.” Mejra memperhatikan hadiah barunya. Dia takjub melihat bonekanya mengedipkan mata. Tapi, Mejra tetap berpura-pura marah karena Tata-nya baru pulang.

“Maafkan Tata, Sayang. Tata sibuk di barak tentara Dutchbat, beberapa di antara mereka terserang demam. Dan, sepertinya mereka akan meninggalkan tempat ini.”

“Ayuk, Mejra. Kita biarkan Tata istirahat dulu.” Majka mengambil Mejra kemudian menurunkannya. “Apa tentara Belanda itu akan pergi dari sini?” terdengar nada khawatir dalam suara Majka.

Belum sempat Tata menjawab, terdengar nada letusan yang mengguncang ruang tamu rumah berlantai dua milik keluarga Mejra.

“Berlindung!” perintah Tata, mereka tiarap di lantai rumah sambil menyebut nama Tuhan. Terdengar letusan senjatan berat susul menyusul. Dan, lampu pun mati. Mejra menangis dalam pelukan Majka.

***

Siapa yang menyukai perang? Tidak ada, kecuali pabrik senjata. Itu pun hanya asumsi saja. Mereka menciptakan senjata pembunuh dan memperoleh uang dari itu semua. Entah sampai kapan perang ini berakhir?

Mejra berusaha bangkit. Tubuh Majka menjadi begitu berat. Gadis kecil itu merangkak ke dekat dinding rumah. Hari sudah berganti pagi. Cahaya matahari yang masuk melalui dinding rumah yang berlubang bekas dihantam peluru membuat mata Mejra menangkap jelas apa yang sudah terjadi tadi malam. Tubuh bocah perempuan itu tergetar hebat.

Sosok Majka tertelungkup di lantai rumah. Punggungnya dipenuhi luka bekas pecahan mortir. Sebuah lubang mengaga di bagian belakang kepala Majka. Darah membasahi lantai. Cairan merah yang mulai mengering. Tubuh itu melindungi Mejra hingga akhir.

Mejra mendekati Majka, mulai memeluk tubuh kaku itu.

“Mejra…,” terdengar suara lirih Tata memang gilnya.

Mejra bangkit dan mencari sumber suara. Dia menemukan tubuh Tata terbaring tak berdaya di dekat sofa berbulu mereka. Sofa yang selama ini mempercantik ruang tamu rumahnya.

“Tata,” Mejra kecil memangku ayahnya yang sekarat.

“Pergilah ke Tuzla, Putriku. Temui Pamanmu.” Tata terbatuk darah. Lalu lelaki itu menyebut nama Tuhannya. Kemudian tubuhnya kaku dan tak bergerak lagi. Sebuah lubang menganga di bahu kirinya. Mejra menangis sejadi-jadinya di antara mayat kedua orang tuanya. Cahaya yang masuk melalui dinding yang dihantam senjata berat memantulkan bayangan tubuh Mejra kecil ke tubuh ayahnya.

Gadis kecil itu menutup mata Tata dengan tangannya. Sekali waktu, dia pernah melihat Tata melakukan itu pada orang mati di rumah sakit. Kemudian hal yang sama dilakukan pada Majka. Mata gadis kecil itu beralih pada boneka yang dibawa pulang Tata semalam. Rambut boneka itu sudah hangus sebagian, tangan kanannya pun ikut hilang. Mejra mengambil bonekanya.

Di luar kenderaan berhenti di depan rumah. Kemudian terdengar teriakan seorang lelaki yang memberi perintah. Mejra kecil berjinjit dan berlari ke kamarnya. Dibukanya lemari pakaian, dia bersembunyi di dalamnya. Ruang tamu diobrak-abrik para lelaki. Kemudian suara riuh berpindah ke kamar Tata. Tak lama kemudian pintu kamarnya dibuka dari luar. Gadis kecil itu membekap mulutnya sendiri.

Takut menimbulkan suara yang akan membuat orang-orang di luar curiga. Dari celah pintu lemari dia bisa melihat orang di luar sana memakai seragam tentara. Mejra memejamkan mata. Gadis kecil itu teramat sangat takut hingga tertidur di dalam lemari pakaiannya.

Ketika dia terbangun, alam sudah kembali gelap. Malam telah datang menjelang. Gadis cilik itu meraba-raba keluar dari lemari pakaian. Dia mencoba menekan saklar lampu kamarnya. Listrik tidak menyala. Rasa lapar melilit perut Mejra.

Seharian dia belum makan. Tangannya meraba-raba dinding kamar, kemudian menuju ke arah dapur. Dia berhasil menemukan mancis berbentuk bunga mawar milik Majka di laci dapur. Ibunya akan sangat panik kalau sampai mancis mawarnya hilang. Pernah sekali waktu Majka sampai membuat Tata pulang dari rumah sakit karena mancisnya hilang. Menurut Tata, mancis mawar adalah pemberian kakek untuk Majka sebelum kakek meninggal.

Saat mancis menyala, ternyata dapur juga sudah sangat berantakan. Sepertinya para tentara itu tidak menginginkan isi rumahnya tetap rapi. Mejra menuju kulkas, tapi isinya sudah kosong. Gadis kecil itu mengutip roti yang sudah terjatuh ke lantai. Kemudian menelannya dengan air mata berlinang sambil berjongkok di dekat meja dapur.

Setelah itu dia beranjak ke ruang tamu untuk melihat mayat orang tuanya. Tapi, tak ada apa pun di sana. Dengan nyala korek api, Mejra hanya bisa melihat bekas darah Majka dan Tata yang mengendap di lantai. Ke mana mayat kedua orang tuanya? Gadis itu melongok ke luar melalui pintu yang dibiarkan terbuka begitu saja.

Di ujung kota sebelah selatan, terlihat api membubung. Dan, terdengar para lelaki bernyanyi dan bersorak. Mejra berpikir itu pasti orang-orang yang datang ke rumahnya tadi. Mejra ingat pesan Tata, dia harus ke Tuzla. Tapi, ini sudah sangat malam. Rasanya bertahun-tahun menungu pagi menjelang.

***

Ketika Mejra menatap ke belakang. Menara Masjid Putih tersembul di antara bangunan berdinding batu bata. Dua blok dari masjid itu adalah rumahnya. Srebrenica terletak di sebuah lembah yang dikelilingi indahnya panorama pegunungan. Lebaran tahun lalu Tata mengajaknya ke Tuzla mengunjungi adik bungsu Tata. Membutuhkan satu jam untuk ke sana. Mereka mengendarai Jeep putih kebanggaan Tata.

Majka selalu mengejek mobil Tata, mobil rumah sakit. Mungkin karena warnanya putih. Rumah sakit adalah cinta kedua Tata, menurut Majka. Mejra tak pernah mengerti maksud ucapan tersebut, tapi Tata senantiasa tersenyum menganggapi ucapan istrinya, bahkan terkadang menjawabnya, “Kamu cemburu?” dengan senyum tersimpul.

Keduanya sudah tiada. Mejra benar-benar kebingungan bagaimana mencapai Tuzla.
Sesekali terdengar suara senapan menyalak. Gadis kecil itu mempererat memeluk bonekanya. Tuzla itu berada di arah barat laut, kata Majka, ketika mereka belajar arah mata angin. Hanya itu yang diingat tentang Tuzla, selain sepasang sepupu kembarnya yang lucu.

Mejra memilih berjalan dari satu bangunan ke bangunan selanjutnya. Di jalan utama sangat banyak tentara berlalu-lalang. Mereka bukan tentara Belanda yang kerap memberikan cokelat kepadanya. Wajah mereka sangar dan menakutkan. Beruntung Mejra tidak kepergok saat mengintip di jalan utama. Suara seekor kucing menyelamatkannya saat tak sengaja kakinya menyepak sebuah kaleng minuman.

Ke mana orang-orang di kota? Kenapa rumah-rumah menjadi sepi? Tidak! Mata Mejra melihat sebuah tangan pucat tersembul dari balik kebun mawar. Tangan tanpa badan. Gadis itu mulai berlari. Dia teringat pada tubuh orang tuanya yang bersimbah darah. Sejenak dia menatap bonekanya yang juga sudah tak berlengan.

Suara riuh rendah dan teriakan membuat gadis itu berhenti berlari. Sesuatu sedang terjadi di depannya. Dia bersembunyi di balik pohon-pohon pinus. Kemudian mulai mengintip. Gadis itu langsung terduduk melihat pemandangan di depannya. Sekelompok orang sedang dibariskan oleh tentara. Mereka mulai menembaki mereka satu per satu. Dan, di antara mereka ada Fatma teman bermainnya. Tidak salah lagi itu memang Fatma, kedua adiknya dan orang tuanya. Seorang tentara menyuruh mereka berdiri dengan moncong senjata siap menyalak. Mejra memejamkan mata ketika keluarga sahabatnya dibariskan untuk dieksekusi. Ke mana para tentara Belanda yang sering memberikannya cokelat?

Teriakan takbir membahana dari mulut-mulut yang sekarat. Malaikat maut bersimbah air mata. Mejra kecil terpaku ketakutan. Tak tahu harus berbuat apa. Kecuali pesan Tata yang diingatnya.

Mejra harus segera sampai di Tuzla. Dia bangkit dan mulai berlari lagi. Berharap bisa bertemu orang-orang yang akan pergi ke Tuzla. Pamannya pasti sangat sedih saat mengetahui Tata dan Majka sudah pergi ke sisi Tuhan. Adik bungsu Tata itu pasti tak keberatan untuk menampung dan melindungi Mejra. Mejra akan aman di Tuzla.

Rasa panas menyerang punggungnya. Dan, boneka terlepas dari tangan mungilnya…. (*)

 

 

Catatan:

Tata: Ayah

Majka: Ibu

 

Ida Fitri, lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: