Cerpen Sigit Widiantoro (Republika, 13 September 2015)

Rumah Bidadari ilustrasi Rendra Purnama
Rumah Bidadari ilustrasi Rendra Purnama

Ratri takut, amat takut. Ratri merasa bulu kuduknya berdiri setiap kali dia muncul. Datang tiba-tiba, entah dari mana dan bagaimana caranya, tahu-tahu dia sudah duduk di anak tangga. Diam sesaat, lalu kedua matanya bergerak lincah ke sana ke mari seakan-akan mencari sesuatu. Diam lagi, kemudian tersenyum manis dan menyapa ramah Tara, gadis kecil Ratri.

Bidadari, demikianlah Tara menyebutnya. Persis seperti persahabatan dalam kisah buku-buku komik yang kerap Ratri bacakan, Tara menyebut Bidadari sebagai teman yang menyenangkan. Baik, lembut, sopan, juga ramah. Bidadari tak mudah marah dan Bidadari tidak mudah menampakkan amarah. Kata-kata yang halus diselingi sunggingan senyum keluar dari bibirnya yang merona kemerah-merahan.

Bidadari terbilang masih kanak-kanak. Wajahnya menampakkan usia sekitar lima tahunan, sepantaran dengan Tara. Kulit Bidadari serupa batu pualam, halus. Mata Bidadari indah. Tara menyebut mata Bidadari seolah kerlap-kerlip cahaya lampu yang berpendar. Rambut Bidadari panjang dan hitam, rapi dan tergerai. Tara suka sekali membelai rambut Bidadari saat mereka duduk bersama.

“Bunda, siapa dia, dari tadi memandangku tak berkedip,” bisik Tara kepada Ratri.

“Mana sayang?” Ratri bingung.

“Itu di tangga. Ia tersenyum kepadaku.”

Saat itu, Bidadari muncul untuk pertama kali. Wajahnya cerah dan tubuhnya wangi seperti kembang yang bermekaran di taman. Bidadari mengenakan baju terusan berwarna putih dengan sekuntum bunga yang menyelip di telinga sebelah kanan. Mawar. Entah dari jenis apa sebab kadang terlihat seperti melati. Cantik. Bidadari teramat cantik. Sendirian.
Sore itu, sebelum senja tersingkap oleh malam.

Ratri memutar leher. Bergidik, ngeri. Ratri menatap anak tangga satu demi satu. Napasnya tidak beraturan. Penasaran dan takut melebur jadi satu. Tetapi, tidak ada siapa-siapa. Tak ada makhluk lain yang bisa Ratri tembus dengan matanya. Mata yang sehat, begitu kata dokter mata Adriana yang juga sahabat Ratri, sebulan lalu saat Ratri mengunjungi tempat praktiknya untuk sekadar mengobrol.

“Tidak ada siapa-siapa, sayang,” kata Ratri berusaha meyakinkan.

“Itu, Bunda!” Tara ngotot, jarinya menunjuk tepat di satu anak tangga.

“Benar, sayang. Tak ada siapa-siapa.”

“Itu! Dia minta aku mendekat.”

“Kita ke kamar saja, yuk.”

Apakah Tara berbohong? Rasanya jauh dari itu. Semenjak kecil, Ratri tak pernah biarkan Tara berbohong dan semenjak kecil Ratri tidak pernah biarkan siapa pun memberi ajaran-ajaran bohong kepadanya. Jadi, tidak mungkin hal-ihwal bohong mengendap di benak dan hatinya. Tapi, kenapa Ratri mesti mempunyai prasangka buruk kepada Tara bahwa anaknya itu tengah berbohong?

Tara memang tidak berbohong, namun ia tak henti menunjukkan perilaku ganjil. Mulanya hanya Ratri dan suami, lama-kelamaan seluruh keluarga ikut merasakan. Tara bermasalah, begitu simpul mereka. Entah masalah apa, mereka tak kuasa menjelaskan.

Di kamar, di ruang tamu, di ruang tengah, di dapur, atau di jalanan, Tara bicara, tersenyum, dan tertawa sendiri. Tara tidak peduli tanggapan orang, ibarat tak menghangat mendingin. Padahal, orang nyaris tak nyaman dengan celetukannya.

“Tante Risma, kemarin malam Om Tito tidak rapat di hotel. Om Tito tidak pulang karena Om Tito diajak main sama teman-teman.”

Suara Tara pecah. Tetapi, dia acuh. Mata, tangan, dan wajah hanya tertuju kepada boneka kesayangannya. Ia tidak peduli bila sesudahnya, Risma terkaget-kaget dan buru- buru mengajak Tito, suaminya yang juga terkaget-kaget, untuk pulang. Ratri paham, apa yang akan Risma lakukan di rumah nanti. Memuntahkan kemarahan pada kebiasaan Tito yang tak pernah hilang; main, mabuk, dan pulang pagi.

“Bunda, lihat orang itu. Sebentar lagi ia masuk penjara. Kasihan keluarganya.”

Tara mengarahkan telunjuknya kepada pria setengah baya yang baru keluar dari gedung bertingkat dan hendak masuk ke sebuah mobil yang cukup mewah. Ada yang khas pada diri pria itu. Baju safari, bergaya perlente, pelat mobil berwarna merah, dan sopir pribadi. Ah, segalanya adalah pertanda bahwa ia pria terhormat. Tentu, pejabat pemerintah. Tapi, siapa yang ada di balik ucapan Tara?

Bidadari. Pasti Bidadari! Semua berpangkal pada Bidadari. Pagi, siang, sore, atau malam, Tara tak kuasa lepas dari Bidadari dan Bidadari pun enggan melepasnya. Mereka telanjur memupuk setia. Tara tidak pernah takut karena Bidadari memang tidak pernah menampakkan raut menakutkan.

Tara memiliki keistimewaan? Indera keenam? Anak indigo? Sungguh, Ratri tidak berpikir sejauh itu. Ia malah berpikir bila Bidadari telah mengganggu kehidupan Tara. Anak seumuran Tara semestinya lekat dengan dunia anak yang sarat dengan tawa dan dendang. Betapa hidup akan terasa menakutkan jika setiap jejak langkah anak selalu dibayangi beragam kejadian yang jauh dari nalarnya.

***

“Tara ada dalam genggaman makhluk halus,” simpul Eyang Saripin, lelaki senja yang dibawa suami Ratri, khusus untuk melihat Tara. “Tetapi, jangan khawatir, ia anak kecil. Mudah kok menyuruhnya pergi.”

“Bagaimana caranya agar ia pergi, Eyang?” desak Ratri, tak sabar.

“Sediakan kambing jantan hitam. Mantraku akan mengusirnya.”

Kambing jantan hitam? Mantra? Ah, pasti buat Bidadari. Mungkin Bidadari suka hidangan daging kambing diselingi mantra, semacam perjamuan dengan iringan nyanyian.
Mungkin pula Bidadari akan terbirit-birit dan berlari ketakutan melihat darah, semacam peringatan supaya ia tidak lagi dekat-dekat dengan Tara apabila nasibnya tak ingin seperti kambing jantan hitam itu.

Akan tetapi, semua itu keliru, ternyata keliru. Karena, Bidadari malah mengirim pesan yang jauh dari kemungkinan itu melalui mulut mungil Tara.

“Bunda, Bidadari pergi sebentar. Dia tidak suka dengan bau yang ada di rumah kita. Kalau baunya sudah hilang, ia akan ke sini lagi,” kata Tara.

Rupanya, bau kambing jantan hitam yang tajam membuat Bidadari tidak tahan. Perutnya mual, seperti hendak muntah. Mantra Eyang Saripin juga jauh dari merdu. Suaranya berantakan, tanpa nada, apalagi irama. Tapi, kebencian terhadap bau daging kambing dan mantra Eyang Saripin itu tak membuat Bidadari melepas Tara. Bidadari hanya menghindar, sementara waktu. Nanti, ia akan balik lagi.

Ratri jadi geregetan. Hanya dua hari Tara normal. Sesudahnya, Bidadari kembali berkuasa. Ketika siang, Ratri menelepon suami. Seusai jam kerja, suami Ratri pulang, tidak sendiri. Kali ini, ia pulang bersama seorang laki-laki berpenampilan lembut dan sederhana.
Suami Ratri menyebut laki-laki itu sebagai Ustaz Fendi. Laki-laki itulah yang akan menolong Tara. Kata suami Ratri, Tara akan diruqyah.

“Moga-moga Tara bisa kembali seperti semula,” ujar Ustaz Fendi merendah.

Tak ada kambing jantan berwarna hitam dan tak ada mantra seperti yang keluar dari mulut Eyang Saripin. Ustaz Fendi hanya minta Tara duduk. Ratri dan suami mendampingi.
Mulut Ustaz Fendi lalu komat-kamit di telinga Tara, mengalunkan ayat-ayat suci. Hanya dalam tempo sekejap Tara sudah tidak sadar dan tubuhnya melemas. Tara lalu ditidurkan di atas karpet tebal yang sudah dihamparkan.

Jari jemari Ustaz Fendi menyentuh kening Tara, lembut. Bibir Ustaz Fendi tidak henti melantunkan ayat-ayat. Tiba-tiba, mata Tara menyala. Muncul suara aneh. Teriakan. Jeritan. Entah teriakan siapa, jeritan siapa, Ratri tidak kenal. Itu bukan suara Tara meski itu keluar dari mulut kecilnya. Tara berontak. Ratri dan suami memegangi kuat-kuat. Tapi, itu hanya sesaat. Tubuh Tara melemah seiring dengan mulut Ustaz Fendi yang terus mengentak dengan ayat-ayat yang dibacakan. Tara pingsan. Ratri menjerit. Tapi, Ustaz Fendi tersenyum.

“Bunda….” Suara lirih Tara. Siuman. Ratri mendekapnya, erat.

“Bagaimana kondisi Tara, Ustaz?” tanya Ratri masih terbelit khawatir.

“Tak apa. Tara akan kembali baik,” jawab Ustaz Fendi.

Kata Ustaz Fendi, pujian dan doa darinya tidak dimaksudkan untuk melenyapkan Bidadari. Pujian dan doa-doa itu hanya seperti membuat kabut tebal yang menjadi pembatas antara Tara dan Bidadari. Sapaan, panggilan, dan jamahan Bidadari tak kuasa menyentuh Tara. Dalam kondisi sadar, Tara tak mungkin lagi berhubungan dengan Bidadari. Hubungan keduanya telah terputus.

Ratri senang, Tara kembali berdendang. Celotehnya ringan dan candanya begitu menyenangkan. Tidak lagi ada kata-kata aneh keluar dari bibirnya dan tidak lagi ada gerak ganjil muncul dari tubuhnya. Tara bermain seperti anak-anak bermain, Tara belajar seperti anak-anak belajar, dan Tara tidur seperti anak-anak lain tidur.

***

Pagi itu, fajar merekah kemerahan. Matahari tampak malu menerbitkan wajahnya.

“Dik, semalam aku bermimpi,” kata suami Ratri sambil menyandarkan tubuhnya di bantal dengan mata masih meredup.

“Oh, ya. Mimpi apa, Mas?” tanya Ratri tersenyum.

“Aku mimpi bertemu Bidadari.”

Ratri kaget. Amat kaget. Ha?!

“Ia datang bersama ibunya. Bidadari ingin bertemu Tara, ia rindu.”

“Benar?!”

“Ibunya malah bilang, nanti malam ia akan menemuimu.”

“Astaghfirullah….!” ***

 

 

Taman Pagelaran, 8/2015

 

Catatan:

Ruqyah: metode penyembuhan dengan cara membacakan ayat-ayat suci Alquran pada orang yang sakit akibat terkena sengatan hewan, bisa ular, sihir, dan gangguan jin (makhluk halus).

 

Sigit Widiantoro lahir dan besar di Banjarnegara, Jateng. Lulus dari pascasarjana Ilmu Komunikasi UI. Kini, bekerja di sebuah perusahaan penerbitan di Jakarta. Tulisannya, baik berupa cerpen dan opini, tersebar di beberapa media.

 

Advertisements