Archive for September, 2015

Boneka Tak Berlengan di Srebrenica
September 27, 2015


Cerpen Ida Fitri (Republika, 27 September 2015)

Boneka Tak Berlengan di Srebrenica ilustrasi Rendra Purnama

Boneka Tak Berlengan di Srebrenica ilustrasi Rendra Purnama

Kamu hanya harus berlari, Mejra. Jangan pernah melihat ke belakang. Teruslah berlari! Bumi mengeluarkan cairan merah. Suara teriakan ketakutan, jerit kesakitan dan letusan peluru menjadi satu. Mejra tidak tahu lagi di mana kakinya berpijak. Yang diingatnya, kemarin malam, Tata membawa pulang boneka berambut pirang dan pintar mengedipkan mata.

*** (more…)

Merpati-Merpati Makkah
September 20, 2015


Cerpen Irwan Kelana (Republika, 20 September 2015)

Merpati-Merpati Makkah ilustrasi Daan Yahya

Merpati-Merpati Makkah ilustrasi Daan Yahya

Akhirnya, aku tiba juga di kota yang kurindukan ini. Makkah, kota kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, lokasi Masjid al-Haram berada.

Kemarin pagi aku dan 29 wartawan Indonesia dari berbagai media tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Dari Jeddah, kami naik bus ke Madinah yang berjarak sekitar 450 kilometer selama kurang lebih enam jam. Shalat di Masjid Nabawi dan mengunjungi beberapa tempat di Kota Nabi tersebut. (more…)

Rumah Bidadari
September 13, 2015


Cerpen Sigit Widiantoro (Republika, 13 September 2015)

Rumah Bidadari ilustrasi Rendra Purnama

Rumah Bidadari ilustrasi Rendra Purnama

Ratri takut, amat takut. Ratri merasa bulu kuduknya berdiri setiap kali dia muncul. Datang tiba-tiba, entah dari mana dan bagaimana caranya, tahu-tahu dia sudah duduk di anak tangga. Diam sesaat, lalu kedua matanya bergerak lincah ke sana ke mari seakan-akan mencari sesuatu. Diam lagi, kemudian tersenyum manis dan menyapa ramah Tara, gadis kecil Ratri. (more…)

Menjelang Kematian Dulkarim
September 6, 2015


Cerpen Guntur Alam (Republika, 06 September 2015)

Menjelang Kematian Dulkarim ilustrasi Daan Yahya

Menjelang Kematian Dulkarim ilustrasi Daan Yahya

Sepekan ini, orang-orang di Tanah Abang dikejutkan dengan berita sekaratnya Dulkarim. Laki-laki berumur setengah abad itu memang sudah lama sakit. Namun, tak ada yang tahu persis tentang apa sakitnya. Istri dan anak-anaknya selalu bungkam bila ditanya tetangga perihal penyakit yang diidap Dulkarim. Akan tetapi, orang-orang menduga, musabab sakit misterius Dulkarim ini pasti ada kaitannya dengan kejadian 10 tahun lalu.
Kejadian memalukan sekaligus memilukan. Tak akan ada orang di Tanah Abang yang bisa melupakan peristiwa itu. Sampai tulang-belulang Dulkarim memutih di alam kubur, riwayat luka itu akan terus dikenang. (more…)