Ketika Angin Berhenti Mengalun


Cerpen Irwan Kelana (Republika, 12 Juli 2015)

Ketika Angin Berhenti Mengalun ilustrasi Rendra Purnama.jpeg

Ketika Angin Berhenti Mengalun ilustrasi Rendra Purnama

Lagi-lagi Fadil bikin ulah. Saat pelajaran tahfiz Alquran di kelas, dia berlari ke sana kemari. Bahkan, menabrak temannya yang bernama Santi. Anak itu terjatuh dan lututnya luka.

Keesokan harinya, ayahnya Santi, seorang tentara berpangkat kolonel, datang ke sekolah dan protes keras ke Dita.

Ini adalah tahun kedua Dita mengajar kelas I di SD Bosowa Bina Insani Bogor, salah satu sekolah Islam terkemuka di Bogor, Jawa Barat. Namun, baru pada angkatan yang sekarang dia mendapatkan murid yang sangat sulit diatur seperti Fadil Galbina.

Anak berusia 6,5 tahun itu memang tidak bisa diam. Dia sangat senang mengganggu teman-temannya.

Sebetulnya kalau hanya menangani keadaan tersebut di kelas, tidak masalah bagi Dita. Guru muda lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang pernah enam tahun mondok di sebuah pesantren di Jawa Timur itu memang bertekad mendedikasikan hidupnya sebagai guru.

Ia juga punya alasan mengapa lebih senang memilih untuk mengajar di sebuah sekolah Islam di Bogor daripada menerima tawaran menjadi dosen di sebuah universitas terkemuka di Jakarta.

Namun, hatinya sedih kalau orang tua murid komplain gara-gara diganggu oleh Fadil. Apalagi, orang tua tersebut kemudian marah-marah di sekolah.

Dia bertekad, hari ini akan memanggil Fadil dan menasihatinya. Kalau tidak mempan juga maka terpaksa ia akan minta kepala sekolah agar memanggil orang tuanya.

Namun, ternyata hari ini Fadil tidak hadir di sekolah. Hanya ada sepucuk surat dari dokter yang disampaikan oleh sopir ayahnya. “Fadil sakit tifus. Dia dirawat di RS Islam Bogor,” kata sopir tersebut.

Sore hari, Dita menyempatkan menengok Fadil. Dia dirawat di ruang VVIP. Satu kamar hanya sendiri. Ruang tersebut dilengkapi dengan kulkas, microwave, dan tempat tidur yang cukup lebar untuk penunggu.

Hanya ada seorang perempuan setengah tua yang menunggunya. Bik Aminah namanya.

“Bagaimana kabarnya, Fadil? Semoga cepat sembuh ya,” kata Dita sambil menyalami tangan muridnya, kemudian membelai kepalanya.

“Ya, Bun.”

“Papa dan mamanya ke mana, Bik?” tanya Dita kepada Bik Aminah.

Bik Aminah tampak takut-takut untuk bicara. “Mereka sudah cerai saat Fadil usia dua tahun.”

Fadil dirawat di RSI Bogor. Setiap sore, Dita selalu mampir ke rumah sakit untuk membesuknya.

Entahlah, seperti ada kekuatan yang mendorongnya untuk selalu datang ke sana.
Mata Fadil seperti menyimpan sesuatu. Sebuah luka karena kedua orang tuanya bercerai.

Wanita bernama Dilla Setyowati itu baru menengok Fadil, anaknya, pada hari keempat. Dia mengenakan rok selutut dan blazer. Namun, Fadil mengamuk saat melihat ibunya. Infusannya sampai lepas.

Akhirnya hanya beberapa menit di RS, Dilla langsung pulang. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan saat memandang Dita.

Hari kelima barulah ayah Fadil datang. Faiz namanya. “Terima kasih, Bu Dita. Saya dengar dari Bik Aminah, Bu Dita setiap sore menunggui Fadil. Saya baru datang dari Kanada. Ada urusan bisnis pertambangan di Vancouver,” ujarnya kepada Dita saat mereka mengobrol di kantin rumah sakit.

“Tidak masalah, Pak. Alhamdulillah, keadaan Fadil sudah makin membaik. Semoga dia cepat bisa pulang ke rumah.”

“Fadil bandel di sekolah ya, Bu?”

Dita menggeleng. “Ah tidak, Pak. Bagi saya tidak ada murid yang bandel. Yang ada hanyalah murid yang aktif atau sangat aktif. Dan seorang guru harus siap menghadapi berbagai macam karakter murid.”

“Terima kasih, Bu. Saya menyadari, Fadil memang sangat susah diatur. Mungkin itu akibat saya dan istri saya bercerai empat tahun lalu.”

Dita hanya menyimak. Dia tak berani berkomentar apa-apa.

“Pernikahan saya dengan Dilla bukan atas dasar cinta. Pernikahan kami lebih karena pertimbangan pertemanan dan bisnis orang tua kami. Ayah saya dan ayahnya Dilla sama- sama pengusaha dan mereka berkawan. Mereka ingin mematrikan pertemanan tersebut melalui pernikahan kami.

Tapi, pernikahan tanpa cinta sulit bertahan lama. Apalagi, belakangan saya ketahui ternyata Dilla sudah punya pacar saat menikah dengan saya. Setahun setelah Fadil lahir, rumah tangga kami mulai diwarnai pertengkaran. Sampai akhirnya kami bercerai, dan enam bulan kemudian Dilla menikah lagi dengan mantan pacarnya.

Setelah Fadil sembuh dan masuk sekolah kembali, beberapa kali Faiz mengantar anaknya ke sekolah. Fadil pun sekarang lebih penurut. Hal itu membuat Dita senang.

Beberapa bulan kemudian, Faiz meminta waktu untuk bertemu Dita seusai jam sekolah. Mereka bertemu di Rumah Makan Ampera yang lokasinya di seberang Sekolah Bosowa Bina Insani.

Setelah menikmati makan khas Sunda tersebut, tanpa disangka Faiz menyatakan ketertarikan kepada Dita dan mengajaknya menikah.

Barulah Dita bercerita bahwa ia pun seorang yang tengah putus cinta. Kekasihnya, kakak kelasnya dua tahun saat di ponpes dulu, kuliah di Al-Azhar University, Kairo. Begitu lulus dari sana, ternyata Saiful Bahri diambil mantu oleh Pak Kiai pengasuh pondok pesantren. Ia tidak bisa menolak. Apalagi, Pak Kiai sudah tua, dan gadis tersebut merupakan anak bungsunya. Tinggallah Dita merana sendiri.

“Pak Faiz. Terima kasih atas segala perhatian Bapak. Tapi mohon maaf, saya belum bisa memenuhi harapan Bapak. Kita adalah dua orang yang terluka hati. Cinta dua hati yang luka itu rapuh dan belum tentu mampu bertahan selamanya.”

***

Qiyamullail malam 27 Ramadhan di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) Menteng, Jakarta Pusat, terasa sangat syahdu. Apalagi, shalat Tahajud dan Witir itu dipimpin secara bergantian oleh dua imam dari Madinah, yakni Syekh Essam Al-Mijzaji dan Syekh Abdul Aziz.

Suara Syekh Abdul Aziz yang mendayu-dayu saat membacakan Surah Ar-Rahman membuat Dita tak kuasa menahan air mata. Ya, Ar-Rahman, yang artinya Maha Pengasih, adalah surah favorit Dita. Dan dia punya mimpi dengan Surah Ar-Rahman itu. Mimpi yang tak pernah dia ungkapkan kepada siapa pun.

Jam di pergelangan tangan kiri Dita menunjuk kan pukul 03.00 ketika qiyamullail itu usai. Dita kemudian berdoa cukup lama. Dia mengadukan segala hal dalam hidupnya kepada Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur kehidupan.

Petugas MASK membagikan nasi kotak kepada semua jamaah. Dita kemudian keluar ruangan masjid. Tiba-tiba dia merasakan keheningan yang luar biasa, angin seperti berhenti berdesau, pepohonan seakan diam dalam zikirnya, dan langit terlihat begitu cerah. Hatinya terasa begitu damai. Apakah ini malam Lailatul Qadar? Batinnya.

Dita menatap ke langit seraya berdoa lirih, “Ya Allah, kalau malam ini Engkau turunkan Lailatul Qadar, hamba punya satu permohonan: karuniakanlah kepada hamba jodoh yang saleh. Seorang lelaki yang mampu membimbing hamba untuk selalu taat kepada-Mu.”

Ia kemudian menuju tempat duduk di bawah pohon sosis yang berada di samping kiri masjid. Suasananya terang-benderang.

Baru ia teringat surat yang dititipkan oleh Pak Faiz melalui anaknya, Fadil, pada minggu lalu, saat hari terakhir kegiatan Foundation Program Ramadhan di Sekolah Bosowa Bina Insani. “Bunda, kata papa, baca suratnya nanti setelah Tahajud malam 27 Ramadhan,” ujar Fadil, waktu itu.

Perlahan, ia membuka amplop berwarna putih itu. Di dalamnya ada selembar kertas bertuliskan tangan:

 

“Assalamu ‘alaikum, Bu Dita yang terhormat.

Saya tulis surat ini di malam Ramadhan, seusai shalat Tahajud dan Witir. Dan saya berharap Bu Dita berkenan membacanya pada malam tanggal 27 Ramadhan. Mudah-mudahan malam tersebut adalah Lailatul Qadar, dan Allah SWT mengabulkan doa-doa kita.

Bu Dita yang saya muliakan. Di rumah dan di mobil, Fadil sering kali menceritakan kebaikan-kebaikan Bu Dita. Sampai-sampai saya bertanya, sebenarnya siapa sih yang jatuh cinta kepada Bu Dita: saya atau Fadil?

Melalui surat ini, dan pada malam yang penuh keberkahan, malam 27 Ramadhan, sekali lagi saya ingin menawarkan pernikahan kepada Bu Dita. Alangkah besar harapan saya, Bu Dita mau menjadi permata hati bagi saya dan Fadil.

Namun, saya tidak mungkin lari dari takdir yang sudah ditentukan Allah. Kalau Bu Dita tidak bersedia, saya berdoa semoga Bu Dita segera mendapatkan jodoh seorang lelaki yang saleh, yang selalu mencintai, menyayangi, dan memuliakan Bu Dita karena Allah.

Semoga Allah SWT menciptakan satu lagi wanita salehah yang sebaik dan selembut Bu Dita untuk saya, Fadil dan adik-adiknya kelak.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.,

 

Faiz Muzakki

NB: Oh ya, Bu Dita, sejak enam bulan lalu saya ikut komunitas One Day One Ayat (ODOA) Ustaz Yusuf Mansur. Alhamdulillah, saya sekarang sudah hafal surah ar-Rahman.”

***

Seusai kuliah Subuh, Dita kembali melakukan tadarus hingga pukul 06.30. Kemudian, dia shalat Dhuha delapan rakaat.

Barulah setengah jam kemudian ia melipat mukenanya, kemudian memasukkan mushaf Alquran ke dalam tas.

Ia segera menuju tempat parkir.

Tiba-tiba terdengar suara, “Bunda Dita!”

Fadil berlari menghambur ke arahnya. Seperti seorang anak yang merindukan ibunya, ia segera mencium tangan Dita.

“Kok Fadil ada di sini?” tanya Dita, meski hatinya berdebar-debar. Tidak mungkin Fadil sendirian di sini. Sang ayah pasti ada di sini juga.

“Aku bareng papa. Tuh di mobil,” kata bocah ganteng itu sambil menunjuk sebuah Mercy Seri-S terbaru warna putih bernomor polisi F 41 Z.

Dita menoleh ke arah tersebut. Mobil tersebut parkir persis di samping sepeda motor Honda Scoopy miliknya.

Faiz menatapnya sambil tersenyum.

“Assalamu ‘alaikum, Bu Dita,” kata Faiz.

“Waalaikumsalam, Pak Faiz.” Ada debar aneh, namun begitu damai menyusup dalam dada Dita. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Bunda, kok Fadil telepon Bunda nggak angkat. Fadil telepon Bunda 10 kali dari tadi malam,” Fadil merajuk.

“Oh ya, Fadil. Bunda memang sengaja nggak bawa HP. Bunda mau konsentrasi ibadah.”

Tanpa sengaja Dita menatap ke arah Faiz. Lelaki itu pun tiba-tiba menatapnya.
Pandangan keduanya beradu. Entah siapa yang lebih dulu menundukkan wajahnya. Tiba-tiba Dita merasakan pipinya panas, dan wajahnya pasti memerah.

“Bu Dita sudah baca surat saya?” tanya Faiz.

Kali ini langsung, tanpa basa-basi.

“Sudah, Pak Faiz.”

“Maaf, apakah Ibu berkenan memanggil saya ‘Mas’. Kalau dipanggil ‘Pak’ saya jadi merasa tua.”

“Sudah, Pak, eh maaf, Mas Faiz,” ujar Dita dengan suara bergetar.

“Bagaimanakah jawabannya, Bu Dita?”

Dita tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir tipisnya. Terbayang penderitaan cinta yang harus dilaluinya dalam dua tahun ini. Dan kini ada tawaran untuk melangkah ke masa depan. Tanpa disadarinya, tiba-tiba cairan hangat menggenang di matanya.

“Maaf, Bu Dita. Apakah saya menyinggung perasaan Ibu?” tanya Faiz khawatir.

Dita menggeleng.

“Kalau begitu, apakah saya boleh mendapatkan jawaban Bu Dita sekarang?”

Dita kembali tertunduk. Faiz salah tingkah. Fadil menggenggam tangan Dita sambil menatapnya penuh harap.

“Mas Faiz.”

“Ya, Bu Dita.”

“Panggil saya Dita.”

“Ya, Dita. Lengkapnya Dita Permata Hati.”

“Apakah Mas benar-benar hafal Surah Ar- Rahman?” tanya Dita tiba-tiba.

“Ya, Dita. Insya Allah, saya hafal.”

“Saya mau menikah dengan Mas Faiz dengan satu syarat: Jadikan Surah Ar-Rahman mahar pernikahan kita.” (*)

 

 

Bogor, 2015

Irwan Kelana, wartawan yang juga cerpenis dan novelis. Telah menulis lebih dari 20 buku fiksi dan nonfiksi, antara lain Masa depan, Kelopak Mawar Terakhir, Kemboja Terkulai di Pangkuan, dan Biarkan Cinta Menemukanmu.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: