Magena


Cerpen Ida Fitri (Suara Merdeka, 5 Juli 2015)

Magena ilustrasi Suara Merdeka

BUKIT La Sabira masih berdiri kokoh. Dua belas patung singa masih mengelilingi kolam air mancur. Taman ini masih taman yang sama ketika kau memintaku menunggumu. Katamu kau akan kembali sebelum kebab lumer di mulut. Apa yang terjadi?

Sudah empat ratus kali lebih bumi mengelilingi matahari—aku berdiri di sini—engkau tak kunjung  datang juga. Tak pernah ada mata elang, rambut ikal, dan aroma tubuhmu.

Sesosok wanita berkerudung kuning berdiri di sudut Hausyus Sibb. Matanya mengawasi orang-orang yang datang dan pergi dari taman itu.

***

ALHAMBRA adalah sebuah keajaiban yang dipenuhi simbol-simbol magis,” ujar Mike sambil memandang kagum pintu gerbang di depan sana.

Untuk ketiga kalinya ke tempat ini, tapi sensasi yang dirasakan tetap sama. Indah memesona, menimbulkan ketertarikan yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin hanya Magena, perempuan yang berada di sampingnya, yang mampu menyaingi keindahan istana ini.

Magena adalah keturunan Geronimo, kepala suku Indian dari Chirikahua Apache yang dulu paling keras menentang kulit putih. Dia sangat bangga dengan sejarah sukunya. Banyak kejaiban dan mantra yang diwariskan secara turun-temurun. Seorang kepala suku mempunyai kekuatan magis untuk melindungi rahasia tersebut. Begitu pun dengan Alhambra. Ada banyak keajaiban di sini. Simbol-simbol di dinding bangunan sebelah luar belum mampu diterjemahkan sepenuhnya. Huruf-huruf Arab tertulis tidak seperti biasa. Mereka menyebutnya khat, pahatan yang indah dan detil. Pada senja hari dinding-dinding itu akan bercahaya seperti Magena.

“Ini alasanmu mengajakku menempuh perjalanan lima belas jam lebih? Untuk menghabiskan bulan madu kita bersama selirmu ini?”

Perempuan itu terlihat cemberut. Ohio-Granada memang tidak dekat. Bukankah orang-orang menghabiskan waktu lebih panjang untuk perjalanan bulan madu mereka? Mike Gibbon tidak pernah mengerti kenapa perempuan yang baru dia nikahi itu sangat membenci Spanyol. Atau mungkin Spanyol mempunyai dosa masa lalu terhadap suku Indian. Magena langsung protes ketika Alhambra menjadi salah satu tujuan mereka. Tapi Mike sudah memesan tiket jauh hari sebelumnya, sebagai kejutan kecil pernikahan mereka. Karena menurut Mike, Magena dan Alhambra memiliki banyak kemiripan.

Mike menggengam tangan istrinya sebagai permintaan maaf karena memilih tempat untuk berbulan madu tanpa merundingkan terlebih dahulu. Mike yakin saat melihat Alhambra lebih dekat, istrinya akan berubah pikiran.

Tebakan Mike tidak salah. Saat tiba di Hausyus Sibb, Magena tersenyum sangat indah.

***

DUA belas patung singa saling membelakangi dan membentuk sebuah lingkaran untuk menyangga kolam air mancur. Di depan kaki singa dikelilingi saluran air. Empat saluran kecil lainnya membelah ruangan terbuka dan bertemu di saluran yang mengelilingi kedua belas pasang kaki singa. Sangat simetris. Tiang-tiang bangunan utama membentuk persegi mengelili taman air mancur. Tapi bukan pemandangan eden yang menarik perhatian Magena.

Seorang gadis berkerudung kuning sedang berdiri di bawah pilar bangunan sebelah sana. Gadis itu memperhatikan wajah pengunjung satu per satu.

Menyadari bukan wajah yang dia inginkan, pandangannya beralih ke orang berikutnya. Saat pandangan mereka bertemu, gadis itu tersenyum pada Magena. Magena membalas senyum gadis itu. Tak dihiraukannya suara benda jatuh yang membuat orang-orang berteriak histeris.

Aneh, pikirnya. Dia bukanlah tipe manusia yang mudah akrab dengan orang asing. Mike saja butuh waktu dua tahun untuk mendekatinya. Mulai dari ajakan makan malam yang selalu ditampik, hingga ajakan nonton film keluaran terbaru Hollywood. Jika bukan karena ketertarikan Mike pada tanda-tanda bulu sukunya, sudah barang tentu dia akan tetap mengabaikan lelaki kulit putih itu.

Bagaikan ditarik magnet, Magena berjalan menyeberang ruang terbuka, melewati air mancur singa dan mendekati gadis berkerudung. Dagu gadis itu berbelah indah, hidung mancung, matanya bulat, sepasang alis tebal terukir di atasnya. Kecantikan aristokrat Timur Tengah. Kenapa putri raja minyak ada di sini?

Gadis itu mengisyaratkan Magena untuk mengikutinya. Seperti tersihir, perempuan Indian itu mengikuti di belakang gadis berkerudung. Kini tempat tersebut dipenuhi oleh perempuan berkerudung. Beberapa penjaga terlihat memberikan jalan kepada keduanya.

Di luar sana tidak dijumpai penjaga berseragam aneh saat dia dan suami mengantre tiket. Mungkin hari ini adalah hari kostum.

Mereka melewati sebuah ruangan yang dihiasi huruf-huruf aneh. Kemudian melewati sebuah ruangan lain yang terdapat kolam di tengahnya.

Hausy ar-Raihan, kamar mandi,” ujar gadis berkeudung. Terlihat dua perempuan sedang bermain air. Mereka tetap berjalan kemudian berhenti di sebuah ruangan yang memiliki tempat tidur berseprei sutra keemasan.

“Istirahatlah! Ini kamarku, mungkin kamu capai. Panggil aku Aisha.”

Gadis berkerudung duduk di sisi tempat tidur, Magena mengikutinya. Dia bisa melihat kesedihan mendalam tergambar dari mata Aisha.

“Kulihat kamu sangat sedih. Ada apa gerangan?”

“Aku sudah bersedih selama empat ratus tahun lebih.”

“Maksudmu?”

“Maaf. Aku hanya bercanda.”

Aisha mencoba tersenyum, tapi air mata tak urung menetes di pipinya.

“Ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantumu.”

“Dulu, aku punya suami yang amat kucintai. Syarif namanya. Kami sangat bahagia sebagai pengantin baru. Setelah menghabiskan malam yang tak terlupakan, Syarif pamit hendak menjalin kerja sama dengan sepupu kami yang berada jauh di Moor. Dia berjanji akan segera kembali,” Aisha berhenti sejenak. Air matanya jatuh berderai.

“Setelah Syarif pergi, orang-orang kejam itu datang. Mereka memaksa kami keluar istana. Tapi aku harus menunggu suamiku. Aku tetap bertahan. Semenjak saat itu tubuhku menjadi aneh. Aku tidak pernah haus dan lapar lagi. Aku bisa melihat orang-orang, tapi tidak semua orang melihatku.”

“Tunggu!” Magena memotong pembicaraan Aisha, “Kamu tinggal di sini? Seharusnya tak ada yang boleh tinggal di sini. Siapa kamu yang sebenarnya?”

“Aku Aisha, saudara perempuan Sultan.”

“Ya Tuhan!” Magena mundur beberapa langkah. Rasa ngeri menyelinap dalam hatinya. Ia pernah mendengar dari Mike, Isabel dan Ferdinad dari Kastilia membantai keluarga raja. Tak salah lagi ia sedang berhadapan dengan hantu Alhambra. Korban kekejaman proses Reconquista, penaklukan kembali tanah Iberia dari bangsa Moor.

“Kamu kenapa? Padahal hari ini aku sangat sedih. Aku sedih setiap seseorang meninggalkan orang yang mencintainya.”

Magena tidak ingin mendengar ratapan hati  hantu Aisha lagi. Dia tak mau menjadi korban para hantu. Jangan-jangan pengawal dan gadis berkerudung lainnya juga hantu tempat ini. Magena tak peduli tatapan aneh gadis-gadis berkerudung itu. Secepatnya dia ingin kembali pada Mike. Sesampai di Taman Hausyus Sibb, Magena tak ingin percaya apa yang dia lihat.

Mike sedang menangis sambil memangku tubuh dengan kepala bersimbah darah. Pecahan vas batu berhamburan di dekat mereka. Seketika dia teringat ucapan Aisha.

“Aku sedih setiap seseorang meninggalkan orang yang mencintainya.” (*)

— Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Aceh Timur

6 Responses

  1. 🙂

    Like

  2. Duuuhh.. bikin MELLOW aja deh..

    Like

  3. kece..

    Like

  4. Keren cerpennya!

    Like

  5. Sempurna! Ceritanya mampu membuatku hanyut lalu tersentak di bagian akhirnya..

    Like

  6. Ini websitenya udah ga pernah update lagi ya? Kok yg terkahir pos tgl 5juli 2015?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: