Cerpen Teguh Affandi (Republika, 05 Juli 2015)

Kolak ilustrasi Rendra Purnama
Kolak ilustrasi Rendra Purnama

Seolah, selama setahun disembunyikan dan hanya digelontorkan saat Ramadhan, kolak melimpah ruah sepanjang hari-hari puasa. Meskipun misterius, kurma yang mendadak melimpah di swalayan modern hingga pasar tradisional masih masuk nalar. Meski bermula dari Tanah Persia, nyatanya sebulan menjelang puasa hingga pasca- Lebaran kurma mudah sekali ditemukan. Bersama hadis cara Nabi berbuka, buah pokok Phoenix dactylifera lantas mendunia. Lantas, bagaimana dengan kolak? Tak ada ulama, kiai, ustaz, atau wali menyahihkan bahwa kolak kudapan khusus saat Ramadhan. Tapi, semua seperti sepakat kolak hanya enak dimakan saat buka puasa. 

Pun, di meja makanku. Sejak hari pertama Ramadhan, menu kolak selalu hadir menyapa kehampaan perut setelah seharian menahan lengang lapar dan gersang dahaga.

“Bisa-bisa, Lebaran nanti aku kena diabetes,” sindirku. Indit menuang sambal kacang dan sambal kecap di mangkuk terpisah untuk pelengkap satai ayam dan satai kambing. Senyumnya mengembang rembulan tanggal lima. Tipis, manis, dan meruntuhkan segala jenis pitam.

“Yang praktis,” katanya.

“Gula, Dik, gula!” kucoba melontarkan sanggahan. Aku sebenarnya tidak bosan dengan hidangan kolak Indit. Begitu-begitu saja, tapi tidak enek juga. Namun, jikalau Indit membuka kesempatan masakan lain sebagai hidangan iftar, bisa jadi cintaku pada kolak akan semakin mengental, seperti santan. Cinta yang terlalu saban hari, bisa-bisa luntur tanpa disadari.

“Dijamin kolak-kolak kemarin tidak membuat kadar gula naik,” jawab Indit, tangannya terus fokus pada meja bak lautan makanan.

Nggak bagaimana? Kolak saban sore manis begitu,” tukasku.

“Karena Mas minumnya di dekat orang paling manis sedunia, jadi semuanya terasa manis,” nada bicara Indit genit.

Meski berulang kali kusindir, Indit masih saja menyajikan semangkuk kolak berisikan ubi jalar, kolang-kaling, pisang, dan sesekali ditambah labu kuning. Dalam benakku, pernah berprasangka jangan-jangan Indit baru bisa memasak minuman iftar kolak saja. Menurutku itu wajar. Karena, Indit bukan tipe wanita dapur semenjak muda. Baru, saat kuboyong ke Perumahan Casa Grande, Indit mau tidak mau belajar bercumbu dengan perkakas dapur dan bumbu.

Maka, bila Indit hanya mampu menyajikan semangkuk kolak sebagai hidangan pembatal puasa, menurutku, itu suatu kewajaran. Namun, nyatanya tidak. Beberapa hari setelah kusindir Indit membuat es kelapa muda dengan sirup coco pandan. Merah menggoda. Dua gelas besar dihidangkan. Sejenak kemudian, Indit kembali keluar dengan menu pembuka puasa andalan semangkuk kolak.

“Kolak lagi? Ini sudah bikin kelapa muda.”

“Tetap harus ada kolak di meja, Mas.”

“Siapa yang mau makan?”

“Ya, dimakan saja, toh kolaknya tidak buruk-buruk amat.”

Segelas es kelapa muda memang habis, lantas dilanjut meraih semangkuk kolak yang begitu ajaib ludes masuk perutku yang kosong. Benar bila dikata orang berpuasa bisa jadi monster saat berbuka.

“Kamu mahir sekali membuatnya,” sendawaku menguasai luasan meja makan. Indit menyeringai.

“Bukan. Indit tidak membuatnya. Itu Indit beli di Bu Rasdi,” Indit membereskan mangkuk piring yang kehabisan penghuni.

“Kalau beli, mengapa selalu kolak?”

“Bukan hanya beli, tapi memberi rezeki.”

Aku menelengkan kepala ke kiri menatap wajahnya yang seolah selalu lembab oleh kesejukan.

“Mas, kalau pulang kantor, sesekali perhatikan di muka perumahan kita,” Indit berhenti sejenak.

Membawa tumpukan perabot kotor ke dapur. Pikiranku mencoba mencungkil-cungkil ingatan saat melewati muka perumahan. Gerbang bertuliskan “Perumahan Casa Grande” tercetak besar di atas tembok cat kuning pastel.

Lalu, patung seekor kuda sembrani yang dari sayap-sayapnya menyemburkan air mancur. Tidak ada hal istimewa sekuat aku memanggil semua memori.

“Di ujung sana, saban sore ada janda tua, Bu Rasdi berjualan kolak.”

“Memang, tidak ada yang membeli?” Indit menggeleng.

“Seharusnya, rezeki kolak di Ramadhan semanis kuahnya,” Indit mendesah.

“Padahal, rasa kolaknya tidak buruk-buruk amat. Santannya tidak encer, gulanya bukan gula biang. Isinya juga lumayan. Mengapa tidak laku terjual?” Indit lagi-lagi menggeleng tidak mengerti.

Dalam hati aku berjanji, esok saat pulang kantor saat memasuki gerbang Casa Grande akan kupelankan mobil dan memperhatikan kios kolak Bu Rasdi yang dimaksud Indit. Sekadar ingin membenarkan aneka prasangka yang serta-merta merimbun di kepala.

***

Kira-kira, 100 langkah, aku menyaksikan sebuah kios kecil diterpa angin dan sengat matahari. Bukan kios. Hanya sebuah meja kecil dan dua buah periuk ukuran besar terjejer yang bisa kupastikan berisi kolak. Bu Rasdi dengan bocah berusia lima atau enam tahun membebek ke mana saja dia bergerak. Wajan cukup besar di atas kompor minyak ditutupi kardus menghalau angin yang mengoyak kobar api. Dengan tangan, Bu Rasdi mengambil adonan gorengan lalu mencemplungkan ke dalam minyak panas. Ternyata, selain menjual kolak, Bu Rasdi menjajakan gorengan hangat.

“Pantas tidak laku,” simpulku menyaksikan. Bagaimana orang-orang khususnya penghuni Perumahan Casa Grande yang kebanyakan pengusaha dan anggota dewan, berniat membeli makanan yang disajikan sembarangan. Gorengan dibiarkan terjamah debu tanpa serbet atau koran penutup. Kolak-kolak disontak begitu saja di dalam jumbo besar. Dan tangannya. Duh, ini persoalan utama. Tangannya entah telah mendarat di mana saja, begitu saja mengambil adonan gorengan, memasukkan dalam minyak mendidih, membalik, dan tanpa dicuci bersih lantas mengambil beberapa sendok kolak untuk dibungkus plastik.

Dengan dagangan ala kadarnya demikian, Bu Rasdi seharusnya berjualan di pinggir jalan raya atau kompleks perumahan kampung. Atau, sebaliknya, bila tetap ingin menjajakan penganan di perumahan seelite Perumahan Casa Grande seyogianya memakai cara yang lebih bersih dan higienis. Agar menarik minat penghuni Casa Grande.

Diam-diam, aku mulai membayangkan hal-hal kotor dari kolak Bu Rasdi yang saban buka disajikan Indit. Sudah aku akan berhenti makan kolak. Tapi, aku tetap bangga kepada Indit yang membeli tidak hanya untuk urusan perut sendiri. Indit juga memikirkan Bu Rasdi.

Seeorang wanita yang kuketahui bernama Bu Karin, sekretaris perusahan negara mendekati kios Bu Rasdi dengan masih mengenakan blazer kantor. Bu Karin memiliki jiwa sosial serupa Indit. Bu Karin pasti merasa tak enak menyaksikan kolak Bu Rasdi tidak laku. Rasa iba mengalahkan nafsu ingin makan.

Beberapa menit kemudian, mendekati pukul setengah lima petang, banyak ibu mendekati kios Bu Rasdi. Beberapa sudah membawa mangkuk atau rantang masing-masing. Saat mendekat, tangan para ibu yang dilingkari gelang emas dan cincin mahal, memilih-milih sendiri gorengan yang hendak dijadikan menu iftar. Aku tersenyum.

Ternyata, di perumahan elite sekalipun jiwa tolong menolong masih tumbuh. Membeli gorengan dan kolak yang sudah pasti terlihat tidak higienis dan murahan demi memberi rezeki orang lebih susah.

Juga bersyukur, Bu Rasdi bisa menjual dagangan dan membawa uang untuk kebutuhan Ramadhan.

“Tidak apa-apa Indit, kalau setiap hari kamu membeli kolak. Demi membuat janda tua itu punya rezeki. Apalagi, kalau semua ibu-ibu di Casa Grande membeli kolak itu dan kamu tidak, bisa jadi omongan. Toh tidak saban hari,” gumamku seolah sedang berhadapan dengan Indit yang tersenyum renyah setiap kali kukeluhkan soal kolak.

***

Seperti biasa, di salah satu akhir pekan, penghuni Casa Grande mengadakan buka bersama. Kebetulan, Bu Karin tahun ini mendapatkan jatah sebagai tuan rumah. Dari semua penghuni, yang aktif dalam perkumpulan dan kemungkinan besar akan datang hanyalah tak lebih dari 15 rumah. Maklum, semua orang sibuk. Aku dan Indit mengkhususkan datang karena Pak Dirman suami Bu Karin adalah atasanku.

Di halaman Bu Karin, mobil mengilat berjajar rapi, memanjang hingga tepi jalanan Casa Grande. Aku gegas bergabung dengan para bapak yang asyik berbincang. Sesekali, tawa menguat di tengah pembicaraan. Indit langsung ke dalam untuk urusan perempuan.

Pak Dirman, pejabat eselon 3 mendominasi pembicaraan. Yang lain, takzim menyimak sesekali menambahi.  Topik hangat, lebih-lebih di bulan puasa adalah melonjaknya harga bahan pangan.

Sebenarnya, penghuni Casa Grande tidak pernah memedulikan walau harga sembako melonjak terlampau tinggi.

Menu meja makan tetap sama. Namun, sesekali orang-orang Casa Grande butuh membicarakan kondisi sosial agar saat ditodong wartawan atau dijadikan narasumber seminar tidak gagap. Dari persoalan harga komoditas yang merangkak di bulan puasa, pembicaraan meloncat ke kasus-kasus pemalsuan bahan makan.

Pada saat itulah, Bu Rasdi masuk pagar rumah dan membawa rantang dan periuk besar.  Kuyakin, itu berisi kolak pesanan Bu Karin. Apa tidak ada pembuat kolak lain yang lebih bersih dan higienis? Kita tidak tahu dengan bagaimana dia memasak kolak di rumah. Kita juga alpa mengetahui kebagusan bahan dan kebersihan saat mencuci.

Pak Dirman menyambung, “Oya, kita akan buka dengan kolak. Kolak kali ini, kolak paling enak seantero Casa Grande. Saya sendiri, sudah cocok dengan rasa kolak ini.”

Senyum Pak Dirman merekah segar, liurnya membasahi bibir. Sedang, di ujung lidahku, kalimat beranak mendadak lenyap. Kalimat yang sejadinya akan menceritakan bagaimana joroknya Bu Rasdi menyimpan kolak, dirubung lalat, dan periuk-periuk yang menyisakan kotoran mengerak hitam susah dibersihkan.

“Ya, ya! Mari nanti dicoba,” jawab yang lain hampir serempak. Kuiyakan.

Seperti kehadiran kurma yang ajaib, kolak Bu Rasdi memiliki kekuatan magis sebagai hidangan iftar. Kuharus gegas mengganti pendapatku untuk menghormati posisi Pak Dirman. Perkataan memang mudah dipermanis dan dibelokkan sesuai kebutuhan. (*)

Ramadhan, 2015

Teguh Affandi, menulis cerpen, esai, dan ulasan buku yang sudah dimuat di media lokal dan nasional. Memenangkan beberapa perlombaan menulis. Dapat dihubungi di @afanditeguh.

Advertisements