Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 28 Juni 2015)

Ziarah Tanpa Makam ilustrasi Da'an Yahya
Ziarah Tanpa Makam ilustrasi Da’an Yahya

Tidak semua peristiwa membutuhkan tapak tilas bahkan sebuah kesedihan. Setiap waktu, peristiwa begitu saja terjadi, lantas tidak meninggalkan apa pun selain kesan kehilangan; sebuah perayaan kekalahan yang terus tertunda. Tarno selalu berpikir bahwa kematian adalah cara baik untuk pulang. Dan, kematian juga tidak membutuhkan waktu yang tepat saat datang. Kematian bisa kapan saja bekunjung, maka manusia tidak dapat menyiapkan segala hiporia kepiluan tersebut. Begitu juga dengan sebuah liang kesedihan tempat mengubur segala duka. 

Setelah kepergian kekeknya tiga puluh tahun lalu, Tarno merasa, setiap kematian tidak harus terkubur secara nyata. Dunia hanya sebuah stasiun kecil tempat bersinggahnya ribuan kendaraan yang mengarak kemurungan. Memang, ia terakhir melihat pria paruh baya itu ketika berumur sepuluh. Pria renta yang acap menceritakannya dongeng sebelum tidur, menghilang setelah sebuah truk berwarna hijau berhenti di rumahnya. Segerombol pria dengan sepatu tebal, berpakain loreng dengan aksen suara yang keras menerjang masuk ke dalam rumah dan meringkus kakeknya yang sedang tertidur di sampingnya.

Jiwanya yang masih kecil dan lembut tidak mengerti dengan seluruh kejadian itu. Ia hanya menangis. Bahkan, hatinya yang lunak dan murni seperti diinjak-injak menjadi bopeng, melihat ibunya yang sudah lama menjanda diseret dengan keji. Ditelajangi di depannya. Tarno melihat ibunya yang merintih. Meminta ampun. Tarno hanya mengembik ketakutan di tepi ranjang, saat ibunya diperkosa. Waktu itulah, ia merasakan sesuatu dari dirinya sudah mati. Dan ia tidak lagi membutuhkan kuburan.

Kesedihan sudah menjadi teman baik di dalam hidupnya. Kesedihan bukanlah barang asing lagi. Akan tetapi, telah menjelma menjadi seorang kawan lama yang bisa kapan saja datang; mengetuk pintu rumahnya; berbicara panjang lebar seraya melemparkan lelucon tentang hidup yang sebenarnya sudah sangat menyedihkan; kehidupan yang seharusnya jadi bahan tertawaan. Kesedihan adalah candu yang harus ia sesap berulang kali.

Tubuh Tarno kembali bergidik mengingat peristiwa itu; segala kehilangan yang datang silih berganti di dalam hidupnya. Sebuah kehilangan yang mungkin tidak harus ia ratapi lagi. Sama halnya saat ia melepas kakeknya yang hingga kini tak tahu rimbanya. Ia kembali mengerling ke arah laut yang membentang luas dengan selapis garis biru membujur horizontal, menjadi pembatas antara langit serta bumi.

Ia memandang ke sebuah tempat yang ia sendiri tidak tahu ujung dari pandangan itu. Tetapi, di sanalah—di tempat paling ujung—tempat di mana sebuah kapal karam menyeret ibunya yang akan pergi bekerja menjadi TKI ke dalam liang kematian, yang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu.

Siang itu, seperti yang acap ia lakukan beberapa tahun terakhir sebelum bulan Ramdhan tiba, Tarno selalu berziarah ke sebuah tempat tanpa makam. Ia cukup mengirimkan bunga-bunga lewat debur ombak yang tidak henti menghempas, serta doa- doa pada angin yang terus berdesir. Matahari yang merajah kulitnya tak menjadi penghalang. Ia khusyuk bermenung di tepi pantai.

“Terlalu banyak kesedihan di dunia ini!” Katanya entah kepada siapa setelah berdoa. “Maka setiap kematian tidak lagi membutuhkan kuburan.”

Ia mencoba memejamkan mata, menikmati angin laut yang menerpanya. Tubuhnya bergetar; melayang-layang bagai selembar kertas tanpa beban; bagai sebuah kehidupan tanpa takdir. Tarno membelikkan matanya, kemudian sekali lagi menggagapi cakrawala yang membentang biru di hadapan. Lantas ia menengadahkan, kembali mengirim doa kepada setiap hal yang membuat hatinya merana.

Sekali lagi ia mengulang sepatah kata dengan penuh tekanan. “Tidak setiap kesedihan membutuhkan tempat yang layak untuk dikuburkan!”

Tarno berpikir: Tidak setiap hal di dunia ini membutuhkan tempat untuk dikubur. Kesedihan tidak melulu menuntut untuk diberi tempat yang layak. Kesedihan hanya membutuhkan perasaan ikhlas untuk mulai menerima segalanya tanpa keluh. Ia tidak juga ingin mencari jasad kakek, atau ibunya yang telah tenggelam entah ke mana. Karena mereka mungkin sudah terkubur secara layak walau hanya dalam kenangan…

***

Dalam hidup Tarno, terbentang sebuah kuburan tanpa nisan. Tempat pemakaman tanpa wujud yang nyata. Tidak hanya tempat-tempat penuh kenangan yang selalu ia ziarahi. Bahkan, pada benda-benda pun ia merasa ada yang tertinggal di dalamnya. Sebuah kehidupan lain yang penuh dengan: kata, sentuhan, dan getar mistis yang membuat hatinya luluh. Hilang. Maka tidak aneh, ia bisa merawat benda-benda atau perabotan-perabotan antik di dalam rumahnya, jauh lebih baik daripada ia merawat dirinya sendiri.

Tidak jarang, karena begitu pandai ia merawat setiap benda-benda kuno dalam hidupnya, banyak kolektor atau museum yang ingin membeli barang-barang peninggalan keluarganya dengan harga yang tak masuk akal. Bahkan, pernah, ada seorang pria tua yang cukup sinting menawar jam dinding di rumahnya dengan harga: seratus juta. Pria tua itu jatuh cinta dengan jam dinding tua tersebut.

Namun, Tarno tidak pernah mau menjual benda-benda tersebut. Ia tidak dapat digoyahkan dengan uang. Bagi Tarno: kenangan bukan untuk diperjualbelikan. Kenangan hanya untuk dinikmati. Kenangan adalah jembatan menuju suatu tempat yang telah hilang; di sana ia dapat menemukan segalanya. Dan hanya pada kenanganlah terdapat sebuah makam, tempat ia mengubur orang-orang tercinta.

“Tidak ada satu benda di dalam rumah ini yang akan saya jual, Tuan!” Katanya menolak pria tua yang masih kukuh merayu; demi mendapatkan jam dinding tua tersebut. “Uang Anda tidak dapat membeli semua kenangan di tempat ini!”

“Tetapi, Anda bisa menggunakan uang ini untuk membeli jam dinding yang baru.”

“Saya rasa tidak,” bantah Tarno mengulang. “Tidak ada yang bisa menggantikan sebuah ingatan. Peristiwa baru bisa saja terjadi setiap menitnya. Tetapi, kenangan tetap hanya satu yang utuh.”

Pria paruh baya itu terus mencoba. Akan tetapi, Tarno tetap tidak mau melepaskan jam dinding tua di rumahnya. Terlalu banyak peristiwa dan kenangan yang disimpan oleh jam dinding tersebut. Selain sering membangunkannya dahulu setiap pagi, sore, atau malam, jam dinding itu selalu mengingatkanya pada Ibu. Detak jarum jam itu acap membangkitkan perasaan lembut ibunya, atau getar suaranya ketika menyuruhnya bangun untuk: makan, sekolah, dan shalat. Ia tidak dapat menjual semua itu.

Pria tua itu tampak sangat kecewa, menyadari bahwa ia tidak dapat membeli benda-benda tersebut. Ia pergi dengan kepala tertunduk ke tanah, dan melangkah gontai sepanjang jalan. Tarno terseyum, dan merasa sangat bangga karena dapat mempertahankan semua benda peninggalan tersebut.

“Semoga dengan terus menjaga benda-benda ini, kalian dapat terus bahagia,” desisnya penuh kelembutan. “Hanya pada benda-benda inilah aku dapat mengingat kalian.  Sekaligus berziarah pada sebuah kepergian yang tak meninggalkan tilas.”

Tarno tabah merawat setiap bagian dari rumah itu. Ia tidak ingin merusak segala ingatan serta kenangan akan orang-orang yang dikasihinya yang telah terkubur lama tanpa tapak tilas atau nisan pada setiap perabotan tua, yang membeku di sudut-sudut rumahnya.

***

Malam masih terjaga. Tarno termenung di serambi rumahnya yang tidak terlalu luas. Ia duduk menerawang ke arah halaman yang tenggelam oleh pendar kegelapan. Sepotong bulan yang keperakan mendadak hilang. Segumpal awan tebal melintas di langit. Suara- suara makhluk malam menyihirnya. Meremasnya dalam kesunyian yang mistis.

Karena, dua hari lagi Ramdhan datang, rumah-rumah di sekitar terlihat sepi. Banyak tetangga pergi untuk berziarah. Mengirimkan doa-doa pada keluraga. Akan tetapi, beberapa minggu sebelum Ramdhan tiba, Tarno tidak pergi ke mana pun. Ia hanya diam di rumah.

“Siapa yang pernah tahu kapan dimulai dan dihentikannya takdir?”

Bulan kembali menyebul keluar. Dari balik awan mengintip; melemparkan selayang cahaya keperakkan. Halaman yang gelap sedikit terang. Namun, di antara semua lamunan dan pertanyaan yang Tarno lontarkan malam itu, tubuhnya terpancang keluar. Tiba-tiba, di bawah sinar rembulan, ia melihat begitu banyak kuburan di halaman rumahnya. Bahkan, di samping kanan dan kiri tubuhnya, ia melihat makam-makam dengan nama-nama orang tercinta. Ia juga melihat makam kakek dan ibunya di sana. Mereka tertidur dengan tenang;  tanpa ada yang mengganggunya.

Bergetar mulut Tarno ingin mengucapkan doa-doa. Tetapi, bibirnya kelu. Hanya untuk melontarkan keluh pun tidak mampu. Tarno berusaha melepaskan kekang yang membelit tubuhnya. Tidak bisa. Semua hal yang ia lakukan gagal. Matanya hanya memejam; menorehkan sungai kecil kesedihan. Dan sekali lagi, keajaiban terjadi. Semua kekang itu menghilang. Diikuti puluhan kuburan di hadapannya. Tarno hanya terpekur kebingungan ketika sadar kalau ia sedang menangis sembari memeluk sebuah bantal milik ibunya di bawah pohon tua. Yang dahulu sering ia gunakan melamun bersama kakeknya.

Malam itu ia kembali berdoa; memanjatkan seribu harapan pada orang-orang yang telah pergi tanpa meninggalkan tapak tilas. Orang-orang yang hanya menyisakan kenangan. Tanpa sebuah kuburan. (*)

 

 

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembera menulis sastra mahasiswa se-Indoensia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Bukunya yang akan terbit, Kumpulan Cerpen Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpenya telah tersiar di berbagai media.

 

Advertisements