Cerpen Damhuri Muhammad (Jawa Pos, 28 Juni 2015)

Prahara Meja Makan ilustrasi Jawa Pos

SUDAH lama Buyung memendam hasrat hendak melihat mobil sedan. Maklum, kampungnya amat udik. Jalannya nyaris belum pernah dilintasi sedan. Bila ada mobil yang melintas, itu hanya truk rongsok pengangkut kayu bakar yang datang Senin dan Kamis, dengan suara mesin serupa erangan pengidap sesak napas paling parah.

Di masa itu, Buyung hanya tahu sedan dari sinema akhir pekan di layar televisi hitam-putih milik tetangga. Melihat sedan dari kejauhan, bagi Buyung, bagai mengamati malaikat Ridwan dalam wujud benda, dan gairah ingin menghampirinya barangkali seperti gairah Musa yang hendak bertemu Tuhan di bukit Thursina.

Mujurlah bagi Buyung, karena di sebuah petang, sedan mengilat tiba-tiba terparkir di halaman rumahnya. Keluarga kecil saudara perempuan ibunya sedang berlibur. Mereka tinggal di kota provinsi dan pulang kampung dengan mengendarai sedan baru. Buyung mendekatinya, mengendap-endap dengan segenap rasa penasaran.

“Jangan kau pegang. Buyung! Itu mobil mahal. Lecet sedikit bisa tergadai dua musim panen sawah ibumu untuk menggantinya,” bentak suami dari kakak perempuan ibunya. Hardikan yang disertai suara gigi bergemeretuk dan mata membelalak.

Seketika mental Buyung menciut. Gairahnya lumpuh tiba-tiba. Rasa ingin tahunya berubah jadi gemetar dan gigil-lutut yang hanya bisa ia bereskan dengan melarikan diri secepat mungkin. Perlu dicatat. Buyung baru mendekat dengan cara mengendap-endap, belum sungguh-sungguh bersentuhan dengan bodi sedan itu!

Sejak itu Buyung tidak lagi berani mendekat bila sedan itu pulang di waktu lain. Sedapat-dapatnya ia memicingkan mata sebelum menaiki tangga kayu rumahnya. Niat untuk membusungkan dada di hadapan kawan-kawan sembari menceritakan pengalaman menaiki sedan baru—meski dalam keadaan mesin mati—ia kuburkan hidup-hidup.

Setiap kali keluarga saudara perempuan ibunya pulang, Buyung lebih suka tidak berada di rumah. Ia lebih riang saat bergabung dengan teman-teman sesama penggembala kambing, atau kawan-kawan sesama penggila adu ayam.

Dalam kesendirian di tengah padang ilalang, sambil menunggu kambing-kambing piaraannya kenyang, Buyung kerap berimajinasi. Ia membayangkan kambing-kambing itu kelak akan berkembangbiak. Buyung akan menggantinya dengan beberapa ekor sapi muda. Dan, setelah sapi-sapi itu beranak-pinak, akan tibalah saatnya Buyung menggantinya dengan sebuah mobil sedan.

***

Di kampung itu pula Buyung berubah menjadi pribadi yang ganas. Apa pasal? Lagi-lagi keluarga saudara perempuan ibu yang sedang pulang kampung. Rumpun tebu yang saban hari ia siangi, dan kelak setelah besar dan memanjang akan ia tebang. Akan ia jadikan bekal penyangga dahaga bersama teman-teman penggembala kambing. Setelah matang dan siap untuk dipanen, yang tersisa dari tebu itu hanya akar dan tunggul-tunggulnya. Tiga orang anak dari saudara perempuan ibu telah mendahuluinya. Mereka menyantap potongan-potongan tebu sambil berjingkrak-jingkrak dengan segenap kegirangan anak-anak kota yang sedang piknik.

Buyung murka. Bujukan ibu tiba. Masih ada banyak rumpun tebu. Tak usah risaukan tebu-tebu yang sudah ditebang. Buyung memadamkan nyala kemarahan. Tak ada protes. Tak ada keributan. Tapi Buyung, pemilik paling absah dari rumpun tebu yang ditebas begitu saja, tak bisa mengikhlaskan kesewenang-wenangan itu, bahkan hingga ia tumbuh dewasa.

Beberapa hari kemudian ada makan malam bersama. Keluarga saudara perempuan ibu Buyung tampak lahap. Suami dan tiga anaknya yang rakus alang-kepalang—seperti orang yang tidak makan tiga hari—sampai berkeringat saking lezatnya hidangan di meja makan. Lalu, tibalah giliran Buyung menyentuh piring lauk, dan rupanya di situlah rahasia besar kelahapan mereka. Betapa makan malam mereka tidak akan semarak? Lauk utama yang tersuguh di meja adalah daging ayam jago muda kesayangan Buyung. Si Bijo Taji yang berbulan-bulan dirawat Buyung dengan kelembutan dan kasih sayang telah disembelih tanpa sepengetahuan dirinya. Inilah penyembelihan kedua setelah kasus mobil sedan, yang telah merenggut keberanian masa kanak-kanak Buyung.

Selera makan Buyung musnah dalam hitungan detik. Mana mungkin ia tega mengunyah-ngunyah daging ayam jago yang ia belai-belai dan ia mandikan saban pagi. Piring di hadapan Buyung melayang, lalu bersarang tepat di kening salah satu anak saudara perempuan ibunya. Pecah berkeping lima. Beling dan butiran-butiran nasi bergelimang, berserak di meja dan lantai. Prahara tak terbendung.

Melihat anaknya bersimbah luka, suami dari saudara perempuan ibu bangkit hendak membalas serangan Buyung. Sigap Buyung meloncat dan melesat lari menuju dapur. Bukan lantaran takut, melainkan untuk mengambil sebilah kapak pembelah kayu yang tergeletak tak jauh dari tungku. Buyung berbalik secepat kibasan sayap Bijo Taji saat bertarung di gelanggang aduan. Mata kapak menghunjam permukaan meja makan. Ayunan kedua terarah tepat di rusuk kiri suami dari saudara perempuan ibu. Mata kapak menyilang tipis dan merobek kemeja putihnya.

Anak-anak manis yang kekenyangan itu menjerit-jerit ketakutan dan lari terkencing-kencing. Saudara perempuan ibu terpaku diam dengan muka pucat. Ketakutan jenis itulah yang melanda Buyung saat suaminya menghardik dalam peristiwa mobil sedan, berbulan-bulan sebelumnya. Buyung menatap mata mereka satu per satu, dengan kapak yang masih dalam genggaman. Mati kalian semua! Batin Buyung, dalam amarah yang meluap-luap.

“Anak ayam jantan kita masih banyak, Nak. Kau bisa miliki semuanya. Asal kau buang kapak itu jauh-jauh!” bujuk ibu sambil menangis terisak-isak.

“Meski semua ayam jantan di kampung ini disedekahkan padaku, kematian Bijo Taji tetap kematian. Dan kalian adalah pembunuhnya,” balas Buyung dengan sorot mata buas.

Buyung akhirnya berhenti. Amuk-amarah ia gumpal baik-baik. Segera ia enyah dari rumah itu. Mereka beruntung. Kematian Bijo Taji tak berbalas kematian.

***

Sejak prahara meja makan itu Buyung makin gemar menyendiri. Setiap ada keramaian di rumahnya—terutama karena saudara-saudara ibu pulang dari rantau—ia akan mundur teratur. Buyung tak peduli mereka bagi-bagi uang dengan cara salam tempel, atau mereka kenduri bersama sanak-saudara yang lain. Buyung lebih bersukaria dengan kambing-kambing piaraan, dan ayam jago generasi baru, meski tak akan pernah bisa menggantikan posisi almarhum Bijo Taji.

Buyung merasa lebih pantas bersaudara dengan kawanan binatang ketimbang berbasa-basi dengan sanak-saudara yang sedang berkumpul di rumahnya—hanya untuk mengharapkan uang receh. Buyung tak tergiur untuk bergaul apalagi berbaur dengan anak-anak kota dengan segala kemewahan dan keangkuhan yang mereka bawa pulang.

Tapi, orang-orang kampung Buyung ramah menyambut dan melayani mereka. Karib-kerabat Buyung lebih hormat dan gemar membungkuk-bungkuk pada orang kaya ketimbang orang jujur, apalagi kaum yang tak mujur. Di mata mereka, keluarga saudara-saudara ibu Buyung yang berlimpah harta adalah tauladan tentang orang-orang yang berhasil menghela peruntungannya. Keluarga besar Buyung harum namanya, tampak sangat mulia di permukaan, padahal tercela luar biasa di kedalaman. Bergonta-ganti mobil saban tahun, berderma di sana-sini, tapi perangainya membusuk di kaus kaki.

***

Menjelang usia dewasa, Buyung berkesempatan melancong ke ibu kota, Jakarta. Tempat anak-anak dari saudara perempuan ibunya meniti karir. Demi menghormati nasihat ibu, Buyung memaksakan diri mampir dan menginap satu malam saja di rumahnya. Tak banyak waktu untuk berbincang dengan Nyonya Besar, karena ia sibuk berdandan di kamarnya ketimbang bertanya perihal kabar ibu Buyung di kampung. Buyung lebih nyaman berbicara dengan anjing piaraan ketimbang dengan tuan rumah—Nyonya Besar yang selalu menjadi kebanggaan saudara perempuan ibu Buyung.

Beberapa hari kemudian Buyung tiba di kampung. Di sana sudah menunggu saudara perempuan ibu, yang tak lain adalah ibu dari Nyonya Besar di Jakarta itu. Entah kenapa ia pulang bukan di waktu semestinya, dan begitu antusias menunggu Buyung.

Ibu tidak menanyakan oleh-oleh dari Jakarta, tapi ia begitu ingin melihat isi tas punggung Buyung. Setelah teliti memeriksa semua isinya, ibu Buyung menggeleng tiga kali pada saudara perempuannya. Ada apa rupanya? Buyung bertanya. Keduanya diam dan berlalu begitu saja. Tak lama berselang Buyung tahu, ternyata kedatangan saudara perempuan ibu adalah kedatangan sebagai utusan guna memastikan apakah ada barang penting dalam tas punggung Buyung. Dalam perjalanan Buyung dari Jakarta menuju kampung, saudara perempuan ibu telah menerima pesan penting; Ikat pinggang suamiku hilang tolong periksa isi tas Buyung begitu sampai di kampung. Kepulangan Buyung adalah kepulangan sebagai buron yan mungkin lebih berbahaya dari teroris.

Sepatah kata pun ibu Buyung tak memberikan pembelaan. Ia relakan anak laki-lakinya tertuduh maling. Untunglah kapak masa kecil sudah dibuang jauh-jauh. Mungkin karena sudah terlatih untuk menerima keterhinaan, Buyung tidak membuat prahara di hari nahas itu. Ia menggulung amarah dan kembali bergaul dengan binatang-binatang kesayangannya. Namun, tuduhan maling itu tak pernah bisa ia maafkan.

Begitulah rupa-rupa prahara kecil yang telah membinasakan keriangan masa belia Buyung di tanah kelahiran. Kampung yang berhasil membuat ia menjadi pecandu kesepian. Kampung tempat bersemayamnya Bijo Taji yang disembelih atas nama kegembiraan. Kampung yang tak akan pernah menganggap Buyung berguna sebelum ia pulang menghela keberlimpahan. Kampung yang hendak ia lupakan meski kenangan masa kecil itu telah menjadi darah di tubuh lapuknya… (*)

2015

Damhuri Muhammad, alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada.Telah menerbitkan sejumlah buku fiksi dan nonfiksi. Sehari-hari bekerja sebagai editor dan fotografer parowaktu. Ia bermukim di pinggiran Jakarta.

Advertisements