Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 28 Juni 2015)

Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu ilustrasi Nandanggawe.jpg
Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu ilustrasi Nandanggawe/Kompas

Kami dipaksa menganut agama resmi, mencantumkannya di KTP, dan dipaksa menjauhi Tuhan kami— Dewata Sewwae, tentu kami tidak berdaya lantas harus menerimanya dengan dada lapang yang perih. Jumat, pada akhir tahun enam puluhan, pada siang yang hujan, segerombol tentara mendatangi Uwak—tetua yang dipercaya akan menyelamatkan orang Tolotang saat hidup dan setelah mati. Aku bergegas menuju bilik.

“UWAK harus memilih, atau hak sebagai warga negara tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar kendali, Uwak sudah tahu sendiri, bukan, apa yang akan terjadi?”

Aku mendengarnya dari balik bilikku yang hanya disekat dengan pembungkus semen setelah direkatkan pada tiang-tiang bambu dengan ramuan rebusan sagu. Aku anak Uwak satu-satunya—dan aku lebih banyak tinggal di dalam bilik. Percakapan Uwak dengan tamu-tamunya, jika tak boleh kusebutkan selalu—aku menjamin, hampir semuanya kudengarkan.

Cukup, Uwak, cukup! batinku.

Aku tidak ingin ada korban lagi. Dewata Sewwae begitu mencintai kita, sehingga Ia menguji seberapa kuat kita bertahan, Uwak pernah mengatakan itu padaku pada suatu malam, di dalam hutan, saat pelarian kami menjauhi pasukan gerilya yang membakar kampung kami. Di antara pasukan itu, ada kau salah satunya, Upe, lelaki yang berjanji akan menikahiku setelah kemerdekaan berhasil direbut dari tangan penjajah.

Sekalipun pernah kau katakan bahwa setelah tugasmu membela negara selesai, kau akan kembali menemaniku mengabdi pada Dewata, kenyataan yang kudapati sungguh berbeda; kau harus membunuhku dan aku tidak pernah lagi bertanya apakah kau masih mencintaiku atau tidak setelah malam tujuh Agustus 1954. Malam yang tidak akan kulupakan. Tepat setahun ketika pimpinanmu—dan kau, tentu saja, sebagai bagian Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan menyerukan perlawanan terhadap pemerintah. Sungguh, tidak perlu kau jelaskan alasannya; aku tahu kalian ditolak masuk Angkatan Perang Republik Indonesia. Semua itu jelas, kau, dan kawanmu yang lain tak lolos administrasi. Kau sendiri yang bercerita padaku sehari sebelum kau ikut berjuang keluar-masuk hutan. Ada yang perlu kau jelaskan melebihi semuanya, ada yang masih terus mengganggu hingga pada pelarianku menjauhi maut aku masih terus bertanya; bukankah kita saling mencintai, kenapa kau ingin membunuhku tanpa alasan yang dengan mudah bisa kumengerti? Apakah hanya karena Tuhanku dengan Tuhan yang diakui negara kita berbeda?