Cerpen Fina Lanahdiana (Suara Merdeka, 28 Januari 2015)

Mengendalikan Arah Angin ilustrasi Hery

SEGALA yang naik itu kelak akan jatuh sebagaimana pesawat roboh oleh banyak prasangka semisal seekor burung berparuh panjang yang berbahaya, tak lekas mampu mengendalikan arah angin yang ceroboh. Kakek seringkali mengulangi kalimat itu sebagai mantra ajaib burung-burung nakal yang ada di dalam kepalaku.

“Jangan terlalu banyak bergerak, pelankan suaramu ketika berbicara atau jika tidak, burung-burung akan mencuri mimpimu.”

“Kenapa mereka suka sekali mencuri mimpi? Apakah mereka tidak pernah makan dan selalu kelaparan?”

“Karena mereka tidak suka anak nakal.”

“Tapi aku tidak nakal. Setiap hari membantu Ibu merapikan tempat tidur juga mainan-mainanku.”

“Ya, Kakek tahu. Tapi tetap saja kau harus selalu menjaga burung-burung di dalam kepalamu agar tidak membawa lari mimpi-mimpimu yang indah.”

Aku selalu tertarik dengan cerita-cerita Kakek. Setiap hari sepulang sekolah atau sebelum tidur, ia sering membawa cerita baru. Aku seringkali membayangkan kepala Kakek serupa sebuah gedung berisi buku-buku yang mencetak dirinya sendiri sehingga tak seorang pun mengetahui segala nasib yang dibawa tokoh-tokoh cerita ciptaan Kakek.

Aku masih memikirkan perihal burung-burung pencuri mimpi itu. Suatu kali aku benar-benar bertemu dengannya. Burung itu kecil dan berjumlah banyak. Tubuhnya tidak lebih dari segenggam tangan, bahkan berkali lipat lebih kecil. Mungkin hanya sebesar ibu jari. Paruhnya panjang dan pipih. Seperti paruh burung yang sering melayang di atas danau, burung-burung pemangsa ikan. Tapi aneh, ketika aku bercerita kepada Kakek, ia menyuruhku untuk mencuci tangan dan pergi makan. Aku terus saja mengoceh, tapi Kakek tidak peduli.

***

TIBA-TIBA saja kebun belakang rumahku berubah menjadi laut. Benar-benar laut yang warna dasarnya biru, dengan ombak yang menggapai-gapai di antaranya, putih dengan buih-buih yang bergantian menjangkau pasir di bibir pantai. Ada perahu-perahu dari pandangan yang jauh, dijatuhi cahaya matahari sore hingga melahirkan siluet yang menyisakan bayangan. Ada sebuah pulau di ujung sana, pulau yang entah sebab baru kali pertama aku melihatnya. Tentu saja, laut ini ada begitu tiba-tiba.

Seorang laki-laki yang adalah salah seorang dari guruku di sekolah, membawa serta anaknya dan aku menggendongnya tanpa diminta. Kemudian kami berlayar menggunakan sebuah perahu yang tanpa kutahu sejak kapan ia ada dan siapa yang melabuhkannya di tepian pantai.

Perahu itu bukan perahu layar, melainkan perahu mesin yang menggunakan bahan bakar solar. Sekali lagi aku tidak tahu bagaimana perahu itu telah menyiapkan dirinya sendiri dengan cadangan bahan bakar. Tiba-tiba aku teringat Kakek.

Aku ingin mencari Kakek, namun kini perahu kami telah berlayar membelah lautan, membelah warna biru dengan garis-garis putih gelombang. Angin mendorong keras tubuh kami dengan dorongan yang tidak main-main. Rambutku seperti ingin terbang, melepaskan diri dari tempurung kepala.

“Anginnya sangat besar.”

“Kau benar.”

“Kita harus bagaimana?”

“Ikuti saja arusnya. Kita akan berputar agar tidak terlalu melawan arah angin.”

“Baiklah.”

Anak kecil yang kutahu anak dari guruku menjerit ketakutan. Aku hampir saja ingin melemparnya ke arah laut. Tapi tidak, aku tidak sekejam itu. Aku hanya mencoba menghiburnya dengan sebuah cerita.

“Ssst, kita akan berkunjung ke negeri lumba-lumba.”

Tangisannya sedikit berkurang, dan mulai hilang ditelan suara deru mesin perahu, dan ia mulai tertarik dengan ceritaku. Tapi rupanya ia memilih berpindah ke pangkuan ayahnya. Barangkali segala rasa takutnya seketika hilang saat berada di pelukan ayahnya. Pelukan hangat sepasang tangan yang kokoh, seperti karang di lautan.

“Lumba-lumba itu, kau tahu… dulunya adalah sepasang bocah yang sangat suka berenang di laut.”

“Lalu?”

“Karena mereka terlalu asyik berenang dan menghabiskan waktu terlalu banyak, mereka berubah menjadi lumba-lumba. Itulah sebabnya sebagian lumba-lumba pandai berhitung. Karena mereka adalah manusia.”

“Kasihan. Apakah keluarganya mencarinya?”

“Ya. Tapi tidak seorang pun yang menemukan sepasang bocah itu.”

“Lumba-lumba itu pasti rindu keluarganya.”

“Ya. Tapi akhirnya mereka punya keluarga baru. Keluarga lumba-lumba.”

“Apakah semua lumba-lumba berasal dari manusia?”

“Mungkin. Karena mereka bernapas dengan paru-paru.”

“Kenapa?”

“Karena manusia bernapas menggunakan paru-paru sementara ikan bernapas dengan insang.”

Badai sudah berhenti, sementara kami menyaksikan pemandangan yang aneh. Di atas sana, di ruang-ruang udara yang tampak sangat dekat dengan langit namun sesungguhnya sangat jauh, warna-warni balon udara melayang-layang serupa permen yang ditabur secara sembarangan. Indah sekali. Sayang aku tidak membawa ponsel atau kamera saku. Tidak seorang pun dari kami membawanya.

Aku membayangkan sebuah balon mendarat di dekat perahu kami, maksudku melayang tapi tidak bergerak, dan kami akan ikut serta bersamanya, menerobos awan yang terlihat empuk seolah kapas atau harum manis yang dijual di pasar malam, memandang laut yang biru dan jauh, semakin jauh hingga semakin kecil menjadi sekumpulan peta hijau bercampur cokelat bercampur biru. Dan aku ingin tahu seberapa persen bumi telah rusak akibat kecerobohan manusia.

Namun tanpa bisa disangka-sangka, segerombolan burung berparuh panjang terbang serentak dari arah utara dengan gerak menukik seolah hendak menyerang kami. Matanya kecil dan tajam. Aku tidak bisa memperkirakan burung seperti apa mereka, dan apakah aku mengenalnya.

“Ini pastilah burung-burung yang dikirim kakekmu!”

Bagaimana mungkin Kakek berniat mencelakakan aku, cucunya sendiri sementara aku tidak sedang berbuat kesalahan? Dan bagaimana Pak Guru mengetahui cerita burung yang dibuat Kakek, sementara yang kutahu tidak seorang pun pernah Kakek ceritakan dongeng itu melainkan kepadaku? Ya, Kakek pernah mengatakannya, ia bilang dongeng itu khusus ia ceritakan kepadaku. Meskipun aku pernah bertanya kenapa Kakek tidak berniat menjadikannya sebuah buku biar lebih banyak yang mencintai dongeng Kakek, ia menolak karena menjadikan dongeng sebagai sumber kebahagiaan.

“Kakekmu ini sudah tua, dan yang tersisa adalah keinginan agar selalu bahagia. Segala yang bermula dari kegemaran, jika lantas dijadikan pekerjaan, kenikmatannya akan berkurang. Sebab, jika sudah berhubungan dengan orang banyak, batas akan menjadi sesuatu yang mengancam. Banyaknya sesuatu yang harus dipertimbangkan membuat pikiran tidak bebas bergerak.’’

Benarkah seperti itu? Aku tidak tahu. Burung-burung itu mendarat ke perahu kami, ada yang mencoba hinggap ke tubuhku, di pundak, di tangan, di kepala. Aku sangat terganggu.

Upaya yang kami lakukan untuk menghindari burung-burung itu adalah dengan mempercepat laju perahu. Dan aku baru sadar balon-balon udara yang serupa permen itu tidak ada. Apakah burung-burung itu melahirkan dirinya dari balon udara? Jumlah mereka sama banyaknya. Meskipun aku tidak benar-benar menghitungnya. Dan aku menyadari sesuatu, burung-burung itu berjumlah banyak, sedangkan dalam dongeng yang diceritakan Kakek hanya berjumlah satu ekor. Kurasa dugaan Pak Guru meleset.

“Jangan terlalu banyak bergerak!” Pak Guru memberi komando, persis seperti kakek. Aku menurut meskipun tidak tahu untuk apa.

“Harus begitu?”

“Binatang akan menganggapmu sebagai musuh jika mengetahui kau banyak bergerak.” Pernah tahu pernyataan seperti itu. Suatu kali seekor lebah terbang di atas kepalaku. Soil, seorang temanku berkata agar aku tidak banyak bergerak agar lebah itu tidak menyengat tubuhku. Aku menurut. Dan memang benar, lebah itu tidak mendarat di tubuhku dan ia pergi menjauh.

“Bagaimana ini?” kataku dengan suara tersendat sebab dibayangi kepanikan yang tiada habis.

Setelah burung-burung itu sedikit menjauh, perlahan kami membungkuk serendah mungkin untuk pura-pura menghilang agar tidak lagi diganggu sekawanan burung sialan itu.

“Lain kali bilang pada kakekmu untuk bisa menjaga baik-baik burung fiksi dalam cerita yang ia buat.”

Sejujurnya aku masih bingung, tapi untuk menghindari sesuatu yang lebih rumit, aku hanya mengangguk. Burung fiksi? Aku baru mendengarnya. Kegelapan semakin menelan seisi semesta, dan secara ajaib tubuh kami ikut menghilang seperti debu yang tenggelam dalam pusaran angin.

***

“KENAPA Kakek mengirim burung berparuh panjang hingga aku dan Pak Guru dan anaknya sangat terganggu?”

“Burung?”

“Benar. Burung yang lahir dari balon-balon udara.” Kakek hanya tertawa dan menepuk punggungku.

“Kau terlalu banyak membaca buku cerita.”

“Bukankah Kakek yang menceritakan kisah itu kepadaku?”

Lagi-lagi ia hanya menggeleng dengan senyum lebar kemudian berlalu. Meninggalkanku dibayangi lingkaran pertanyaan. Sendirian. (*)

Kendal, 2015

— Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal, Jateng

Advertisements