Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 21 Juni 2015)

Sunat ilustrasi Jawa Pos

PERCAYAKAH Anda? Kalau di kampung halamanku, khitan atau yang lebih kerap kita sebut sunat, tak hanya membuat anak-anak Melayu menjelang akil baliq menangis ketakutan setiap kali mendengarnya, tetapi juga anak-anak Tionghoa. Ya, kendati mereka mungkin tak bakal mengalaminya.

Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana ceritanya, sunat bisa menjadi semacam momok bagi anak-anak Tionghoa. Yang kutahu sejak aku masih kecil, kata itu memang sudah jadi ancaman yang kerap kali terlontar dari mulut orangtua kami.

“Kalau besok kau masih mancing ke kolong belakang sekolahmu itu, kusuruh Mantri Rusdi sunat kau!” tukas ibuku dengan mata melotot saat aku telat pulang sekolah dengan seragam basah kuyup kotor. Mendengar ancaman Ibu yang tampak bersungguh-sungguh, nyaliku—yang kala itu baru duduk di bangku kelas tiga SD—seketika menciut. Kubayangkan Mantri Rusdi menyeringai lebar sambil mengeluarkan gunting tajam dari dalam tas hitam yang selalu dibawanya. Gunting itu digerak-gerakkannya di depan wajahku. Tanpa sadar aku langsung memegangi pinggang celana pendekku erat-erat…

Namun kata teman sekelasku Amir, kakaknya Fuad waktu disunat menggunakan sebilah bambu. Tentu saja aku makin kaget. Bayangkan, betapa sakitnya ujung “burung”-mu diiris dengan bambu tajam!

“Itu kalau nyunatnya dukun kampung, Lie. Kalau yang nyunat mantri, tititmu akan dipotong pakai pisau bedah!” ujar Paman Choi lalu tertawa terkekeh. Aku terbelalak lebar. Bayangan gunting tajam mengerikan di tangan Mantri Rusdi seketika lenyap berganti dengan sebilah pisau lancip berkilat! Kali ini aku hampir menangis. Dan malamnya aku benar-benar bermimpi dikejar-kejar ribuan pisau terbang. Sementara mantri puskesmas berkumis lebat seperti Pak Raden yang sering menjahitkan pakaiannya ke toko jahit ayahku itu mengeluarkan tawa seram di depan pelupuk mataku.

Ah, itu puluhan tahun yang silam. Jauh sebelum aku memutuskan masuk Islam.

***

“LALU apa yang membuat Mas memilih masuk Islam? Karena teman, ulama, atau… Hmm, mendapatkan mimpi?” tanya Faturrahman, wartawan tabloid Suluh Hidayah yang mewawancaraiku untuk rubrik ‘Mualaf’. Aku tersenyum kecil. Lagi-lagi aku harus menghadapi pertanyaan yang tak mudah dijawab itu. Pertanyaan sama yang entah sudah berapa puluh kali diajukan orang kepadaku.

Inilah pertama kalinya aku meladeni wawancara wartawan seputar keislamanku. Sebelumnya, bulan Ramadhan beberapa tahun lalu, seorang temanku yang bekerja di surat kabar lokal juga pernah menelepon, memintaku menuliskan pengalamanku sebagai mualaf.

“Kalian berani bayar berapa?” tanyaku berkelakar waktu itu.

“Maksud Abang?” terdengar suara Dani temanku di seberang.

“Kalau ceritanya biasa-biasa saja, honornya standar. Tapi kalau sampai diusir dari rumah atau dikejar-kejar dengan parang, honornya dua kali lipat,” kataku sambil tertawa geli karena teringat beberapa kisah kesaksian para mualaf yang pernah kubaca.

“Ai, Abang ini! Aku kan tidak meminta Abang menulis cerpen,” gerutu Dani sebelum menutup telepon. Sejak itu, ia tak pernah menghubungiku meminta tulisan lagi.

Fatur tampak menatapku dengan wajah setengah melongo melihatku tertawa sendiri. Sekali lagi, aku merasa kesulitan menjawab pertanyaannya yang terkesan mudah itu. Jika aku menjawab secara teologis, tentu perlu energi berlebih untuk menjelaskannya dan belum tentu dipahami oleh semua pembaca. Namun jika aku menjawab karena teman atau sesosok ulama kharismatik, itu sama saja dengan berbohong. Karena mimpi? Kalau mimpi disunat sih iya! Hahaha!

Ai, percayakah Anda, kalau sampai sekarang—walaupun sudah pernah merasakan bagaimana disunat—aku masih sering bermimpi dikejar-kejar oleh Mantri Rusdi dengan pisau bedah?  Kata ibuku saat aku pulang terakhir kali, Pak Mantri itu sudah sakit-sakitan. Kutaksir usianya kini telah hampir 80. “Anak bungsunya sekarang jadi dokter,” tambah Ibu. Aku kembali menerawang, mengenang masa-masa ketika aku lari ketakutan dan bersembunyi di dapur setiapkali ia datang ke toko ayahku untuk menjahitkan atau memperbaiki pakaian. Padahal sebenarnya Mantri Rusdi orang yang ramah dan murah senyum; tak segalak tampangnya. Ia kerap memberi permen pada adik perempuanku, A Ling. Di saku celananya memang selalu tersedia banyak permen untuk membujuk anak-anak kecil yang takut disuntik. Dan ibu-ibu—Melayu maupun Tionghoa (termasuk ibuku)—lebih mempercayainya daripada para dokter. Setiapkali kami jatuh sakit, ibuku pasti membawa kami ke tempat praktek Mantri Rusdi.

Tapi alangkah panjang jarum suntiknya, Mak! Alat suntik bertabung kaca itu jauh lebih menyeramkan dari film Sundel Bolong yang dibintangi Suzanna. Apakah pisau sunatnya juga berukuran besar? Pikirku waktu itu dengan tubuh gemetaran.

Tentu saja ketika itu aku tidak menyangka kalau suatu hari diriku bakal disunat. Mungkin demikian pula halnya dengan tetanggaku, Chao Men Fui… Meskipun ia pasti takkan sesulit diriku menjawab ketika ditanya orang kenapa masuk Islam. Sebab alasannya jelas dan tak perlu direnungkan: “Aku mau nikah!” katanya dengan sumringah.

***

YA, mendadak aku teringat lagi pada tetangga lamaku itu, ingat cerita menggelikan saat ia disunat. Kejadiannya sekitar empat tahun silam. Tak lama setelah aku kembali ke Jogja usai cuti kuliah dua semester.

Adik A Fui (begitulah sehari-hari kami memanggilnya), A Kiun adalah teman akrabku sejak kecil. Rumah orangtua mereka pun hanya terpisah empat rumah dari rumahku. Usia A Fui dua puluh satu tahun di atasku. Kalau aku tidak salah hitung, umurnya saat itu sudah 47 tahun. Bujang tua. Tapi jika diolok, ia bakal dengan cueknya (atau pura-pura cuek) berkilah dengan mengutip ujar-ujar anglo-saxon: “Hidup itu dimulai pada umur empat puluh, Bung!”

Aku tidak tahu bagaimana ia bertemu dengan gadis Melayu yang kabarnya baru dua tahun tamat SMA itu (sampai sekarang ia tak sempat cerita). Kira-kira tiga minggu sebelum pernikahannya, tiba-tiba saja ia meneleponku dengan nada gembira.

“Lie, bulan depan aku mau lamaran.”

“Ha? Yang benar? Orang mana? Janda ya?”

“Sialan! Kau tahulah seleraku, mana mau aku sama janda! Perawan dong. Baru 20 tahun.”

Kaget juga aku mendengarnya. Gila! Ternyata benar-benar ada gadis yang mau dengan dia. Pakai guna-guna dari dukun sakti mana dia? Pikirku gemas.

“Nah…,” lanjutnya di telepon, “Aku mau tanya sama kau.”

“Soal apa?” aku masih sulit percaya ia akan menikahi gadis sebelia itu.

Cewek yang mau aku lamar ini orang Melayu…,” ia berhenti sesaat, seperti mengambil nafas. “Aku sudah mengucap syahadat. Dan besok lusa aku mau disunat…”

Sekali lagi aku terkejut, tapi kemudian terbahak.

“Hei, hei! Kau jangan tertawa!” ia berteriak di seberang.

“Iya, iya. Apa yang mau kau tanyakan?” aku setengah mati menahan geli.

“Kau kan sudah disunat. Nah, bagaimana rasanya itu? Maksudku setelah obat penghilang sakitnya reda… Apakah sakit kalau kencing?”

Mendengar suaranya yang kini berubah cemas, aku benar-benar tak bisa menahan tawa lagi. Itu tiga minggu sebelum aku mendengar kabar dari A Kiun, kalau sang kakak melabrak dokter yang menyunatinya.

“Lho, memangnya kenapa?” tanyaku heran dalam pembicaraan telepon. Belum apa-apa A Kiun sudah tertawa bergelak. Mau tahu apa yang terjadi? Ternyata, menurut A Fui, setelah disunat—maaf—burungnya sulit bangun! Termasuk di pagi hari yang dingin. Masya Allah!

Benar atau tidak apa yang diceritakan adiknya itu, mungkin hanya Tuhan dan A Fui sendiri yang tahu. Aku tak berani menanyakan hal itu kepadanya setiapkali pulang dan bertemu dengannya. Tampaknya ia juga tak ingin menyinggung-nyinggung lagi apa yang menimpa dirinya itu. Yang jelas, setahun setelah pernikahannya yang sempat bikin heboh para tetangga itu, A Fui bercerai dengan istrinya…. Aah!

***

“SEHABIS bersunat, jangan sampai melangkahi tahi ayam. Kau bisa ketimpa sial!” Atau, “Jangan sesekali melewati bawah jemuran pakaian wanita. Bisa-bisa kau impoten!” Ada lagi yang lebih menggelikan, “Kalau mau cepat sembuh, kau harus tiduri janda.”

Begitulah pantangan yang beredar di kampungku semasa kanak-kanak. Konyol tapi tampaknya cukup dipercayai oleh teman-teman Melayuku seperti Amir, Panjul, Mustafa, dan lain-lainnya. Karena itu, kami pun kerap melemparkan kelakar untuk menakut-nakuti ketika salah satu dari mereka baru habis disunat.

“Hei, kalau jalan lihat-lihat, Jul. Tadi kau baru saja langkahi tahi ayam!” celetuk Mustafa dengan mimik serius. Seketika pucatlah wajah Panjul yang baru seminggu disunat.

“Mana? Mana? Tidak ada tahi ayamnya?”

Kami semua terbahak-bahak melihat bagaimana anak gendut itu kalang-kabut mencari-cari onggokan tahi ayam di seputar halaman sekolah.

“Mungkin A Fui, tetanggamu itu, juga langkahi tahi ayam atau lewati bawah jemuran Lie,” kata istriku tertawa, “Kau dulu tidak tiduri janda kan?”

Aku ikut tertawa membayangkan A Fui yang brewokan dengan sarung kedodoran menginjak tahi ayam di pekarangan rumahnya.

Tetapi lain padang lain belalang, lain orang lain pula kasusnya. Puluhan tahun silam, mendiang kakekku pernah bercerita tentang seorang Tionghoa—anggota perkumpulan Lo Kung Huii—yang bersunat dan selamat dari pembantaian pasca 65. Aku ingat ketika itu Kakek mengisahkannya sambil berbisik-bisik: “Kalian tahu, mendiang bapaknya Haji Amran itu orang Tionghoa. Namanya Chin Hon. Haji Amran itu anak dari istri keduanya. Setelah resmi masuk Islam, ia tinggal di kampung Melayu dan menikah lagi.”

“Pantas Pak Haji itu tampangnya mirip orang kita,” ujar ibuku mengangguk-angguk. “Lalu istri pertama dan anak-anaknya ke mana?”

Kakek menggeleng. “Ada yang bilang pindah ke Palembang. Ada yang bilang ke Medan. Tidak ada yang tahu pasti.”

Aku membayangkan wajah Haji Amran yang salah satu putrinya adalah kakak kelasku. Anak itu cantik dan putih seperti amoy. Tapi wajah Haji Amran, kalau aku mau jujur, seperti Cu Pak Kai!

“Sssstt! Jangan katain orang!” hardik Ayah mendelik mendengar celetukanku. A Ling cekikikan.

“Hm, percaya tidak?” tanya Kakek kemudian dengan mata berbinar-binar, “kalau si Chin Hon itu bersunat setelah mendapatkan petunjuk dari Dewa Kwan Kong dalam mimpinya…”

Kami semua saling pandang lalu melongo. Melihat wajah kami yang tampak bloon, Kakek terkekeh. “Ya, setelah tiga malam berturut-turut Kwan Ti mendatanginya lewat mimpi,” katanya usai menghirup kopi dalam cangkirnya dua teguk.

***

MENURUT kakekku, kejadian itu tak lama selepas peristiwa penampakan golok suci sang dewa perang di langit timur yang menggemparkan seluruh kota kecil kami. Di mana orang-orang kemudian mulai mengaitkannya dengan bencana besar yang akan datang. Apalagi saat itu situasi politik di Jakarta memang mulai panas.

“Kwan Ti menampakkan diri kepadanya dalam mimpi pada suatu malam sepulangnya dari rapat di kantor Lo Kung Hui [1] yang sekarang jadi rumah dinas Koramil itu,” tukas Kakek melanjutkan.

“Potong! Potong ujung kemaluanmu!” perintah sang dewa dengan mata melotot galak dan wajah memerah sangar. Sosok tinggi besar berseragam militer Tiongkok kuno dan memegang sebilah golok bercula dengan tangkai panjang itu persis lukisan di altar ruang tengah rumahnya yang sudah lama tak terurus.

Chin Hon tersentak bangun dari tidurnya dengan pakaian basah kuyup. Dan ketika melewati ruang tengah hendak ke dapur mengambil air minum, sekonyong-konyong ia mencium aroma dupa yang santer dari arah altar peninggalan mendiang ayahnya yang sudah bertahun-tahun tak pernah digubrisnya itu—bahkan sekedar membersihkan dan menyalakan sebatang dupa pada hari-hari besar. Kala itu Chin Hon hanya menggeleng-geleng dan menganggap dirinya masih setengah sadar. Lantaran rasa lelah usai rapat seharian, akhirnya ia pun kembali ke tempat tidur dan terlelap.

Ya, awalnya ia memang mengacuhkan penampakan Kwan Kong dalam mimpinya itu dan menduganya bunga tidur semata. Sebagai lulusan Tiong Hoa Hwee Koanii [2], ia sudah terbiasa berpikir rasional dan menganggap dewa-dewi hanyalah takhyul belaka. Namun keesokan malamnya, mimpi yang sama kembali terulang. Puncaknya pada malam ketiga, Dewa Kwan Kong tampak marah sekali.

“Kalau kau tak mau potong, biar aku yang potong dengan golokku!” bentak pahlawan bangsa Han dalam roman Sam Kokiii [3] itu sambil mengayunkan golok bercula ke arah selangkangannya. Chin Hon menjerit keras dan terguling ke bawah ranjang. Ia mengadu kesakitan saat kepalanya terantuk ke lantai semen. Saat itulah ia mencium bau asap pekat dan langsung terbatuk-batuk.

Bergegas bangkit dari lantai, Chin Hon berlari keluar kamar. Dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat altar tua sang dewa di ruang tengah itu sedang terbakar…

“Ia langsung masuk Fui Kau [4] setelah itu?” tanya Ibu tidak sabaran.

***

“AKU tidak tahu di mana Chin Hon bersunat. Apakah pada dukun Melayu atau seorang mantri,” kata Kakek kemudian, kali ini sambil menyalakan sebatang rokok kretek. “Tapi itu menyelamatkannya. Kalian tahu, tak lama sesudah itu terjadi peristiwa Gestapu…”

Kakek merendahkan suaranya sedemikian rupa, sehingga adikku A Ling yang baru duduk di bangku kelas satu SMP buru-buru merapatkan diri pada Ibu. Asap rokoknya yang putih kebiru-biruan meliuk-liuk tertiup angin yang masuk dari jendela yang separuh terbuka.

Ketika hal itu akhirnya ketahuan oleh para anggota perkumpulan Lo Kung Hui lainnya—lanjut Kakek lagi—Chin Hon menjadi bahan tertawaan. Bahkan sebagian temannya mengecamnya habis-habisan; menuduhnya irasional dan kontra-revolusioner! Sampai kira-kira setengah tahun kemudian…. Kakek menarik nafas ketika hendak meneruskan.

”Apa yang terjadi?” lagi-lagi Ibu tidak sabaran. Kakek tersenyum getir.

“Kalian tahu Ming Suk kan?” tanyanya dengan mata tertuju kepada ayahku. “Seorang putranya juga anggota Lo Kung Hui… Kecuali Chin Hon, semua anggota dibawa, entah ke mana. Rumah mereka dikedor malam-malam. Itu sebulan sebelum sekolahmu diambil alih oleh tentara. Kau ingat? Ai, kau kelas dua waktu itu.”

Aku tidak lagi ingat dengan detail semua yang diceritakan Kakek saat itu. Namun aku mencoba membayangkan rumah Chin Hon yang tak luput dikedor oleh segerombolan orang. Mungkin istrinya yang membukakan pintu, atau barangkali anak tertuanya. Kubayangkan istrinya itu menjerit-jerit ketika orang-orang menyerbu masuk ke dalam rumah dengan beringas. Chin Hon yang mengenakan piyama tidur, pucat pasi dan gemetaran di tepi ranjang saat pintu kamarnya didobrak.

“Ikut kami komunis!”

“A-aku bukan komunis…”

“Kau anggota Lo Kung Hui! Namamu ada dalam daftar!”

“Aku sudah keluaar…”

“Seret dia!!”

“T-tunggu! Tunggu… Aku ini Muslim…”

Dalam kepalaku terdengar umpatan-umpatan rasis yang agaknya tak pantas kuutarakan di sini, mungkin disertai dengan caci maki yang membawa-bawa ‘babi’ dan ‘anjing’. Kubayangkan pula, tak ada seorang pun dari gerombolan itu yang percaya dengan pengakuan Chin Hon yang ketakutan. Istri dan anak-anaknya menangis meraung-raung. Namun salah seorang dari gerombolan itu tiba-tiba membentak: “Buka celananya! Kita periksa!”

***

APAKAH Anda percaya kisah yang dituturkan mendiang kakekku saat aku kelas dua SMA ini?

Ah, sebagaimana halnya cerita burung Chao Men Fui yang sulit bangun sehabis disunat, tentu saja aku tidak tahu sejauh mana kebenarannya. Barangkali setengahnya sudah dibumbui oleh Kakek sendiri atau orang lain yang menyampaikan kisah ini kepadanya. Siapa tahu? Hanya saja, setiapkali mengingat cerita ini, aku selalu terkenang pada Laksamana Muslim, Cheng Ho, yang dipuja oleh orang-orang Tionghoa dengan khitmad di klenteng Sam Po Kong, Semarang…

“Mas?”

“Ya… Oh, maaf,” aku tersadar oleh panggilan Fatur. Hampir saja aku lupa kalau ia masih menunggu jawabanku. (*)

Jogokariyan, Jogjakarta, Mei 2015

Catatan Kaki:

[1] Lo Kung Hui: Perkumpulan buruh Tionghoa yang berafiliasi kepada PKI.

[2] Tiong Hoa Hwee Koan (Asosiasi Tionghoa) adalah sebuah perkumpulan untuk memajukan pembaruan Konfusian dari kebudayaan Tionghoa lokal dengan mengedepankan pendidikan berbahasa Tionghoa modern. Karakter sekolah ini menggunakan bahasa Mandarin dalam pengajarannya, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, tetapi tidak memberikan pelajaran bahasa Belanda. Model mereka adalah sekolah modern di Tiongkok dan Jepang, dengan pengaruh Barat yang kuat dalam mata pelajarannya. Sekolah Tiong Hoa Hwee Koan yang pertama dibuka di Batavia (1901), Pangkalpinang-Bangka (1907), Belinyu-Bangka (1908), Sungailiat-Bangka (1910) dan Toboali-Bangka (1912).

[3] Roman Tiga Kerajaan (The Three Kingdom). Salah satu roman sastra klasik Tiongkok termashyur.

[4] Fui Kau (Mandarin: Hui Ciau): Agama orang Hui. Disebut demikian karena Islam dikenal sebagai agama suku minoritas Hui di Tiongkok. Sampai sekarang sebutan itu masih kerap digunakan oleh orang Tionghoa di Bangka-Belitung.

Advertisements