Cerpen Yetti A. KA (Koran Tempo, 21 Juni 2015)

Harimau di Meja Makan ilustrasi Munzir Fadly

ADA tiga ekor harimau di meja makan. “Langit itu putih,” kata Maina mengamati dunia di luar lewat jendela dan melirik pada harimau-harimau itu. Kemudian ia menyendok nasi dalam basi [1]. Anak-anak sudah duduk mengelilingi meja makan. Maina membagi-bagi nasi itu ke dalam empat buah pinggan batu [2] yang pinggirnya dihiasi pola bunga berwarna merah dan itu benda terbaik yang diambil di lemari penyimpanan perabotan dapur. Ia menambahkan ikan mungkus dan sayur lempipi ke dalam pinggan. Menu paling digemari mereka sekeluarga. “Sejak pagi langit itu putih,” katanya lagi dan kali ini sedikit  bergetar dan kembali ia melirik pada seekor harimau yang sekarang turun ke lantai kayu. Anak-anak diam. Mereka memandangi pinggan tanpa berani mengangkat wajah.

“Sekarang semua makan,” kata Maina memberi perintah. Ia duduk sambil memandangi anak-anaknya satu persatu, “Sebentar lagi kita akan  lihat langit berubah gelap.” Bibir Maina lagi-lagi bergetar. Anak-anak menurut; makan dalam diam. Mirip empat orang boneka yang bekerja dengan sistem mekanik. Pipi mereka keras kayu. Bola mata mereka mirip sepasang batu sungai yang hitam dan licin, bergerak-gerak kikuk. Mereka semua bukan lagi anak-anak yang beberapa jam lalu masih main simbun-simbunan [3] sambil tertawa ceria dan berteriak saat tertangkap di bawah bekas kandang ayam belakang rumah dengan bulu-bulu unggas menempel di rambut.

“Lekas habiskan. Langit segera gelap,” kembali Maina mengingatkan, kembali ia melihat seekor harimau turun ke lantai. Tinggal seekor harimau di atas meja. Duduk dan memandang pada Maina.

Semua menelan nasi lebih gegas. Tak ada yang memalingkan pandangan dari pinggan. Di luar langit memang benar-benar putih dan terang. Hari juga masih siang. Malam masih lama datang. Anak-anak tahu itu. Mereka belum seberapa menghabiskan jam main sebelum waktunya pergi ngaji. Namun mereka diam. Mereka tak berani berkata apa-apa sejak ibu mereka itu menarik tangan dan memaksa keluar dari persembunyian mereka setengah jam lalu.

Maina tidak turut makan. Nasi dalam basi sudah ia habiskan untuk mengisi pinggan anak-anaknya. Lagipula ia merasa tidak lapar. Berhari-hari ini ia tidak pernah berpikir tentang perutnya lagi. Yang ia pikirkan hanya empat orang anaknya. Ia terus memperhatikan anak-anak itu. Paling tua berusia sepuluh tahun, lalu delapan, lalu tujuh, dan paling kecil baru berusia lima tahun. Satu laki-laki, si Sulung, dan tiga lainnya perempuan. Dan sebentar lagi… Ai, Maina mengusap mukanya. Jari-jarinya merasakan tepi matanya yang lembap. Tanda kematian suaminya sudah benar-benar jelas dengan kedatangan tiga ekor harimau di rumah mereka. Dalam hitungan puluhan menit lagi, bapak anak-anak itu  akan ditembak mati Tentara Tengah yang menjemputnya di rumah seminggu lalu dengan tuduhan menyembunyikan tentara gerombolan.

DUA orang tamu, berdiri di pintu. Keduanya mengenakan baju usang dan nyaris mirip gelandangan. Malka kenal mereka berdua: Matasin dan Bashur. Masih saudara. Dua orang yang diketahuinya masuk Tentara Hutan dan memberontak pada pemerintah. Mata Malka waspada melihat sekeliling. Kampung masih sepi. Jendela-jendela dan pintu masih tertutup di pagi yang dingin itu. “Masuk,” kata Malka sedikit gemetar. Ia tahu ada banyak mata-mata yang biasa menyampaikan informasi pada Tentara Tengah. Mata-mata itu tak lain orang kampungnya sendiri dan bahkan masih keluarga—sama halnya dua orang tamu itu yang hitungannya merupakan sepupu dan keponakannya. Jika Malka menolak menerima mereka, mata-mata segera tahu ada Tentara Hutan yang masuk ke kampung ini. Angin bisa tiba-tiba menjelma badai, membuat ribut daun-daun dan dengan cepat menyebarkan kabar yang akan segera sampai pula ke markas Tentara Tengah di Tanjung Kemuning. Di kampung ini, orang-orang telah dipaksa berhadap-hadapan, bermusuhan, dan saling bunuh.

“Kalian bersembunyi saja di kamar belakang,” kata Malka, “Jangan pernah menampakkan diri pada orang-orang kampung. Kita semua bisa celaka.”

MAINA menatap anak sulungnya yang sudah menghabiskan nasi dalam pinggan, “Waktu Tentara Tengah menanyaimu. Apa kau benar-benar tidak mengatakan sesuatu pada mereka? Siapa tahu kau tidak sengaja melakukannya.”

“Tidak,” kata si Sulung, “Sudah kukatakan, aku tidak bersalah.” Si Sulung hampir menangis.

Ia memang berkata jujur. Ia tidak pernah ditanyai oleh tentara-tentara yang sering masuk ke kampung untuk melakukan penggeledahan di rumah orang-orang yang dicurigai berpihak pada gerombolan di hutan. Namun ia ingat, adik bungsunya pernah berbisik tentang tiga orang berseragam tentara yang memberinya gegule [4] dan meminta bercerita tentang siapa saja yang ada di rumahnya. Tentara itu banyak sekali bertanya; tentang siapa saja yang pernah datang, tentang apakah mereka sedang kedatangan tamu—dan ia tahu betul adiknya senang berceloteh panjang lebar. Tubuhnya berkeringat dan hampir mengatakan semua itu pada Maina. Tidak, bisik hatinya. Ia tak ingin adik kecilnya kena marah ibunya. Ia tidak ingin membuat kegemparan di rumah. Ibunya sudah merencanakan semua ini: suasana tertib di meja makan. Seolah-olah ini pesta makan terakhir kali sebelum langit berubah gelap.

“Sudahlah. Lekas habiskan makanan kalian,” perintah Maina lagi pada anak-anaknya yang lain. Ia tidak tahan pada anak sulungnya yang selalu berusaha menunjukkan kalau ia sedikitpun tidak bersalah. Ia hanya mencoba cari tahu apa yang sesungguhnya terjadi sebelum suaminya ditangkap. Siapa sebenarnya yang memberitahu tentara-tentara itu sampai mereka menggeledah rumah dan menangkap suaminya dengan tuduhan sengaja menyembunyikan Tentara Hutan, padahal dua orang tamu itu tak pernah keluar rumah. Selama bertamu, mereka hanya sibuk menjahit pakaian seragam yang nanti akan dibawa ke hutan. Setiap ada orang yang datang ke rumah, mereka berhenti menjahit dan menutup pintu kamar belakang rapat-rapat.

“Ai, ai, langit tak lama lagi akan betul-betul gelap,” terdengar lagi suara Maina. “Segera habiskan sisa nasinya. Setelah itu tidak seorang pun boleh meninggalkan meja makan.”

Anak-anak bukannya makan, malah menangis. Mereka tidak mau diam meski si Sulung sudah membujuk, “Ssshh, ssshh, diamlah, Dik, diamlah. Jangan bikin Ibu tambah susah.”

Maina melihat dua ekor harimau kembali naik ke meja. Mereka duduk berbaris dan menatap ke arah langit.

PUKUL dua, Malka akan ditembak mati seperti tujuh orang yang ditangkap bersamanya.  Mereka semua berasal dari kampung yang berbeda dan dituduh mendukung gerombolan. Malka tidak membantah ketika penyidik itu mengatakan kalau ia telah menyembunyikan Tentara Hutan di rumah dan itu tindakan melawan pemerintah. Dalam hati, Malka meyakini apa yang ia lakukan tidak salah sebab orang-orang itu adalah saudaranya sendiri dan ia sudah terbiasa membuka pintu rumahnya untuk siapa saja sebelum PRRI meletus, sebelum orang-orang kampung mulai saling bermusuhan.

Di dalam kurungan, Malka yang masih mengenakan pakaian sama saat ia dijemput di rumahnya, menekuri lantai, memperhatikan kuku-kuku jarinya yang mulai panjang dan hitam. Seharusnya ia menggunting kuku itu tiga hari lalu. Selain kukunya sendiri, ia biasa menggunting kuku anak-anaknya di beranda rumah mereka. Air mata Malka jatuh mengenai jari jempol kakinya begitu ingat anak-anaknya. Maina mungkin sedang duduk melingkari meja makan bersama anak-anak itu seperti yang ia minta dalam sebuah surat yang ia kirim kemarin pagi. Pada penutup surat itu ia mengatakan: Lepaslah kepergianku dengan  sebuah ketenangan di meja makan. Aku ingin mati sambil membayangkan kalian tetap baik-baik saja seperti biasanya.

Malka sangat berharap surat itu tiba pada waktu yang tepat.

Seorang petugas membuka pintu sel. Malka segera berdiri seakan-akan ia telah menunggu untuk ditembak mati, menyusul teman-temannya. Ia pun dibawa ke sebuah ruangan dan di sana ada tiga orang petugas sudah menunggunya. Di ruangan itu bajunya dilucuti dan diganti dengan sehelai kain putih tipis. Rambutnya juga dicukur. Malka dibawa ke tepi Sungai Ayik Kelam, tidak jauh dari markas Tentara Tengah. Di tepi sungai itu, Malka diperintahkan untuk berdiri di atas sebuah batu besar.

MAINA dan semua anak-anaknya duduk diam dan belum beranjak dari meja makan. Tiga ekor harimau sudah menghilang. Maina tahu ke mana mereka pergi. Harimau-harimau itu kepuyangan [5] mereka yang ngalus [6] ratusan tahun lalu dan mereka akan selalu muncul setiap anak cucunya dalam bahaya atau menghadapi kematian. Kabar apa yang akan sampai nanti? Dada Maina berdebar. Jam di atas pintu dapur menunjuk angka dua. Di luar, Maina melihat langit perlahan gelap. Seolah-olah malam telah tiba. Malam yang akan sangat panjang.

MATA Malka yang terpejam merasakan ujung senjata telah tertuju ke jantung atau kepalanya. Namun, sekian detik menunggu, tetap tak terjadi apa-apa. Tak ada suara letusan, tak ada suara peluru melesat. Lalu terdengar suara tentara ribut-ribut; senjata-senjata mendadak rusak dan tidak bisa digunakan. Mata Malka tetap terpejam saat empat atau lima tentara menghantam kepala, dada, dan kakinya dengan popor senjata laras panjang sambil memaki-maki. Tubuhnya roboh dengan cepat, jatuh ke sungai—dan mereka masih terus menghantamnya. Tepat ketika itu langit tambah gelap, semakin gelap, dan suara harimau muncul di mana-mana; suara-suara yang serupa geram, serupa guruh, serupa kilat api yang menyambar-nyambar. (*)

GP, 2015

Catatan (beberapa kata dan frasa dalam dialek Besemah, Sumatera Selatan):

[1] Basi: sangku nasi.

[2] Pinggan batu: piring keramik.

[3] Simbun-simbunan: petak umpat; sembunyi-sembunyian.

[4] Gegule: permen.

[5] Kepuyangan: leluhur; nenek moyang; orang-orang sakti yang dipercayai sebagai asal mula dari keturunan orang-orang Besemah yang bermigrasi ke daerah Bengkulu bagian selatan. Setiap dusun/kampung biasanya memiliki kepuyangan sendiri-sendiri.

[6] Ngalus: menghilang; pergi dari dunia tanpa proses kematian biasa. Kepuyangan yang sudah ngalus itu sewaktu-waktu muncul kembali dalam kehidupan anak-cucu (keturunannya) dalam wujud-wujud tertentu, misalnya harimau.

Advertisements