Cerpen Karta Kusumah (Koran Tempo, 14 Juni 2015)

Panduan Membunuh Masa Lalu ilustrasi Koran Tempo

“KAWAN-KAWAN, sebentar lagi kawan-kawan akan membaca sebuah panduan yang ditulis Tuan Harlivan tentang bagaimana ia membunuh masa lalu. Saya sudah menyimpannya dan akan saya bagikan kepada kawan-kawan. Namun sebelum panduan itu saya bagikan, perkenankanlah saya memberikan pengantar. Ya, semacam basa-basi seorang resepsionis sebelum menyerahkan kunci kamar kepada pelangggan. Panduan yang ditulis Tuan Harlivan ini bukan panduan yang main-main, bukan panduan seperti yang sering kawan-kawan temukan di halaman-halaman tabloid berisi resep masakan. Bukan, bukan itu. Panduan ini sudah mengalami beberapa kali pengujian. Sudah sah sebagai sebuah panduan yang tidak sembarangan. Percayalah, Tuan Harlivan memerlukan waktu lebih dari tujuh tahun untuk menyusun belasan rencana, mengkajinya satu-satu, memprediksi peluang keberhasilan, dan juga membayangkan resikonya dari yang paling sepele sampai yang paling gawat. 

Ya, benar. Ini panduan yang akan membuat kawan-kawan menganggukkan kepala ketika membacanya, kemudian secara gaib dan tiba-tiba kawan-kawan akan diserang keinginan untuk memindahkan pakaian kawan-kawan dari lemari ke dalam tas jinjing. Tentu tidak semua pakaian kawan-kawan akan bisa dibawa. Jelas itu tidak perlu. Pilih pakaian yang paling kawan-kawan gemari saja atau, sebut saja, pakaian yang bisa membuat kawan-kawan lebih percaya diri ketika memakainya. Mungkin pakaian itu adalah pakaian yang diberikan mantan pacar kawan-kawan sebagai kado ulang tahun hubungan kawan-kawan. Atau bisa jadi pakaian itu adalah pakaian yang pernah kawan-kawan pakai ketika menghadiri sebuah peristiwa penting dalam sejarah hidup kawan-kawan. Bebas. Tak perlu urusi soal pakaian apa yang akan kawan-kawan bawa. Itu tak akan menggiring pengaruh besar terhadap keberhasilan kawan-kawan.”

“KAWAN-KAWAN, yang sudah mengenal Tuan Harlivan sejak lama tentu akan bertanya-tanya mengapa Tuan Harlivan sampai membuat panduan yang semacam ini. Pada tahun-tahun yang jauh ke belakang, Tuan Harlivan memang dikenal sebagai seorang penulis buku-buku panduan untuk remaja yang sedang dilanda asmara ngilu-ngilu kuku dan untuk para pemula dalam urusan apa pun. Seperti yang sudah sama-sama kita tahu, Tuan Harlivan pernah menulis buku berjudul Panduan Menikung Teman: Sebuah Pengantar Berpacaran untuk Siswa SMP Sederajat. Meskipun buku itu tidak sampai dicetak ulang, setidaknya itulah buku yang memperkenalkan nama Tuan Harlivan kepada kita semua. Dan berbekal ketidaksuksesan buku itu, Tuan Harlivan kembali menulis buku panduan. Sebuah buku berjudul Panduan Menulis Cerita Pendek dengan Metode Bimsalabim. 

Beda dengan sebelumnya, buku itu sukses. Cetak ulang buku itu sampai delapan kali. Luar biasa. Menurut survey yang dilakukan penerbit, buku itu paling banyak dibaca oleh mahasiswa, terutama mahasiswa sastra. Khusunya lagi, mahasiswa sastra semester empat yang sedang diberi tugas menulis cerpen sepanjang enam halaman spasi satu dengan ukuran kertas kwarto oleh dosen mereka. Kemudian bertebaranlah buku-buku panduan karangannya yang lain, seperti: Panduan Mencakau Lubang Belut, Panduan Menegakkan Benang Basah, Panduan Memagar Kelapa Condong, Panduan Mengacau Cendol Ketika Hujan Tiba, Panduan Menghembus Nasi Dingin, Panduan Menggunting Dalam Lipatan, dan sebagainya, dan sebagainya, hingga sampai kepada Panduan Membunuh Masa Lalu ini. Ide menuliskan Panduan Membunuh Masa Lalu, menurut penuturan Tuan Harlivan, bermula lima belas menit setelah ia mengalami patah hati oleh perempuan yang sama untuk kesembilan kali. Ketika itu, ia berkata pada botol bir yang ada di genggamannya: ‘Sudah cukup. Cukuplah sembilan kali. Tidak lebih. Sembilan adalah angka yang cantik, angka ajaib. Angka berapa pun yang dikalikan dengan sembilan, jika hasilnya dijumlahkan sampai satu digit, hasil akhirnya adalah sembilan. Sudah cukup. Aku tak akan membiarkan diriku disergap harapan-harapan kurang asem itu lagi. Aku harus bergerak!’

Setelah mengatakan itu, ia beranjak ke meja kerjanya. Ia hadapi monitor komputer dengan gairah yang sama seperti seekor anjing menghadapi babi buruan. Ia berencana akan menulis sebuah sajak cinta. Sebab itulah ia meletakkan botol bir di sebelah kiri, delapan bungkus Surya di sebelah kanan, dan sebilah pisau cutter di laci meja. Ia berpendapat bahwa menulis sajak cinta harus dalam kondisi yang nelangsa senelangsa-nelangsanya. Dan ia meletakkan pisau cutter di dalam laci agar bila sewaktu-waktu ia merasa sajak cinta yang ia tulis tidak seperti yang ada di dalam dada dan kepalanya, ia tinggal menyayat nadi. Tetapi, tutur Tuan Harlivan selanjutnya, tentu tidak semua perkataan orang yang telah patah hati sembilan kali bisa kau percaya. Di luar dugaan, dalam waktu tiga bulan, tulisan yang semula ia maksudkan sebagai sajak justru selesai sebagai sebuah draft buku panduan. Itulah yang di kemudian hari—tepatnya, hari ini—menjadi buku Panduan Membunuh Masa Lalu.”

“KAWAN-KAWAN, Tuan Harlivan berpesan, bacalah buku panduan ini dengan niat yang baik, dengan cara yang baik, dan dalam kondisi perasaan yang baik. Sebab itu, ia meminta kepada kita semua, sebelum membacanya silakan bikin perasaan kawan-kawan seenak mungkin. Buatlah diri kawan-kawan senyaman mungkin. Jika kawan-kawan punya kegemaran mencubit-cubit pantat—yang meskipun menurut Rendra dalam salah satu sajaknya, tidak membuat kita dewasa—, lakukanlah. Kawan-kawan bisa mulai dengan mencubit pantat sendiri. Kawan-kawan tinggal merasakan bagaimana kenyamanan yang ada bertebaran di sekitar kawan-kawan bisa merasuk dan menggumpal ke dalam diri kawan-kawan dan menjadikan setiap helaan dan hembusan nafas kawan-kawan terasa bagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan. Jika kawan-kawan punya kegemaran mendengar desahan perempuan dalam film-film porno, silakan nyalakan komputer kawan-kawan dan putarlah yang paling greget.

Namun ingat, tujuan kawan-kawan semula adalah demi menciptakan diri kawan-kawan senyaman mungkin, bukan demi alasan lain. Ingat, Tuan Harlivan menegaskan untuk membaca buku itu dengan niat yang baik. Jangan sampai setelah kawan-kawan bersusah payah membaca buku itu, karena niat yang tidak lurus, kawan-kawan tidak mendapat manfaat apa-apa. Kawan-kawan juga bisa makan terlebih dahulu. Kebetulan hari masih sore. Masih bisa mencari cemilan yang murah dan mengenyangkan. Tiga ratus meter dari sini, di depan Masjid Hadiqatul Iman yang berada di seberang Jalan Hidayah, ada kedai gorengan. Di sana tersedia banyak macam gorengan yang murah, dan juga, seperti yang sudah saya sebutkan, mengenyangkan. Ada tahu brontak yang tidak pakai tahu, namun hanya campuran tepung terigu dan irisan kentang dan wortel. Ada tahu isi, yang isinya boleh apa saja, tergantung stok bahan si penjual. Ada pisang goreng. Kalau ini murni pisang goreng seperti yang biasa kita kenal. Hanya saja, tidak digoreng dengan banyak tepung, dan terkadang pisang yang jadi bahan adalah pisang yang kelewat masak di batang. Sehingga, kadang-kadang, sulit dibedakan dengan (–sensor dari pengarang). 

Apa pun caranya, silakan lemaskan dulu persendian kawan-kawan dan sekali lagi buat diri kawan-kawan senyaman mungkin. Rasakan bahwa kawan-kawan sedang berada di suatu tempat yang tidak kawan-kawan ketahui dan kawan-kawan boleh kencing sembarangan di sana. Bayangkan betapa menyenangkannya itu!”

“KAWAN-KAWAN, sebentar lagi saya akan membagikan buku panduan ini kepada kawan-kawan, dan kawan-kawan akan membacanya. Tahukah kawan-kawan betapa groginya saya? Saya rasa kawan-kawan juga begitu. Hmm baiklah, sedikit lagi, sebelum saya bagikan, marilah kita sama-sama menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Saya hitung sampai tiga, pada hitungan ketiga silakan kawan-kawan lakukan sesuai instruksi. Tidak banyak, empat kali saja. Satu, dua, tiga…. Hembuskan. Satu, dua, tiga…. Hembuskan. Satu, dua, tiga…. Hembuskan. Satu, dua, tiga… Cukup, cukup, selesai. Sekarang saya bagikan. Inilah Panduan Membunuh Masa Lalu. Selamat membaca!” (*)

(Padang, 2014)

Karta Kusumah tinggal di Padang. Bekerja di Komunitas Seni Nan Tumpah

Advertisements