Cerpen Teguh Affandi (Republika, 07 Juni 2015)

Perumnas, Jalan Waru Nomor 7 ilustrasi Rendra Purnama
Perumnas, Jalan Waru Nomor 7 ilustrasi Rendra Purnama

Perumnas kini telah berubah. Bersolek dengan aneka bangunan bertingkat, rapat, berkaca, dan bercat penuh warna. Wajah Perumnas mirip deretan ruko. Belum lagi aneka perombakan rumah yang menjadikan Perumnas sesak oleh alat berat. Perumnas dulu diisi petak-petak perumahan pegawai negeri. 

Saban sore anak-anak akan bermain di jalanan depan rumah karena kehabisan halaman dan yang paling mencolok pepohonan kiri-kanan jalan merimbuni Perumnas. Keramahan terhampar sepanjang jalan-jalan sempit pembelah Perumnas. Bila dilihat dari jauh, di atas Perumnas capung-capung terpancang tiang. Bukan capung sebenarnya, melainkan antena televisi yang seolah bersaing tinggi sebelum digantikan dengan ratusan wajan menadahi santunan sinyal di genteng tiap rumah.

Aku hampir saja lupa ini rumah siapa, itu rumah siapa. Padahal, aku lahir dan besar di Perumnas dan dahulu hafal betul. Penghuni awal, rekanan Bapak kebanyakan sudah pindah ke perumahan yang lebih bagus nan mewah turut anak-anak. Hanya beberapa yang masih bersikeras menghabiskan masa pensiun di Perumnas yang sudah tidak serupa dengan Perumnas 50 tahun lalu.

Salah satunya adalah Bapak, yang sampai jungkir balik aku paksa pindah ke rumahku di pusat kota, tidak pernah berkenan. Kata Bapak, rumah sederhana dan tua ini saksi bisu perjuangan di awal-awal membangun rumah tangga. Sekaligus menjaga marwah pegawai negeri, yang sederhana dan tidak serakah terhadap harta. Kenangan memang bilangan yang tak habis dideretkan.

Sebulan sekali, seperti kebanyakan anak-anak yang sibuk mengejar karier, aku mengunjungi Bapak di Perumnas. Sesukses apa pun aku di kota, di Perumnaslah darahku tumpah bersama bungah Ibu yang membuncah, tangis pertamaku pecah, dimanja dan disayang sebagai anak tunggal, Bapakku menghabiskan masa tua, bahkan napas terakhir Ibu terembus di Perumnas.

Bapak duduk di kursi roda di petak Perumnas, yang mulai ditelan bangunan berlantai banyak di sekitarnya. Rumah di Jalan Waru nomor 7 yang diapit pohon waru. Rumah paling dekat dengan gapura Perumnas. Jalan-jalan di Perumnas dinamai dengan nama pohon. Jalan Waru, Jalan Meranti, Jalan Sonokeling, Jalan Trembesi, sesuai jenis pohon yang ditanam di tepian jalan.

Suasana rumah lebih sering tampak gelap bahkan ketika siang hari, mulai dijejali aroma apak karena tumpukan barang kuno. Tubuh Bapak semakin mengecil, mengerut oleh keriput. Bapak sudah usia 75 tahun dan mulai melengkung bongkok, kakinya tak kuasa menopang tubuh karena reumatik menahun. Tidak seperti pohon waru di depan rumah. Meski doyong, ia kokoh menopang guncangan angin.

Bapak ditemani Mbak Arini di teras, mencari sinar matahari yang terhalang ruko tiga lantai di seberang rumah. Embak Arini mengipas-ngipaskan lipatan koran untuk mengusir lalat yang mencoba mencemari potongan alpukat masak sarapan Bapak.

“Bapak nggak masuk saja?” Kutawarkan agar dingin angin tak menyerang Bapak.

Bapak menggeleng. Kepala ditekuk ke kanan hampir menjangkau pundak. Aku duduk di sampingnya, mendengar embusan napas yang terasa begitu berat.

“Tiga hari lalu, di sana,” Bapak menudingkan telunjuk ke arah luar pagar rumah, “Dua sepeda motor, empat helm hilang.” Meski tua dan terserang reumatik, Bapak masih punya suara lantang. Sisa-sisa kegarangan masih kurasakan. Termasuk bagaimana Bapak tajam mengkritik.

“Memang tidak ada satpam atau CCTV?” tanyaku heran. Seingatku, di gerbang Perumnas ada satpam yang berjaga hingga tengah malam. Belum lagi portal yang selalu ditutup bila lepas jam malam.

Bapak menggeleng. Selimut biru yang melorot kunaikkan hingga sempurna menutup kaki Bapak.

“Semenjak dibangun ruko-ruko itu, Perumnas jadi ramai dan kurang aman.” Memang hampir semua, apalagi di Jalan Waru ini perumahan dirombak menjadi swalayan, warnet, kafe-kafe tempat nongkrong anak muda.

“Kalau Bapak tidak ada, pasti rumah ini digusur juga.” Aku sendiri sudah berulang kali menolak permintaan kontraktor, pengembang yang hendak membeli rumah lawas Bapak. Selalu kukatakan, “Ini rumah Bapak dan aku tidak punya wewenang memutuskan.”

“Bapak bosan?”

“Siapa yang bosan dengan rumah sendiri! Aku hanya heran mengapa mereka ingin mengubah rumah tua dengan bangunan pertokoan bertingkat.”

“Zamannya sudah begitu, Pak.”

Bapak menanggapi dengan embusan napas berat. Menurutnya, perumahan harus berjarak dengan pertokoan, arena kontestasi uang. Kalau di rumah masih diributkan urusan mencari uang, memenuhi perut yang bisa melebar seluas laut, jelas memenuhi otak dengan uang belaka. Rumah adalah griya—nguri-nguri digdaya [1]—tempat menguatkan jiwa. Di rumah bukan hanya untuk mengisi perut, melainkan juga jiwa. Maka mewah atau sederhana bukan ukuran kesempurnaan sebuah rumah.

“Rumah almarhum Pak Nirwan dijual dan kini jadi minimarket 24 jam. Punya Bu Arcana disulap kedai kopi. Jalan Sonokeling bahkan diratakan dan dibangun sederet perumahan elite,” kata Bapak mengeluh. Dari napasnya kurasakan kegundahan.

“Atau Bapak ingin ikut tinggal bersama cucu?” tanyaku.

Bapak menoleh. Sorot matanya tajam di antara kerutan yang makin kendor dan melebar memenuhi permukaan badan. “Kalau aku mati, aku ingin di rumah ini. Seperti ibumu.”

***

Dekuk burung malam bersahutan dengan knalpot motor yang mengepung telinga. Sudahi makan malam, Bapak mendengarkan ceramah di ruang tengah. Aku memilih menghabiskan malam di teras ditemani kopi dan ubi goreng buatan Mbak Arini. Saat sesapan pertama masuk tenggorokan, motor matic tiba-tiba berhenti di pojokan halaman, tepat di bawah rimbun pohon waru.

Aku yang dihitamkan temaram teras rumah tak bisa terlihat bila tidak dicermati saksama. Mataku menangkap sepasang muda-mudi. Mereka duduk merapat di atas jok motor. Dadaku berdegup menyaksikannya. Saat kutangkap hal tidak masuk di pikiran, sang cowok mulai mendekatkan bibir ke pipi cewek, gegasku mendekat ke pagar rumah. Tak ingin ketenangan Jalan Waru dinodai mereka.

“Kalian ngapain?” tanyaku dengan nada tinggi yang kusengaja bak membentak.

Aku tak melihat wajah mereka, bisa kupastikan mereka kikuk seperti pencuri tertangkap basah.

“Anu, anu Pak…!”

“Jangan kotori Jalan Waru, apalagi halaman rumah Bapakku dengan maksiat kalian.”

“Maaf, Pak!”

Kuhela napas, rasa-rasanya kegerahan Bapak tentang Perumnas yang berubah ada benarnya. Bukan hanya pembangunan dan perombakan Perumnas gencar, rasa malu dan pekiwuh bila berbuat khalwat [2] di tempat umum lenyap pula. Dadaku mulai ditumbuhi hal macam-macam yang tidak baik. Perumnas tanda kesederhanaan pegawai negeri mulai dihancurkan sedikit demi sedikit. Malam belum beranjak malam, tapi kemurungan mulai merayap hingga ke kedalaman perasaan.

***

Kudengar keributan dari halaman luar. Aku baru selesai mandi dan hendak sarapan bersama Bapak. Gegas aku keluar, memastikan apa yang sedang terjadi.

“Saya tidak akan pernah setuju!” kata Bapak tegas. Mbak Arini memegang pegangan kursi roda sambil terus menunduk takut dengan nada bicara Bapak yang meninggi. Pitam Bapak memuncak. Kudekati mereka.

“Pak, ini cuma sebatang. Kebetulan mengganggu galian kabel,” kata seorang dengan kemeja kerja dan helm kuning. Kurasa dia seorang mandor bangunan.

“Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!” tandas Bapak.

Menyaksikan wajah Bapak yang memerah memendam marah, kuminta Mbak Arini membawa Bapak ke dalam rumah. Kalau dibiarkan, akan semakin tidak baik buat Bapak.

“Pastikan mereka tidak menebang sebatang pun pohon waru di depan rumah kita.” Bapak menebalkan putusan yang sekokoh beton bebas renyut.

Ternyata pembangunan ruko di ujung Jalan Waru berimbas ke Jalan Waru nomor 7. Mereka sedang mengembangkan jaringan FO untuk kelancaran internet di ruko. Sebatang pohon waru di pojokan perkarangan rumah harus dirubuhkan karena akan dipergunakan sebagai aliran kabel FO.

“Tapi, Bapak saya tidak menyepakatinya,” jawabku.

“Bagaimana ya Pak, tidak mungkin memindahkan galian ke seberang jalan.” Aku sendiri tidak bisa memutuskan.

“Apa tidak bisa dibelokkan saja?” tanyaku.

Dia menggeleng. Kinerja kabel FO akan rusak berantakan kalau dibelokkan. Laju kecepatan digital akan rontok bila dilengkungkan seketika.

“Begini saja,” katanya malu-malu. “Saya akan mengusulkan memberi kompensasi. Memang tidak banyak. Tetapi, setidaknya tanda hormat saya kepada Bapak Anda.”

“Biar saya diskusikan kepada Bapak. Sebenarnya Bapak tidak mempermasalahkan persoalan kompensasi. Tetapi, Bapak mencintai kenangan Perumnas juga Jalan Waru ini. Kenangan penuh kesederhanaan.”

Dia mengangguk-angguk paham. Kuminta dia menunggu sebentar. Aku akan mendiskusikan dengan Bapak.

***

“Bagaimana?” tanya Bapak.

“Mereka tetap bersikeras akan menebang pohon waru itu.”

Bapak terdiam. Sebelum Bapak menyampaikan argumen penolakan, gegas ku persangat. “Katanya mereka akan memberikan uang pengganti. Dan Bapak bisa menanam pohon waru atau lainnya lagi di halaman rumah kita sendiri.”

Sorot mata Bapak tajam merunjam, tepat di dada. Ingin sekali kukukuhkan pendapat dengan fakta yang semalam kutemui: rerimbunan waru di pojok halaman dipergunakan muda-mudi berbuat aneh-aneh. Setidaknya dengan ditebang, muda-mudi akan tersorot terang lampu bila berdua. Bapak luput akan hal itu. (*)

 

 

Mooi Kitchen, Juni 2015

 

Catatan:

[1] griya: nguri-nguri digdaya, jenis Kerata Basa (akronim) Bahasa Jawa yang berisikan nasihat.

[2] khalwat: menyendiri, menyepi

 

 

Teguh Affandi, lahir di Blora 26 Juli 1990, menulis cerpen, esai, dan ulasan buku. Beberapa sudah dimuat media lokal dan nasional. Baru-baru ini memperoleh pengargaan PPSDMS Award 2014 kategori Pena Emas, juara 1 sayembara cerpen Femina 2014, dan juara 3 Green Pen Award Perhutani 2015.

 

Advertisements