Archive for May, 2015

Tanda
May 31, 2015


Cerpen Rudi Rustiadi (Republika, 31 Mei 2015)

Tanda ilustrasi Rendra Purnama.jpeg

Tanda ilustrasi Rendra Purnama

“Ini sudah yang kedua kalinya,” ucap Siti dalam hati. Ada perasaan takut yang bergejolak menyelimuti pikirannya. Sibiran kaca dari bingkai foto keluarga yang terjatuh mulai ia bersihkan. Meski, perasaannya masih diliputi prasangka buruk yang akan terjadi kepada keluarganya. Siti lantas meminta pandangan ayah ihwal peristiwa yang baru saja dialaminya. (more…)

Tungku
May 24, 2015


Cerpen Poetry Ann (Republika, 24 Mei 2015)

Tungku ilustrasi Rendra Purnama.jpeg

Tungku ilustrasi Rendra Purnama

Duduk sini, Nak. Dekat pada bapak

Jangan kau ganggu ibumu

Turunlah lekas dari pangkuannya

Engkau lelaki, kelak sendiri

 

Suara Iwan Fals terdengar dari stasiun radio favoritnya menuntun ingatannya menelusuri inci demi inci kenangan yang terpampang dalam sebuah foto buram kecokelatan akibat termakan usia di tangannya. (more…)

Bayi-Bayi Langit
May 17, 2015


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 17 Mei 2015)

Bayi-Bayi Langit ilustrasi Rendra Purnama

Bayi-Bayi Langit ilustrasi Rendra Purnama

Pagi itu, langit seperti beranak. Pria paruh baya yang setiap malam bertugas menjaga kampung tiba-tiba mengetuk kentongan keras. Orang-orang berkumpul mengitari keramaian tersebut. Mereka tercengang mendapati suara tangisan bayi laki-laki yang tergolek di dekat parit.

Kampung yang semula tenang menjadi gaduh. Setiap pasang mata yang berkumpul di tempat tersebut memandang dengan penuh tanya; tentang riwayat seorang bayi yang tergelatak tanpa sehelai pakaian. Puak-puak orang itu menatap iba seraya mengeluarkan kalimat-kalimat umpat kepada seorang yang begitu tega membuang bayi mungil tersebut. (more…)

Mim Ha Nun
May 10, 2015


Cerpen Hanafi Akbar (Republika, 10 Mei 2015)

Mim Ha Nun ilustrasi Daan Yahya

Mim Ha Nun ilustrasi Daan Yahya

Subuh berteriak membangunkan segala yang ada di bumi. Namun, sedikit saja getaran yang menyapa gendang telinganya. Setan lebih khusyuk bermain dengan mimpi mereka, khayalan kekayaan dan kekuasaan yang tak pernah di dekapnya, atau para penipu ulung yang siap menipu kematiannya di dunia. Subuh berlalu tak membuahkan hasil. Sedangkan mulut keriput hitam menciut penjaga masjid yang setia dengan mikrofonnya.

Pria dengan wajah tirus sedang membolak-balikan mushaf Alquran yang lusuh. Bacaannya terdengar fasih. Mengingatkan suara Nabi Daud yang konon melayangkan beburungan dan menenangkan segala yang hidup. Bacaannya terhenti. Ia mendengar petasan yang kencang manaburkan kertas-kertas para pencinta pesta dan keglamoran. Air matanya mengeluarkan telaga beningnya. Pipinya yang kuning langsat bercumbu dengan air mata yang penuh dengan alasan. (more…)

Istri Cerpenis
May 3, 2015


Cerpen Rizza Nasir (Republika, 03 Mei 2015)

Istri Cerpenis ilustrasi Rendra Purnama

Istri Cerpenis ilustrasi Rendra Purnama

Dulu aku jatuh cinta karena cerpen-cerpennya. Ada pelet dalam kata-katanya. Memang iya, aku jatuh cinta padanya bukan melihat wajah, pekerjaannya, atau kendaraannya. Dia tak lebih tampan dari pria kebanyakan. Bukan pegawai negeri seperti menantu idaman ibu-ibu. Aku masih ingat, saat ditanya oleh ayahku apa pekerjaannya untuk menghidupiku, dia dengan lantang menjawab, “Saya cerpenis, Pak”.

*** (more…)