Cerpen Yayan Suryana, Lc. (Republika, 19 April 2015)

Potret Zhe ilustrasi Rendra Purnama.jpeg
Potret Zhe ilustrasi Rendra Purnama

Hidup ini terasa begitu paradoks bagi Zhe. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan dan dicita-citakan harus dilaluinya. Menyatu dalam ruang takdir Tuhan yang tidak satu makhluk pun sanggup mengubahnya. Zhe mengerti hal itu. Tapi, Zhe merasa lemah untuk menerima semua kenyataan ini. Ingin rasanya bisa terbang tinggi, seperti elang yang pernah dia abadikan lewat kameranya. Ingin rasanya ia keluar dari peredaran bumi, merengkuh bintang kemintang yang bercahaya di langit kelam. Melepaskan segala keterikatan dunia.

Semenjak ayahnya meninggal, ibu meminta Zhe pulang. Ia menyadari betapa berat bagi seorang janda pensiunan menyekolahkan tiga anak sekaligus. Apalagi, sekolahnya sekarang di luar negeri, tidak logis menurutnya dengan biaya hidup yang terus merangkak naik. Zhe menyanggupi keinginan ibunya, ia tambatkan biduk cintanya kepada kedua adik perempuannya. Biarlah aku mengalah, begitu celetuk hatinya. Ditariknya napas dalam-dalam bersamaan dengan henti roda taksi yang ditumpanginya. Sudut mata Zhe menangkap antrean kecil di pintu masuk bandara Internasional Kairo.

“Namaku Zainuddin.”

“Panggil saja aku Zhe.”

“Mengapa?”

“Ya, aku suka aja!”

Setiap berkenalan dengan siapa saja, selalu ia tegaskan, “Zhe, ingat namaku Zhe!” Entah mengapa? Apakah ia meniru nama pejuang kemerdekaan Kuba idolanya, Che Guivara. Atau, mungkin saja ia hanya ingin tampak gaul. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ruang lingkup dirinya tertutup.

Hidup ini terasa begitu paradoks bagi Zhe. Zhe yang lebih suka bercita-cita menjadi fotografer, tiba-tiba harus banting setir ke jurusan agama. Ayahnya memaksa. Ayahnya yang pemuka agama ingin melihat Zhe bisa menggantikannya. Akhirnya, Zhe berhenti kuliah di Yogyakarta, semester enam jurusan Fotografi dan Institut Seni Indonesia tinggal kenangan dalam kalbunya. Malioboro dan Parang Tritis tempat favoritnya sudah lama ia katakan, “Selamat tinggal.” Biasanya setiap akhir pekan, jika ada tugas pemotretan dari dosen, Zhe akan kemping di pinggir pantai. Menikmati debur ombak, mengintip matahari yang terbenam di tepi barat, lalu mengarahkan zoom kameranya dengan akurat. Zhe tidak mau melewatkan panorama alam yang sangat puitis ini. Kenangan tentang sudut-sudut alam itu tidak hilang dan terus mengalir dalam perasaannya.

Kini, dunianya terasa lain, perbedaan suhu, suasana kelas yang bising, guru yang sulit ditemui, bahasa Arab yang tidak lancar, serta tata krama Mesir yang berbeda membuat Zhe tertekan. Pernah, suatu hari tinjunya hampir mendarat di wajah pemuda Mesir, hanya karena rambut kuncirnya ditarik. Beruntung, seorang pelajar Asia cepat-cepat mencegahnya. Suasana yang serbaasing membuat Zhe tidak betah. Zhe kembali ke dunia lamanya, fotografi. Hampir sepertiga Mesir pernah ia kunjungi, sekadar memuaskan hobi dan bakat yang dirasa sebagai ladang kreativitasnya. Zhe berkeyakinan, inilah kemampuan utamanya.

“Zhe, ingat tujuanmu. Kau di sini untuk belajar.”

“Ya, aku juga sedang belajar, belajar jadi fotografer.” Jawab Zhe cuek.

Keras kepala. Itu kesan utama teman serumahnya, meski ia sangat suka membantu siapa saja. Ini tahun ketiga Zhe di Mesir. Zhe belum bisa melanjutkan kuliah, ia masih harus bertahan di Ma’had al-Azhar. Karena, ujian naik tingkat pun terkadang ia tidak hadir. Hanya kamera, zoom, dan foto yang dipikirkanya. Ke mana-mana, dikalungkannya kamera Canon di leher kekarnya.

Celana gunung, rompi lusuh, dan tas ransel Eiger adalah ciri khas Zhe jika pergi berpetualang. Di rumah kosnya ada studio mini, tempat Zhe larut dalam pekerjaannya. Foto-foto itu sebagian Zhe kirim ke majalah dan koran Mesir. Tapi, tak satu pun pernah dimuat. Zhe tidak pernah kecewa, sedih, atau risau dengan keadaan ini. Niatnya terpancang kuat, foto- fotonya bukan hanya untuk mencari nafkah, ia merasa cukup dengan kiriman orang tuanya.

Foto-fotonya ia peruntukan untuk penelitian sosial dan kemanusiaan. Maka, foto-foto Zhe bercerita tentang kemiskinan, kezaliman, dan ketidakadilan. Pengemis di jalan-jalan, penjual asongan di bus-bus umum, tidak luput dari jepretannya. Zhe sangat menjiwai pekerjaannya itu, ratusan potret menumpuk di atas mejanya.

***

Suasana bandara Internasional Kairo lumayan sepi ketika Zhe menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tunggu. Entah mengapa perasaan sedih meyeruak dalam hatinya. Terlalu cengeng, menurutnya, jika lelaki menangis. Namun, Zhe tak kuasa menahan perasaan itu kini. Di wajahnya ada mendung pekat yang mungkin menurunkan hujan air mata. Sejujurnya, Zhe mencintai tanah para Nabi ini. Riak sungai Nil, wadi-wadi di tengah gurun, cukup bisa melupakan ingatannya pada Malioboro dan Parang Tritis. Ia buka tas pinggang berisi album hasil jepretannya, di halaman pertama berisi potretnya bersama Steven Abdullah, seorang Muslim Prancis yang selalu mengajaknya shalat jamaah. Lama ia memandangi fotografer bule itu, Zhe bertemu dengannya ketika sama-sama mengabadikan senja hari di pinggiran Luxor. Ditemani lambaian pucuk kurma dan kelepak burung bangau. Di balik foto itu ada pesan singkat, ‘grȃce á votre trouble’ Steven Abdullah. Zhe tersenyum tipis, lelaki itu pernah ia bantu mendaki bukit Sinai untuk melihat matahari terbit. Di halaman kedua pandanganya tertuju kepada pemuda asal Rumania, Adrian Popescu, yang banyak memberinya wawasan tentang fotograpi. Zhe sangat terkesan dengan pemuda ini karena toleransinya yang sangat tinggi dalam memegang prinsip hidup. ‘Keep your choice.Pesan terakhirnya di pojok foto. Andrian-lah yang menolongnya ketika ia hampir tenggelam digulung ombak pasang Pantai Sharm Syeikh. Lalu, halaman selanjutnya berisi foto-foto perjalanannya ke berbagai tempat di Kairo, Aswan, Hurgada, dan sudut-sudut kumuh permukiman penduduk Mesir.

Suara-suara pesawat yang hilir mudik tak mengganggu lamunan Zhe. Khayalannya terbang bersama angin musim panas melewati gurun, wadi, dan lembah-lembah hijau Sungai Nil.

“Zhe, ibu ingin kamu seperti ayah, bisa membantu ibu menyekolahkan adik-adikmu.” Kata-kata ibunya kembali terngiang. Ia terlenguh, beban berat berton-ton terasa menggelayut di pundak Zhe. Ia merasa berjalan sendiri dalam jalan berkelok dan terjal. Seperti kafilah yang kelimpungan dalam kepungan badai debu di Gurun Sahara.

Ia sadar, mungkin kurang dekat dengan Zat Pemberi ketentraman. Diam-diam, ia berjanji untuk lebih sungguh-sungguh menghamba kepada-Nya. Zhe tahu, Allah sangat sayang kepadanya, buktinya ia selalu merasa mudah menyelesaikan segala urusan. Dihapusnya air mata yang mengalir dari balik kacamata hitamnya. Zhe sudah mempersiapkan segala pertanyaan orang-orang di kampungnya, tentang belajarnya di Kairo yang berantakan ataupun gelar yang menjadi embel-embel sarjana. Ia akan jawab apa adanya.

Ia beranjak dari tempat duduknya ketika mendengar pengumuman bahwa penumpang pesawat Singapore Air Lines agar segera masuk ke koridor pemberangkatan. Tak seorang pun yang mengantar kepergiannya. Zhe melarangnya. Zhe tidak ingin teman-teman serumahnya membuat hatinya semakin sedih. Dan, Zhe bukanlah seorang aktivis yang banyak dikenal, ia banyak menghabiskan waktu luangnya dengan menyendiri. Zhe sendiri merasa nyaman dengan ketidakterkenalannya.

***

Sepucuk surat datang ke rumahnya di kawasan Qatamea. Undangan untuk Zhe pada hari ulang tahun koran Al-Ahram. Tak seorang pun di rumah Zhe mengerti apa yang telah diperbuat Zhe dengan koran terbesar di Mesir itu? Semuanya membisu ketika beberapa hari kemudian datang telpon dari redaksi Al-Ahram. Redaksi koran lokal itu menceritakan bahwa Zhe mendapat penghargaan atas fotonya yang dikirim tempo hari. Foto itu telah memberikan inspirasi kepada praktisi masalah sosial di Mesir dan seluruh dunia untuk memfokuskan bantuannya kepada orang-orang jompo telantar. Dalam foto itu, Zhe memotret seorang nenek tua yang sedang mengemis di tengah kesibukan orang berlalu-lalang, sementara itu tak satu orang pun perhatian dengannya. Sayang, Zhe sudah pulang. (*)

 

 Kairo, 1 Juli 2005

 

Grȃce á votre trouble: Terima kasih atas jerih payah Anda.

 

Yayan Suryana, Lc. Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir

 

Advertisements