Cerpen Fitri Hasanah Amhar (Republika, 05 April 2015)

Bingkisan Hitam di Tengah Ilalang ilustrasi Rendra Purnama
Bingkisan Hitam di Tengah Ilalang ilustrasi Rendra Purnama

“Aku pergi dulu, Ning.” Suyitno mengambil topinya seraya melangkah ke depan. Suning menjajari langkahnya dengan satu botol air mineral dalam genggaman. Botol itu telah berkali-kali diisi ulang dengan air sumur yang direbus hingga mendidih setiap pagi untuk bekal Suyitno.

Tepat di teras kontrakan mereka, Suning menyerahkan botol air itu. Ia kemudian mencium punggung tangan Suyitno takzim. Suyitno tersenyum menatap istrinya. Laki-laki itu kemudian mengambil pikulan satenya. Dipastikannya pemanggang, kipas bambu, puluhan lontong dan sate yang siap panggang, panci berisi bumbu kacang yang masih hangat beserta sendoknya, kecap, irisan bawang merah dan cabai, serta serbet telah lengkap berada dalam pikulannya. Kemudian, ia melangkah menuju suatu taman kanak-kanak yang jaraknya tujuh ratus meter dari rumah.

Bola mata jernih Suning mengekori langah Suyitno sampai hilang di kelokan gang.

***

Suyitno dan Suning sudah berkeluarga sejak lima tahun lalu. Kehidupan sederhana mereka selalu dilalui penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Rumah kontrakan kecil yang mereka tempati, perabotan rumah secukupnya, dan nasi serta lauk dan sayur sederhana yang mengisi perut mereka setiap hari. Lantaran terlalu lama hidup sederhana, hingga mereka lupa hidup yang tidak sederhana itu bagaimana.

“Maaf, Mas, hari ini makan pakai sayur nangka lagi. Kadang lucu, ya Mas. Mas ini jualan sate ayam tapi kita jarang sekali makan ayam,” ujar Suning pada suatu malam. Tangannya menyendokkan nasi ke piring Suyitno.

“Kamu ini Ning. Aku kan sudah bilang, apa pun yang kamu masak dan kita makan, kita syukuri bersama. Toh kita juga butuh menabung buat jaga-jaga. Aku nggak papa, kok.” Suyitno menerima piring berisi nasi dari Suning. Senyum tulus terkembang di wajahnya.

Mereka kemudian makan dalam keheningan malam yang hanya akan pecah oleh bincang keduanya. Tidak ada suara televisi maupun radio yang melatarbelakangi makan malam mereka. Sering kali Suyitno bercerita tentang jualannya sepanjang siang. Kemudian Suning sesekali ikut bercerita hal apa saja yang ditemuinya selama Suyitno tidak ada di rumah. Terkadang Suning juga memberi kabar soal tetangga yang sakit, akan hajatan, atau baru panen. Tanpa alat hiburan, malam menjadi waktu yang membahagiakan bagi keduanya lewat cerita dan obrolan. Kebahagiaan sederhana versi mereka.

Sayang, kebahagiaan mereka belum terlengkapi oleh kehadiran buah hati.

***

Pertemuan pertama mereka terjadi di Taman Kanak-Kanak Permata Bunda. Suyitno adalah penjual sate dan Suning adalah asisten rumah tangga yang sedang menunggui Ratih, anak majikannya. Tak seperti asisten rumah tangga kebanyakan yang lebih doyan mengobrol soal artis televisi, Suning lebih suka menunggu sambil membaca. Majikannya yang baik membolehkannya meminjam beberapa buku untuk dibaca sembari menunggu menjemput putrinya. Biasanya kalau urusan beres-beres rumah sudah selesai, Suning langsung berangkat ke TK tanpa perlu menunggu waktu pulang Ratih tiba.

Keduanya bertemu lantaran Suyitno sedang mangkal depan TK Permata Bunda, tempat Ratih sekolah. Saat itu, buku yang dibaca Suning sudah tamat, lalu ia melihat di pikulan jualan sate Suyitno ada surat kabar hari itu.

“Mas, boleh pinjam korannya?”

Alih-alih hanya meminjam koran, keduanya jadi mengobrol panjang lebar. Lambat laun mereka jadi teman baik. Suyitno bercerita bahwa ia hanya menjajakan sate milik orang lain. Dan, ini baru hari kedua berjualan di TK Permata Bunda. Sebelumnya, ia ikut temannya menjajakan sate di suatu SD Negeri. Ketika bos pemilik sate merasa ia sudah cukup mengerti soal jualan sate, bosnya melepas Suyitno jualan sendiri.

“Mengapa milih TK, Mas, buat jualan sate?”

“Saya suka anak-anak, sih. Dulu di kampung sempat ikutan ngajar TPA. Tapi, namanya juga belajar agama di kampung, orang bayar seikhlasnya. Pak Kyai nggak mau memaksa iuran wajib pada orang tua. Makanya upah guru TPA nggak nentu. Kalau nggak nentunya banyak sih tidak masalah. Tapi nggak nentunya itu kalau tidak sedikit, ya tidak dapat. Karena bapak sakit, saya disuruh ibu ikut tetangga yang jualan sate di sini. Ibu bilang lebih terjamin upahnya. Agak siangan nanti saya ke SD dekat gapura kompleks. Lanjut jualan di sana.”

“Sama Mas kayak saya. Saya juga suka anak-anak. Makanya suka datang lebih awal soalnya siapa tahu ada kegiatan anak-anak yang di luar. Seneng lihatnya. Kalau nggak ada bosan juga sih. Makanya bawa buku,” Suning terkekeh. “Ratih, putri majikan saya suka tanya banyak hal, Mas. Makanya dulu majikan saya minta saya baca buku. Yang ringan-ringan saja, kata majikan saya. Alhamdulillah, majikan saya sudah memilihkan bukunya jadi saya tidak pusing juga kalau baca buku-buku yang dipilihkan. Tapi ke sini-sini saya jadi keterusan suka baca buku. Sedikit-sedikit paham juga kalau baca buku majikan saya.”

“Kenapa suka anak-anak, Ning?”

Nggak tahu Mas, suka saja. Bikin Suning ingat adik-adik di kampung. Kangen, Mas.”

Pertemanan Suning dan Suyitno akhirnya berujung pada pernikahan keduanya.

***

Di depan taman kanak-kanak sembari menunggu jam pulang sekolah pikiran Suyitno memikirkan satu hal.

Lima tahun ia berumah tangga, keduanya belum juga dikaruniai keturunan. Bagi Suyitno dan Suning yang sama-sama menyukai anak-anak, kehadiran buah hati tentu saja ditunggu-tunggu. Suning bukannya tidak pernah mengandung. Selama lima tahun menikah, sudah dua kali Suning mengandung. Dua-duanya keguguran. Yang pertama ketika usia pernikahan mereka baru saja menginjak tahun pertama. Yang kedua di tahun keempat pernikahan.

Suyitno maupun Suning terus berharap, namun keduanya pasrah pada kehendak yang kuasa. Tak ada rencana untuk periksa ke dokter menanyakan status mandul keduanya.
Selain tak ada alokasi dana untuk hal tersebut, mereka takut hasil periksa malah menimbulkan perasaan sedih dan merasa bersalah dari diri masing-masing. Pasrah bukan berarti tanpa upaya.

Suning sudah belajar menghitung masa subur dengan memperhatikan siklus bulanannya. Pada masa suburnya, ia memperhatikan makanan yang dimakan, sesuai dengan buku yang pernah dibacanya di rumah tempat ia bekerja. Suning makan kacang tanah, bayam, dan brokoli sesuai saran di buku itu. Meskipun sangat jarang, kalau ada sedikit rezeki lebih, ia akan meminta izin pada Suyitno untuk membeli sedikit daging atau hati sapi. Makanan-makanan itu, katanya mengandung asam folat yang bisa memberi kesempatan lebih besar untuk hamil.

Usaha mereka juga sampai pada melakukan saran-saran tetangga yang kadang tidak masuk akal. Antara percaya dan tidak, Suning pernah meminta diinjak jempol kakinya oleh tetangga yang hamil. Ia juga beberapa kali meminta izin mengelus perut saudara yang sedang hamil, bahkan menempelkan perutnya ke perut yang sedang menggelembung berisikan janin. Meminta izin menggendong bayi baru lahir yang dikunjunginya pun kerap ia lakukan.

Orang bilang, melakukannya akan membuat seseorang jadi hamil. Yang paling tidak masuk akal, Suning pernah mencuri popok bayi tetangga. Katanya, ada yang pernah hamil setelah mencuri popok bayi. Nanti kalau sudah positif hamil, popoknya akan dikembalikan.
Suning kadang sudah tidak peduli soal masuk akal atau tidak. Kalau bisa ia lakukan, ia akan coba lakukan.

Sayang, sejauh ini hasilnya nihil.

“Janinnya tidak berkembang, Bu.” Suyitno ingat inti kalimat bidan yang memeriksa istrinya kala itu. Kalimat yang membuat istrinya menangis seusai shalat selama beberapa hari setelahnya. Pada kehamilan kedua, Suning mengalami keguguran di bulan keenam. Saat perut Suning sudah tampak membesar. Saat Suyitno makin semangat untuk bekerja tanpa lelah dan semakin sering mengelus perut Suning untuk menyapa calon buah hatinya.

Suyitno ingat sekali raut muka Suning yang tampak semakin cantik ketika ia mengandung. Satu dua kali Suning mengidam dan ia carikan sampai pulang larut. Perbincangan soal tebak-tebakan jenis kelamin, nama anak, dan rencana jalan-jalan pagi atau sore sambil menyuapi anak. Ah, Suning tidak pernah terlihat lebih bahagia dibandingkan ketika ia mengandung. Meskipun Suning juga tidak pernah mengeluh atau menyalahkan Tuhan perihal anak yang belum juga dititipkan oleh-Nya. Masing-masing dari mereka tahu, satu sama lain tak pernah lupa menyebut soal keturunan dalam doa-doanya.

Ah, Tuhan. Harapannya tak pernah kendur.

Anak-anak berlarian keluar kelas membawa tas mereka. Suasana mendadak berisik. Suyitno bersiap menata sate untuk dikipasinya kembali.

***

Hari beranjak sore. Sayup-sayup azan Ashar terdengar dari masjid di kejauhan.
Suyitno melangkah ke rumah. Ia sudah cukup lelah setelah mangkal di kompleks sekolahan seperti biasanya ditambah keliling komplek menjajakan sisa satenya. Lewat tanah kosong yang dijadikan tempat sampah umum oleh warga setempat, Suyitno memberhentikan langkahnya. Ia hendak membuang daun pisang pembungkus lontong di tempat itu. Seperti biasanya.

Asap masih mengepul dari gundukan abu hitam meskipun api sudah tak terlihat.
Mungkin dibakar setengah jam yang lalu, pikir Suyitno. Langkahnya menyibak ilalang berduri yang terhampar menuju pojok tanah kosong tempat sampah dikumpul dan dibakar. Suyitno mengeluarkan daun pisang pembungkus lontong itu, meletakkannya di bagian pinggir. Tiba- tiba pandangannya berhenti pada sisi pinggir tumpukan abu yang menarik perhatiannya dan membuatnya mendekat. Menyibak abu yang sepertinya bekas kain yang menutupi suatu benda.

Detik itu ia tercekat.

Sesosok bayi hitam legam karena gosong terbujur kaku di pinggiran gunungan sampah itu. (*)

 

 

 

Fitri Hasanah Amhar, Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Gadjah Mada.

 

Advertisements