Archive for April, 2015

Cincin Sulaiman
April 26, 2015


Cerpen Griven H Putera (Republika, 26 April 2015)

Cincin Sulaiman ilustrasi Rendra Purnama

Cincin Sulaiman ilustrasi Rendra Purnama

Sulaiman termenung dalam. Betapa takkan dalam menungnya, cincin berbatu aneh yang dihadiahkan seseorang tak dikenal tempo hari diambil Syekh Awal. Jika bukan Syekh Awal yang memintanya, pastilah ia akan menolaknya mentah-mentah. (more…)

Potret Zhe
April 19, 2015


Cerpen Yayan Suryana, Lc. (Republika, 19 April 2015)

Potret Zhe ilustrasi Rendra Purnama.jpeg

Potret Zhe ilustrasi Rendra Purnama

Hidup ini terasa begitu paradoks bagi Zhe. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan dan dicita-citakan harus dilaluinya. Menyatu dalam ruang takdir Tuhan yang tidak satu makhluk pun sanggup mengubahnya. Zhe mengerti hal itu. Tapi, Zhe merasa lemah untuk menerima semua kenyataan ini. Ingin rasanya bisa terbang tinggi, seperti elang yang pernah dia abadikan lewat kameranya. Ingin rasanya ia keluar dari peredaran bumi, merengkuh bintang kemintang yang bercahaya di langit kelam. Melepaskan segala keterikatan dunia. (more…)

Ulang Tahun Pensiun
April 12, 2015


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 12 April 2015)

Ulang Tahun Pensiun ilustrasi Rendra Purnama

Ulang Tahun Pensiun ilustrasi Rendra Purnama

Mardiono mengundang kawan-kawannya ke rumah, siang nanti. Mardiono ingin mengadakan perayaan ulang tahun yang ke-78. Mardiono membayangkan beberapa lansia pikun, tremor, pandangan dan aneka fungsi tubuh mulai menurun berkumpul dan bercengkerama di depan selingkar kue ulang tahun. Menyanyikan lagu ulang tahun sebelum Mardiono memadamkan lilin. Mardiono tersenyum sendiri membayangkannya. Sudah sejak ulang tahunnya lalu, bersama Dhuha pagi Mardiono menanam doa agar dipertemukan ulang tahun lagi dengan meniup lilin di atas kue ulang tahun. (more…)

Bingkisan Hitam di Tengah Ilalang
April 5, 2015


Cerpen Fitri Hasanah Amhar (Republika, 05 April 2015)

Bingkisan Hitam di Tengah Ilalang ilustrasi Rendra Purnama

Bingkisan Hitam di Tengah Ilalang ilustrasi Rendra Purnama

“Aku pergi dulu, Ning.” Suyitno mengambil topinya seraya melangkah ke depan. Suning menjajari langkahnya dengan satu botol air mineral dalam genggaman. Botol itu telah berkali-kali diisi ulang dengan air sumur yang direbus hingga mendidih setiap pagi untuk bekal Suyitno. (more…)