Cerpen Rajif Duchlun (Republika, 15 Maret 2015)

Niat Nia ilustrasi Rendra Purnama
Niat Nia ilustrasi Rendra Purnama

Ia sebenarnya masih ingin menjadi seorang Ateis sejati. Ia tidak ingin masuk Islam.
Bahkan pada suatu malam yang pekat, demi mempertahankan kesejatiannya, ia memilih menghindar dan berlari masuk hutan.

Berminggu-minggu ia tak tiba di kampung. Setiap hari orang-orang hanya bergunjing tentangnya. Sampai pada pagi buta, ia datang terengah-engah menuju surau dan berteriak kencang di dalam surau, bahkan sangat kencang: saya ingin masuk Islam!

Saat itu, Nia seperti orang tak sadar. Ia hanya berteriak: saya ingin masuk Islam! Setiap jarum jatuh di angka satu, tengah malam, dan suara jangkrik bertalu-talu, Nia hanya berteriak, seolah-olah hanya dengan teriak ia bisa hidup. Orang-orang berkumpul di halaman rumahnya, suara-suara gunjingan dan tuduhan-tuduhan aneh terdengar sampai di dapur. Kedua kakak kandungnya di dapur hanya mematut-matut wajah mereka seperti gelisah. Ini malam ketiga, Nia melakukan hal yang sama: berteriak.

“Kami tak mengerti apa yang terjadi padanya. Setelah ia masuk hutan dan ketika kembali, ia tiba-tiba suka teriak seperti itu,” ujar kakak sulungnya sembari meminta orang- orang agar tidak berpikir lebih tentang adiknya.

Pada hari berikutnya, orang-orang menyaran kan agar kedua kakaknya memanggil seorang dukun di desa sebelah. “Mungkin ia kerasukan,” kata seorang pemuda pada kakak sulungnya. Akhirnya pada suatu senja, seorang dukun datang di rumah dan kemudian masuk di kamar. Nia duduk bersilang dengan wajah sendu. Dukun itu menatap matanya dengan tajam, bahkan sangat tajam. Mungkin bermaksud mengeluarkan iblis yang bersemayam di dalam mata Nia. Namun, tatapan itu sia-sia. Bahkan, Nia sekonyong-konyong merasa aneh dan hanya bisa tersenyum melihat ulah dukun itu.

“Dia baik-baik saja,” kata dukun itu seraya mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu, “saya rasa dia benar-benar ingin masuk Islam.”

Orang-orang masih tidak percaya. Nia adalah seorang Ateis sejati. Ketidakpercayaannya pada Tuhan sudah diakui banyak orang. Sebelumnya, Nia hanya seorang penjual roti keliling dan ia dikenal sebagai perempuan yang selalu mengutuk Tuhan.

Namun, akhirnya pada pekan kedua, Nia kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya kepada kedua kakaknya.

Menurut cerita kakaknya, ia memilih masuk hutan karena sebelumnya, Nia didatangi seorang pengusaha cengkih dari semenanjung Halmahera. Pengusaha itu datang melamarnya dan meminta ia untuk masuk Islam. Nia merasa ini permintaan konyol. “Saya tidak ingin masuk Islam.” Begitu ucapannya saat berbincang dengan pengusaha terkaya itu.

Namun, lelaki itu tak putus asa. Ia bertamu di rumahnya setiap hari. Saat senja turun di punggung gunung, lelaki itu sudah bersiap di depan pintu rumahnya. Sebagaimana lelaki-lelaki Halmahera, rambut yang disemprot pomade [1] membuat mereka akan lebih percaya diri. Nia menganggap ini biasa-biasa saja. Namun, perlahan entah apa yang ada di dalam pikirannya, ia tiba-tiba terpengkur dan seperti merasa ada perasaan lain.

Perasaan-perasaan itulah yang membuat ia memilih berlari ke arah hutan dan berdiam diri di sana (ketika ditanya ia hanya beralasan untuk mempertahankan kesejatiannya). Hingga pada malam keempat, Nia bermimpi bertemu dengan seorang lelaki paruh baya yang menyuruhnya untuk mandi di sebuah sungai di sisi tebing pegunungan. Lalu, ketika ia bangun, ia mendengar suara azan yang terpantul-pantul di hutan. Matanya tiba-tiba terbelalak saat menengok ke kanan. Ia melihat sebuah bayangan seperti masuk dalam rimba pepohonan yang pekat. Nia terdiam dan beberapa menit kemudian ia bangkit dari duduknya. “Sepertinya saya harus ke sungai itu,” katanya.

Setibanya di sungai, ia meloncat ke atas batu besar dan duduk di atasnya. Matanya memperhatikan arus sungai yang berkelok ke arah utara. Di sana ia melihat pepohonan berjejer di tepian dan beberapa ikan yang sering meloncat ke permukaan. Namun, ini kedua kalinya ia terhenyak. Matanya terbuka lebar. Tiba-tiba saja, di sisi kanan pohon beringin seorang lelaki paruh baya dengan jubah putih seperti sedang rukuk mengambil air yang mengalir di bawah kakinya. Ia mengucek-ngucek matanya seperti tak percaya. Namun, ketika ia kembali memperhatikannya, lelaki itu seperti hilang begitu saja. “Bukankah lelaki itu yang ada di dalam mimpi saya?”

Tungkainya bergetar dan ia pun memilih kembali ke kampung. Namun, perjalanannya ke kampung sepertinya sia-sia. Ia tidak bisa menemukan jalan pulang. Seolah-seolah semua jalan di hutan akan kembali ke hutan. Ketika ia berjalan ke selatan, ia kembali ke tempat di mana ia tertidur semula. Begitu juga ketika ia berjalan ke utara maupun ke timur. Selalu saja, ia akan kembali ke tempat yang sama.

Nia menarik napas dan menelan ludah.

“Uhh!”

Tubuh yang kurus itu ia rebahkan di atas daun kelapa kering yang dibuatnya sebagai alas. Beberapa menit kemudian, ia tertidur. Dalam keadaan yang sama, ia selalu menemukan mimpi yang tak ia inginkan. Tapi kali ini berbeda. Bukan lelaki paruh baya yang ia temui di dalam mimpinya. Ia melihat seorang perempuan tua menatap matanya dan menyuruhnya agar lekas kembali ke sungai. “Di sungai, kau bisa bersihkan dirimu,” kata perempuan itu di dalam mimpinya.

Ketika ia bangun, ia menemukan kejadian yang sama. Suara ranting seperti diinjak dan sebuah bayangan yang melesat masuk dalam rimba pepohonan. Jantungnya berdegup kencang, sangat kencang. Lalu, ia bergegas bangkit dari tidurnya dan memilih kembali ke sungai.

Sesampainya di sungai, ia melakukan hal yang sama: meloncat ke atas batu dan duduk di atasnya. Matanya masih tetap memperhatikan sekeliling sungai. Ia melihat pepohonan yang lebat dan tebing-tebing curam di sekitarnya. Sekonyong-konyong matanya terhenti di satu fokus. Di sisi kiri pohon pisang, ia melihat seorang lelaki dan perempuan renta berjalan tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

“Astaga!”

Nia meloncat turun. Ia bergegas menghindar dan berlari ke arah hutan. Jantungnya terus berdegup kencang, sangat kencang. Namun, sia-sia yang dilakukannya. Ketika sampai di tengah hutan, ia semacam tak menduga, lelaki dan perempuan renta tadi tiba-tiba sudah berada di depannya. Kakinya bergetar dan seluruh syarafnya seperti tak bisa bekerja aktif. Mulutnya seperti ditutup tangan orang dewasa. Lelaki dan perempuan renta itu tersenyum sembari menyentuh bahunya.

“Anak kita, Pak,” ujar perempuan renta itu pada lelakinya.

“Iya, Ma. Anak kita.”

“Kau sudah besar, Nak?”

“Iya, Ma. Dia benar-benar sudah besar.”

Nia bergidik mendengar itu dan semacam tak percaya. “Tak mungkin,” katanya dan matanya berkaca-kaca. “Kalian siapa?” Nia mundur selangkah dan menatap bola mata mereka dengan tajam, sangat tajam.

“Mama dan Papa.”

“Iya, Nak. Mama dan Papa.”

“Mama dan Papa?”

Lelaki dan perempuan renta itu mengangguk dan tersenyum lagi.

“Lelaki yang melamarmu itu pantas untukmu. Nikahlah bersama dia,” kata perempuan itu.

Nia terdiam.

“Ikut saja dia.”

Tiba-tiba air keluar dari matanya dan bergulir di pipinya. Nia terisak pelan dan masih tak percaya. Namun, ia sontak mengingat perkataan kakaknya.

“Mama dan Papa meninggalkan kau saat kau baru berusia dua tahun.” Begitu ucapan kakaknya saat mereka berbincang pada suatu malam yang sepi.

Nia kembali mengucek-ngucek matanya. Dalam satu kedipan, ia terkejut. Perempuan dan lelaki tadi menghilang begitu saja. Ia mengarahkan matanya ke semua sudur hutan.
Hasilnya sia-sia. Ia hanya melihat pepohonan yang lebat dan sebuah jujaga [2] yang tampak lengang. Tak ada apa-apa, kecuali sunyi.

Lalu, pada pagi yang buta, Nia berniat untuk mengubah segalanya. Ia kembali ke kampung dengan terengah-engah seperti menemukan Tuhan di hutan. Seperti orang tak sadar, ia selalu berteriak ingin masuk Islam.

Ia semacam ingin cepat masuk Islam, seolah-seolah tak sabar memakai mukena seperti tetangga-tetangganya. Minggu berganti, Nia memantapkan niatnya dan memilih bertamu di rumah lelaki pengusaha cengkih yang pernah melamarnya. Sesampainya di sana, lelaki itu terhenyak, semacam tak percaya pada matanya. Lalu, Nia berdiri di hadapannya dan berujar pelan, sangat pelan, tanpa teriak, dan memang tak harus teriak: saya ingin masuk Islam! (*)

 

Halmahera, Maret 2015.

 

Catatan:

pomade : Minyak rambut

jujaga : Rumah kebun

 

 

Rajif Duchlun, lahir dan dibesarkan di Halmahera, Maluku Utara. Pernah bekerja sebagai wartawan lokal dan suka menulis fiksi. Sekarang menetap di Ternate.

 

Advertisements