Musafir


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 08 Maret 2015)

Musafir ilustrasi Rendra Purnama

Musafir ilustrasi Rendra Purnama

Barangkali, pria itu tercipta dari sebuah ketabahan. Sudah satu minggu berlalu, ketika ia pertama kali berdiri dengan pakaian serba putih di persimpangan jalan Kota J.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang ia lakukan di sana. Selain termenung dengan kedua kaki yang bergetar dan menatap penuh murung. Tak banyak pula orang menghiraukannya.

Setiap senja, ia selalu memainkan biolanya yang tak kalah tua darinya. Terdengar lantunan nada-nada menyedihkan yang mengantarkan tenggelamnya langit sore. Kota J yang muram pun lamat-lamat menjadi sepenggal kisah yang malang, yang hanya menyisakan kerisut angin, sampah yang berserak, dan deretan lampu merkuri yang tertunduk.

“Mungkin, pria tua itu adalah segelintir dari ratusan gelandangan di kota ini,” kata suamimu sinis. Kau baru saja melewatinya dan kau melihatnya dari balik jendela bus.

“Kau tahu, di tengah kota, setiap tahun, pasti ada puluhan rumah yang digusur dan ratusan gelandangan tumpah ke jalan karena sebuah pembangunan mal atau hotel.”

“Jadi, mereka memang tak memiliki rumah?”

“Ya, begitulah,” tambah suamimu. “Mereka seperti jin yang berkeliaran di gorong-gorong kota.”

Kota, kini memang seperti belantara kesunyian yang asing. Gedung-gedung tumbuh layaknya tunas pohon. Tak teratur. Orang-orang senantiasa bergegas dan terburu- buru akan suatu gagasan pribadi di dalam pikiran. Setiap saat, suatu perubahan bisa saja terjadi. Pembangunan pabrik, mal, bahkan penggusuran tempat-tempat ibadah. Kau pun ikut terjebak dalam labirin menjemukan itu dan kau juga merasa ada yang selalu hilang setiap harinya di dalam hidupmu.

Namun, ketika kau melihat pria tua dengan pakaian putih itu, selalu ada perasaan aneh yang membuatmu bebas. Kau merasa pria di tepi jalan itu tak seperti gelandangan pada umumnya. Memang, sebenarnya kau tidak begitu memedulikannya. Ia bisa saja datang dari desa untuk mengadu nasib atau sekadar singgah sebentar kemudian pergi melanjutkan perjalanannya.

Mungkin juga ia seorang yang baru saja terkena gusur. Tetapi, tatapan matanya yang selalu melirik ke ufuk barat itu seakan menyiratkan berbagai pertanyaan di benakmu. Tatapan mata kosong yang seolah begitu tabah menanti seseorang yang kelak akan muncul dari sana.

“Aku pikir, pria tua itu sedang meratapi kota yang semakin murung ini, sayang,” desismu pelan.

Ada raut kebosanan pada wajah suamimu—mendengarkan perkataanmu—ketika bus yang kalian tunggangi melewati persimpangan jalan itu. Suamimu mendengus tak acuh saat kau mengatakan perihal pria tua dengan biolanya.

“Apa yang sedang ia lakukan? Mengapa ia dapat begitu tabah di sana, sayang?” Tanyamu lagi.

“Entahlah, sayang,” jawab suamimu ketus.

Kau terdiam. Apakah benar pria tua itu sedang menunggu? Pikirmu lagi. Bus yang kau tunggangi hanya melintas begitu saja bersama seluruh penumpang yang sama sekali tidak memedulikannya. Suamimu pun kembali tertidur. Ia tampak kecapaian setelah seharian bekerja di kantor. Ah, apa pun memang bisa terjadi di jalan. Seorang yang dirampok, mati kelaparan, atau menemukan sebongkah emas di dalam parit. Kau memandang jalanan yang padat, yang dibalut cemerlang lampu-lampu kota. Bus yang kau tunggangi hanya melintas tanpa menghiraukan sosok di tepi jalan itu.

***

Kau sudah tak dapat menghitung, telah berapa kali senja jatuh dan angka-angka di tubuh kalender berguguran. Tetapi, pria tua itu masih kukuh berdiri di tepi persimpangan jalan. Tubuhnya semakin kurus dan rambutnya tak terawat, mengisyaratkan ia telah lama beradu dengan kerasnya jalan. Kau takjub melihat ketabahannya berdiri di sana. Ia pun tetap memainkan biolanya, seraya mengalunkan nada-nada kesedihaan setiap senja. Pria tua itu seperti menjadi saksi bagi tumbuhnya kota yang semakin cepat.

Sosok itu pun kini sudah menjadi arca penunggu perempatan jalan. Sepasang matanya masih kukuh menatap ke ufuk barat—ke arah tenggelamnya senja.

“Apakah ia seorang musafir, sayang? Seorang yang terus mengelana tanpa rumah demi mencari ilmu dan pengalaman baru,” katamu lirih kepada suamimu di dalam bus saat kembali melewati simpang jalan itu.

Suamimu tidak menghiraukan. Satu tahun tinggal di kota memang sudah banyak mengubah sikap suamimu. Ia tidak lagi ceria dan romantis seperti pertama kali kalian bertemu.

“Mungkin, sayang,” jawabnya ketus.

Kau tak menjawab lagi. Di dalam hatimu, malah tersemat ratusan pertanyaan tentang pria tua dengan biola itu. Sosok lusuh yang selalu menyita perhatianmu. Kau ingat saat pertama kali melihatnya. Ia tampak segar dan bertenaga. Sepanjang hari ia termenung dengan mata berharap, sembari memainkan biolanya dengan nada-nada kesedihan.

Tetapi, ia bisa saja memang seorang gelandang an yang sengaja tinggal di persimpangan jalan itu. Seorang yang terlunta-lunta hidup di jalanan tanpa tujuan. Namun, tak menutup kemungkinan juga ia memang seorang musafir yang sedang tabah menunggu sesuatu.

“Aku rasa, ia bukan gelandangan seperti umumnya, sayang,” katamu pada suamimu yang terpejam di samping jendela bus.

“Lantas?” Suamimu bertanya balik.

“Mungkin, ia seorang musafir.”

“Seandainya ia seorang musafir, mengapa ia selalu ada di sana? Bukankah seorang musafir selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.”

“Entahlah,” kau termenung dan membuang pandanganmu keluar jendela bus. “Barangkali, ia sedang mencari sesuatu di tengah kota ini. Sebuah pelajaran hidup baru dari manusia-manusia yang bergegas. Namun, seandainya benar ia seorang musafir, betapa beruntung dirinya.”

Suamimu kembali tertidur. Tak menanggapi perkataanmu. Sedangkan, gerimis mulai menggu yur kota dan jalanan. Lampu-lampu merkuri tampak semakin suram di tepi jalan. Tampias air mengenai jendela bus dan sesekali kau membayangkan pria tua itu. Suamimu pun mendengus karena tidurnya terganggu dan kau merasa ada suatu hal yang kembali hilang dalam hidup. Namun, kau tidak pernah tahu apa, yang selalu hilang itu….

***

Lembar-lembar waktu terus mengelupas. Berbulan-bulan berlalu dan sosok itu masih di tepi jalan. Kota semakin padat dengan gedung-gedung dan kemalangan demi kemalangan yang beranak-pinak di setiap simpang kota. Pembunuhan, pemerkosaan, dan perampokan terus terjadi. Orang-orang tetap bergegas dalam satu gagasan di dalam kepala masing-masing. Tetapi, kau masih melihat pria tua itu kukuh berdiri di simpang jalan, sembari menghibur kota yang sibuk dengan memainkan biolanya setiap senja.

Kau pun berpikir, ia memang bukan sembarang gelandangan. Gelandangan dan musafir memang hampir serupa. Mereka sama-sama tak memiliki rumah. Tetapi, seorang musafir selalu memiliki tujuan untuk hidupnya. Malam itu, mungkin untuk yang keseribu kalinya, kau kembali melintasi persimpangan jalan itu. Tetapi, ada yang berbeda ketika bus yang kau tunggangi melintasi tempat itu. Pria tua itu tak tampak lagi di sana. Pun mulai muncul pertanyaan ganjil di benakmu. Apa ia sudah bertemu dengan orang yang ditunggunya dan melanjutkan perjalanannya menuju suatu tempat baru yang tak pernah terukir di dalam peta?

Begitulah, setelah kepergiannya, setiap pulang kerja, kau selalu mencarinya di persimpangan jalan itu atau membayangkan wajahnya yang penuh harap. Kadang-kadang, kau juga merindukannya. Kau sering membayangkan ketika ia memainkan biola. Kau pun acap menjadi iri karena pria itu begitu bebas melakukan segala hal di luar sana. Sedangkan, kau terjebak dalam sebuah rutinitas yang selalu sama. Pria itu seolah tidak terikat akan kejemuan yang membunuhnya secara perlahan.

“Apakah benar ia seorang musafir? Bila memang, betapa beruntung pria itu! Ia dapat berkelana dan mengetahui banyak hal dengan bebas. Ia tak perlu takut kehabisan waktu di masa muda dan menjadi tua dengan menjemukan. Sedangkan, kita terus terkurung dalam ketidakpastian dan kebosanan serta kekhawatiran akan mati dalam keadaan yang tak bahagia. Tanpa meninggalkan apa pun selain kemurungan,” katamu untuk keseribu kalinya kepada suamimu yang sudah tak pernah menjawab lagi di dalam bus.

Kau merasa jengah dengan tingkah suamimu yang tak acuh. Kau meraih tangan suamimu yang dingin. Kau pun terperanjat mengetahui kalau ternyata suamimu telah mati di dalam bus yang tak pernah sampai mengantarkanmu pulang. Orang-orang di dalam bus ini pun ternyata telah membusuk bersama kebosanannya masing-masing.

Kau pun sadar, apa yang sebenarnya selalu hilang dalam hidupmu. Yaitu waktu. Bertahun-tahun bus ini hanya melaju tanpa arah. Bus yang kau tunggangi hanya mengantarkanmu pada ketidakpastian hidup. Tanpa tujuan, seperti seorang gelandangan. (*)

 

 

Jakarta-Yogyakarta 2013-2014

Risda Nur Widia. Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah juara dua Festival Sastra Yogyakarta 2013 (UGM), nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo 2013 (UHAMK). Cerpennya telah tersebar di berbagai media.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: