Cerpen Yayan Suryana, Lc. (Republika, 01 Maret 2015)

Mengubur Cahaya ilustrasi Rendra Purnama
Mengubur Cahaya ilustrasi Rendra Purnama

Malam belum larut. Suara-suara kendaraan bermotor terdengar kuat. Tat-tet-tot bunyi klakson mobil-mobil yang ingin segera kembali ke garasinya memekakkan telinga. Biasanya akhir pekan seperti ini jalan menuju Roxy macet, dari mulai jalan utama Shalah Salim sampai mendekati Abbasea, Kairo, Mesir, pun tak luput dari pawai kemacetan. Mobil pribadi dan angkutan umum seakan tak mau kalah untuk saling mendahului, pertengkaran-pertengkaran kecil antarpengemudi menjadi hal yang biasa di Negeri Seribu Menara ini.

Sebuah mobil Lancer pabrikan Jepang berwarna perak yang sedari tadi berada dalam antrean panjang membelok mengambil jalan pintas. Sopir Lancer itu seorang lelaki muda berpenampilan rapi dan berdasi layaknya pekerja kantoran. Guratan-guratan di wajahnya menandakan ia sedang diliputi masalah. Entah apa? Yang pasti, ia cepat-cepat memacu mobilnya menuju rumah elitenya di kawasan Masakin Sheraton.

Anti fen ya Noura?” seru insinyur muda itu setelah melepaskan sepatunya.

“Ana hena ya Baba!” jawab gadis kecil berusia enam tahun, di tangan kanannya ia menggendong boneka Twety. Gadis kecil yang berambut pirang dengan pipi yang kemerah-merahan itu segera menghambur ke pelukan bapaknya. Sang ayah dengan gemas menciumi pipi putri semata wayangnya itu.

Lelaki itu begitu menyayanginya, seakan masalah apa pun yang dihadapinya akan sirna jika sudah bisa menggendong dan menciumi Noura. Sampai-sampai istrinya kadang cemburu jika melihat Ismail terlalu memanjakan Noura. Suaminya terkadang lupa makan usai pulang kerja hanya karena menemani Noura bercerita. Sayangnya, gadis kecil yang mirip dengan istrinya ini mudah sakit, tidak boleh kecapekan. Tahun depan Noura masuk sekolah dasar.

Keluarga kecil itu tergolong keluarga berada, Ismail yang insinyur bangunan lulusan Universitas Ein Syams adalah seorang eksekutif muda yang sukses dalam pekerjaannya. Dalam waktu singkat ia diangkat menjadi supervisor di perusahaan kontraktor bangunan Muqawilun el-Arab, perusahaan kontraktor tersukses di Mesir. Dan beristrikan seorang perempuan cantik keturunan Turki, seorang guru kursus komputer.

Segala kenikmatan dunia berada dalam genggamannya, seharusnya ia bisa menikmati semua itu dengan nyaman. Tapi, tidak akan ada satu orang pun yang menyangka ia berada dalam keadaan sebaliknya, ia tidak pernah merasakan ketenangan.

Istri, jabatan, dan harta sering kali membuat emosinya meledak. Hanya Noura-lah penghiburnya selama ini. Hadiah-hadiah kecil berupa boneka, mainan, ataupun baju cantik tak pernah lupa ia belikan ketika suatu waktu keluar kota atau keluar negeri.

***

Seperti hari ini, sehabis bermain dengan Noura, Ismail mendadak marah kepada istrinya yang sedang memasak. Masalahnya kecil, Aminah lupa memberi makan ikan hias piaraan suaminya. Dua ekor ikan diskus berwarna kuning cerah itu tampak loyo dalam akuarium.

“Aminah, apa saja pekerjaanmu hari ini?” Suara Ismail lantang.

Aminah tergopoh-gopoh datang lalu berkata.

“Jadwal mengajarku hari ini penuh, aku pulang terlambat. Memang kenapa?”

“Kau lihatlah ikan-ikan ini, tidak ada makanan!”

“Maafkan aku, aku lupa!” jawab Aminah dengan nada suara rendah. Ia tidak ingin suaminya bertambah marah jika ia membela diri lagi. Aminah tahu betul sifat suaminya itu. Aminah perempuan penyabar dan berjilbab rapi, selalu berusaha memahami Ismail terlebih dahulu. Biasanya Ismail pun akan reda emosinya jika ia tidak banyak berkomentar.
Bila suasana sedang tenang, suaminya itu tak segan meminta maaf.

“Sudah shalat Isya?” tanya Aminah setelah suaminya tampak tenang.

Lessa!” jawab Ismail singkat.

Yalla, shalli!” kata Aminah sambil menggeleng pelan. Dari pengamatannya selama ini, ia semakin tahu suaminya mulai kurang perhatian pada kewajiban yang utama ini.
Inilah kemungkinan terbesar sebab-sebab suaminya kurang bisa mengendalikan emosi.
Padahal, dulu ketika dikenalkan kepadanya, Ismail adalah lelaki berpenampilan tenang dan sopan. Rajin ke masjid dan lebih banyak diam. Maka dari itu, ketika orang tuanya menawarkan Ismail, hatinya dipararelkan dengan sosok cool itu.

***

Waktu terasa lambat berputar. Jam dinding besar dari kayu jati Myanmar seperti malas berputar dalam pandangan Ismail. Ia sedang galau. Pikirannya berputar tak berarah, segalanya menjadi membosankan. Biasanya jika sudah begini, ia akan segera mengeluarkan mobilnya.

Lalu pergi ke kafe-kafe yang berada di pinggiran sungai Nil, sekadar minum teh hangat atau syahlab minuman kesukaannya. Kemudian merenung jauh ke dalam lubuk hatinya sambil menyaksikan riak Sungai Nil. Tapi, tidak pernah ia temukan hakikat itu, semuanya gelap dan buntu.

Tapi, malam ini lain dari biasanya, ia malas keluar rumah. Ditambah lagi turun debu, musim panas akan segera tiba. Sementara itu, anak dan istrinya sudah terlelap dari tadi. Desahan berat napasnya tak mengubah keadaan. Ismail beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil segelas besar air putih.

Kerongkongannya terasa segar setelah meminum air sulingan Sungai Nil itu, waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Diambilnya remote control yang tergeletak di meja tamu. Ia putar beberapa channel televisi lokal. “Semoga ada hiburan yang bisa menghilangkan rasa jenuhku,” pikirnya saat itu. Pencariannya berhenti pada acara tari-tarian wanita belly dance yang mempertontonkan auratnya diiringi musik-musik khas Mesir. Hanya beberapa detik ia menyaksikan tarian nakal itu, ia mendengar suara pintu dibuka. Cepat-cepat ia pindahkan salurannya.

Baba, ittaqillah! ‘Aib ‘alaik!” suara gadis kecil lantang datang dari belakang Ismail.
Rupanya Noura yang bangun, bukan istrinya. Dan Noura sempat melihat tayangan itu. Ismail hanya melongo kaget. Tanpa ia sadari anak kesayangannya itu telah kembali ke kamarnya.

Ada yang terus terngiang-ngiang di telinganya. Kata-kata tadi. “Baba, ittaqillah!”

Hatinya mendesir mengingat kata-kata itu, anehnya ia menjadi sangat takut pada kematian. Ia tersadar selama ini kurang begitu perhatian pada perintah agama. Lama ia termenung di balkon depan rumahnya, mengingat-ingat yang telah ia lalui selama ini.

“Allahu akbar, Allahu akbar…” Sayup-sayup terdengar azan Subuh. Ia segera berwudhu lalu bergegas mengambil sandal kulitnya yang tertata rapi di rak. Entah mengapa ia ingin ke masjid. Setelah sekian lama tidak pernah berjamaah di mesjid, kecuali hari Jumat saja. Itu pun ia datang ketika selesai khutbah.

Usai dari masjid ia sempatkan membaca beberapa ayat Alquran. Hatinya terasa tenang dan lega. Napasnya terasa segar, padahal ia belum tidur semalaman. Aminah hanya bengong melihat suaminya pagi-pagi sekali sudah bangun dan sudah membuat minuman sendiri.

Cukup heran juga melihat suaminya itu menggunakan jubah putih, pakaian yang jarang sekali ia sentuh. Biasanya ke mana-mana selain jam kantor selalu memakai jin. Dan di atas meja kerja suaminya, Aminah sempat menangkap dengan ujung matanya ada mushaf Alquran terbuka seperti usai dibaca, padahal selama ini hanya menghiasi lemari. Hari ini terasa lain dari biasanya.

Setelah pamitan kepada Aminah, Ismail berangkat ke tempat kerjanya. Ia benar-benar merasa hari yang baru baginya. Sementara itu, Noura masih terlelap tidur.

***

Pukul empat sore hari usai shalat Ashar berjamaah. Ponsel Nokia-nya berdering, Aminah menangis keras dalam telepon itu dan meminta Ismail segera datang ke Rumah Sakit Roxy.

Di rumah sakit Ismail melihat Noura terbaring lemas dengan selang oksigen yang masih melingkar di hidungnya. Dokter dan suster terlihat sibuk memberikan pertolongan dengan alat pemicu jantung, tapi usaha itu nihil. Noura telah dipanggil Allah, ia mengalami gagal jantung. Ismail terpaku diam, tangan kanannya refleks mengelus lembut kepala istrinya yang sedari tadi menangis. Ia merasa seperti bermimpi, tangis Ismail pecah tak terelakkan lagi.

Noura dikuburkan sore itu juga. Tidak banyak pelayat, hanya kedua orang tua Ismail dan mertuanya juga beberapa temannya sekantor.

“Sudahlah Ismail, jangan terlalu bersedih. Kamu masih muda, akan lahir anak-anak yang lain,” kata salah satu temannya menghibur.

“Yang aku kubur ini bukan putriku, tapi aku sedang mengubur cahaya,” jawab Ismail pelan.

Di matanya masih mengalir butiran bening. (*)

 

 

8 Wahran St, 5 juli 2005

 

Daftar Istilah

Anti fen? : Di mana kamu? (untuk perempuan)

Muhandis : Insinyur

Ana hena! : Saya di sini!

Baba : Panggilan untuk ayah

Muqowilun Al-‘Arab : Nama perusahaan kontraktor

Sholaital Isya? : Kamu sudah shalat Isya?

Lessa : Belum!

Yalla sholli! : Shalatlah segera!

Syahlab : Minuman khas Mesir

Ittaqillah! ‘Aib ‘alaik! : Takutlah kepada Allah! Itu tercela buatmu!

 

Alumnus Universitas al-Azhar Kairo Mesir, pernah aktif di Forum Lingkar Pena Kairo dan kini bergelut sebagai konsultan syariah.

 

Advertisements